//
you're reading...
Ke-Ilmu-an

PENDIDIKAN SEKS

Oleh Sobar Al Ghazal

 

 

ABSTRAK

Pendidikan Seks terkait erat dengan hakikat manusia seutuhnya baik sebagai individu-individu maupun sebagai anggota suatu masyarakat dengan berbagai peranannya. Pendidikan Seks menyangkut lingkungan keluarga sebagai lembaga alami yang disebut rumahku surgaku., juga menyangkut seks dan seksualitas yang lebih luas yang tidak sekedar perspektif fisik-biologis, sehingga Pendidikan Seks merupakan pembinaan kepribadian yang normal yang bertanggung jawab secara biologis, psikhis, dan sosial selaras dengan peran manusia tersebut menurut Al-Qur’an dan Al-Hadits.

 

KATA KUNCI: Pendidikan adalah antropologis-normatif-yang praktis. Seks: Keseluruhan kompleksitas emosi, perasaan, kepribadian dan sikap seseorang yang berkaitan dengan perilaku serta orientasi seksualnya.

PENDAHULUAN

Pembicaraan Pendidikan Seks, lebih lebih ia dipersangkutkan dengan Pendidikan Gender, berkaitan dengan hakikat atau karakter manusia yang mencakup begitu banyak dimensi dalam diri manusia itu sendiri beserta implikasi paedagogisnya, sekaligus juga bertautan dengan serangkaian luas konteks sosialnya. Hal ini mengingat “manusia sendiri seluruhnya adalah seksual. Seluruh tingkah lakunya selalu diresapi oleh identitas seksnya, yaitu gradasi kelelakian atau keperempuanannya jika ia perempuan. Kompleksnya manusia juga kerap terekspresikan melalui seksualitasnya” (FX. Rudy Gunawan, 1993 : hal. 1). Di sini Pendidikan Seks disoroti dari pendidikan itu sendiri yang berbingkai “antrpologis-normatif-yang praktis”, yang pada titik pandang ini seks dan seksualitas sebagai hakikat manusia (homo sexualis, makhluk seksual) yang bersangkutan dengan nilai biologis, psikhis, humanis, dan religius yang terkait dengan serangkaian konteks sosial yang praktis.

 

Dengan demikian pembahasan Pendidikan Seks pada makalah ini dengan pendekatan paedagogis sebagai objek formalnya, dengan pembatasan pada beberapa ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan laki-laki dan perempuan serta dorongan seks, sebagai bahan dasar perolehan hakikat manusia sebagai homo sexualis, yang nantinya ditarik implikasi paedagogisnya dengan kerangka “antropologis-normatif-yang praktis” terhadap  Pendidikan Seks. Jadi cara pembahasan Pendidikan Seks di sini akan didekati dengan tinjuan yang bergaya fenomenologis. Artinya, secara keseluruhan pembahasan terhadap Pendidikan Seks sebagai objek material yang bersumber dari beberapa ayat Al-Qur’an adalah hasil dari refleksi paedagogis yang berdasarkan metode fenomenologis, yang mencakup langkah reduksi fenomenolgis, reduksi eiditis, dan eidos.

 

Pembahasan Pendidikan Seks pada ujungnya sebagai upaya untuk menyumbangkan sedikit pemikiran (refleksi paedagogis) tentang Pendidikan Seks berdasarkan beberapa ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan laki-laki dan perempuan serta dorongan seks dan seksualitas yang memungkinkan pada pencapaian pemahaman manusia seutuhnya beserta implikasi paedagogisnya terhadap Pendidikan Seks yang termaksud itu.

 

Studi litelatur secara selintas menghasilkan bahwa Pendidikan Seks terbatas pada pengajaran materi seks secara biologis yang berdimensi klinis dan psikologis. Hal ini memungkinkan berakibat pada penyempitan persepsi orang terhadap Pendidikan Seks yang berbobot nilai dan tanggungjawab manusia seutuhnya. Literatur yang sempat dianalisis itu, ialah 1. Pendidikan Seks karya Nuryani Y. Rustaman dan Soesy Asiah dalam Buku Ilmu dan Aplikasi Pendidikan, Bagian 4 Pendidikan Lintas Bidang (Tim Pengembang Ilmu Pendidikan FIP-UPI Bandung, PT. Imperial Bhakti Utama, 2007); 2. Sex Education, Nilai dalam Pendidikan Seks Bagi Remaja: dari Prinsip ke Praktek, karya J. Mark Halstead & Michael Reiss (Alinea Press, 2004); 3. Pendikdikan Seks, karya Rono Sulistyo (Elstas Offset Bandung, TT.); 4. Inovasi Model Pembelajaran Demokratis Berperspektif Gender, karya Nurul Zuriah dan Hari Sunaryo (UMM Press, 2009); 5. Bias Gender dalam Pendidikan, karya Achmad Muthali’in (Muhammadiyah University Press, 2001). Karena itu pembahasan Pendidikan Seks dalam makalah ini dengan segala kekurangnya menuju kepada komprehensif pembinaan manusia sebagai makhluk yang bertanggungjawab.

 

PENDIDIKAN SEKS DALAM AL-QUR’AN

  1. Laki-laki dan Perempuan dalam Al-Qur’an

Al-Qur’an jelas ditunjukkan kepada laki-laki dan perempuan, meskipun seringkali digunakan kata ganti maskulin, namun itu pun untuk merujuk pada semua orang. Al-Qur’an tidak membedakan antara laki-laki dan perempuan (QSS. 33 : 35). Kaum laki-laki dan perempuan disebut dan dibatasi sebagai orang-orang yang beriman dan orang-orang kafir (QSS. 9 : 72; 33 : 58). Gender atau jenis kelamin (seks) sama sekali tidak berkaitan dengan status spiritual seseorang, namun justeru status itu ditentukan oleh keimanan dan amal setiap orang (QSS. 16 : 97). Nasaruddin Umar (2010, hal. 31-32) membedakan antara seks dan gender sebagai beriku.

 

GENDER

1.Digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dari segi sosio-budaya; 2.Lebih banyak berkonsentrasi kepada aspek sosial-budaya, psikologis, dan aspek-aspek non biologis lainnya; 3.Studi Jender lebih menekankan perkem-bangan aspek maskulinitas (masculinity/rajuliyah) atau feminitas (femininity/nisa’iyah) seseorang; 4.Istilah jender lebih banyak digunakan untuk proses pertumbuhan anak menjadi seorang laki-laki atau menjadi seorang perempuan…

SEX

1.Digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dari anatomi biologi; 2.Berarti “jenis kelamin” yang lebih banyak berkonsentrasi kepada aspek biologi seseorang meliputi: perbedaan komposisi kimia dan hormon dalam tubuh, anatomi-fisik, reproduksi, dan karakteristik biologis lainnya; 3.Studi Sex yang lebih menekankan perkembangan aspek biologis dan komposisi kimia dalam tubuh laki-laki (maleness/dzukur) dan perempuan (femaleness/ unutsah); 4.Istilah sex umumnya digunakan untuk merujuk kepada persoalan reproduksi dan aktivitas seksual…

 

Keempat ayat Al-Qur’an tersebut di atas, cukup mewakili bahwa keseleruhan Al-Qur’an ditunjukkan kepada laki-laki dan perempuan; jadi wahyu ilahi ini berdialog dengan dan kepada seluruh umat manusia, tidak membedakan dan memilah serta memilih jenis kelamin. Dan memang Al-Qur’an menandaskan bahwa Allah Swt Awj menciptakan laki-laki dan perempuan dari satu entitas tunggal, konsep yang sama (QSS. 4 : 1). Laki-laki dan perempuan berasal dari sumber yang sama (QSS. 49 : 13). Kedua ayat (QSS. 4 : 1 dan 49 : 13) tersebut dengan diperkuat isi QSS. 3 : 36, dikomentari oleh Lynn Wilcox (terj., 2001, hal. 122), bahwa …Allah mempunyai nilai dan tujuan tertentu dengan membagi manusia ke dalam jenis pria dan perempuan. Jika tidak demikian, maka tidak ada nilai dan tujuan sama sekali. Keberadaan laki-laki dan perempuan sangatlah penting untuk memastikan kelangsungan hidup manusia. Masing-masing memiliki sifat-sifat yang berbeda tetapi sama-sama berharga dan bernilai.

 

Perbedaan istilah seks dan jender atas dasar nafas isi beberapa ayat Al-Qur’an tersebut; dan atas kepentingkan konsep Pendidikan Seks, tidak diposisikan sebagai dua hal yang bertentangan, namun diposisikan sebagai suatu kontinum (suatu keberlanjutan) dalam kerangka penarikan Pendidikan Seks yang dikehendaki pada makalah ini.

 

Al-Qur’an lebih lanjut menandaskan bahwa seks, seksualitas, dan jender diposisikan sebagai instrument yang memungkinkan manusia harus dan dapat mengekspresikan diri unggul, yaitu khalifah (wakil) dan hamba  Allah Swt Awj di bumi yang sarat iman, amal shaleh, dengan bertanggungjawab; dimana seks, seksualitas, dan jender manusia suatu yang disengaja oleh-Nya agar manusia tahu, mau, mampu, dan melakasanakan hidup secara manusia, diri yang unggul tadi. Karena itu Al-Qur’an menyebutkan, bahwa orang-orang beriman, laki-laki dan perempuan, menjadi pelindung satu sama lain (QSS. 9 : 71); mereka menerima rahmat Allah Swt Awj (QSS. 33 : 73); laki-laki dan perempuan yang bersedekah dan memberi pinjaman yang baik pada Allah akan dilipatmajemukkan balasan dan pahalanya (QSS. 57 : 18); sebaliknya baik laki-laki maupun perempuan yang menganjurkan berbuat kemungkaran dan melarang berbuat kebaikan (QSS. 9 : 67); dan Allah Swt Awj akan menghukum mereka (QSS. 33 : 73; 48 : 6). Allah menyatakan bahwa Dia mendengar doa orang-orang beriman, menerima, dan mengabulkannya (QSS. 3 : 195).

 

  1. Dorongan Seks dalam Al-Qur’an

Abdurrahman Umairah (terj., tt., hal 171-172) menjelaskan bahwa seks adalah dorongan-dorongan yang terkuat pada manusia, itu karena suatu hikmah yang dikehendaki oleh Allah; yang mengandung hikmah untuk memakmurkan bumi dan menegakkan khalifah di bumi serta kelangsungan hidupnya. Seks menurut arahan Al-Qur’an bukanlah sumber kekotoran dan kesalahan, sebagaimana yang telah didengungkan oleh sebagian agama dan ajaran terdahulu. Seks adalah kekuatan yang dinamis yang menggerakkan kepribadian manusia; namun seks bukan menyangkut biologis semata; seks hanyalah  suatu dorongan suci yang mempunyai tugas tertentu. Pandangan Abdurrahman Umairah ini berselaras dengan pernyataan FX. Rudy Gunawan (1993, hal. 8-9) berikut:

 

Dalam kehidupan sehari-hari, seks yang secara harfiah berarti jenis kelamin, pengertiannya kerap hanya mengacu pada aktivitas biologis yang berhubungan dengan alat kelamin (genitalia). Seks sebagai keadaan anatomi dan biologis ini, sebenarnya hanyalah pengertian sempit dari apa yang dimaksudkan dengan seksualitas, yaitu keseluruhan kompleksitas emosi, perasaan, perasaan, kepribadian dan sikap seseorang yang berkaitan dengan perilaku serta orientasi seksualnya. Arti seks yang dikonotasikan dengan persetubuhan termasuk sebagai sex acts, yang berdasarkan tujuannya dapat dibedakan menjadi tiga macam. Pertama, bertujuan untuk memiliki anak (sex as procreational), kedua, untuk sekedar mencari kesenangan (sex as recreational), dan ketiga, dimaksudkan sebagai bentuk ungkapan penyatuan rasa, seperti cinta misalnya (sex as relational). Sedangkan hal-hal yang lebih umum seperti cara berpakaian yang seronok, gerak-gerik yang erotis, membaca majalah porno dan gambar-gambar yang sensual, ketertarikan pada pesona lawan jenis, serta hal-hal lain yang lebih bersifat psikologis, biasanya disebut sebagai exual behavior (perilaku seksual) yang berbeda pengertiannya dengan tindakan seks atau sex acts. Namun demikian sex acts dan sexual behavior tercakup dalam pengertian seksualitas secara umum. Dalam hal ini, Malinowski mengatakan: Sex in its widest meaning…is rather a sociological and cultural force  than a mere bodily relition of two individuals (Seks dalam pengertiannya yang paling luas…lebih bersifat sosiologis dan cultural daripada sekedar hubungan badan antara dua individu).

 

Dorongan seks untuk kesuburan pertumbuhan dan perkembangbiakan dengan kebebasan kedua belah dalam kesehendak (QSS. 2 : 223), dalam bertawajuh kepada Allah Swt Awj, mengingat di dalam dorongan tersebut bersemayam ibadah dan taqwa, yang memungkinkan ia menjadi amal shaleh yang dihaturkan untuk diri sendiri dengan  berkeyakinan akan kembali kepada-Nya yang akan membalasnya apa yang telah dikerjakan (QSS. 2 : 223). Dorongan seks terbatasi dengan hubungan seks tersebut dengan gambaran yang mewahyukan keindahan gambaran bumi, yang dibajak untuk meletakkan benih hingga tumbuh dan mendatangkan keturunan baru yang sejenis, sehingga seks menjadi wasilah (instrument) untuk melanggengkan jenis manusia dan mengembangbiakkanya (QSS. 4 : 1). Gambaran seks seperti ini menyangkut ketenangan, istirahat, cinta, dan rahmat, yang membawa kepada relasi laki-laki dan perempuan yang berlandaskan cintakasih, yang memungkinkan mencapai dan mengerti hikmah Allah Swt Awj dalam menjadikan bagi setiap pasangan saling cocok satu sama lain, demi memenuhi panggilan kebutuhan fitrahnya (QSS. 30 : 21).

 

Dorongan seks dalam arahan Al-Qur’an, menjadi wasilah untuk menghormati diri, memuliakan pribadi, pemagaran dan pembetengan (QSS. 2 : 187), arahan ini berupa perintah pernikahan sebagai penetapan yang berkonsekuensi memperoleh pahala (QSS. 4 : 3); arahan ini menunjukkan bahwa dorongan seks terangkat ke tingkat ibadah. Hal ini didukung dengan kedua hadits berikut.

 

Di dalam kemaluan salah seorang dari kalian terdapat sedekah. Para shabat bertanya: Wahai Utusan Allah, apakah di antara kita yang mendatangi syahwatnya itu ada pahala? Utusan Allah menjawab: Tidakkah kalian ketahui, andai ia diletakkan di tempat yang haram, tidakkah ia berdosa? Maka demikian juga bila diletakkan di tempat yang halal, ia juga berpahala. Hadits ini tercantum pada Shahih Ibnu Hiban, Juz ke-17, hal. 327 dan pada Juz ke-9, hal. 475 dalam urutan ke-4241; sedang pada urutan ke-4167 terdapat pada Juz ke-9, hal. 475 (Al-Maktabah Al-Syamilah).

 

Aku dijadikan cinta kepada dunia kalian karena tiga hal, wangi-wangian, perempuan, dan dijadikan cahaya mataku di dalam shalat. (belum diketemukan sumbernya).

 

  1. Konsep Seks

Al-Qamus Al-‘Ashriy Al-Jadid, Inkiliziy – ‘Arabiy (1968, hal. 264 dan 548) menuangkan bahwa sex adalah shifat al-tadzkir wa at-ta’nits, jins, ahad al-jinsain; sedangkan gender adalah jins (al-mudzakkar wa al-mu’annats fi al-lughah). Elias A. Elias & Ed. E. Elias (Al-Qamus Al-‘Ashriy, ‘Arabiy – Inkiliziy, 1972, hal. 125) menyebutkan jins: shifat al-tadzkir auw al-ta’nits, syiqq; jins (fi al-nahwi): gender. Jamil Shaliba (1982, hal. 417) mengemukakan, Al-Jinsiy Huwa al-Muta’allaqu bi al-Jinsi, Ay bi al-Dzukurah wa al-Unutsah, Taqulu: Al-A’dha-ul Jinsiyyah, wa al-‘Alaqat al-Jinsiyyah, wa al-Musykilat al-Jinsiyyah, wa al-Tarbiyah al-Jinsiyyah. Namun makna seks secara terminologi (istilah) sangat dirujukkan kepada dasar yang melandasinya; isi beberapa ayat Al-Qur’an di atas melandasi konsep seks yang dimaksud pada tulis ini, yaitu sebagaimana berikut.

 

Seks adalah keseluruhan kompleksitas emosi, perasaan, kepribadian dan sikap seseorang yang berkaitan dengan perilaku serta orientasi seksualnya, sebagai manusia yang homo sexualis yang menjadi fitrah dari Allah Swt Awj, di mana seks sebagai instrument yang memungkinkan manusia termaksud mengekpresikan diri sebagai khalifah dan hamba Allah Swt Awj di bumi.

 

  1. Hakikat Manusia

Hakikat manusia di sini adalah karakter manusia yang diperoleh dari gambaran laki-laki dan perempuan serta dorongan seks yang dikemukakan di atas.

 

Manusia diciptakan oleh Allah Swt Awj sebagai laki-laki dan perempuan dalam posisi dan diperlakukan yang sama sebagai manusia. Penyebutan laki-laki dan perempuan sebagai indikator terdapat perbedaan satu sama lain, ini bersifat aksidental, tidak esensial, mengingat adanya perbedaan yang statis dan dinamis yang kedua perbedaan tersebut tidak memiliki korelasi langsung dengan kualitas lelaki dan perempuan sebagai manusia, artinya seorang perempuan berkemungkinan lebih berkualitas daripada seorang lelaki, kualitas termaksud, sebut saja iman dan amal shaleh. FX. Rudy Gunawan (1993, hal. 23-24) dengan mengutip pandangan Magdalena Alonson Villaba Cue mengemukan bahwa,

 

Persepsi perempuan sebagai makhluk yang lemah dan timbulnya diskriminasi yang bersumber pada seks (jenis kelamin) boleh jadi merupakan kekeliruan interpretasi terhadap perbedaan-perbedaan tersebut. Konsep penciptaan Adam tidaklah bertujuan menomerduakan kaum Hawa. Ini dengan jelas ditegaskan oleh Magdalena Alonson Villaba Cue: In the scheme of creation, man was created first, then only later, the woman. Woman came notably after man was created to signal the original intention that woman is first a man, than only secondarily, a woman…There has been a long standing belief than man is a man and woman is a woman and the twin shall never be one. Again, by misinterpretation, man set woman against himself as his opposite; not as a complement as it was decreed in the purpose of creation. Everything that man is, woman is not. Thus, man is strong, woman is weak; man is aggressive, woman is passive; man is intellectual, woman is dull, and so forth. Consequently, the idea of woman as woman opposed to man as man was born (Dalam kerangka penciptaan, pertama diciptakan lelaki, baru kemudian perempuan. Hal ini sebenarnya dimaksudkan sebagai tanda yang menunjukkan bahwa perempuan pertama-tama adalah  sama seperti lelaki –sama-samamanusia- dan baru kemudian dia adalah perempuan…Telah lama tertanam kepercayaan bahwa lelaki adalah lelaki, dan perempuan adalah perempuan, dan keduanya tidak akan pernah menjadi satu/sama. Lagi pula, dengan salah penafsiran, lelaki mendudukkan perempuan sebagai lawannya; bukan sebagai pendampingnya seperti telah diputuskan dalam tujuan penciptaan. Apa yang lelaki bukan perempuan. Karenanya, lelaki kuat, perempuan lemah; lelaki agresif, perempuan pasif; lelaki pintar, perempuan bodoh, dan seterusnya. Akibatnya, lahirlah pemikiran perempuan sebagai perempuan dilawankan dengan lelaki sebagai lelaki).

 

Beberapa ayat Al-Qur’an tentang lelaki dan perempuan serta dorongan seks tersebut di atas, secara tersirat, menunjukkan bahwa manusia sebagai makhluk seksual adalah fitrah yang benar-benar disengaja oleh Allah Swt Awj, sejak kesemulajadiannya. Abdul Mujib (1999, hal. 19-33) mengemukakan 10 (sepuluh) makna fitrah, yang berkaitan dengan homo sexualis sebagai fitrah, bahwa fitrah bermakna ketetapan atau taqdir asal manusia. Adapun fitrah itu sendiri didefinikan oleh Muhammad Ibn Asyur yang dikutip oleh M. Quraish Shihab (1996, hal. 285) adalah,

Fitrah adalah suatu sistem yang diwujudkan oleh Allah pada setiap makhluk. Fitrah yang khusus untuk jenis manusia adalah apa yang diciptakan Allah padanya yang berkaitan dengan jasad dan akal.

 

Karakter lain tentang hakikat manusia yang dapat ditangkap dari siratan ayat-ayat tersebut, bahwa seks menyiratkan adanya relasi antarpribadi manusia, sehingga manusia adalah makhluk pribadi dan sosial. Manusia diciptakan oleh Allah Swt Awj bahwa mereka sejak awal kesadaran akan eksistensinya sebagai lelaki atau perempuan yang menyadari bahwa mereka tidak memungkinkan hidup terpisah dan dipisahkan dari pasangannya (manusia lainnya), karena mereka hanya harus dan dapat menemukan jati dirinya dalam relasi dan korelasinya dengan orang lain dan lingkungan sekitarnya. Interaksi dan interelasi itu berlangsung dilandasi oleh cinta kasih dan identifikasi, yang mana seks, cinta kasih, dan identifikasi itu tak lepas dan dilepaskan dari pernikahan. Di samping itu, dari ayat-ayat tadi dapat diangkat bahwa seks dan seksualitas selain bersifat relasional, transaksional juga merupakan suatu ketegori sosial yang menentukan kedudukan lelaki-perempuan dalam struktur masyarakat yang tidak lepas dari komunikasi baik vertikal (hablun minallah) maupun horizontal (hablun minanas) yang ujung pangkalnya komunikasi vertikal.

 

  1. Konsep Pendidikan sebagai Metodologis

Perolehan pada pemahaman tentang Pendidikan Seks sudah semestinya memerlukan dan melibatkan metodologi atau pendekatan sebagai alat untuk perolehan tersebut. Pendidikan sebagai metodologi, ialah antropologis-normatif-yang praktis (Stella Van Petten Henderson,1954, hal. 2-3). Pendidikan sebagai metodologis ini katakan saja sebagai pendekatan paedagogis. Adapun langkah penganalisisannya melalui pendekatan fenomenologi yang meliputi langkah reduksi fenomenologis – reduksi eiditis – eidos (M.I. Soelaeman, 1985, hal. 126-133). Antropologis dapat membantu pendidikan seks lebih menyadari faktor-faktor insani yang mendasari dan berkaitan dengan pendidikan. Normatif menunjukkan bahwa pemikiran dan tindakan atau perbuatan pendidikan seks memiliki patokan-patokan yang diturunkan dari sisi antropologis tadi. Sedangkan yang praktis menunjukkan bahwa pendidikan seks adalah merupakan situasi yang menyangkut prinsip sosialitas, prinsip individualitas, prinsip identitas moral, dan prinsip unisitas.

 

  1. Analisis Paedagogis terhadap Hakikat Manusia tentang Pendidikan Seks

Manusia yang berfitrah seks, sebagai lelaki atau perempuan, yang secara kodrati adalah telah menjadi takdir dan ketetapan Allah Swt Awj. Potensi kelelakian atau keperempuan itu secara real atau manifes di bumi, mengandung kemungkinan untuk menjadi dirinya sendiri baik sebagai lelaki yang sebenarnya ataupun perempuan yang sebenarnya. Dari hal menunjukan bahwa manusia dalam kerangka untuk menjadi dirinya sendiri pada dasarnya perlu bantuan dari pihak lain atau lingkungan. Dengan demikian apabila manusia tidak mendapatkan bantuan dari orang-orang (manusia dewasa) sekitarnya, ia tidak akan melangsungkan kehidupannya sebagai manusia, bahkan mungkin tidak dapat melangsungkan kehidupan sama sekali. Dan salah satu bantuan yang diberikan lingkungan kemanusiaan kepadanya itu ialah pendidikan. Dari sini dapat dipahami bahwa yang dimaksud dengan Pendidikan Seks, ialah bantuan dari situasi pendidikan yang terbangun dari lingkungan kemanusiaan; maka pendidikan seks itu adalah perlu dan dapat bagi manusia, bila tidak ada atau ditiadakan pendidikan sek, maka memungkinkan manusia akan kabur seks, kelelakian atau keperempuannya. Tanpa pendidikan seks yang diberikan kepada manusia, baik oleh lingkungan keluarga atau masyarakatnya, akan menghilangkan manusia untuk hidup sebagaimana manusia itu hidup sebagai manusia. Manusia merupakan makhluk yang harus mendapatkan pendidikan seks guna melangsungkan kelestarian kemanusiaannya. Dan memang manusia makhluk yang dapat dididik. Dan karena manusia pulalah yang mendidik manusia, maka manusia sekaligus merupakan pula yang dapat mendidik, bahwa manusia merupakan animal educandum dan animal educabile. Karena manusia pada umumnya pertama-tama disambut oleh keluarganya, oleh kedua orangtuanya, maka keharusan manusia mendapat pendidikan seks di lingkungan keluarganya.

 

Pendidikan seks di lingkungan keluarga menjadi bersifat fundamental. Hal ini mengukuhkan kedudukan kedua orangtua sebagai penanggungjawab utama dan kodrati mengenai kelangsungan pendidikan seks bagi anaknya tentunya.

 

Persoalan seks sebagaimana telah disinggung di atas tidak sekedar menyangkut biologis, tetapi juga berkaitan dengan sosio-budaya; karena itu pendidikan seks menyangkut masalah bahwa manusia itu makhluk sosial, yakni manusia dalam melangsungkan  kehidupanya sebagai manusia yang berfitrah seks (homo sexualis), maka secara fundamental manusia melalui pendidikan seks agar tahu, mau, dan mampu bergaul dengan pergaulan secara manusia dengan sesama manusia; dan dengan melalui pergaulan itu ia dapat menerima dan memberikan pengaruh kepada sesama manusia.

 

Pembahasan beberapa ayat-ayat Al-Qur’an tentang laki-laki dan perempuan serta dorongan seks yang dikemukakan di atas, yang menunjukkan bahwa seks, baik laki-laki ataupun perempuan menyangkut eksitensinya secara individualitas, yakni seks itu mempertunjukkan bahwa setiap orang (manusia: laki-laki ataupun perempuan) memiliki eksistensinya sendiri. Dengan demikian pendidikan seks menekankan bahwa orang walaupun tak dapat lepas dan dilepaskan dari hubungan atau pergaulannya dengan bahwa sesama manusia karena bersifat prinsipal, namun dengan pendidikan seks itu manusia agar tidak lengket dengan komunitas sosial-budayanya dari masyarakat, sehingga dengan pendidikan seks tersebut manusia agar tidak merupakan salah satu eksemplar dari sekelompok manusia-manusia yang sama segala-galanya.

 

Penjelasan di atas menegaskan bahwa pendidikan seks di antaranya adalah batuan dari situasi pendidikan yang terbangun dari lingkungan kemanusiaan agar manusia harus dan dapat menegaskan (affirmasi) diri sebagai dirinya sendiri, yakni ketegasan seks; hal ini menunjukkan pendidikan seks sebagai perbuatan yang turut membantu manusia agar menjadi dirinya sendiri, sehingga semua manusia sama dalam hal bahwa mereka tahu, mau, dan mampu untuk mengambil keputusan susila sendiri serta tahu, mau, dan mampu juga untuk mengarahkan perbuatannya selaras dengan keputusan susila yang telah dipilihnya itu. Pengetahuan, kemauan, dan kemampuan manusia mengambil keputusan susila sendiri, bila dikaitkan dengan pengetahuan, kemauan, dan kemampuan bergaul seperti telah disinggung di atas, yang menempatkan manusia di tengah kehidupan masyarakatnya dan dengan dimensi sosialitas yang tersirat di dalamnya pengetahuan, kemauan, dan kemampuan manusia untuk tampil secara diri sendiri dan menyatakan dirinya, maka lahirlah pada manusia melalui pendidikan seks ini kemampuan dan keharusan untuk bertanggungjawab dan mempertanggungjawabkan kehidupannya. Hal ini selaras dengan bahwa seks sebagai wasilah suci yang dapat membawa kepada tataran ibadah kepada Allah Swt Awj, komukasi vertikal dan horizontal; di mana pada ujung pangkalnya kedua komunikasi tersebut adalah komunikasi vertikal.

Penjelasan ayat-ayat yang telah dituangkan di muka, bahwa Allah Swt Awj sebagai pencipta manusia dengan seksnya, Dia berdialog melalui firman-Nya (Al-Qur’an) adalah kepada manusia, bukan kepada lelaki ataupun kepada perempuan. Dengan demikian Allah Swt Awj adalah pencipta semesta alam serta segala sesuatu, termasuk manusia dengan seksnya. Untuk itu pendidikan seks menunjukkan bahwa manusia dengan takdirnya sebagai lelaki atau perempuan untuk dapat beribadah kepada-Nya. Allah Swt Awj mahapencipta dan penentu. Sehingga hubungan alam semesta, termasuk manusia, dengan Allah Swt Awj sangat esensial. Keberadaan manusia sepenuhnya tergantung dari kehendak Allah Swt Awj. Oleh karena itu yang dijadikan atau dianggap pangkal dan tujuan kemanusiaan adalah Allah Swt Awj; nilai pun bersumber pada-Nya.

Dengan demikian dimensi tanggungjawab yang disinggung di atas, mendukung bahwa pendidikan seks bertautan dengan proses konstruktif yang bertolak dari bahwa manusia sebagai makhluk yang normatif. Karakteristik ini secara merata dimiliki setiap manusia dengan seksnya, lelaki atau perempuan, sebagaimana yang tersirat pada pembahsan ayat-ayat tersebut terdahulu di muka; sehingga konsekuensinya ialah adanya pengakuan akan kesamaan manusia, sehingga mengingkari pandangan diskriminatif yang membedakan martabat manusia, baik atas dasar jenis kelamin, warna kulit, keturunan darah, ekonomis, dan lain-lain.

Konsep seks yang terdapat pada ayat-ayat di muka menunjukkan bahwa setiap manusia bersifat unik atau khas dan tiada dua manusia yang identik, baik dalam membawakan diri, dalam kehidupan bermasyarakatnya, maupun dalam pemilihan dan cara memilih tatanilai yang dijadikan dasar dan arah hidupnya.

Dengan demikian Islam melalui beberapa ayat Al-Qur’an yang dikemukkan di atas sekaitan dengan pendidikan seks, menunjukkan bahwa pendidikan seks tidak dapat terjadi manakala tidak bertolak dari hakikat manusia yang mencakup sisi sosialitas, individualitas, moralitas, dan unitas. Hanya atas dasar pengakuan akan keempat sisi mendasar tentang manusia sebagaimana ditampilkan di atas, pendidikan seks dapat terjadi. Pengingkaran terhadap salah satu sisi mendasar tadi memustahilkan atau mengingkari kemungkinan pelaksanaan pendidikan seks.

 

KESIMPULAN

Keseluruhan isi reflesi paedadogis tentang pendidikan seks memungkinkan untuk diambil simpul-simpulnya sebagai berikut.

Seks tidak sekedar berkaitan dengan jenis kelamin secara biologis-fisik; namun menyentuh hakikat manusia dalam kerangka mengekspresikan diri sendiri sebagai khilifah dan hamba Allah Swt Awj di bumi. Karena itu seks, seksualitas, dan jender meskipun memiliki sisi penekanan satu sama lain yang sekaligus yang membedakannya, namun tidak diposisikan sebagai tiga hal yang bertentangan, tetapi diposisikan sebagai tiga entitas yang kontinum (hal berkelanjutan) dalam kepentingan penarikan implikasi pedagogisnya terhadap atau tentang pendidikan seks, melalui pendekatan paedagogis yang bergaya fenomenologis.

Pendidikan seks berlangsung pada dan dalam situasi pendidikan yang terbentuk dari lingkungan kemanusiaan. Karena itu pendidikan seks harus diturunkan dari haikat manusia atau karakternya; di mana karakter atau hakikat manusia di sini merupakan pengambilan dari beberapa ayat Al-Qur’an. Secara fundamental pendidikan seks harus dan dapat berlangsung di dalam keluarga.

Pendidikan seks harus dan dapat berlangsung manakala mengakui tentang sisi mendasar yang melandasinya, yaitu sosialitas, individualitas, moralitas, dan uniksitas.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur’an dan Terjemahnya, Depag. RI., Jakarta, 1987

Abdul Mujib, Fitrah & Kepribadian Islam, Darul Falah, Jakarta, 1999

Achmad Muthali’in, Bias Gender dalam Pendidikan, MU Press, Surakarta, 2001

Al-Qamus Al-‘Ashriy Al-Jadid, Bairut, 1977

EB. Surbakti, Sudahkah Siapkah Nikah, Kompas Gramedia, Jakarta, 2008

Elias A. Elias, Al-Qamus Al-‘Ashriy, Bairut, 1972

FX. Rudy Gunawan, Filsafat Sex, Bentang Offset, Yogyakarta, 1993

J. Mark Halstead & Michael Reiss, Sex Education, Alenia Press, Yogyakarta, 2004

Jamil Shaliba, Al-Mu’jam Al-Falsafiy, Bairut, 1982

Lynn Wilcox, Wanita dan Al-Qur’an dalam Perspektif Sufi, Pustaka Hidayah, 2001

M.I. Soelaeman, Pendekatan Fenomenologis, IKIP Bandung, 1985

Nasaruddin Umar, Argumen Kesetaraan Jender, Jakarta, 2010

Nasr Hamid Abu Zayd, Gender, Yogyakarta, 2003

Nur Ahid, Pendidikan Keluarga dalam Perspektif Islam, yogyakarta, 2010

Ratna Megawangi, Membiarkan Berbeda, Bandung, 1999

Rono Sulistyo, Pendidikan Sex, Bandung, TT.

Stella Van PH, Introduction to Philosophy of Education, Chicago, 1954

Tim Pengembang Ilmu Pendidikan FIP-UPI, Ilmu & Aplikasi Pendidikan, 2007

Yunahar Ilyas, Feminisme, Yogyakarta, 1997

 

About mujaddid

bijaksana

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: