//
you're reading...
Unisba

Dinasti Mughal di India

Dinasti Mughal di India

  1. A. Dinasti Islam Di India Sebelum Pendirian Dnasti Mughal

Sejak zaman Nabi Saw, India telah memiliki sejumlah pelabuhan sehingga terjadi interaksi antara India dengan Nabi Saw. Oleh karena itu, dagang dan dakwah menyatu dalam satu kegiatan sehingga raja kadangalur, Cheramal Perumal, memeluk agama Islam dan mengganti namanya menjadi Tajudin, dan Ia sempat bertemu dengan nabi Saw.

Pada zaman Umar Ibn Khathab, Mugirah berusaha menaklukkan Sind, tapi usahanya gagal (643-644 M). Pada zaman Utsman Ibn Affan dan Ali Ibn Abi Thalib, dikirim utusan untuk mempelajari adat-istiadat dan jalan-jalan menuju India. Pada zaman Muawiyah I, Muhammad Ibn Qasim berhasil menaklukkan dan diangkat menjadi Amir Sind dan Punjab. Kepemimpinan di Sind dan Punjab dipegang Muhammad Ibn Qasim setelah ia berhasil memadamkan perampokan-perampokan terhadap umat Islam di sana. Karena pertikaian internal (antara Al-Hajjaj dan Sulaiman), dinasti ini melemah; dan ketika dalam keadaan lemah, dinasti ini ditaklukkan oleh dinasti Gazni.

Pada zaman Al-ma’mun (khalifah dinasti Bani Abbas), diangkat sejumlah amir untuk memimpin daerah-daerah. Di antara yang dipercaya untuk menjadi amir adalah Asad Ibn Saman untuk daerah Transoxiana. Ia diangkat menjadi amir setelah berhasil membantu khalifah Bani Abbas dalam menaklukan dinasti Safari yang berpusat di Khurasan.

Dinasti Samani (874-999 M) mengangkat Alpitigin menjadi amir di Khurasan. Alpitigin kemudian diganti oleh anaknya, Ishak. Ishak dikudeta oleh balktigin; balktigin diganti oleh Firri; dan firri dijatuhkan oleh Subuktigin. Subuktgin menguasai Gazna dan kemudian mendirikan Dinasti Gaznawi (963-1191 M).

Dinasti Gaznawi ditaklukkan oleh dinasti Guri (1191 M). Setelah meninggal, Muhammad Guri diganti oleh panglimanya, Quthbuddin Aibek (karena Muhammad Guri tidak memiliki anak laki-laki). Quthbuddin Aibek-budak yang sudah dibebaskan oleh Muhammd Guri-menjadi Sultan sejak tahun 1206 M. Sejak itu berdirilah kesultanan Delhi. Kesultanan Delhi terdiri atas: (a). Dinasti Mamluk di Delhi (1206-1290 M); (b). Dinasti Khalji (1290-1320 M); (c). Dinasti Tughluq (1320-1414 M); (d). Dinasti Sayed (1414-1451 M); dan (e). Dinasti Lodi (1451-1526 M).

B. Pendirian Dinasti Mughal (1526-1857 M)

Ibrahim Lodi (cucu sultan Lodi), sultan delhi terakhir, memenjarakan sejumlah bangsawan yang menentangnya. Hal tu memicu pertempuran antara Ibrahim lodi degan Zahirudin Babur (cucu Timur Lenk) di Panipazh (1526). Ibrahim Lodi terbunuh dan kekuasaanya berpindah ke tangan Babur; sejak itulah berdiri dinasti Mughal di India, dan Delhi dijadikan ibu kota.

Pada masa pemerintahan Babur, pemerintahan ini diwarnai masa konsolidasi kekuasaan dengan mewrisi pemerintahan sebelumnya. Pada masa ini raja-raja Hindu Rajputh (seperti Rana Sanga) di seluruh India bangkit kembali mencoba melepaskan dari kekuasaan Islam. Mereka membentuk antara tahun 1526 dan 1527 M. Tampaknya hal ini memanfaatkan masa-masa transisi politik dari penguasa-penguasa Turki ke penguasa Mongol- selanjutnya disebut mughal. Babur dapat meredam gejolak politik ini. Kemudian di afghanistan masih ada golongan yang setia pada keluarga Lodi sebagai penguasa di sana. Namun babur dapat menyelesaikannya dengan pertempuran di Gograth tahun 1529 M.

Dengan demikian, masa pemerintahan Babur ditandai oleh dua persoalan besar, yakni bangkitnya kerajaan-kerajaan Hindu dan munculnya penguasa muslim yang tidak mengakui pemerintahannya di Afghanistan. Pada tahun 1530 M, babur meninggal dunia dengan mewariskan wilayah kekuasaan yang begitu luas dan karier politik yang sangat cemerlang. Ia menyerahkan kekuasaannya kepada putera sulungnya, Nashirudin Humayun (1530-1556 M).

Nashirudin Humayun memerintah tahun 1530-1539 M dan 1555-1556 M. Periode pemerintahannya banyak diwarnai kerusuhan dan berbagai pemberontakan. Hal ini dimungkinkan karena usia pemerintahan yang diwarikan ayahnya ini masih relative masih muda dan belum stabil, seperti juga terjadi sebelumnya. Salah satu dinasti dari Afghanistan yang saat itu diperintah Sher Khan Suri menginvasinya pada tahun 1539 m ke pusat pemerintahan Humayun di Delhi. Pasukan Humayun hancur dan negara dalam kondisi tak menentu. Akan tetapi, Humayun dapat meloloskan diri ke persia dan diterima dengan baik oleh Sultan Safawi, Shah Tahmasp. Di sinilah ia mengenal tradisi Syiah bahkan sering dibujuk untuk memasukannya, termasuk anaknya Jalaludin Muhamad Akbar Di sini pula ia membangunkembali kekuatan militer yang telah hancur, dan berkat bantuan Shah Tahmasph yang memberinya pasukan militer sebanyak12.000 tentara kemudian terkumpul seluruhnya sebanyak14.000 orang. Humayun mencoba kembali merebut kekuasaanya di Delhi.

Pada tahun 1555 M ia menyerbu delhi yang saat itu diperintah Sukandar Sur. Akhirnya, ia bisa memasuki kota ini dan ia bisa memrintah kembali sampai pada tahun 1556 M. Tahun 1556 M, ia meninggal dunia dan digantikan oleh anaknya Jalaludin muhammad akbar (Akbar Khan) (1556-1605). Pada zamannya, dinasti Mughal mencapai puncak kejayan.

Ia adalah sultan yang sangat terkenal dari dinasti ini dan ialah yang sebenarnya menciptakan sistem kerajaan ini. Sultan Akbar terkenal dengan gagasan-gagasannya yang sangat radikal dan liberal baik ndalam aspek sosial atau pemikiran keagamaan. Masa pemerintahannya berhasil dan cukup stabil bahkan wilayah-wilayah kekuasaanya semakin luas.

Di antara kebijakan politiknya yang paling berani pada awa-awal pemerintahannya adalah menyingkirkan Bairan Syah, penasihat politik Syi’ah yang dipercayai Humayun. Kebijakan lainnya adalah menata sistem pemerintahannya dengan sistem militer termasuk ke seluruh wilayah taklukannya. Pemerintah daerah dipegang oleh seorang Shipar salar jendral atau epala komandan dan sub-distrik ooeh faudjar (komandan), termasuk jabatan-jabatan sipil selalu diberi jenjang kepangkatan bercorak militer.

Dasar-dasar kebijakan sosialnya dengan politik sulakhul (tolerasnsi universal). Dengan cara ini, semua rakyat dipandang sama, mereka tidak dibedakan sama sekali oleh ketentuan agama atau lapisan. Di antara reformasi itu adalah:

a. menghapuskan ijizyahi bagi non-muslim.

b. Memberikan pelayanan pendidikan dan pengajaran yang sama bagi setiap masyarakat, yaknidengan mendirikan madrasah-madrasah dan memberi tanah-tanah wakaf bagi lembaga-lembaga sufi berupa iqtha atau madad ma’asy;

c. Membentuk undang-undang perkawinan baru, diantara melarang orang-orang kawin muda, berpoligami bahkan ia mengalakan kawin campur antar beragama. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan, stabilitas dan integrasi masyarakat muslim dan non-muslim.

d. menghapuskan pajak-pajak pertanian terutama bagi petani-petani miskin sekalipun non-muslim.

e. Menghapuskan tradisi perbudakan yang dihasilkan dari tawanan perang dan mengatur khitanan anak-anak.

Aspek penting lainnya dari pembaharuannya adalah menciptakan Din Ilahy yang ciri-ciri pentingnya adalah:

  1. Percaya pada keesaan Tuhan;
  2. Akbar sebagai khilafah Tuhan dan seorang padash (al-insan al-kamil); ia mewakili Tuhan di muka bumi dan selalu mendapat bimbingan langsung dari Tuhan; ia terma’shum dari segala kesalahan;
  3. Semua pemimpin agama harus tunduk dan sujud pada Akbar;
  4. Sebgai manusia ipadash, ia berpantangan memakan daging (vegetarian);
  5. Menghormati api dan matahari sebagai simbol kehidupan;
  6. Hari ahad sebagai hari resmi Ibadah;
  7. ”Assalaamu’alaikum” diganti ”Allahu Akbar” dan ”Alaikum Salam” diganti ”jalla jalalah”.

Di antara faktor0faktor yang mendorong Sultn Akbar menciptakan “Din Ilahi” adalah sebagai berikut:

  1. Para ulama dan pemimpin agama saling berbeda pendapat mengenai masalah-masalah keagamaan. Mereka saling mengecam dan berpecah-belah;
  2. Keadaan rakyat dan peganut agama-agama di India semakin fanatik karena pengaruh tokoh-tokoh agama, bahkan rakyat tidak sedikit saling bertikai;
  3. Pengaruh penasihat-penasihat agama dan politik Sultan Akbar di antaranya Abu Fadhl, Mir Abdul Lathif (persia) dan Syaikh Mubaraq yang membiarkan bahkan tidak jarang mendorong akbar berpikir bebas dan radikal.

Sebenarnya masih banyalk kebijakan-kebijakan lain yang umumnya lebih memntingkan persatuan politik, sekalipun dengan banyak mengorbankan nilai-nilai syari’ah Islam. Inilah periode yang betul-betul ”sinkretik” membumi di India; suatu usaha ”pemerintahan Islam” untuk bisa diterima di kalangan rakyat India. Sultan Akbar ingin menembus batas-batas terdalam tradisi Hinduistik dan agama-agama lain di India. Ia meninggal pada tahun 1605 M setelah menderita sakit yang cukup parah (karena kawan-kawan dekatnya dibunuh oleh anaknya jahangir mungkin disebabkan adanya rasa kecemburuan yang terlalu banyak sehingga mempengaruhi ayhnya). Kemajuan-kemajuan yang telah dicapainya dapat dpertahankan oleh sultan-siltan selanjutnya, antara lain Jahangir (1605-1627 M), Syah Jehan (1628-1658 M), dan Aurangzeb (1659-1707 M). Ketiganya merupakan sultan-sultan besar Mughal yang didukung dengan berbagai kecakapan dan kekuatan militer. Setelah mereka, sulit ditemukan sultan-sultan tangguh.

C. Konflik Internal dan Perkembangan Ilmu Pengetahuan

Setelah meninggal, Akbar diganti oleh anaknya, jahangir (1605-1627 M). Jahangir dijatuhkan oleh anaknya, Shah jehan (1627-1658 M), Shah Jehan ditangkap oleh anaknya, Aurengzeb; setelah ditangkap, Shah Jehan dipenjara bawah tanah. Akhirnya terjadi perang saudara antara Aurangzeb dengan kakak tertuanya, Dara. Dara dapat dikalahkan. Dengan demikian, Aurangzeb menjadi sultan Mughal (1658-1707 M) dengan gelar Alamgir Padshah Ghazi.

Di antara kebijakan Aurangzeb adalah: (a). Melarang adanya perjudian, minuman keras, pelacuran dan narkotia (1659 M); (b). Melarang praktek sati (1664 M); (c). Memprakarsai perusakan kuil-kuil Hindu; dan (d). Memprakarsai kodifikasi hukum Islam yang produknya kemudia disebut Al-Fatawa I alamgir (al-fatawa al-lamgiriyat; al-fatawa al-hindiyat).

Setelah meninggal, Aurangzeb diganti oleh sultan yang lemah-lemah. Sultan-sultan Mughal setelah Aurangzeb adalah: (a). Bahadur Syah (1707-1712 M); (b). Azimus Syah (1712 M); (c). Tihandar Syah (1713 M); (d). Farukh Syiyar (1713-1719 M); (f). Alamgir II (1719-1748 M); dan (g). Sah Alam (1761-1806 M); dan akirnya, Mughal diserang oleh Ahmad Syah Durani dari Afgan; dan seara perlahan-lahan, mughal lenyap dari India; terutama setelah sultan Mughal terakhir, Bahadur Syah diusir dari istana oleh Inggris (1857 M).

About mujaddid

bijaksana

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: