//
you're reading...
Unisba

TUGAS METRIS 1 (PROPOSAL SKRIPSI PENELITIAN LAPANGAN)

UPAYA GURU PAI DALAM MENGHILANGKAN BUDAYA MENCONTEK DI SMP LIMA KOTA CIMAHI

PROPOSAL SKRIPSI PENELITIAN LAPANGAN

Diajukan Sebagai Salah Satu Tugas Individu Pada Mata Kuliah Metodologi Penelitian I

Oleh Bapak Aep Saepudin, Drs., M.Ag.

Disusun oleh :

KHAMBALI

NPM : 10030107006

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS TARBIYAH

UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG

TAHUN 2010 M

PROPOSAL SKRIPSI

(PENELITIAN LAPANGAN)

  1. A. Latar Belakang Masalah

Islam adalah agama yang sempurna untuk menuntun umat manusia ke jalan keselamatan dunia dan akhirat. Di antara tuntunan Islam adalah tuntunan dalam hal kejujuran baik perkataan maupun perbuatan. Manusia apabila mengikuti tuntunan Islam dalam cara jujur dalam berkata dan berbuat, maka ia akan selamat, aman dan bahagia.

Jujur dalam berkata dan berbuat merupakan termasuk dari salah satu akhlak seseorang dalam bergaul. Akhlak itu terbagi menjadi dua bagian, yaitu: akhlak mahmudah (akhlak yang baik) dan akhlak madzmumah (akhlak yang buruk). Jika seseorang cenderung untuk berbuat baik maka ia akan memiliki akhlak yang baik pula. Dan sebaliknya jika seseorang cenderung untuk berbuat jahat maka ia akan memiliki akhlak yang buruk. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an Surah Asy-Syams : 8

“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya”.

Ayat di atas menerangkan dengan jelas bahwa menusia dituntut untuk memilih jalan yang harus ditempuhnya, kalau memilih jalan kefasikan berarti dia akan memiliki akhlak yang buruk, setiap ucapan dan perbuatan selalu akan menyimpang dari jalan Allah Swt. Serta sebaliknya kalau memilih jalan ketakwaan berarti ia telah memiliki akhlak yang baik, sebab segala ucapan dan perbuatannya akan selalu mengikuti petunjuk Allah.

Dalam tuntunan akhlak manusia adalah Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw. Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surah Al-Ahzab : 21

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.

Rasulullah Saw. adalah sosok pribadi yang sederhana, jujur dalm berbicara dan berbuat. Beliau arif dan bijaksana, ikhlash dalam berjuang dan rela berkorban rela melaksanakan perintah Allah Swt. Serta penuh kasih sayang kepada sesamanya. Beliau selalu menyampaikan amanah, tidak pernah khianat dan selalu menepati janji. Bahkan beliau dikenal ketika mudanya dengan julukan Al-Amin.  Beliau sejak masih anak-anak sama sekali tidak pernah  menjadi anak yang nakal, tidak pernah berkelahi dengan teman-temannya, beliau mempunyai keteladanan yang patut dicontoh oleh kita sebagai umatnya.

Dewasa ini sering kita mendengar sebagian anak sekolah menengah pertama bila sedang ujian tulis atau semacamnya, sering kali melakukan perbuatan yang tidak semestinya, yaitu mencontek. Sedangkan dalm Al-Qur’an dikatakan bahwa dalam surah Al-Hujurat : 18

“Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ghaib di langit dan di bumi, Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”

Ayat di atas menerangkan bahwa Allah Swt. Akan selalu mengetahui dengan apa yang manusia perbuat, baik yang lahir maupun yang ghaib. Sedangkan Allah Swt berfirman dalm surah At-Taubah : 119

“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar”.

Ayat di atas menerangkan bahwa Allah Swt. Menyeru agar beriman dan bertakwa kepadaNya, serta selalu bersama orang-orang yang benar, yakni orang yang jujur dalm berkata dan berbuat.

Pernyataan tersebut di atas sesuai dengan isi undnag-undang tentang sistem pendidikan nasional nomor 20 tahun 2003, yang mengemukakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Berdasarkan latar belakang di atas, dipandang perlu mengetahui bagamana upaya guru PAI dalam menghilangkan budaya mencontek. Untuk mengetahui lebih lanjut cara mengantisipasi hal tersebut di atas, penulis ingin melakukan suatu penelituan yang dituangkan ke dalam judul : Upaya Guru PAI Dalam Menghilangkan Budaya Mencontek Di SMP Lima Kota Cimahi.

  1. B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas dirumuskan empat permasalahan:

  1. Bagaimana pendapat guru PAI tentang kebiasaan siswa menengah pertama yang mencontek?
  2. Upaya antisipasi apa yang dilakukan guru PAI untuk mencegah anak agar tidak mencontek?
  3. Apa yang dilakukan guru PAI ketika menemukan siswa-siswinya yang mencontek?
  4. Pihak-pihak mana saja yang diajak kerja sama untuk menenggulangi anak yang mencontek?
  1. C. Tujuan Penelitian

Pada dasarnya tujuan yang ingin dicapai dari pelaksanaan penelitian ini sesuai dengan rincian rumusan permasalahan di atas yaitu:

  1. Mengetahui pendapat guru PAI tentang kebiasaan siswa menengah pertama yang mencontek
  2. Mengetahui upaya antisipasi apa yang dilakukan guru PAI untuk mencegah anak agar tidak mencontek
  3. Mengetahui hal-hal yang dilakukan guru PAI ketika menemukan siswa-siswinya yang mencontek
  4. Mengetahui pihak-pihak yang diajak kerja sama untuk menenggulangi anak yang mencontek
  1. D. Keguanaan Penelitian

Adapun kegunaan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Diharapkan dapat dijadikan bahan bandingan bagi guru PAI di dalam mengantisipasi siswa yang suka mencontek
  2. Dapat dijadikan pedoman baru bagi para guru PAI dalam mengentisipasi siswa yang suka mencontek
  3. Dapat dijadikan tambahan teori baru dalam mengantisipasi siswa yang suka mencontek
  4. Dapat dijadikan bahan dasar bagi penelitian selanjutnya dalam mengantisipasi siswa yang suka mencontek
  1. E. Kerangka Pemikiran

Dalam undang-undang sistem pendidikan nasional tahun 2003 bab 1 pasal 1 menyebutkan bahwa, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Remaja adalah tahap umur yang datang setelah masa kanak-kanak berakhir, ditandai oleh pertumbuhan fisik cepat. Pertumbuhan cepat yang terjadi pada tubuh remaja luar dan dalam itu, membawa akibat yang tidak sedikit terhadap sikap, perilaku, kesehatan serta kepribadian remaja. (Darajat Zakiah : 1995 : 8)

Secara psikologis, masa remaja adalah usia dimana individu berintelegensi dengan masyarakat dewasa, usia di mana anak tidak lagi merasa di bawah tingkat orang-orang yang lebih tua melainkan berada dalam tingkatan uang sama, sekurang-kurangnya dalam masalah hak. Integrasi dalam masyarakat (dewasa) mempunyai banyak aspek efektif, kurang lebih berhubungan dengan masa puber. Termasuk juga perubahan intelektual yang mencolok. Transformasi intelektual yang khas dari cara berfikir remaja ini memungkinkannya untuk mencapai integrasi dalam hubungan sosial orang dewasa, yang kenyataannya merupakan ciri khas yang umum dari periode perkembangan ini.

Maksud dari pernyataan di atas bahwa faktor yang turut mempengaruhi terhadap perkembangan kepribadian anak yaitu faktor keluarga, lingkungan dan pendidikan. Anak usia 12-15 merupakan masa penting dalam pembinaan akhlak, karena pada masa ini anak berada dalam fase praremaja, dimana anak lebih cenderung bersikap dan berpikir negatif. Sehingga perlu perhatian penting yaitu pembinaan dan pelatihan sesuai dengan nilai-nilai moral terutama nilai-nilai ajaran Islam.

Akhlak merupakan pondasi atau dasar yang utama dalam menentukan pribadi manusia seutuhnya. Untuk itu, pendidik yang mengarah pada terbentuknya pribadi yang berakhlak merupakan hal pertama yang harus dilaksanakan. Karena akan melandasi kestabilankepribadian manusia secara keseluruhan. (Mahmud Assayid : 1994 : 64)

Pembinaan akhlak metupakan hal yang sangat penting bagi masa praremaja atau remaja awal, karena pada masa ini seorang anak dapat dijadikan apa saja sesuai dengan pembinaan yang diberikan. Salah satu pembinaan yang harus diberikan oleh anak usia praremaja adalah tentang kejujuran. Kejujuran adalah lawan dari dusta dan ia memiliki arti kecocokan sesuatu sebagaimana dengan fakta.

Kejujuran merupakan simbol Islam dan neraca keimanan, pondasi agama, dan menjadi tanda kesempurnaan orang yang memiliki sifat ini. Ia menempati kedudukan yang tinggi di dalam agama dan dalam urusan dunia. Dengan kejujuran akan terpilah orang yang beriman dan orang munafik, terpilih penghuni surga dari penduduk neraka. Dengannya seorang hamba akan dapat meraih kedudukan al-Abrar (orang baik), dan dengannya akan mendapatkan keselamatan dari api neraka.

Al-Qur’an menyebutkan sifat jujur dalam banyak ayat serta menganjurkan kepada kejujuran, dan bahwa ia merupakan buah dari ikhlas dan takwa. Di antara
ayat-ayat tersebut adalah:

  1. Firman Allah Swt. yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman,
    bertaqwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang
    benar.
    ” (QS. At-Taubah:119)

Maksud ayat di atas yaitu, “Jadilah kalian semua bersama dengan orang-orang yang jujur dalam ucapan mereka, dalam perbuatan dan segala keadaan mereka. Mereka adalah orang-orang yang yang ucapannya jujur, perbuatannya dan keadaannya tiada lain kecuali kejujuran semata, bebas dari kemalasan, kebosanan, selamat dari tujuan-tujuan yang buruk, dan selalu memuat keikhlasan dan niat yang baik”. (Tafsir Ibnu katsir : hal : 355)

  1. Firman Allah Swt. yang artinya, “Supaya Allah memberikan balasan
    kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya.”
    (QS. al-Ahzab:24)
    Yakni mereka memperoleh semua itu dengan sebab kejujuran mereka dalam ucapan, keadaan dan interaksi mereka dengan Allah Swt, serta kesesuaian mereka antara lahir dengan batinnya. (Tafsir Ibnu katsir : hal 661)
  1. Firman Allah Swt. yang artinya, “Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka.” (QS. al-Maidah:119)

Yakni, kejujuran mereka ketika di dunia akan memberikan manfaat kepada mereka di hari Kiamat. Dan tidak ada sesuatu yang bermanfaat bagi seorang hamba pada hari kiamat serta tidak ada yang menyelamatkannya dari adzab Allah kecuali kejujuran.

Ayat-ayat di atas menjelaskan bahwa kita dilarang untuk berbohong dan diharuskan untuk jujur dalam berkata dan berbuat. Sebab dari berbohong atau bermain curang banyak mengakibatkan kerugian bagi diri sendiri dan orang lain, baik di dunia mapun di akhirat.

  1. F. Metode Penelitian

Secara umum penelitian ini akan didasarkan pada prinsip-prinsip deskriptif, yaitu metide yang memusatkan diri pada pemecahan masalah data. Dengan menggunakan metode inipenulis berharap dapat memperoleh kesimpulan berdasarkan pengolahan dan analisis data yang kemudian diangkat beberapa aplikasi yang bermakna.

  1. G. Sistematika Penulisan

Agar pembahasan penelitian ini terarah dan mendapatkan kesimpulan yang tepat untuk memecahkan masalah yang dihadapi, maka secara sistematis penelitian ini disusun sebagai berikut:

Bab I,                          Pendahuluan terdiri latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, kerangka pemikiran, metode penelitian, dan sistematika penulisan.

Bab II,            Membahas tentang landasan teoritis yang terdiri dari pengertian perilaku mencontek, karakteristik usia sekolah sekolah menengah pertama (12-15 tahun / masa remaja awal) secara psikologis, upaya guru PAI dalam pembinaan akhlak anak usia  12-15 tahun.

Bab III,           Membahas tentang pelaksanaan penelitian, hasil penelitian dan rangkuman penelitian.

BAB IV,         Analisis terhadap hasil penelitian.

BAB V,          Bab penutup yang terdiri dari kesimpulan dan saran.

  1. H. Daftar Pustaka
  • Al-Qur’an Digital Versi 2.1
  • Maktabah Syamilah Digital Versi 2.09
  • Zakiah Darajat. 1995. Remaja Harapan dan Tantangan, Bandung : PT. Remaja Rosdakarya Offset.
  • B. Hur lock Elizabeth. 1999. Psikologis Perkembangan. Jakarta : Erlangga.
  • Sugiyono. 2006. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D. CV.  Bandung : Alfabeta.
  • Mahmud As-sayid. 1994. Mendidik Generasi Qur’ani. Jakarta : Pustaka Mantiq
  • Undang-Undang Republik Indonesia. Nomor 20 Tahun 2003. Sistem Pendidikan Nasional. Pdf.
  • Syaikh Sulthan Fuad Al-Thubaisyi. Majalah Al Jundi  Al Muslim. 1420. bagian ke 1 dari 4 edisi.

About mujaddid

bijaksana

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: