//
you're reading...
Ke-Ilmu-an

PERAN DAN MOTIVASI KIYAI DALAM PENENTUAN ORIENTASI PENDIDIKAN DI PONDOK PESANTREN

Upaya Memadukan Sistem Pendidikan Luar Sekolah dan Pendidikan Sekolah Di Pondok Pesantren Buntet Cirebon

 

A B S T R A K

Pesantren Buntet Cirebon, sejak berdiri pada penghujung abad ke-18 (1750-an) hingga 1910-an, belum mengajarkan ilmu pengetahuan umum dan keterampilan. Jika ada alumninya yang menjadi pedagang, petani, tukang batu atau tukang kayu, kemungkinan ketika ia mesantren sering dipercaya kiyainya untuk mengerjakan pekerjaan yang di kemudian hari mereka menjadi ahli dalam pekerjaannya itu. Dewasa ini, Pondok Pesantren Buntet telah maju dan berubah bentuk menjadi sebuah lembaga yang menyelenggarakan pendidikan pesantren, pendidikan persekolahan dan pendidikan keterampilan

Sebagai lembaga yang menyelenggarakan beberapa bentuk pendidikan, di duga timbul beberapa masalah, antara lain: beragamnya tujuan institusional; beragamnya keinginan masyarakat yang memasukkan putra-putrinya ke lembaga pendidikan, dan yang lebih fatal adalah tujuan dan harapan itu harus menyesuaikan diri dengan tujuan pesantren Buntet. Karena itulah inti masalah yang terjadi di Pondok Pesantren Buntet adalah, sejauh mana peran dan motivasi kiyai dalam penentuan orientasi pendidikan di Pondok Pesantren Buntet.

Pelaksanaan penelitian ini digunakan pendekatan kualitatif, sedangkan  subyek penelitiannya adalah para kiyai, santri, alumni, tokoh masyarakat dan pemerintah daerah yang ada di lingkungan Pesantren Buntet. Untuk memperoleh data yang akurat, penulis melakukan wawancara, observasi dan studi dokumen.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa, motivasi mbah Muqayyim ketika mendirikan “lembaga sosial keagamaan” ini sangat sederhana sekali yaitu mengajarkan kepada masyarakat Desa Kaduwela (lokasi Pesantren Buntet saat itu) tentang beribadah kepada Allah swt., dan berbuat baik sesama manusia. Di samping itu, lembaga ini dijadikan sebagai latihan fisik untuk menghadapi tentara Belanda. Perkembangan berikutnya, motivasi kiyai dalam memajukan lembaga pendidikannya adalah menjadikan Pondok Pesantren Buntet sebagai lembaga pendidikan yang tetap menjaga tradisi pesantren melalui madtrasah masjid, madrasah diniyah dan Majlis Ta’lim juga berusaha mengembangkan pengetahuan umum dan keterampilan. Bahkan lebih dari itu, pengelola pesantren berusaha menjadikan Pesantren Buntet sebagai pelopor pengembangan Iptek. Peran atau keterlibatan kiyai dalam pengembangan Pondok Pesantren Buntet, dapat dilihat melalui dua sisi yaitu pengorbanan dalam bentuk material yakni sebagian harta kekayaannya diwakafkan untuk dijadikan sarana-fasilitas pesantren; dan pengorbanan dalam bentuk spiritual yakni seluruh pikiran, waktu dan ilmunya difokuskan demi kemajuan lembaga pendidikan yang telah didirikannya.

Dua upaya nyata yang dilakukan kiyai dalam memenuhi tuntutan masyarakat yaitu: 1) merubah orientasi (reorientasi) pendidikan sehingga Pesantren Buntet berorientasi membimbing dan membina manusia Indonesia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah, menguasai Iptek tapi berakhlaq mulia serta bersikap mandiri, 2) bekerja sama dengan beberapa lembaga pendidikan lain, sehingga lembaga pendidikan yang ada di Pondok Pesantren Buntet tidak hanya madrasah diniyah atau jenis-jenis lembaga PLS lainnya melainkan lembaga-lembaga pendidikan sekolah yang mengajarkan pengetahuan umum dan keterampilan juga didirikan.

Akhir karya tulis ilmiah ini, penulis merekomendasikan kepada pimpinan Pesantren Buntet agar melakukan 1) pendataan jumlah santri secara administratif, menyeluruh dan terkoordinasi sebagai santri Pesantren Buntet; 2) menjadikan YPI Buntet sebagai wadah tertinggi, dalam menentukan kebijakan dan mengkoordinasi lembaga-lembaga pendidikan yang ada; 3) mendirikan suatu Lembaga Pendidikan Tinggi Islam (LPTI) sebagai sarana pengembangan thariqat tijaniyah dan syatariah yang selama ini telah berkembang dan melembaga di Pesantren Buntet.

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pembangunan Nasional yang secara berkesinambungan akan terus menerus dilaksanakan, sangat membutuhkan dukungan dan peranan dari seluruh manusia Indonesia seutuhnya yang memiliki potensi: beriman dan bertaqwa tarhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki ilmu pengetahuan dan berketerampilan, kesehatan jasmani dan rohani, berkepribadian yang mantap dan dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan (pasal 4 UUSPN 1989). Manusia Indonesia yang beriman dan bertaqwa, berbudi pekerti yang luhur dan berkepribadian serta selalu membiasakan diri dan bertanggung jawab terhadap perkataan dan perbuatannya adalah, karena sebagian besar dari mereka pernah dan telah memperoleh bimbingan dan pelatihan dari kiyai di pondok pesantren. Sedangkan mereka yang memiliki ilmu pengetahuan dan keterampilan, sehat jasmani dan rohani adalah mereka yang pernah dan telah memperoleh bimbingan melalui lembaga pendidikan sekolah.

Di dalam Undang Undang RI. Nomor 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 10 ayat 1, 2 dan 3 disebutkan bahwa,

Pendidikan di Indonesia diselenggarakan melalui dua jalur yaitu jalur pendidikan sekolah dan jalur pendidikan luar sekolah. Pendidikan yang diselenggarakan di jalur pendidikan sekolah adalah pendidikan yang diselenggarakan di sekolah melalui kegiatan belajar mengajar secara berjenjang dan berkesinambungan; sedangkan pendidikan yang diselenggarakan di jalur pendidikan luar sekolah adalah pendidikan yang diselenggarakan di luar sekolah melalui kegiatan belajar mengajar yang tidak berjenjang dan berkesinambungan (UUSPN, 1989:5).

Pondok Pesantren, yang sifat pendidikannya tidak berjenjang dan tidak berkesinambungan, proses pendiriannya diprakarsai oleh seseorang atau sekelompok orang dan keberadaan lembaga pendidikan ini yang selalu berada di tengah-tengah masyarakat, dapat dikatakan bahwa lembaga pendidikan keagamaan ini termasuk salah satu bentuk dari tipe pendidikan luar sekolah (PLS). Tetapi jika dipelajari dari segi kelembagaan, maka Pesantren adalah sebuah sistem lembaga kependidikan yang di dalamnya terdiri dari beberapa sub sistem atau komponen pendidikan. Di antara komponen atau elemen-elemen lembaga pendidikan Pesantren adalah, antara lain Kiyai sebagai pendidik, santri sebagai peserta didik, mushalla/masjid sebagai sarana pendidikan, isi kitab kuning (KK) sebagai materi pendidikan dan beberapa pondok atau kamar sebagai tempat tinggal para santri (Zamakhsari Dzofier, l994:44). Pada beberapa pondok pesantren yang besar dan terkenal, di antaranya ada yang telah memiliki sarana dan fasilitas lain seperti ruang perkantoran untuk kegiatan administrasi, beberapa ruangan unit usaha koperasi pondok pesantren (Kopontren) dan ruangan pusat informasi pesantren (PIP). Singkatnya, dengan beberapa sarana dan prasarana yang telah dimiliki pondok pesantren, sebagaimana sarana dan prasarana yang ada pada lembaga pendidikan sekolah, maka pada pondok pesantren juga terjadi dan berlangsung proses kependidikan sebagaimana proses kependidikan yang terjadi dan berlangsung pada lembaga pendidikan sekolah.

Pondok Pesantren Buntet Cirebon sejak berdiri pada penghujung abad ke-l8 (tahun l750-an) sampai tahun 1970-an dapat dikategorikan sebagai lembaga sosial keagamaan,  layaknya di sebagian besar pondok  pesantren di Indonesia,   yang sama sekali tidak memperioritaskan dan mengajarkan ilmu pengetahuan umum dan keterampilan kepada para santrinya. Jika ada alumni yang memiliki keterampilan sebagai pedagang, petani, menjadi tukang kayu atau tukang batu, maka kemungkinan ketika ia tinggal dan belajar (mondok) di pondok pesantren, sering dipercaya oleh kiyainya untuk mengerjakan suatu pekerjaan yang dikemudian hari ia menjadi ahli dalam bidang pekerjaan itu.

Pernyataan di atas menunjukkan bahwa, keterlibatan dan peranan kiyai di pondok pesantren Buntet terhadap santrinya pada saat itu masih lebih banyak bersifat ‘amaliah pengetahuan dan praktek-praktek keagamaan dan belum banyak berkiprah dalam bidang keterampilan.

Perkembangan dan kemajuan masyarakat begitu cepat, menuntut setiap lembaga pendidikan untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan dan tuntutan tersebut. Di sisi lain, dalam kehidupan pondok pesantren, kiyai adalah pemegang perencanaan sebagai kekuatan dominan dalam menentukan arah dan kebijakan pendidikan, maka perubahan yang terjadi akan dipengaruhi oleh kebijakan kiyai.

Dewasa ini, pondok pesantren Buntet Cirebon telah berubah bentuk menjadi suatu lembaga pendidikan yang menyelenggarakan jenis pendidikan yaitu pondok pesantren, pendidikan persekolahan dan pendidikan keterampilan. Tapi sebagai lembaga pendidikan yang mengembangkan beberapa jenis pendidikan, maka dapat dipastikan jenis-jenis pendidikan itu memiliki tujuan yang berbeda.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan gambaran di atas maka, permasalahan yang terjadi di  pondok pesantren Buntet adalah: 1) Beragamnya tujuan institusional; 2) Beragamnya keinginan masyarakat yang memasuki lembaga-lembaga pendidikan; 3) Tujuan lembaga yang berbeda dan beragamnya harapan masyarakat, harus menyesuaikan dengan tujuan pondok pesantren Buntet. Dari beberapa permasalahan tersebut, permasalahan yang di hadapi pondok Pesantren Buntet adalah, sejauh mana kiyai berperan dalam penentuan orientasi pendidikan Islam khususnya di pondok pesantren Buntet Cirebon.

C. Pertanyaan Penelitian

Mempelajari permasalahan di atas, maka pertanyaan penelitian yang diajukan pada pelaksanaan penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Bagaimana perkembangan pondok pesantren Buntet Cirebon secara historis,
    1. Bentuk atau jenis jenis pendidikan apa yang telah ada dan pendidikan apa yang dikehendaki masyarakat dalam rangka mengikuti perkembangan jaman,
    2. Bagaimana respons kiyai dan pengelola pondok pesantren Buntet Cirebon terhadap kebutuhan masyarakat,
    3. Peran apa yang yang dilakukan kiyai dalam memenuhi tuntutan masyarakat,
    4. Faktor-faktor pendukung dan penghambat apa yang dihadapi kiyai dalam upaya memadukan sistem pendidikan sekolah dan PLS

D. Definisi Opersasional

1. Peran

Manusia hidup di tengah-tengah masyarakat, tidak bisa lepas dari kedudukannya sebagai pribadi maupun sebagai anggota masyarakat. Sebagai pribadi, ia memiliki hak untuk memperoleh kehormatan dan kebebasan dari orang lain; karena itu ia berhak untuk memperoleh pendidikan, kesehatan, pekerjaan, bekarya, berbicara dan melakukan kegiatan lain sesuai dengan keahlian dan profesinya. Tetapi sebagai anggota masyarakat, ia berkewajiban untuk menghormati dan memberikan kebebasan kepada orang lain untuk berkarya dan berprestasi sesuai dengan profesinya, memperoleh pendidikan dan kesehatan serta memperoleh kesempatan bekerja.

Proses bermasyarakat, selalu dijumpai adanya sistem pelapisan sosial. Terjadinya sistem ini salah satu penyebabnya adalah adanya sesuatu yang lebih dihargai dari yang lain, sehingga memberikan kemungkinan bagi terwujudnya berbagai status sosial dan peran dalam masyarakat tersebut. Status adalah tempat seseorang secara umum dalam masyarakat, sedangkan peran (role) adalah aspek dinamis dari status tersebut. Seseorang yang melaksanakan hak, kewajiban dan tujuan-tujuannya sesuai dengan status sosialnya, maka ia tengah menjalankan suatu peran.

Astrid S. Susanto (1977:94) mengutip pendapat Laurance Ross tentang role sebagai dinamisasi dari status atau penggunaan hak dan kewajiban. Lebih jauh Koentjoroningrat (1974:121) mengemukakan, “dalam suatu pranata, individu-individu yang terlibat di dalamnya selalu menempati kedudukan-kedudukan tertentu. Pada hakekatnya kedudukan-kedudukan tersebut merupakan suatu komplek dari kewajiban-kewajiban dan hak-hak dari individu-individu yang menempatinya, yang disebut status”; adapun segala cara bertingkah laku dari individu-individu untuk memenuhi kewajiban dan mendapatkannya tadi, disebut role. Harsoyo (1972:124) mengemukakan, “peran adalah keseluruhan pola perilaku seseorang yang bertalian dengan status tertentu yang diharapkan oleh masyarakatnya”.

2. Motivasi

Motivasi merupakan sesuatu yang dianggap abstrak, tetapi hasil dari motivasi dapat dibuktikan melalui manifestasi. Seseorang, karena motivasinya berupaya dan bekerja keras sehingga tercapai apa yang diinginkannya. Kaitan dengan motivasi, Aron Quinn (1958:46) mengartikannya sebagai “complex state with in a organisme that direct behaviour toi ward a goal” yakni suatu keadaan yang sifatnya kompleks pada sebuah sistem organisme dalam mencapai tujuan. Bahkan David Krech, Cs melalui Individual in Society (1962:69) yang mengemukakan, “the study of the direction and persitence of actrion is the study of motivation” yakni studi tentang dorongan untuk mengarahkan dan mempertahankan perbuatan adalah studi tentang motivasi. Dengan demikian, motivasi adalah goal directed yaitu dorongan yang tumbuh karena ada tujuan yang ingin dicapai pada diri individu maupun kelompok ke arah untuk mempertahankan nilai-nilai yang dianggap tinggi.

3. Kiyai

Pada umumnya, masyarakat memanggil seseorang dengan panggilam kiyai adalah karena kedudukannya sebagai pemimpin masyarakat karena sering menjadi imam peribadatan keagamaan di mushalla/masjid atau kegiatan keagamaan di majlis ta’lim atau pondok pesantren; Juga karena ia memiliki kedalaman ilmu pengetahuan keagamaan dan mempraktekannya. Berkaitan dengan pengertian kiyai, Taufiq Abdullah (1993:43) mengemukakan bahwa  padanan kata kiyai dengan keadaan masyarakat Indonesia yang plural ini yaitu kata ‘alim (bahasa Arab) yang berarti orang yang berilmu, bentuk jamaknya yaitu kata ‘ulama yang berarti sekumpulan atau sekelompok orang yang berilmu dari berbagai latar belakang pengetahuan.

Dengnan demikian yang dimaksud dengan kiyai pada tulisan ini ialah, seseorang yang memiliki kedalaman ilmu pengetahuan keagamaan, dijadikan panutan masyarakat dan dipercaya menjadi pemimpin pada suatu lembaga pendidikan keagamaan karena ‘alim, otopraksi dan kharismanya.

4.      Orientasi

Orientasi, pada Kamus Umum Bahasa Indonesia (1976) diartikan sebagai, “upaya mencocokkan keadaan sesuai dengan petunjuk”. Sedangkan Joyce M. Hawkins (1996:234) menuliskan, “orientasi adalah penyesuaian diri terhadap obyek”. Pada tulisan ini, yang dimaksud perubahan orientasi pendidikan yaitu upaya yang dilakukan kiyai, sebagai pengelola pondok pesantren dalam mengikuti perkembangan dan kemauan masyarakat sesuai dengan kemampuan dan kesediaan sarana fasilitas.

  1. Pendidikan dan Pendidikan Islam

Di dalam Undang Undang Sistem Pendidikan Nasional (1989:2) dikemukakan bahwa, “pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan/atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang”. Dalam pelaksanaannya, usaha menyiapkan peserta didik itu dilakukan oleh keluarga, masyarakat dan pemerintah melalui lembaga-lembaga pendidikan sekolah dan pendidikan luar sekolah. Ke semua lembaga pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan itu dalam dalam upaya untuk merubah perilaku subyektiv menjadi perilaku yang obyektiv sesuai dengan norma dan petunjuk nilai yang berlaku di lingkungan masyarakat. Kaitannya dengan pendidikan Islam, maka usaha yang dilakukan oleh lembaga-lembaga pendidikan adalah membentuk kepribadian muslim (Zakiyah Derajat, 1983:27) yaitu manusia yang beriman, berilmu dan mengamalkannya.

6. Pondok Pesantren

Pondok pesantren, merupakan kata majemuk yang terdiri dari dua kata yang berbeda yaitu pondok dan pesantren. Kata pondok, dalam bahasa Arab funduq artinya ruang tidur atau “asrama sederhana” karena memang merupakan tempat penampungan sederhana bagi para pelajar yang jauh dari tempat asalnya. Sedangkan pesantren berasal dari kata santri yang memperoleh awalan pe dan akhiran an yang berarti tempat para santri. Manfred Ziemek (1986) menuliskan bahwa pesantren merupakan gabungan antara suku kata sant (bahasa sankrit, manusia baik) dan suku kata tra (bahasa sankrit, suka menolong), sehingga kata pesantren dapat berarti tempat pendidikan manusia yang baik-baik.

Dengan demikian, yang dimaksud pondok pesantren adalah lembaga pendidikan Islam tradisional Islam yang di dalamnya sebagai tempat para santri untuk mempelajari, memahami, mendalami, menghayati dan mengamalkan ajaran Islam dengan penekanan terhadap pentingnya moral keagamaan sebagai pedoman perilaku sehari-hari.  

E. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah, ingin memperoleh gambaran tentang model sistem pendidikan yang berlangsung di Pondok Pesantren Buntet yang mungkin dapat diterapkan di beberapa pondok pesantren lain. Untuk menemukan model pendidikan seperti ini, akan dilihat bagaimana peran kiyai yang dianggap lebih dominan itu dan bagaimana interaksi dengan semua komponen lainnya dalam proses pendidikan. Serta bagaimana peran kiyai dalam membentuk kepribadian santri.

F. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan akan bermanfaat bagi pembaca, baik yang bersifat teoritis maupun bersifat praktis. Secara teoritis, penelitian ini mengemukakan bahwa Pondok Pesantren tidak seperti apa yang diduga oleh sebagian masyarakat yaitu scond class dalam pendidikan, baik sarananya maupun mutu pendidikannya. Pendidikan berlangsung di pesantren tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan keagamaan unsich, melainkan ilmu pengetahuan umum atau kejuruan dan keterampilan juga diajarkan.

Pernyataan tersebut dikemukakan, setelah penulis mempelajari dan mengikuti perkembangan dunia pesantren pada dua dasawarsa terakhir ini yang tidak hanya dikelola secara tradisional. Di beberapa pondok pesantren tertentu yang dikelola secara modern melibatkan beberapa tenaga profesional, sehingga lembaga pendidikan yang ada tidak hanya lembaga-lembaga pendidikan keagamaan yang lebih mengutamakan pemahaman dan penguasaan al-quran dan KK. Lembaga-lembaga pendidikan yang bersifat umum dan kedinasan, juga telah ada sebagai pemenuhan kebutuhan masyarakat. Terhadap kedua lembaga pendidikan yang terakhir, kurikulum yang digunakan adalah di samping kurikulum nasional juga diberikan kurikulum lokal yang dirancang dan disesuaikan dengan tujuan pesantren. Karenanya, tenaga pendidikannya juga disesuaikan dengan mata pelajaran yang disampaikan.

Melalui ketiga bentuk lembaga pendidikan itulah sehingga seorang santri, walaupun ia belajar pada lembaga pendidikan umum tapi ia memperoleh pengetahuan keagamaan di samping dari lembaga pendidikan yang dimasukinya juga memperoleh pengetahuan keagamaan dari pondok pesantren melalui pengalaman peribadatan.

Sedangkan secara praktis, penelitian ini berusaha mengemukakan tentang model dan sistem pendidikan yang diupayakan oleh para kiyai atau pembina Pondok Pesantren Buntet. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, kiyai di Pondok Pesantren Buntet tidak pernah berhenti mengupayakan bentuk dan jenis pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Hingga tahun ajaran 1999/2000 ini, di pesantren Buntet telah mendirikan tiga bentuk lembaga pendidikan yaitu: pendidikan keagamaan (tarbiyah al-diniyah), pendidikan umum (tarbiyah al-ammiyah) dan pendidikan kejuruan (tarbiyah al-khashiyah). Di samping itu, sistem tradisional juga tetap dipertahankan yaitu pengajian al-quran dan beberapa KK dan praktek-praktek peribadatan yang diajarkan dan diperintahkan oleh kiyainya yaitu mengamalkan ‘amalan dzikir dari thariqat tijaniyah dan syathariyah sebagaimana yang dilakukan para kiyainya.

Setelah memperoleh kedua manfaat tersebut, minimal pembaca akan mempertimbangkan kembali dugaan yang salah tentang pesantren sebagai lembaga pendidikan scond class. Di samping itu, diharapkan model dan sistem Pendidikan Pesantren Buntet akan dijadikan sebagai panduan bagi masyarakat dalam pondok pesantren sebagai salah satu lembaga pendidikan yang memberikan pengetahuan (kognitiv), sikap (attitude) dan mental serta keterampilan (skill).

G. Kerangka Pemikiran

Pesantren, pada awal berdirinya merupakan lembaga pendidikan Islam tradisional (salafy) yang fungsi dan tujuannya adalah sebagai tempat untuk mengembangkan dan/atau syi’ar islamiyah. Maju atau mundurnya lembaga ini sangat bergantung atau dipengaruhi kiyainya, dan hanya dikenal di kalangan atau lingkungan setempat. Keberadaan pesantren saat itu bersifat tertutup dan peranya pun masih terbatas kepada persoalan keagamaan bagi masyarakat lingkungannya saja. Perkembangan berikutnya, beberapa pesantren tertentu yang dipimpin kiyai-cendekiawan muslim mulai memperoleh perhatian masyarakat luas sejak awal abad ke-20. Sejak itu, pondok pesantren menjadi suatu sistem atau lembaga pendidikan terbuka yang mau menerima input dan menyesuasikan diri dengan perkembangan dan keinginan masyarakat luas; perannyapun tidak hanya dalam bentuk keagamaan melainkan juga masalah-masalah sosial lainnya. Inilah yang dimaksud Mastuhu (1994:21) bahwa, “pondok pesantren adalah lembaga pendidikan Islam yang bercirikan grass root people yang telah tumbuh dan berkembang di Nusantara sejak 300-400 tahun yang lalu”.

Implikasi dari perubahan (dari suatu sistem kelembagaan tertutup menjadi lembaga pendidikan terbuka) adalah, fungsi lembaga ini berubah yaitu mulai menyiapkan diri beberapa perlengkapan sebagaimana perlengkapan yang ada pada lembaga pendidikan sekolah yaitu bentuk kelembagaan yang menerapkan sistem kelas, kurikulum dan metode pengajaran yang tidak hanya ala tradisional yakni sorogan, bandongan dan halaqah. Kenyataan ini menggambarkan bahwa, usaha dan kegiatan yang dilakukan pondok pesantren secara garis besar dapat dibedakan atas dua fungsi pelayanan yaitu: pelayanan kepada santri dan pelayanan kepada masyarakat Suyata dalam Dawam Rahardjo (1985: 16). Dalam bentuk pelayanan pertama, pesantren menyajikan beberapa sarana bagi perkembangan para santrinya; sedangkan bentuk pelayanan kedua, pesantren berusaha mewujudkan masyarakat sesuai dengan perkembangan dan kemampuan yang ada.

Pernyataan di atas menunjukkan bahwa, pondok pesantren adalah lembaga pendidikan dan lembaga sosial yang selalu adaptif terhadap perubahan dan perkembangan yang terjadi di lingkungannya. Sifat adaptif itu diwujudkan dalam bentuk penerapan kurikulum yang diperlukan untuk mengantisipasi tuntutan dan perkembangan. Ada tiga dasar keyakinan yang kondusif untuk dijadikan sebagai landasan akan pentinnya memperhatikan sifat adaptif kurikulum terhadap perubahan yaitu: 1) perubahan yang terjadi sifatnya positif, 2) perubahan yang terjadi di lingkungan sekolah cenderung sifatnya terus menerus (kontinue) dan 3) perlunya usaha untuk menyempurnakan rencana-rencana yang disusun oleh lembaga atau pendidik, karena terjadinya proses adopsi terhadap suatu inovasi (Cuban, 1992:216).

Berpatokan kepada ketiga dasar keyakinan di atas maka dapat diyakini bahwa, perubahan yang terjadi di pondok pesantren sangat penting artinya karena dapat mempengaruhi kurikulumnya. Selama ini, antara pondok pesantren dengan masyarakat dalam pemahaman terhadap suatu nilai (ketetapan sikap dan perilaku [Salvanayasan, 1984]) terdapat perbedaan yang mendasar: pondok pesantren dalam pemahaman terhadap nilai-nilai keagamaan, lebih bersifat tekstual sedangkan masyarakat lebih bersifat kontekstual. Pemahaman secara kontekstual yang dipilih masyarakat, akan melahirkan semangat kreativ-inovativ sesuai dengan persoalan yang sedang berkembang. Di samping itu, pemahaman secara kontektual juga dapat memberikan motivasi yang kuat bagi seseorang untuk melakukan interpretasi atau reinterpretasi terhadap suatu nilai yang bersifat tektual untuk mengadaptasi persoalan-persoalan yang muncul dan berkembang dalam masyarakat.

Pola pemahaman pertama (pemahaman terhadap nilai secara tekstual) biasanya dilakukan oleh beberapa pesantren tradisional, sedangkan pesantren yang tengah berusaha menerapkan kurikulumnya sesuai dengan keinginan masyarakat, cenderung menggunakan pola kedua (pemahaman secara kontekstual). Perkembangan dengan pola kedua ini cukup kondusiv untuk menopang proses inovasi, apalagi jika dikaitkan dengan usaha-usaha untuk membuktikan kebaikan dari inovasi itu dalam sistem kehidupan masyarakat lingkungan pondok pesantren khususnya.

Untuk menerapkan pola kedua, sangat ditentukan oleh seorang pemimpin pondok pesantren yang memiliki ilmu pengetahuan keagamaan yang luas, memahami betul tentang kurikulum pendidikan sekolah juga diterima oleh masyarakat terutama karena kewibawaan dan kesalehannya. Pemimpin pondok pesantren dimaksud adalah kiyai yang memiliki visi dan misi yang jelas dalam mengembangkan sistem pendidikan Islam di pondok pesantren yang dipimpinnya. Salah satu visinya yang prospektif dan memenuhi tuntutan masyarakat adalah memadukan dua sistem pendidikan yang berbeda yaitu sistem pendidikan sekolah dan sistem pendidikan pondok pesantren. Misi dari penggabungan kedua sistem pendidikan itu, memberikan arah dan tujuan jangka panjang kepada para santrinya agar memperoleh dua ilmu pengetahuan sekaligus dalam satu saat yang bersamaan. Kedua ilmu pengetahuan dimaksud adalah ilmu pengetahuan keagamaan yang diperolehnya melalui lembaga pendidikan pondok pesantren dan ilmu pengetahuan umum atau keterampilan yang diperolehnya melalui lembaga pendidikan sekolah yang dimasukinya. Untuk lebih jelasnya kerangka pemikiran penelitian ini dapat dilihat pada gambar di bawah ini

GAMBAR 1

KONSEP PENDIDIKAN DI PONDOK PESANTREN BUNTET

Bentuk dan Jenis  Pendidikan

 

 

 

 

Feed back

Berdasarkan gambar di atas, maka persoalan besar yang harus dijawab dalam penelitian ini adalah, apa motivasi kiyai dan bagaimana perannya dalam menentukan orientasi pendidikan Islam yang berlangsung di Pondok Pesantren Buntet dalam upaya memadukan dua sistem pendidikan yaitu pendidikan luar sekolah (sistem pendidikan pesantren) dan pendidikan sekolah melalui beberapa lembaga-lembaga pendidikan sekolah yang telah ada di lingkungan pondok pesantren Buntet Cirebon.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Sistem Pendidikan Pesantren

1. Sejarah Pondok Pesantren

Pondok pesantren merupakan kata majemuk yang terdiri dari kata Pondok dan Pesantren. Karenanya, kedua kata ini memiliki makna yang berbeda. Pondok dalam bahasa Arab funduk berarti tempat singgah, sedangkan pesantren adalah lembaga pendidikan Islam yang dalam pelaksanaan pembelajarannya tidak dalam bentuk klasikal. Jadi, pondok pesantren adalah lembaga pendidikan Islam nonklasikal di mana peserta didik (santri, murid)nya disediakan “tempat singgah” atau pemondokan.

Secara historis, keberadaan pondok pesantren pada mulanya hanyalah lem-baga keagamaan yang sangat sederhana yaitu salah satu kamar atau rumah kiyai dijadikan pondok bagi santri yang datang untuk belajar ilmu keagamaan dan menauladani sikap dan perkataan kiyai. Rumah kiyai, biasanya berdekatan dengan mushalla atau mungkin mushalla itu miliknya. Di dalam mushalla itulah berlangsungnya shalat fardhu berjamaah, dzikir atau wirid (mengucap kalimat-kalimat pujian pada Allah dan Rasul-Nya), tadarrus dan mengaji atau belajar dasar-dasar al-quran, doa-doa pendek untuk shalat fardlu dan belajar KK pemula (elementary). Bagi santri yang berasal dari keluarga miskin dan rumahnya cukup jauh, maka di mushalla itu mereka bertempat tinggal.

Peserta pengajian di mushalla, selain para santri muqim (santri yang tinggal di mushalla) juga anak-anak dari masyarakat sekitar pondok pesantren. Peserta pengajian yang disebut terakhir ini adalah santri kalong yang hanya mengikuti pengajian kepada kiyai setelah itu mereka pulang ke rumahnya masing-masing, tidak menetap di dalam mushalla.

Ketika jumlah santri muqim semakin bertambah, dengan bantuan para santri, kiyai mengembangkan bangunan sederhananya itu untuk tempat tinggal bagi para santri baru. Seperti halnya santri muqim yang lama, santri muqim yang baru pun bekerja pada masyarakat sekitar pondok pesantren untuk menghidupi mereka sendiri secara sederhana, namun mereka benar-benar mandiri.

Gambaran di atas menginformasikan bahwa keberadaan pondok pesantren pada awal keadaannya tidak bisa lepas dari dukungan dan perhatian masyarakat desa. Ketika pondok pesantren masih kecil dan belum terkenal, perkembangan fisik maupun fasilitasnya berada di bawah pengaruh dan/atau tanggung jawab pemerintah desa. Tapi, setelah menjadi besar dan terkenal, pondok pesantren berusaha mandiri dan lepas dari ketergantungannya kepada pemerintah desa. Pemisahan struktural antara pondok pesantren dengan pemerintah desa tidak berarti pisahnya hubungan fungsional di antara keduanya; pondok pesantren tetap memiliki hubungan fungsional dengan masyarakat dan pemerintah desa di sekitarnya melalui pendidikan agama, kegiatan sosial dan kegiatan ekonomi.

Keadaan seperti di atas dapat diperhatikan dari perkembangan dan kemajuan pondok pesantren yang tidak bisa dipisahkan dari perubahan dan kemajuan ekonomi masyarakat. Atau sebaliknya, perkembangan dan kemajuan ekonomi masyarakat, membawa pengaruh yang sangat besar terhadap perubahan pola kehidupan pondok pesantren. Santri yang datang jumlahnya semakin banyak tapi bukan dari kalangan masyarakat miskin, mereka datang dengan membawa bekal yang lengkap dan sangat cukup, sebagian dari mereka –baik secara perorangan maupun berkelompok- ada yang membangun kamar-kamar pondokan di dalam atau di luar lingkungan pesantren dengan dilengkapi tempat tidur dan bahkan sarana hiburan Radio-Tape-TV.

Keadaan sosial-ekonomi masyarakat semakin meningkat sehingga orang tua santri menuntut pesantren mengikuti perkembangan jaman yaitu tidak hanya mengajarkan materi ilmu-ilmu keagamaan melainkan Iptek dan keterampilan juga saatnya disampaikan. Perkembangan ini tampaknya mengundang minat dan perhatian positif dari berbagai fihak kepada pondok pesantren. Pada saat inilah pondok pesantren mulai mendapatkan banyak tekanan yang “memaksakan”, agar pondok pesantren melakukan serangkaian penyesuaian guna memper-tahankan eksistensinya sekaligus menjawab tantangan yang di hadapinya.

Untuk memenuhi tuntutan fihak eksternal, beberapa pondok pesantren tertentu membuka lembaga pendidikan berupa madrasah, sekolah dan unit-unit klasikal lain. Tidak hanya itu perubahan yang terjadi pada pondok pesantren, lebih jauh pondok pesantren terlibat secara langsung ataupun tidak langsung dalam berbagai kegiatan sosial, ekonomi dan politik bahkan tidak sedikit kiyai atau pengasuh pondok pesantren tertentu aktif di organisasi masyarakat Islam ataupun organisasi sosial-politik. Kenyataan inilah sehingga membuat kemandirian pondok pesantren dinilai masyarakat kritis semakin memudar, bergeser dari sistem tradisional (sistem salafi) menjadi sistem modern (sistem madrasi).

Bergesernya sistem tradisi pondok pesantren mulai tampak ketika di beberapa pondok pesantren besar dan terkenal terjadi perkembangan dan perubahan sistem secara besar-besaran. Perkembangan dan perubahan itu meliputi tiga hal yaitu: 1) perkembangan kurikulum, 2) perkembangan penggunaan metode pembelajaran; dan 3) perkembangan kelembagaan.

Pertama, perubahan dan Perkembangan kurikukum. Hasil penelitian Karel A. Steenbrink (1986:102) mengemukakan, di beberapa pesantren terkenal telah mema-sukkan kurikulum Barat (Belanda khususnya) ke dalam pendidikan agama sebagaimana yang dilakukan Pesantren “Mamba’ul Ulum” di Surakarta, juga di Madrasah Tawalib di Sumatera Barat.

Kedua, perubahan dan perkembangan metode mengajar. Perkembangan dan perubahan metode mengajar terjadi dari sistem salafi ke sistem madrasi. Pada sistem salafi, kiyai atau qayyim dalam proses pengajaran KK-nya menggunakan metode khas pesantren yaitu metode sorogan (bimbingan individual) dan bandongan atau halaqah (semacam ceramah umum).  Dalam sistem salafi, tidak ada pembagian tingkat kemajuan belajar, karena masing-masing santri menentukan sendiri kemajuannya dengan menunjukkan penguasaannya beberapa KK kepada kiyai secara perorangan. Karenanya wajar jika sistem salafi dikategorikan sebagai sistem pendidikan nonformal yakni tidak “beraturan” jika dibandingkan dengan pengajaran yang diselenggarakan melalui sistem madrasai. Pada sistem madrasi, selain diberlakukan sistem perjenjangan yang jelas, proses belajar mengajar berlangsung di dalam kelas juga metode yang digunakan ustadz (guru) dalam menyampaikan materi pelajarannya tidak hanya metode ceramah, melainkan metode-metode lain seperti metode tanya jawab, diskusi, sosiodrama juga digunakan; evaluasi dalam bentuk post tes, pre tes, UTS, UAS ataupun catur wulan dilaksanakan secara formal pada sistem madrasi, sebagai upaya untuk mengetahui perkembangan dan kemajuan prestasi siswa, aktifitas guru dan peningkatan materi pelajaran berikutnya.

Ketiga, Perubahan dan perkembangan kelembagaan. Hadimulyo yang penda-patnya diedit Dawam Rahardjo (1986:104) mengemukakan, pesantren sejak 1960-an terjadi perkembangan baru yaitu melembagakan diri dalam bentuk yayasan. Karena pesantren telah berlindung dan/atau menjadi yayasan, maka wajar jika para teknokrat dan birokrat masuk ke dalam “dunia pesantren” sehingga posisi kiyai cukup dijadikan sebagai simbol. Di bawah ini adalah contoh tipe pondok pesantren yang status kelembagaannya berada di bawah naungan Yayasan yaitu 1) Pondok Pesantren Asy-Syafi’iyyah (Jakarta) dan 2) Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyyah Ibrahimiyah (Situbundo, Jawa Timur).

  1. Pondok Pesantren Asy-Syafi’iyyah (PP. Asy-Syafi’iyyah) Jakarta

PP. Asy-Syafi’iyyah menjadi Yayasan sejak tahun 1963, hingga kini telah memiliki TK, MI, MTs, MA, lima buah SLTP dan tiga buah SMU, Universitas Islam Asy-Syafi’iyyah (UIA) dengan tiga Fakultas: Dakwah, Tarbiyah dan Ekonomi dan Sekolah Tinggi Wiraswasta; Selain itu, PP Asy-Syafi’iyah memiliki Pemancar Radio, Penerbitan, Masjid Jami’, asrama santri, panti asuhan, balai pengobatan, Aula serba guna, mushalla, perumahan guru, toko sebagai salah satu unit Koperasi dan Perpustakaan.

  1. Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah (PP Salafiyah Syafi’iyyah)

PP. Salafiyah Syafi’iyah (Asembagus Situbundo Jawa Timur) menjadi Yayasan pada tahun 1970. Hingga kini telah memiliki TK, MI/SD, MTs/SLTP, MA/SMU dan Universitas Ibrahimy dengan dua fakultasnya: Syari’ah dan Tarbiyah.

Berdasarkan perubahan dan perkembangan pesantren di atas, Sudjoko Prasodjo, dkk (1982:83-84) melaporkan hasil penelitiannya menemukan lima macam pola pesantren dari yang paling sederhana sampai yang paling maju. Kelima pola pondok pesantren dimaksud adalah sebagai berikut:

Pola I,   Pesantren terdiri dari masjid dan rumah kiyai

Pesantren ini masih bersifat sangat sederhana, kiyai mempergunakan masjid atau rumahnya sendiri untuk mengajar. Dalam pola ini, santri hanya datang dari daerah sekitar pesantren itu sendiri, namun mereka telah mempelajari ilmui agama secara kontinyu dan sistematis.

Pola II,  Pesantren terdiri dari masjid, rumah kiyai dan pondok

Dalam pola ini, pesantren telah memiliki pondok atau asrama yang disediakan bagi para santri yang datang dari daerah lain

Pola III, Pesantren terdiri dari masjid, rumah kiyai, pondok dan madrasah

Pesantren ini telah memakai sistem klasikal, santri yang mondok mendapat pendidikan di madrasah. Adakalanya murid madrasah itu datang dari daerah pesantren itu sendiri, di samping ada madrasah, ada pula pengajaran sistem wetonan yang dilakukan kiyai. Pengajar madrasah biasanya disebut guru agama atau ustadz

Pola IV, Pesantren terdiri dari masjid, rumah kiyai, pondok, madrasah dan tempat keterampilan.

Pesantren ini, di samping elemen-elemen pesantren sebagaimana pola III juga terdapat tempat-tempat untuk latihan keterampilan umpamanya: peternakan, kerajinan rakyat, toko koperasi, sawah, ladang dan sebagainya

Pola V, Pesantren yang terdiri dari masjid, rumah kiyai, pondok, madrasah, tempat keterampilan, universitas, gedung pertemuan, tempat olahraga dan sekolah umum.

Dalam pola ini, pesantren merupakan pesantren yang telah berkembang dan bisa disebut pesantren modern. Di samping itu, bangunan-bangunan yang disebutkan itu mungkin terdapat pula bangunan-bangunan lain seperti: 1. Perpustakaan, 2. Dapur umum, 3. Ruang makan, 4. Kasntor 5. administrasi, Toko, 6. Rumah penginapan tamu (orang tua dan tamu umum), 7. Ruang operation room dan sebagainya. Terdapat pula sekolah-sekolah umum atau kejuruan seperti SLTP/SLTA, STM dan sebagainya.

Melalui uraian panjang di atas dapat dikemukakan bahwa, pondok pesantren tidak semata-mata merupakan lembaga pendidikan keagamaan yang mencetak santri menjadi ‘alim-‘ulama tetapi juga sekaligus sebagai lembaga sosial kemasyarakatan yang berusaha memajukan status sosial keagamaan, kependidikan, kebudayaan, bahkan perekonomian masyarakat.

2. Penyelenggara dan Pendukung Kegiatan

Penyelenggara kegiatan pendidikan dan pengajian di pondok pesantren adalah kiyai, qayyim atau asaatidz sedangkan pendukung kegiatanmnya adalah santri atau murid.

a. Kiyai

Gambaran tentang kiyai, kerap kali diasosiasikan sebagai figur seseorang yang secara fisik ia selalu mengenakan kain sarung, bersorban, memakai sandal slop, kepalanya tertutup peci hitam atau putih (bagi yang telah menunaikan ibadah haji) dan di tangannya selalu tidak lepas seuntai tasbih. Sikapnya dipandang kolot, fanatik, sulit diajak dialog dan mungkin sebagian orang menganggapnya puritan. Penilaian seperti ini, menurut Dawam Rahardjo (1995:15), cenderung bersifat subjektif berkaitan dengan kiyai sebagai pribadi dan bukan kedudukannya sebagai anggota atau tokoh masyarakat (kelompok sosial); kiyai sebagai anggota atau tokoh masyarakat tidak berbeda dengan anggota masyarakat lainnya yakni memiliki sikap dan sifat kepribadian yang berbedabeda.

Dalam tulisan ini yang dimaksud kiyai ialah, pengasuh pondok pesantren, pembimbing para santri dan tokoh agama/masyarakat di tengah-tengah masyarakat sekitarnya. Pernyataan ini, bukan semata-mata karena kedalaman ilmu keagamaan yang dimilikinya, melainkan karena kesabarannya dalam membina santri dan peranannya sebagai pemimpin nonformal bagi masyarakat lingkungannya yaitu sebagai tempat bertanya segala macam masalah, meminta fatwa dan pertimbangan.

Peran yang ditampilkan kiyai khususnya kepada santri di pesantrennya, mampu mempengaruhi sikap dan sifat santri tidak hanya pada saat para santri berada di lingkungan pondok pesantren. Pengaruh kiyai masih melekat di hati santri, walaupun mereka telah menjadi alumni. Jangkauan pengaruh yang luas dan panjang itu, dapat diperhatikan dari usaha para alumni pondok pesantren dalam membangun masyarakat secara keseluruhan. Yang lebih penting dari itu adalah, kiyai dalam melaksanakan peran dan fungsinya penuh keikhlasan. Inilah orientasi dan prestasi kiyai di pondok pesantren yaitu kiyai mengajarkan dasar-dasar al-quran dan KK kepada santri atau masyarakat semata-mata karena lillahi ta’ala tanpa maksud-maksud tertentu.

b. Santri dan Murid

Dalam dunia kependidikan Islam, terdapat dua istilah bagi peserta didik yaitu murid dan santri. Pada pesantren modern kedua istilah itu sulit untuk membedakan antara murid dan santri. Ada sedikit perbedaan di antara kedua istilah itu terutama hubungannya dengan sikap hidup dan penghormatan; murid yang selama beberapa saat berada dan belajar di madrasah diniyah, mereka menghormati ustadznya; sedangkan santri lebih menghargai dan tawaddu’ kepada kiyainya yang telah membimbing dan mengajar kitab klasik Islam (baca KK) di pondok pesantren.

Kata santri berasal dari bahasa India yaitu shastri yang berarti orang yang ahli tentang kitab suci agama Hindu (C.C. Berg, 1932: 257). Zaini Muchtarom (1989:16) mengupas kata shastri lebih jauh dengan mengatakan, “shastri berasal dari kata shastra yang berarti scripture atau a religious or a scientific treatise yaitu karangan agama atau uraian ilmiah”; ada juga yang mengartikannya santri sebagai huruf, sebab di pondok pesantren dipelajari huruf dan sastra. Masyarakat umum mengenal figur santri adalah anak atau remaja yang sedang mengaji (belajar al-quran atau KK), atau mereka yang pernah belajar pada kiyai di pondok pesantren. Sebutan santri juga dapat diberikan kepada mereka yang rajin dalam menjalankan ajaran Islam secara individual maupun berjamaah atau pengikut kiyai tertentu yang sewaktu-waktu mengikuti pengajian di pondok pesantren.

Dalam tulisan ini yang dimaksud dengan santri adalah, “masyarakat Islam yang belajar bersama, tinggal bersama dan menjalani kehidupan secara bersama-sama” (Dawam Rahardjo [ed], 1985: 49); peserta didik bagi para pelajar atau murid di pondok pesantren.

Di lingkungan pondok pesantren tradisional, ada dua istilah yang terkenal hanya di lingkungannya yaitu santri senior dan santri junior. Santri senior yaitu santri yang telah lama tinggal dan telah banyak memiliki pengetahuan keagamaan, sedangkan santri junior ialah santri baru. Di antara keduanya terjadi saling menolong dan membantu. Santri senior menolong dan membimbing santri junior dalam usaha memahami pelajaran atau KK pemula apa yang seyogianya dipelajari terlebih dulu; sebaliknya santri junior menolong santri seniornya dalam bentuk kegiatan fisik seperti memasak makanan atau mencuci pakaiannya.

Ada juga yang mengkategorikan santri ke dalam dua kelompok yaitu: (1) santri muqim yaitu, santri yang bertempat tinggal (muqim) di pondok pesantren untuk belajar dan mengikuti pola kehidupan kiyai selama beberapa waktu yang tidak ditentukan. Santri muqim, biasanya mereka yang datang dari daerah jauh atau mereka datang dari keluarga kurang mampu tapi memiliki semangat yang tinggi untuk belajar, sehingga ia rela membantu pekerjaan kiyai sebagai imbalan atas keikut sertaannya belajar di pondok pesantren. (2) Santri kalong yaitu, santri yang datang pada sore hari menjelang shalat fardhu maghrib untuk belajar pada kiyai di pondok pesantrennya; pada umumnya mereka bermalam di lingkungan pondok pesantren, karena ba’da shalat fardhu shubuh mereka melanjutkan pelajarannya pada kiyai tapi esok harinya ia kembali ke rumah orang tuanya masing-masing. Karena itu, santri kalong adalah para remaja yang tempat tinggalnya tidak jauh dari rumah kiyai atau putra putri masyarakat sekitar lingkungan pondok pesantren.

Di sebagian besar pondok pesantren, antara kiyai dan santri berada di lingkungan tempat tinggal yang sama; di sisi lain kehidupan pondok pesantren selalu berdampingan dengan masyarakat. Karena itu, corak dan praktek peribadatan keagamaan yang dipahami dan dilaksanakan santri pada umumnya sesuai dengan keadaan lingkungan (pondok pesantren maupun masyarakat) di mana mereka tinggal.

Tentang kapan santri harus datang atau meninggalkan pondok pesantren. KH. Abdurrahman Wahid yang pendapatnya diedit Dawam Rahardjo (1985:39) menuliskan, “pesantren sebagai subcultur memberikan kesempatan kepada setiap santri untuk belajar kapan dia mau belajar, tentang apa dia mau belajar, di tempat mana dia mau belajar dan dari sumber mana”. Walaupun dalam prakteknya, di beberapa pesantren tertentu ada yang telah metentukan waktu penerimaan santri baru tapi belum ada ketentuan kapan santrinya boleh meninggalkan pesantren. Ketentuan waktu penerimaan santri baru pun didasarkan atas waktu awal belajar pada lembaga pendidikan sekolah yang ada di lingkungan pondok pesantren tersebut. Belum adanya ketentuan kapan datang dan meninggalkan pondok pesantren ini terjadi, karena pondok pesantren adalah lembaga pendidikan nonformal yang lebih banyak memberikan kebebasan kepada masyarakat untuk menentukan sendiri kapan mereka memasukkan anak-anaknya memasuki pesantren atau kapan anak-anaknya meninggalkan pondok pesantren.

3. Sarana dan Prasarana Perangkat Keras

a. Sarana Perangkat Keras (Hard Ware)

Perangkat keras (hard ware) yang ada di pondok pesantren, pada umumnya sangat bergantung kepada bentuk pesantren (lihat pembahasan tentang tipologi pondok pesantren) atau kemampuan dan kemauan kiyai dalam mengendalikan pondok pesantren yang didirikannya: esensi dan kegunaan hard ware pada suatu pondok pesantren adalah untuk kelancaran interaksi dan komunikasi atau penyampaian informasi dan penanaman nilai-nilai keagamaan (‘amaliah ‘ulum al-dien) yang dilakukan kiyai terhadap para santrinya pada saat-saat tertentu. Karenanya pondok pesantren yang sangat sederhana, hard ware yang tersedia meliputi 1) masjid/mushalla, 2) pondok/asrama santri, 3) gedung madrasah diniyah dan 4) rumah kiyai.

1) Masjid/mushalla

Dipelajari dari segi fungsi dan tujuan pendirianya, baik masjid/mushalla sama-sama digunakan sebagai tempat penyelenggaraan ibadah, terutama ibadah shalat fardlu dan sarana pendidikan al-quran bagi para anak-anak atau remaja; tapi di daerah-daerah tertentu, wilayah kegunaan masjid memiliki “jangkauan” yang lebih luas yaitu sebagai tempat terselenggaranya shalat jum’at, shalat sunnah ‘idain (dua bentuk shalat sunah hari raya) bahkan sering digunakan sebagai tempat berlangsungnya kegiatan keagamaan seperti shalat sunnah Iedain (ied al-fitri dan ied al-qurban), Nuzul al-quran, Isra Mi’raj ataupun Maulud Nabi.

Di lingkungan pondok pesantren, masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat pelaksanaan shalat fardlu maupun shalat-shalat sunnah; lebih dari itu masjid berfungsi sebagai tempat terselenggaranya pengajian KK, sebagai tempat pendidikan dan latihan keterampilan berpidato (biasanya dilaksanakan pada malam jum’at atau malam ahad) dan sebagai sarana komunikasi antar individu anggota masyarakat pesantren. Di beberapa pondok pesantren di Indonesia, sebelum terbentuknya sistem pendidikan sekolah, masjid merupakan pusat kegiatan belajar mengajar.

2) Pondokan (asrama santri)

Istilah pondok pada awal perkembangannya, berasal dari kata funduq yang berarti ruang tidur sederhana yang sengaja disediakan kiyai pendiri pesantren bagi mereka yang bertempat tinggal jauh dan berharap ingin menetap karena ingin belajar keagamaan di lingkungan pesantren. Dalam satu ruangan atau kamar tidur, biasanya berisi lebih dari dua atau tiga orang santri disesuaikan dengan luas bangunan kamar. Di dalam kamar tidur ini juga, santri menyimpan harta bendanya berupa beberapa buku tulis dan sejumlah KK, perbekalan sehari-hari (beras dan lauk-pauk) dan pakaian untuk beberapa lama ia tinggal di pondok pesantren.

Keberadaan pondok di lingkungan pesantren, merupakan penentu peringkat atau kategorisasi pesantren. Pesantren yang memiliki banyak kamar (pondok), menunjukkan pesantren tersebut memiliki banyak santri karenanya dapat dikategorikan sebagai “pesantren besar”; sebaliknya pondok pesantren yang memiliki sedikit kamarnya, ter-masuk kategori “pesantren kecil”.

Pondok juga merupakan pembeda dari pesantren: pondok yaitu lembaga pendidikan Islam sejenis majlis ta’lim yang tidak memiliki struktur kelembagaan dan lebih bersifat pendidikan kemasyarakatan; sedangkan pesantren di samping telah memiliki struktur kelembagaan dan berbadan hukum berupa yayasan juga berfungsi ganda yaitu sebagai lembaga pendidikan keagamaan dan lembaga kemasyarakatan. Jadi, bagi pondok yang telah memiliki struktur kelembagaan dan berbadan hukum, maka ia termasuk pesantren yang berfungsi sebagai lembaga pendidikan keagamaan dan pendidikan kemasyarakatan.

3) Fasilitas Lain

Selain elemen-elemen fisik di atas juga terdapat elemen-elemen lain yang telah banyak mendapat pengaruh dari luar, sehingga suatu pondok pesantren menjadi besar dan terkenal. Elemen-elemen dimaksud antara lain: gedung madrasah, perkantoran, ruang koperasi, kantin, sarana olah raga dan kesenian serta tempat keterampilan sebagai sarana praktek pertanian, peternakan, kerajinan dan bentuk keterampilan lain. Di samping itu terdapat sarana penunjang berupa kamar mandi yang bersih, tempat mencuci pakaian dan WC umum.

b. Prasarana dan Fasilitas Lunak (Shoft ware)

Termasuk ke dalam shoft ware ini adalah semua bentuk peralatan nonfisik, seperti 1) sistem nilai dan norma kehidupan di lingkungan pondok pesantren, 2) sistem pendidikan yang berlangsung di pondok pesantren dan 3) kitab kuning (KK).

 

1) Sistem Nilai

Sistem nilai dimaksud adalah pola dan corak kehidupan yang berkembang di lingkungan masyarakat pondok pesantren, pada umumnya terdiri atas empat hal yaitu: Pertamaajaran ortodoksi Islam yang bersumber langsung dari al-quran dan al-sunnah. Kedua paham keagamaan dalam bidang kajian dan/atau pengamalan fiqh seperti Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali. Ketiga paham keagamaan dalam bidang kajian dan/atau pengamalan sufi seperti ajaran thariqah (qadariyah, naqsyabandiyah atau sanusiah) dan ilmu hikmah. Keempat nilai tradisi atau kebudayaan daerah setempat, termasuk di dalamnya adalah tradisi kejawen (ke-jawa-an yaitu tradisi pemeluk ajaran agama Hindu/Buddha) sebagaimana tercermin dalam penggunaan bahasa pengajian di lingkungan pondok pesantren, baik di daerah jawa (Jawa Tengah atau Jawa Timur) maupun di daerah sunda (Jawa Barat). Khususnya para ajengan yang mengajarkan KK di pondok pesantren yang ada di daerah sunda, meskipun bahasa sehari-harinya bahasa sunda tetapi loghat pengajian KK yang digunakannya bahasa daerah jawa dalam menerjemahkan KK yang berbahasa Arab.

2) Proses Pendidikan

Proses pendidikan yang berlangsung di pesantren adalah, pengajian al-quran dan KK yang disampaikan kiyai kepada para santrinya dengan mengacu pada jadwal yang waktu dan tempatnya ditentukan kiyai (pernyataan inilah yang dimaksud wetonan). Sebagaimana proses pendidikan pada umumnya, pengajian yang dilaksanakan kiyai juga meliputi: (1) tujuan, (2) mertode pengajaran, (3) proses pembelajaran, (4) atau materi yang disampaikan seperti fiqh-ushul fiqh, hadits-‘ulum al-hadits, tafsir-‘ulum al-tafsir, aqidah al-‘awam yang kesemuanya dalam bentuk KK dengan menggunakan bahasa “Arab gundul” (tidak berharkat), (5) peraturan atau tata tertib pondok pesantren, (6) perpustakaan yang berisi sejumlah besar hand books dan KK lainnya, (7) beberapa konsep tentang kegiatan keterampilan dan ekstra kurikuler yang dilaksanakan di pondok pesantren.

3) Kitab Kuning (KK)

Dalam pembicaraan umum, kitab kuning (KK) merupakan salah satu indikator yang sangat menentukan untuk menilai besar atau kecilnya suatu Pondok Pesantren, bahkan berkualitas atau tidaknya pesantren tradisional ditentukan oleh berkualitas atau tidaknya KK yang disampaikan kiyainya. Karena itu, keberadaan KK identikan dengan pondok pesantren. KK merupakan “ruh” bagi pondok pesantren tradisional.

Kitab Kuning adalah kitab-kitab keagamaan berbahasa Arab atau berhuruf Arab, produk pemikiran ulama-ulama masa lampau yang ditulis dengan format khas pramodern sebelum abad 17-an. Masdar F. Mas’udi (1988:1) mengartikan KK adalah,

“a) kitab-kitab yang ditulis oleh ulama-ulama ”asing” tapi secara turun temurun menjadi reference yang dijadikan pedoman oleh para ulama Indonesia, b) ditulis oleh ulama Indonesia sebagai karya tulis yang independen; c) ditulis oleh ulama Indonesia sebagai komentar atau terjemahan atas kitab karya ulama “asing” .

Kitab Kuning (KK) mulai dikenal secara umum, sejak pondok pesantren mulai banyak diminati masyarakat Indonesia terutama karena semua aspek ajaran Islam yang disampaikan kiyai melalui Majlis Ta’lim, diajarkan ustadz di Madrasah ataupun oleh Guru di lembaga pendidikan sekolah adalah menggunakan KK. Bahkan dasawarsa terakhir, beberapa sarjana muslim tertentu yang merasa terpanggil untuk memasyarakatkan KK, mereka menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia dengan harapan KK dapat dibaca dan difahami oleh masyarakat umum dengan tanpa harus memasuki “dunia pesantren”.

4. Pendidikan Islam: Kurikulum Pesantren

a. Pendidikan Islam Sebagai Ilmu

Pijakan awal pendidikan Islam adalah, faktor yang membedakan ilmu pendidikan Islam dengan ilmu-ilmu lainnya yakni faktor nilai (value) (Achmadi, 1992:7). Berikutnya, evidensi empirik sebagai pendukung harus ada dalam setiap pengembangan teoritik dan keilmuannya. Hingga kini, ilmu pengetahuan yang dikembangkan di Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI), sebagian berada pada epistemologi telaah klasik dan sebagian berada pada epistemologi telaah positivistik (Noeng Muhadjir, 1996:189). Karena itu wajar, menurut Muhadjir selanjutnya, jika pendidikan Islam yang dipelihara kembangkan pun banyak dipengaruhi oleh telaah epistemologi positivistik (suatu paham yang mengakui kebenaran sesuatu berdasarkan penamatan secara langsung atau tidak langsung melalui indra) dan hanya sebagian kecil yang dipengaruhi oleh telaah studi Islam klasik (suatu kebenaran yang berangkat dari eksistensi kebenaran yang bersumber dari wahyu Allah). Metode posivistik tidak memberi peluang kepada telaah normatif yang berorientasi nilai, sedangkan studi Islam klasik lebih mengutamakan wahyu Allah sebagai wujud dari kebenran yang mutlak. Padahal pendidikan Islam sebagai materi, obyeknya bersifat normatif dan berorientasi pada nilai, karenanya berkembang bersama budaya manusia seperti demokrasi dan keadilan. Pernyataan ini, merupakan hasil dari beberapa penelitian terhadap pendidikan, yang lebih dominan menggunakan pendekatan posivistik.

Pendidikan Islam, sebagai suatu proses pengembangan potensi dan kreatifitas peserta didik untuk menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah dan memiliki Iptek sudah berlangsung sepanjang sejarah kehidupan manusia. Namun jika dilihat dari dimensi ilmu dan filsafat, seringkali masih dipersoalkan keberadaanya.

Tuntutan masyarakat begitu besar terhadap pendidikan Islam sebagai ilmu sebagian telah diperoleh, namun belum mampu mengimbangi perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) yang begitu pesat. Karenanya, perkembangan dan kemajuan Ilmu Pendidikan Islam (IPI) di negara-negara yang penduduknya mayoritas pemeluk agama Islam (termasuk Indonesia) sangat lamban. Bukti lambannya perkembangan IPI, antara lain:

  1. Masih sedikitnya teori-teori ilmiah yang berkaitan dengan pendidikan Islam,
  2. Belum adanya landasan epistemologi yang dapat dijadikan pijakan untuk melakukan penelitian ilmiah bidang IPI,
  3. Terhentinya proses eksplorasi, sehingga ekspansi ilmu-ilmu dalam Islam hanya berhenti pada kawasan yang bersifat hubungan vertikal kepada Allah (hablum minallah) dan hubungan horizontal terhadap sesama manusia (habl minan nas).

Selama ini IPI, baik dalam bentuk praktek kelembagaan maupun dalam bentuk materi yang disampaikan, bersikap mendua. 1) Ketika melihat temuan dan teori pendidikan Barat maupun Timur, cenderung diterima tanpa kritik kemudian dicarikan padanan dalil-dalil dalam al-quran maupun dalam Hadits; 2) Sikap yang sangat normatif dalam menghadapi dalil-dalil al-quran maupun Hadits, cenderung tidak melalui tahapan analisis yang cukup mendalam. Melihat potret dan bingkai praktek pendidikan Islam seperti ini, perlu adanya upaya untuk membentuk ulang (reconstruction) dan merumuskan kembali (reformulation) ilmu pendidikan Islam. Hasil dari rekonstruksi dan reformulasi terhadap ilmu pendidikan Islam ini, para praktisi pendidikan muslim diharapkan akan memperoleh suatu alat pengendali melalui penataannya sendiri, regulasi dan tanggung jawab mandiri. Dengan demikian mereka akan mendapatkan insigh tentang apa yang terbaik dalam pendidikan Islam, baik yang teoritik maupun praktik.

b. Dikotomi Fikir, Problem Perumusan Pendidikan Islam

1)      Dikotomi Pikir

Jika dilihat kilas balik dekade 60-an, teori pendidikan masih bergantung pada disiplin ilmu induk: filsafat, psikologi dan sosiologi dan karenanya ketiga disiplin “luar” pendidikan ini menjadi pondasi (Zubaidi, 1996:242). Karena itu tidak mengherankan, pandangan yang mendominasi pemikiran pendidikan saat itu teori pendidikan didefisikan sebagai suatu stock prinsip-prinsip praktis yang sepenuhnya dijustifikasi melalui pengetahuan yang disajikan ketiga disiplin ilmu itu. Pada dekade 1970-an, terjadi pergeseran yang cukup signifikan; teori pendidikan dipandang sebagai disiplin ilmu praktis otonom, walaupun antusiasme awal pemahaman terhadap teori pendidikan masih diwarnai berkembangnya kesadaran bahwa teori-teori pendidikan tidak begitu saja berkaitan langsung dengan praktek pendidikan. Pada dekade yang sama, muncul terminologi al-tarbiyah (bangunan sistem Pendidikan Islam) sebagai bentuk tawaran baru, sejalan dengan gerakan-gerakan pembaharuan pendidikan di negara-negara Arab (A. Nurhadi Djamal, 1996:280).

Dilihat dari kebersamaan waktu munculnya al-tarbiyah al-Islamiyah (pendidikan Islam) dengan ilmu pendidikan skuler, maka sangat mungkin konsep al-tarbiyah al-Islamiyah masih bercampur dengan teori pendidikan yang didasarkan pada telaah anthroposentris (manusia sebagai pemegang posisi sentral) yang telah mapan dan mengakar. Untuk itu, diperlukan sumber daya manusia yang benar-benar memiliki kemampuan mengakomodasi konsep-konsep pendidikan skuler dalam rangka membandingkan dan menjadikannya pintu gerbang untuk memasuki konsep pendidikan Islam yang berdasarkan pada al-quran dan Hadits.

Persoalan yang selalu muncul dan selalu menjadi ganjalan dalam setiap merumuskan al-tarbiyah al-Islamiyah yaitu, tumbuhnya sikap dikotomi pikir. Polarisasi pemikiran dan keilmuan antara “yang islami” dengan “yang skuler”, melanda di kalangan pemikir muslim disebabkan adanya keterpengaruhan pemikiran Barat yang skuler. Padahal Islam sebagai agama tawhid, inti ajarannya adalah meng-esa-kan Tuhan. Inti ajaran Islam ini terintegrasi ke dalam bentuk perpaduan antara aspek duniawi ukhrawi dan aspek material-spiritual. Sejarah Islam juga mencatat, sejak periode klasik (650-1250 M) tidak mengenal adanya polarisasi ilmu: ilmu agama (yang islami) ilmu rasional (yang skuler); kesemuanya terpadu dan diajarkan pada sebuah lembaga pendidikan yang integral. Sistem pendidikan terpadu (integral) yang terjadi pada periode klasik ini, berlangsung hingga periode kejayaan atau kemajuan Islam I (650-1000 M). Ini terjadi disebabkan, secara ideologis dan politik masyarakat muslim dikendalikan oleh sistem (kekhalifahan) Islam sehingga tatanan pendidikan Islam tidak berorientasi pada tujuan ganda (Muslih Usa [Ed], 1991: 83). Di samping itu, para pengelola dan pendidik di lembaga pendidikan itu adalah para ulama yang saleh dan utuh dalam memahami ajaran Islam, sehingga memiliki pengaruh besar dalam proses pembangunan ilmu pengetahuan. Tidaklah berlebihan, jika lulusan yang dihasilkan dari lembaga pendidikan semacam itu adalah para ‘alim-‘ulama yang memiliki dua ilmu (ilmu agama dan ilmu rasional) sekaligus seperti Ibnu Sina, Ibnu Rusydi, al Gazali ataupun Ibn Khaldun. Ibnu Sina dan Ibnu Rusydi, di samping keahliannya dalam bidang kedokteran, mereka juga filosuf muslim yang hasil pemikirannya telah banyak mengisi perpustakaan dan/atau dimanfaatkan masyarakat muslim bahkan masyarakat Barat modern yang skuler. Dengan demikian, munculnya para figur ilmuwan muslim terkemuka dan terkenal sepanjang masa itu, hanya dimungkinkan melalui sebuah sistem pendidikan yang integral. Sistem pendidikan seperti inilah yang mewarnai kehidupan masyarakat muslim sehingga mampu menghasilkan pemikiran-pemikiran pragmatis yang tetap islami.

Perkembangan berikutnya, sistem pendidikan yang integral itu diambil alih masyarakat Eropa yang sebagian besar penganut ajaran Nasrani dan Yahudi pada awal abad ke-13 M (1225 M). Tapi tampaknya Gereja tidak berharap jika ilmu pengetahuan nonkeagamaan (ilmu yang tidak sesuai dengan dogma Tuhan) lebih berkembang pesat, sehingga terjadilah perlawanan sengit antara agamawan dan ilmuwan. Disinyalir, dari sinilah permulaan terjadi pemisahan (alienate) antara ilmu-ilmu yang bernilai agama (ilmu-ilmu sacral) dengan ilmu-ilmu skuler atau ilmu rasional (ilmu-ilmu profan), yang berimplikasi kepada para ilmuwan meninggalkan Gereja dan para agamawan tidak lagi tertarik untuk mempelajari ilmu pengetahuan selain dogma Tuhan. Pada saat pemikiran terhadap ilmu-ilmu sacral ditinggalkan para ilmuwan, maka terjadilah skularisasi dalam ilmu pengetahuan (scularization of science)  sehingga ilmu pengetahuan tidak lagi bernilai atau bermuatan agama.

Ironisnya, ilmu pengatahuan skuler yang dikuasai para ilmuwan, berkembang pesat merasuk hingga ke seluruh dunia termasuk ke negara-negara yang penduduknya mayoritas muslim. Masa atau era seperti ini, Harun Nasution (1979:56-75) menyebutnya sebagai masa kejayaan masyarakat Eropa, sebaliknya bagi masyarakat muslim era ini merupakan awal dari kemunduran I (1250-1500 M). Akibat nyata dari era ini, timbul sikap apatis di kalangan masyarakat muslim terhadap ilmu pengetahuan yang berseberangan dengan ajaran Islam. Mempelajari ilmu-ilmu skuler dianggap haram, sehingga generasi mudanya dilarang belajar dan/atau memasuki lembaga pendidikan yang menerapkan kurikulum modern atau memberikan materi ilmu-ilmu skuler, karena kurikulum atau materi tersebut milik masyarakat kafir. Dari keadaan inilah sehingga timbul pandangan dikotomis di kalangan masyarakat muslim yaitu pandangan dikotomis terhadap ilmu: ilmu agama yang bersandar kepada wahyu, dan ilmu-ilmu skuler yang tidak bersandar pada wahyu. Pandangan dikotomis juga terjadi pada lembaga atau penyelenggara pendidikan. Pandangan dikotomis ini, bisa jadi merupakan tindak lanjut dari polarisasi pikir yang telah muncul lebih dulu di kalangan para cendekiawan muslim.

Akibat dari pandangan dikotomi maupun polarisasi adalah, pemikiran integral tentang filosofis terhadap ilmu-ilmu skuler dan terhadap ilmu-ilmu agama yang terjadi pada masa klasik dan masa kejayaan masyarakat Islam, keduanya terlepas satu sama lain. Lembaga dan penyelenggara pendidikan pun terpecah menjadi dua yaitu lembaga pendidikan agama dan lembaga pendidikan umum, sehingga sarjana atau lulusan yang dihasilkannya pun menjadi dua yaitu sarjana agama dan sarjana skuler.

Pandangan dikotomis di kalangan masyarakat muslim semakin menguat, ketika negara-negara Eropa melakukan penjajahan terhadap negara-negara yang penduduknya mayoritas penganut agama Islam Pada saat itu, penjajah Eropa juga menghadirkan sistem pendidikan modern yang kurikulumnya berbasis pada ilmu-ilmu skuler. Atau masyarakat Eropa modern melakukan penekanan terhadap masyarakat muslim agar memanfaatkan ilmu sekulernya, dan menggunakan teknologi hasil produk perusahaannya. Bagi masyarakat muslim yang sejak awal telah apatis terhadap ilmu skuler, berusaha mendirikan atau tetap melestarikan sistem pendidikan yang telah ada. Sehingga terjadilah dualisme pendidikan yaitu sistem pendidikan yang mengembangkan ilmu-ilmu skuler atau modern dan sistem pendidikan tradisional yang mempertahankan kurikulumnya yang sarat dengan ilmu-ilmu keagamaan. Dualisme pendidikan, terjadi di hampir semua negara dan masyarakat muslim di jaman modern ini (Zuhairini, dkk., 1996:123).

Mastuhu yang pendapatnya dihimpun Ahmad Tafsir (1995:54) menuliskan perbedaan mendasar antara konsep pendidikan skuler dengan konsep pendidikan Islami, sebagai berikut:

  1. Dasar

Pendidikan Skuler :Anthroposentris, manusia sebagai penentu kebijakan.

Pendidikan Islami: Theosentris, Tuhan penentu kebijakan; Anthroposentris merupakan bagian dari koinsep theosentris.

  1. Tujuan

Pendidikan skuler : Kehidupan duniawi: maju, adil, sejahtera, damai dan dinamis sebagai tujuan finalnya

Pendidikan Islami: Kerja membangun kehidupan duniawi melalui pendidikan sebagai perwujudan mengabdi. Pembangunan kehidupan duniawi, bukan menjadi tujuan final melainkan merupakan kewajiban yang diikani terkait kuiat dengan kehoidupan ukhrawi; tujuan finalnya adalah kehidupan ukhrawi dengan ridla Allah swt.

  1. Konsep Manusia

Pendidikan Skuler: Tabularasa

Pendidikan Islami: Fithrah

  1. Nilai

Pendidikan Skuler: Iptek dengan kebenaran relatif

Pendidikan Islami: Iptek dan Iman: kebenaran relatif dan mutlak

  1. Sistem atau tanggung jawab

Pendidikan Skuler: Murid, orangtua, guru, masyarakat

Pendidikan Islami: Murid, orangtua, guru, masyarakat tapi berbeda dalam nuansa dan gradualnya.

2)      Merumuskan Pendidikan Islam

Dalam pandangan Islam, konsep pendidikan skuler tidak seluruhnya berseberangan dengan aspek-aspek ajaran Islam. Beberapa konsep pendidikan skuler, di antaranya mengandung kebenaran dan dapat diterima sehingga perlu dikembangkan oleh masyarakat muslim terutama konsep-konsep yang berkenaan dengan Iptek. Sebaliknya, Islam tetap menghormati dan menerima konsep-konsep pendidikan tradisional yang telah mengakar di tengah-tengah masyarakat muslim. Namun perlu disadari, ada hal-hal tertentu yang perlu ditinggalkan karena sudah tidak sesuai dengan perkembangan dan kemajuan jaman. Kiranya sangat tepat, jika dalam merumuskan sistem pendidikan Islam seyogianya menggunakan prinsip dasar yang diungkapkan faqh muslim terkenal Imam Syafi’i, al muhafadzah ‘ala al-qadiim al-shaalih wa al-akhdu bi al-jadid al-ashlah  ….memelihara hal-hal baik yang telah ada sambil mengembangkan hal-hal baru yang lebih baik.

Berdasarkan pijakan dan prinsip di atas, maka dapat dirumuskan nilai-nilai pendidikan Islam sehingga diharapkan memiliki perbedaan dan keunikan tersendiri dibandingkan dengan bentuk pendidikan skuler maupun pendidikan modern. Rumusan nilai pendidikan Islam dimaksud adalah sebagai berikut:

  1. Pengertian pendidikan Islam terdiri dari tarbiyah (pemelihara), ta’lim (pengajaran) dan ta’dib (pembinaan),
  2. Pendidikan Islam (tarbiyah al-Islamiyah), ditujukan ke arah tercapainya keserasian dan keseimbangan pertumbuhan pribadi yang utuh melalui berbagai latihan yang menyangkut kejiwaan, intelektual, akal, perasaan dan indra,
  3. Inti pendidikan Islam adalah infus keimana ke dalam perasaan pribadi muslim secara utuh kepada anak didik agar menjadi muslim yang taat,
  4. Al-quran dan hadits merupakan sumber nilai pendidikan Islam, sebagai media untuk merealisasikan fungsi muyslim sebagai ‘abdullah (hamba allah) dan khalifatullah (pemimpinan yang dianugerahi Allah) di bumi,
  5. Materi dasar-dasar agama merupakan dasar penyusunan kurikulum dan disampaikan hingga ke jenjang pendidikan tingkat menengah diharapkan peserta didik akan memahami bahasa Arab, bahasa Inggris atau salah satu modern lainnya, dapat membaca al-quran dengan baik, memahami sejarah nabi-nabi, dasar-dasar pemikiran dan hukumihukum Islam, bahasa dasar Iptek seperti matematika, fisika, kimia, ilmu-ilmu sosial, ilmu-ilmu budaya dasar dan beberapa ilmu pendukunglainnya,
  6. Generasi muda Islam diarahkan agar memasuki pendidikan hingga ke jenjang pendidikan tingkat spesialisasi, tapi mereka lebih dahulu memahami materi dasar-dasar agama sebelum memasuki jenjang pendidikan yang diinginkan, dengan harapan mereka akan mampu menjelaskan bahwa ajaran Islam selalu sejalan dengan tantangan modern dengan menggunakan bahasa modern yangsesuai dengan perkembangan iptek.

c. Tujuan Pendidikan Islam

Pendidikan adalah suatu proses pengajaran yang sadar tujuan. Maksudnya, kegiatan belajar mengajar adalah suatu peristiwa yang terikat dan terarah pada tujuan, dan dilaksanakan untuk mencapai tujuan. Winarno Surahmad yang pendapatnya ditulis Sardiman AM (1997:57) menjelaskan, rumusan dan taraf pencapaian tujuan pengajaran merupakan petunjuk praktis sejauh mana interaksi edukatif itu harus dibawa untuk mencapai tujuan akhir. Dengan demikian, tujuan adalah sesuatu yang diharapkan dari subyek belajar sehingga memberi arah ke mana kegiatan belajar mengajar harus dibawa dan dilaksanakan. Oleh karenanya, tujuan pendidikan mutlak dan harus dirumuskan dan deskripsinya harus jelas.

Ada tiga alasan mengapa tujuan pendidikan perlu dirumuskan, yaitu:

  1. Jika suatu pekerjaan atau tugas tidak disertai tujuan yang jelas dan benar, maka akan sulitlah untuk memilih atau merencanakan bahan dan strategi yang hendak ditempuh atau dicapai;
  2. Rumusan tujuan yang baik dan terinci akan mempermudah pengawasan dan penilaian hasil belajar sesuai dengan harapan yang dikehendaki dari subjek belajar,
  3. Perumusan tujuan yang benar akan memberikan perdoman bagi siswa dalam menyelesaikan materi dan kegiatan belajarnya (Sardiman, 1997:58).

Jadi rumusan tujuan pendidikan merupakan suatu alat yang sangat bermanfaat dalam perencanaan, implementasi dan penilaian suatu program belajar mengajar. Kaitannya dengan tujuan pendidikan, pemerintah telah menerbitkan Undang Undang RI nomor 2 tahun 1989 tentang Sistem Pemdidikan Nasional. Di dalam Undang Undang itu tertulis pada pasal 4 tentang tujuan pendidikan yaitu,

Mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, keperibaidan yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan (UU RI., 1989:4).

Semua sistem pendidikan mempunyai tujuan moral, ia ingin menciptakan manusia bertaqwa, dewasa dan mandiri. Demikian juga pendidikan Islam mempunyai tujuan tersendiri yang menyesuaikan diri dengan falsafah dan pandangan hidup sebagaimana digariskan al-quran. Ibn Khaldun yang pendapatnya diterjemahkan oleh Ramayulis (1994:25) merumuskan dua tujuan pendidikan Islam yaitu 1) tujuan keagamaan yakni beramal untuk akhirat sehingga ia menemui Tuhannya dan telah menunaikan hak-hak Allah yang diwajibkan kepadanya, 2) tujuan ilmiah yang bersifat keduniaan yaitu tujuan kemafaatan atau persiapan untuk hidup. Begitu juga pendapat Mustafa Amin, tujuan pendidikan Islam yaitu mempersiapkan seseorang bagi amalan dunia dan akhirat. Falsafah atau pemikiran tujuan pendidikan ini berujuk kepada salah satu firman Allah di dalam Q.s. 28/al-Qashash:77, carilah pada apa yang dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat dan janganlah kamu melupakan kebahagiaan dari (kenikmatan) dunawi.

Melalui perumusan tujuan tersebut, para tokoh pendidikan berharap agar pendidikan Islam yang disampaikan mulai dari TK hingga Perguruan Tinggi seyogianya sejalan dengan tujuan diturunkannya agama kepada manusia. Agama datang ke permukaan bumi ini, bertujuan membimbing manusia dalam usahanya mencapai kesempurnaan diri dan kebahagiaan, baik dunia sekarang maupun di akhirat kelak. Manusia dalam ajaran Islam adalah makhluq monodualistik yaitu terdiri dari unsur jasmani dan rohani. Unsur rohani, menurut Harun Nasution (1995:10) mempunyai dua daya yaitu daya rasa dan daya pikir: daya rasa berpusat di dada sedangkan daya pikir berpusat di kepala. jika daya merasa disebut qalbu atau hati-nurani, maka daya berpikir disebut akal. Akal bertugas memperhatikan dan meneliti alam sekitar dengan bantuan pancaindra; melalui akal, iptek selalu berkembang di segala jaman. Sementara qalbu tugasnya memusatkan perhatian pada Pencipta alam sekitar dan alam immateri; melalui qalbu, manusia didorong untuk mendekatkan diri kepada Allah, Tuhan pencipta alam semesta.

Ungkapan di atas menggambarkan bahwa, ajaran Islam merupakan sumber moral, etik dan nilai-nilai kehidupan manusia. Karenanya, manusia yang selalu menjalankan ajaran Islam dengan benar dan jujur akan memiliki kemampuan yang kuat dalam menghadapi godaan, rintangan, sikap dan perilaku yang bertentangan dengan hati nurani. Ini yang dimaksud sebagai tujuan akhir pendidikan Islam yaitu menjadi insan kamil dengan pola taqwa yaitu manusia utuh rohani dan jasmani, dapat hidup dan berkembang secara wajar dan normal karena taqwanya kepada Allah swt. meninggal dunia dalam keadaan sebagai muslim (berserah diri) kepada Allah sebagaimana firman Allah di dalam Q.s. 3/Ali Imran:102, bertaqwalah kamu kepada Allah dengnan sebenar-benarnya taqwa; dan janganlah kamu mati kecuali da-lam keadaan muslim (berserah diri).

Namun, di tengah-tengah budaya relativisme dan pragmatisme ini tidak ada manusia yang ideal apalagi sempurna sebagaimana tujuan akhir pendidikan Islam. Para pelajar dan generasi muda pada umumnya tidak ada yang memiliki citra tentang jiwa yang sempurna (insan kamil) dan tidak bercita-cita ke arah itu; bahkan mereka tidak membayangkan tentang keadaan demikian. Karena itu, perspektif Islam tentang pendidikan yang bersifat teks, historis dan deskriptif akan bernilai jika dapat memberikan garis-garis besar asas, ideologi dan falsafahnya tanpa menilai pandangan hidup, maka perspektif Islam tidak lebih sebagai nostalgia belaka.

5. Orientasi Pondok Pesantren

Nurcholis Madjid yang tulisannya diedit Dawam Rahardjo (1984:3) membandingkan, pesantren di Indonesia telah menghasilkan banyak kiyai dan pemimpin/tokoh agama, sedangkan “pesantren” yang didirikan pendeta Harvard di Oslow (AS) berhasil menjadi sebuah universitas bergengsi di AS yang setiap tahun meluluskan para pelopor dalam pengembangan ilmu pengetahuan modern dan gagasan mutakhir. Demikian juga dalam percaturan politik di AS, Universitas Harvard memegang rekor dalam menghasilkan orang-orang besar yang menduduki kekuasaan tertinggi.

Peranan besar sebagaimana dilakukan “pesantren” Harvard tidak dimainkan oleh pondok pesantren besar dan terkenal sekalipun, peranan itu justru dimainkan oleh Perguruan Tinggi skuler seperti ITB, UI, UGM, UNPAD ataupun IPB. Mengapa terjadi demikian? Hasil dari beberapa penelitian diperoleh jawaban, ditemukan dua faktor ketidak mampuan pesantren melakukan kerja besar itu. 1) dunia pesantren dan dunia nyata, terjadi kesenjangan (gap); dunia nyata yang dikuasai pola budaya Barat dan diatur mengikuti pola-pola itu, sementara 2) pondok pesantren tidak memiliki pola budaya (modern), sehingga tidak memiliki kemampuan menguasai dan mengatur kehidupan nyata; memberikan respos saja mengalami kesulitan. Bahkan jika diadakan pemotretan, akan tampak gambaran pondok pesantren yang kurang kondusif untuk berperan sebagaimana peran yang dilakukan beberapa Perguruan Tinggi skuler, apalagi melakukan peranan besar sebagaimana yang dimainkan “pesantren” Harvard.

Kekurangan yang terjadi pada pondok pesantren yang pertama dan utama adalah kurang jelasnya tujuan pendidikan pesantren, di samping keadaan fisik (hard ware) dan non-fisik (shoft ware)-nya yang kurang memungkinkan untuk melakukan pekerjaan besar itu. Terjadi demikian, karena latar belakang keberadaan pesantren di tengah-tengah masyarakat bukan karena reaksi terhadap persoalan sosial, tuntutan masyarakat apalagi tujuan perubahan sosial sekitarnya. Orientasi ‘amaliyah-‘ilmiyah dan pengabdian (lillahi ta’ala) tampaknya lebih dominan.

Kenyataan di atas menggambarkan, berdirinya pesantren di suatu daerah dilandasi niat ikhlas dan pengabdian kiyai untuk mengamalkan ilmu yang direspons oleh segelintir atau sekelompok penduduk setempat, dan bukan sebagai respon sosial dan usaha transformasi kultural dalam jangka panjang. Pernyataan ini merupakan dukungan kuat atas dugaan bahwa, hampir di seluruh pondok pesantren di Indonesia kemajuan dan perkembangannya sangat ditentukan oleh sosok atau figur kiyai. Dugaan atau pra penelitian ini dapat diperhatikan dari dua kasus. Pertama pondok pesantren yang menolak membuka dan mengikuti perkembangan jaman dan tuntutan pendidikan modern, karena kiyai pendirinya (karena status sosial atau keyakinannya) tidak siap mengikuti perkembangan dan tuntutan jaman. Kedua pondok pesantren yang tidak mau atau menolak masuknya kurikulum dan materi ilmu-ilmu dasar skuler, karena latar belakang kiyai pendirinya kebetulan tidak cakap baca-tulis huruf latin dan berhitung. Dengan kalimat lain, pondok pesantren adalah “kepribadian” kiyai pendiri atau pondok pesantren merupakan prototipe kiyai.

Dugaan tersebut tidak terlalu salah tapi tidak seluruhnya benar; untuk memperoleh validitas dugaan atau prapenelitian ini, dibutuhkan pengamatan mendalam terhadap kedua obyek yaitu: kiyai dan alumni pondok pesantren yang telah menjadi cendekiawan muslim. Pengamatan mendalam terhadap kehidupan kiyai mutlak dibutuhkan, untuk mengetahui latar belakang sebelum dan sesudah ia mendirikan pondok pesantren. Sedangkan, pengamatan mendalam terhadap alumni pondok pesantren yang dinilai kritis perlu dilakukan, untuk mengetahui faktor kehidupan dan faktor-faktor lain yang mempengaruhi jalan pemikirannya dalam mengambil sikap memajukan almamater yang padahal telah ditinggalkannya.

Perspektif pendidikan pesantren dalam mengantisipasi kecenderungan global (globe, dunia), menimbulkan polemik pemikiran antara kiyai dengan alumni (cendekiawan muslim): kiyai, kapasitasnya sebagai pendidik, tetap konsisten dengan orientasinya menjadikan pesantren sebagai tempat tafaquh fiddin yakni mengaktualisasikan ajaran Islam yang holistik di tengah-tengah masyarakat. Sebaliknya, alumni pesantren yang berkehidupan modern (modern, maju) beranggapan jika pondok pesantren tetap seperti itu, maka akan sulit menjadi lembaga pendidikan Islam idaman masyarakat di masa mendatang (Zubaidi, 1996:75). Eksistensinya akan selalu ditentukan oleh globalisasi, dan gagal menjadi suatu lembaga pengarah, penentu dan pencetak sejarah dalam memajukan kesejahteraan umat manusia.

Terjadinya konflik di atas, disebabkan karena adanya suatu pemikiran tentang masa depan alumni pondok pesantren. Menurut kiyai, pondok pesantren semata-mata bertugas meng-agama-kan santri (selama ada di pondok pesantren), persoalan setelah pulang dari pesantren mau jadi pedagang, petani, ataupun pegawai tidak ada ketentuan dari pondok pesantren. Sebaliknya para alumni beranggapan, lulusan pondok pesantren cukup memiliki kematangan jiwa, karena itu sudah waktunya santri dibentuk menjadi manusia yang siap memasuki pasar kerja; jika tidak santri akan kebingungan di tengah-tengah kehidupan manusia global. Ironis sekali, jika pondok pesantren yang punya misi suci mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan ijin Tuhan Yang Maha Kuasa (Qs. 14/Ibrahim:1) hanya mampu memproduksi sumber daya manusia (SDM) yang menempati posisi marjinal, sementara SDM lulusan dari lembaga pendidikan sekolah yang dinilai skuler justru berada pada posisi yang menguntungkan.

Sebenarnya konsep pendidikan pesantren masa depan bukan masalah sulit, jika paradigma yang digunakan tidak sampai menggeser esensi tujuan utama pesantren yaitu kebaikan dan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Strategi untuk harapan/tujuan ini, adalah menghadirkan kembali ajaran Islam di tengah-tengah kehidupan modern. Strategi ini, bukan berarti menafikan realitas empirik, juga bukan menolak kehadiran pemikiran ilmiah dalam komunitas santri. Akan tetapi berusaha mengintrodusir sistem kehidupan Islam ke dalam realitas empirik, sehingga akan didapat sebuah model kehidupan masyarakat yang terlahir dari produk pendidikan pesantren yaitu masyarakat yang berorientasi pada kehidupan nyata sebagai realisasi ajaran Islam.

Melalui strategi di atas, integrasi tafaqquh fiddin dengan kebutuhan lingkungan tidak saja dapat membentuk integrasi sosial-budaya tetapi lebih dari itu justru akan menjadi alternatif baru sehingga kaum santri tetap berada pada pangkuan Islam di tengah-tengah pergumulannya dengan realitas empirik. Di sinilah agama berfungsi sebagai penyeimbang bahkan ideologi untuk mengembangkan kehidupan santri, karenanya tidak terlalu salah jika pondok pesantren dihimbau seyogianya tidak menutup diri terhadap pendidikan yang ber-orientasi kepada pangsa kerja.

6. Nilai dan Moral Pesantren

  1. Nilai Tradisi Pesantren

Pada 1966 St. Takdir Alisjahbana menulis tentang teori nilai (theory of value), ia mengawali tulisannya dengan pembahasan tentang filsafat. Filsafat, menurutnya, dapat berkembang karena tiga bangunan teori yaitu metafisika, teori pengetahuan dan teori nilai. Ketiga bangunan teori ini terintegrasi dalam berbagai sistem filsafat, dan setiap sistem itu memiliki struktur dan tekanan yang berbeda. Dengan demikian, timbulnya filsafat adalah bermula dari rasa keinginan untuk menjawab pertanyan metafisika kaitannya dengan substansi, kuantitas, kualitas dan perubahan.

Jika diperhatikan secara seksama, rumusan pertanyaan para filosuf tersebut masih sangat sederhana dan jelas karena pada saat itu para filosuf masih yakin sepenuhnya tentang kemampuannya untuk memperoleh pengetahuan melalui indranya dan akalnya. Pada sisi lain, jaman metasifika yang mutlak itu disusul kesangsian terhadap pengetahutan yang diperoleh melalui indra ataupun akalnya. Sikap skeptis ini, pada abad berikutnya, dirumuskan oleh Protagoras melalui ungkapannya yang terkenal yaitu manusialah ukuran dari segala sesuatu.

Dua puluh tiga abad kemudian, menurut St. Takdir, ungkapan Protagoras itu dipertegas Rene Descartes yang mengemukakan Cogito Ergo Sum (CES) yang berarti “saya berpikir, jadi saya ada”. Ungkapan ini, kemudian dikritik dan dilakukan berbagai pengkajian dan penelitian oleh para filosuf semisal George Berkeley dan David Human, serta agamawan Immanuel Khan. Berkeley mengemukakan bahwa semua yang ada di luar manusia hanyalah persepsi, sedangkan Hume setelah mengkritik konsep-konsep dasar yang digunakan para filosuf, pada akhirnya ia menyangsikan bahwa semua pengetahuan manusia didasarkan atas pengalamannya. Sementara agamawan Khan mengemukakan, metafisika tidak mungkin merupakan ilmu tentang hakekat terakhir melainkan hanyalah ilmu tentang keterbatasan pikiran manusia.

Teori pengetahuan mengembalikan pikiran manusia kepada pengalaman, jika ia hendak mencoba berteori di luar batas-batas dirinya sendiri. Dengan menekankan kepada unsur-unsur a priori dalam pengetahuan yang berdasarkan konsep-konsep, Khan memberikan kedudukan yang sangat penting pada keduanya (ilmu tentang keterbatasan manusia dan pengalaman) adalah penjelmaan dari kemutlakan yang sama.

Melalui pembahasan tentang teori pengetahuan, sebenarnya sudah sampai pada pembahasan tentang teori nilai. Sebab teori nilai menyelidiki tentang proses dan isi penilaian yaitu proses-proses yang mendahului, mengiringi, bahkan menentukan semua kelakukan manusia. Jadi, teori nilai yaitu teori yang membahas tentang manusia sebagai makhluq yang berkelakuan sebagai obyek.

Ketika Descartes mengemukakan Cogito Ergo Sum, maka ungkapan ini mengandung maksud bahwa wujud manusia yang khas adalah makhluq berpikir; berteori. Teori adalah, penjelmaan sangat penting dari kemampuan manusia dalam melakukan penilaian. Dari sinilah dapat dikemukakan bahwa, kehidupan budi (pikiran yang dalam) yang terjelma dalam proses penilaian merupakan ciri khas manusia yang terpenting dalam kehidupan secara individu maupun dalam bermasyarakat. Justru karena fungsi proses penilaian dalam menentukan perilaku manusia itulah, maka dapat dikemukakan teori nilai sebagai filsafat yang memiliki penerapan praktis secara langsung, sedangkan metafisika yang semata-mata berusaha mengetahui sifat terakhir dari kenyataan tetap tinggal sebagai teori semata-mata. Hubungannya dengan pembahasan nilai, maka dapat dirumuskan lebih luas bahwa cogito ego sum “saya berpikir, jadi saya ada” menjadi Evaleo, Ergo Sum yang berarti “saya menilai, jadi saya ada”. Teori nilai sebagai filsafat praktis, dikembangkan oleh para sarjana ilmu-ilmu sosial (sosiolog, antropolog dan psikolog) Amerika Serikat menjadi konsep pokok dalam konteks theory of action yang dipelopori Talcott Persons, Gordon Allpor, Edward Shils, Henry Murray dan Clyde Kluckhohn.

Melalui Theory Action Kluckhohn, dkk. mengemukakan bahwa value adalah,

A conception, explicit or implicit, distingtive of an individual or characteristic of a group, of the desirable wich influence the selection from available modes, means and ends of action nilai adalah sebuah konsepsi, eksplisit atau implisit yang khas milik seorang individu atau sekelompok tentang apa yang seharusnya diinginkan dan yang mempengaruhi pilihan yang tersedia dari bentuk-bentuk, cara-cara dan tujuan-tujuan tindakan (Amri Marzali, 1995:14)

Kunci definisi value (nilai) di atas menurut Amri, adalah konsep tentang hal yang seharusnya diinginkan. Sebagai suatu konsep, nilai berarti masih bersifat abstrak atau dibangun di dalam pikiran (budi), sehingga belum dapat diraba dan dilihat secara langsung dengan pancaindra. Nilai hanya dapat disimpulkan dan ditafsirkan dari ungkapan, perbuatan dan materi yang dibuat manusia. Karena itu ungkapan, perbuatan dan materi kehidupan sehari-hari yang dilakukan manusia adalah manifestasi dari nilai.

Nilai yang dianut seseorang atau sekelompok masyarakat, biasanya berbentuk samar-samar; diungkapkan dalam bentuk verbal secara komplit dan tepat oleh pemiliknya, lebih implisit daripada eksplisit; berbentuk idea atau pemikiran yang abstrak dan sangat umum. Namun demikian, nilai dapat diuraikan dalam bentuk kata-kata orang lain kemudian diajukan kepada pemiliknya: apakah kesimpulan orang lain itu benar atau tidak pemilik nilai dapat memberikan persetujuan atau penolakan. Alat untuk menguji nilai adalah verbalizability (Amri Marzali, 1995:16-17).

Berdasarkan uraian di atas, maka untuk menangkap nilai yang hidup pada suatu masyarakat, seseorang tidak cukup hanya mengamati dan mencatat ungkapan, perbuatan atau materi yang dihasilkan oleh anggota masyarakat, tapi dia harus pandai mengoreksi dan menemukan konsepsi yang tersembunyi di bawah permukaan ungkapan, perbuatan atau materi tersebut. Robert N. Bellah melalui Tokugawa Relegion (1970) mengumpamakan bahwa ungkapan, perbuatan dan materi sebagai kulit luar (the husk) atau sesuatu yang nyata adalah yang terlihat dan yang berada di permukaan; sedangkan nilai yang tersembunyi di bawah kulit disebut sebagai inti (the kernel).

Nilai yang menjadi dasar keberadaan pondok pesantren dapat digolongkan menjadi dua kelompok yaitu: 1) nilai-nilai agama yang memiliki kebenaran mutlak, yang dalam hal ini bercorak fiqh-sufistik dan berorientasi kepada kehidupan ukhrawi. 2) nilai-nilai agama yang memiliki kebenaran relatif  bercorak empiris dan pragmatis untuk memecahkan beberapa masalah kehidupan sehari-hari menurut hukum agama (Mastuhu, 1996:58). Dalam kaitan ini, kiyai sebagai figur sentral dan pembina santri secara konsisten menjaga nilai-nilai agama dalam kelompok pertama; sedangkan asaatidz dan santri menjaga nilai-nilai agama kelompok kedua. Inilah sebabnya, mengapa kiyai mempunyai kekuasaan mutlak di pondok pesantrennya. Sebaliknya, ketaatan, ketundukan dan keyakinan para santri terhadap kiyainya sangat besar; mereka yakin kiyainya selalu mengajarkan hal-hal yang benar, sebaliknya mereka tidak percaya jika kiyainya berbuat kesalahan atau kekeliruan.

b. Moralitas Pesantren

Pada umumnya, pembicaraan tentang nilai yang dimaksud adalah etik. Etik, menurut St. Takdir Alisjahbana (1984), merupakan cabang dari teori nilai yang tertua dan sering merupakan bagian dari agama yang terintegrasi. Senada dengan pernyataan ini Juhaya S Praja (1997) menuliskan, teori nilai meliputi dua cabang filsafat yaitu Etika dan Estetika. Etika merupakan penyelidikan filsafat tentang kewajiban-kewajiban manusia serta tingkah laku manusia dilihat dari segi baik atau buruknya perilaku itu. Etika memiliki sifat yang sangat mendasar yaitu sifat kritis, mempersoalkan norma-norma yang berlaku dan menyelidiki dasar norma-norma itu; mempersoalkan hak setiap lembaga seperti keluarga, lembaga pendidikan, negara dan agama untuk memberi perintah atau larangan yang harus ditaati. Ini artinya bahwa, etika menuntut orang agar bersikap rasional terhadap semua norma sehingga etika akhirnya membantu manusia menjadi lebih otonom. Otonomi manusia, tidak terletak pada kebebasannya dari segala norma dan tidak sama dengan kesewenang-wenangan, melainkan tercapai dalam kebebasan untuk mengakui norma-norma yang diyakininya sendiri sebagai kewajiban.

Sebagaimana teori nilai, etik menjelaskan nilai tertinggi yaitu apa yang disebut kebaikan. Daripadanya dikembangkan norma-norma kelakukan baik dan buruk dalam hubungannya dengan seluruh kehidupan manusia. Pernyataan St. Takdir ini bukan berarti bahwa antara nilai, etik dan norma merupakan kesatuan makna. Teori-teori etik (juga moral atau akhlaq), sebagaimana teori nilai, memiliki perbedaan menurut sumber-sumbernya. Jika moral (mores, bahasa Latin) bersumber pada agama, negara atau adat istiadat maka kita berbicara tentang etik heteronom yakni baik dan buruknya perkataan dan perilaku manusia dinilai berdasarkan perundang-undangan, pranata sosial atau ajaran agama. Sebaliknya, jika sumber norma ada di dalam diri sendiri, maka disebut etik autonom yaitu penilaian terhadap baik atau buruknya perkataan dan perbuatan orang adalah berdasarkan penilaian atau pengakuan pribadi/individu.

Berdasarkan teori di atas, tampaknya moralitas pondok pesantren termasuk kategori etik heteronon yang menilai perkataan dan perilaku seseorang dianggap baik atau buruk, didasarkan atas pertimbangan etika kolektif masyarakat pesantren. Masyarakat Pesantren terdiri dari orang-orang yang selalu berkata dan berbuat sesuai dengan dan/atau berujuk kepada ajaran Islam dan mempertimbangkan kebiasaan atau tradisi yang telah berkembang di lingkungannya yang dianggap tidak bertentangan dengan ajaran agama. Dengan kalimat lain, nilai dan moral pesantren adalah segala perbuatan yang berkembang di lingkungan pondok pesantren, selalu berujuk kepada tradisi pesantren baik tradisi dalam arti “tradisi suci” (perilaku yang sesuai dengan al-quran dan sunnah rasul) maupun tradisi dalam arti kebiasaan masyarakat setempat yang telah dijaganya selama bertahun-tahun. Pernyataan ini dapat diperhatikan dari kegiatan yang dilakukan para santri, baik di lingkungan dalam pesantren maupun di luar pesantren. Mereka selalu menjaga perintah-perintah agama dan menjauhi larangan-larangannya, juga ber-usaha mengikuti kebiasaan masyarakat pendahulunya.

7. Hirarki dan Karakteristik Pesantren

a. Hirarki Pesantren

Sesuatu yang sangat unik pada dunia Pesantren adalah begitu banyaknya variasi antara pesantren yang satu dengan pesantren lainnya walaupun dalam berbagai aspek dapat pula ditemukan beberapa kesamaan yang bersifat umum. Dawam Rahardjo (1995:24) mengemukakan, variasi-variasi tersebut dapat dijumpai jika kita bisa berpikir secara analitis untuk memperoleh konsep tentang suatu pesantren dan dapat menjabarkan secara detail tentang prospek dan perkem-bangan pesantren, sehingga diperoleh variabel-variabel struktural seperti bentuk kepemimpinan, organisasi kepengurusan, dewan kiyai/guru, rencana program pelajaran, kelompok-kelompok santri atau bagian-bagian fungsional khusus jika dibandingkan dengan pesantren lainnya akan ditemukan tipologi dan variasi dunia pesantren.

Variasi-variasi pesantren itu terjadi karena pesantren tidak memiliki tingkatan atau perjenjangan, sebagaimana yang terjadi pada lembaga-lembaga pendidikan sekolah. Di dunia pesantren terdapat istilah pesantren induk yang memiliki anak atau pesantren cabang di berbagai tempat. Melalui istilah itu bukan berarti pondok pesantren memiliki perjenjangan, sebab pertumbuhan anak atau pondok  pesantren cabang ini terjadi, pada mulanya berasal dari santri yang merasa berhasil menuntut ilmu dari suatu pesantren kemudian terpanggil untuk mendirikan pondok pesantren; awalnya ia ingin berlindung pada pondok pesantren dimana ia pernah belajar, atau ia ingin tetap memiliki ikatan batin dengan kiyai bekas gurunya. Biasanya, pesantren yang besar memiliki santri banyak yang datang dari daerah-daerah yang jauh, karena itulah maka pesantren ini memiliki anak/pesantren cabang di daerah.

Hubungan antara pondok pesantren induk dengan anak atau pesantren cabang, biasanya bersifat tidak resmi yaitu dalam bentuk patron: guru-murid dan dengan bentuk hubungan lugas dari sistem organisasi yang impersonal. Bentuk hubungan seperti ini bisa bersifat amat erat dan kuat karena merupakan suatu hubungan bathin, namun anak/pesantren cabang bisa begitu saja lepas dari induknya atas pertimbangan dan keputusan yang bersumber dari bentuk hubungan seperti ini. Di antara anak/ pesantren cabang ada yang tetap kecil dan kurang berkembang, tetapi ada juga yang kemudian berkembang menjadi besar dan membangun citra dengan nama sendiri. Dengan demikian, istilah pesantren induk dan anak/pesantren cabang tidak tepat untuk mengatakan bahwa pondok pesantren memiliki perjenjangan.

Di bawah ini, tulisan Zamakhsyari Dhofier dapat dijadikan sebagai rujukan  untuk menyebutkan bahwa pondok pesantren memiliki perjenjangan, walaupun perjenjangan ini tidak terjadi pada setiap pesantren. Dzofir (1994:20-21) menuliskan, lembaga-lembaga pengajian yang terjadi di tengah-tengah masyarakat, bertingkat-tingkat. Tingkat yang paling rendah, bermula pada waktu anak-anak berumur kira-kira lima tahun menerima pelajaran dari orang tuanya berupa menghafalkan alfabet arab secara bertahap agar mereka kelak dengan mudah membaca al-quran; setelah mereka berumur tujuh atau delapan tahun, mulai diajarkan untuk menghafal beberapa surat pendek dari juz terakhir (juz ke-30) dalam al-quran. Bagi orang tua atau saudara-saudaranya yang tidak bisa mengajarkan al-quran kepada anak-anaknya, mereka mempercayakan kepada tetang-ganya belajar al-quran di rumah tetangganya atau di mushalla. Waktu belajarnya, berlangsung setelah shalat maghrib hingga shalat ‘isya tiba. Program pengajaran tingkat pemula ini, secara alamiah akan berhenti setelah anak-anak mampu membaca al-quran dengan lancar dan benar.

Bagi beberapa anak dari keluarga tertentu, proses pendidikan dasar-dasar al-quran tersebut merupakan perjenjangan pertama, untuk selanjutnya mereka dianjurkan agar melanjutkan pelajarannya ke lembaga pendidikan Islam yang lebih tinggi tingkatnya yakni pondok pesantren, dengan harapan mereka kelak akan dapat membaca dan menterjemahkan KK yang ditulis dalam bahasa Arab. Sebagian dari mereka, ada yang setelah berkenalan dan mampu membaca KK tersebut berambisi menjadi kiyai atau ulama, sehingga kemudian mereka mempelajari nahwu-sharaf (di lingkungan pondok pesantren, kedua ilmu ini dikenal sebagai ilmu-ilmu alat) sebagai alat untuk memperdalam KK antara lain kitab fiqh ushul fiqh, hadits mushthalah hadits, ‘ulum al-hadits, adab, tafsir ‘ulum al-tafsir, tawhid, tarikh, tasawwuf atau akhlaq.

Untuk menguasai dan memahami beberapa macam KK, diperlukan guru-guru (asaatidz) atau kiyai yang cukup cerdik dan berbobot, juga diperlukan lembaga pendidikan yang lebih sistematis. Lembaga pendidikan dimaksud tidak cukup hanya pondok pesantren, melainkan juga lembaga-lembaga pendidikan sekolah keagamaan. Lebih jelasnya tentang hirarki atau jenjang pendidikan di pondok pesantren menurut Zamakhsyari Dzofir ini, dapat diperhatikan pada gambar di bawah ini.

GAMBAR 2

HIRARCHI PONDOK PESANTREN

Pesantren

Tingkat Tinggi

 

 

Pesantren                                  Pesantren               Pesantren

Tingkat Menengah                           Tingkat Menengah            Tinggkat Menengah

 

 

Pesantren                          Pesantren                   Pesantren

ingkat Dasar                     Tingkat Dasar           Tingkat Dasar

 

 

Pengajian                               Pengajian                Pengajan

Kitab                                      Kitab                        Kitab

 

 

Pengajian                              Pengajian                Pengajian

Membaca al-quran           Membaca al-quran     Membaca al-quran

Hirarki atau tingkat kependidikan yang terjadi pada pondok pesantren di atas, didasarkan atas kepercayaan masyarakat atau penelitian mendalam yang dilakukan para peneliti atau ahli pendidikan (khususnya ahli kurikulum) yang secara seksama memperhatikan keberadaan pesantren di Indonesia.

Masih ada bentuk lain yang menyebutkan tentang perjenjangan yang terjadi dan diselenggarakan di lingkungan pondok pesantren yaitu, madrasah diniyah. Pertingkatan yang ada pada madrasah diniyah meliputi tiga tingkat yaitu al-awla, al-wustha dan al-a’la. Ketiga tingkatan ini tidak didasarkan atas usia ataupun administratif sebagaimana yang terjadi di lembaga-lembaga pendidikan sekolah, melainkan didasarkan atas kemampuan dan kualitas murid.

b. Karakteristik Pesantren

Pondok pesantren bukanlah semacam sekolah, walaupun di lingkungannya telah banyak didirikan unit-unit klasikal seperti kursus keterampilan atau jenis-jenis lembaga pendidikan luar sekolah lainnya dan lembaga-lembaga pendidikan sekolah. Lembaga-lembaga pendidikan (unit-unit klasikal maupun sekolah) yang didirikan secara massal itu, memiliki sifat-sifat materi ilmu-ilmu dasar bahkan kurikulum yang sama. Berbeda dengan lembaga pendidikan sekolah, pondok pesantren memiliki kepemimpinan, ciri-ciri khusus dan kepribadian yang diwarnai karakteristik pribadi kiyai, unsur-unsur pimpinan pondok pesantren bahkan aliran-aliran keagamaan tertentu yang dianut. Pondok pesantren bukan semata-mata merupakan lembaga pendidikan, melainkan juga lembaga masyarakat dalam arti memiliki pranata tersendiri yang memiliki hubungan fungsional dengan masyarakat dan hubungan tata nilai dengan kultur masyarakat, khususnya yang berada dalam lingkungan pengaruhnya.

Mengamati keadaan pondok pesantren dan sekolah secara selintas, akan diperoleh kesan bahwa dua lembaga pendidikan ini masing masing memiliki ciri khas. Kekhasan ini sekaligus merupakan salah satu pembeda utama di antara keduanya. Secara umum, pembeda itu terletak pada paradigma yang digunakan. Pondok pesantren pada umumnya menggunakan paradigma keyakinan, sedangkan sekolah menggunakan paradigma ilmiah.

Pondok pesantren adalah salah satu bentuk/model pendidikan, di mana seorang guru (dalam hal ini kiyai) dikelilingi beberapa murid atau santri. Guru yang merupakan religius figure ini meneruskan dan mewariskan ilmunya dengan tidak secara administratif, sebaliknya ia bertindak sebagai teladan kepada para muridnya. Keadaan demikian ini, mirip dengan akademica yang didirikan Plato pada jaman Yunani Kuno. Plato sebagai guru, bukanlah instruktur, ia adalah fasilitator, motivator sekaligus komunikator. Pondok Pesantren memberikan pola tertentu kepada masyarakatnya, sebaliknya ia tidak bergantung apakah akan diberikan suatu fasilitas atau tidak dari fihak lain.

8. Tipologi Pesantren

Secara ilmiah belum ada hasil penelitian yang merumuskan tentang tipologi pesantren, tapi dalam pembicaraan umum sering dijumpai pesantren dilihat dari segi aliran, orientasi dan KK yang disampaikan kiyai serta sistem pendidikan yang diseleng-garakannya dapat dikelompokkan ke dalam dua tipe yaitu pesantren salaf (tradisional) dan pesantren khalaf (modern).

a. Pesantren Salaf

Pesantren salaf yang lebih dikenal sebagai pondok pesantren tradisional adalah pesantren yang mempertahankan pengajaran KK salaf sebagai inti pendidikannya. Pembelajaran yang dilakukan kiyai adalah halaqah yaitu kiyai memimpin para santri yang mengelilinginya dimana kiyai dan santri memegang KK yang sama, berlangsung di salah satu ruangan masjid dan metode yang digunakannya adalah metode sorogan atau bandongan. Pernyataan ini menunjukkan bahwa, proses pembelajaran KK yang berlangsung di pondok pesantren salaf tidak mencerminkan sistem kelas sebagaimana yang terjadi pada lembaga pendidikan madrasah ataupun sekolah umum.

Pada kenyataannya, tidak semua pesantren salaf dalam proses pembelajaran KK-nya sesuai dengan ungkapan di atas; sebagian besar pesantren salaf kini telah memiliki aula khusus yang digunakan sebagai tempat proses pembelajaran KK; bahkan ada juga yang telah menggunakan kelas-kelas. Penggunaan kelas untuk belajar KK, hanya untuk memudahkan sistem halaqah dan peringkat KK yang disampaikan kiyai berdasarkan metode wetonan.

b. Pesantren Khalaf

Pesantren khalaf disebut juga pesantren modern, lantaran dalam penyeleng-garaan pendidikannya telah memasukkan mata pelajaran umum dalam kurikulum mad-rasah yang dikembangkannya; atau pesantren yang telah mendirikan beberapa lembaga pendidikan sekolah, baik pendidikan umum maupun pendidikan kejuruan. Karena itu, sistem yang dikembangkan di pesantren khalaf adalah sistem madrasi atau lembaga pendidikan yang menggunakan kelas di mana proses belajar mengajarnya berlangsung di dalam kelas sesuai dengan jadwal pelajaran dan perjenjangan masing-masing. Walaupun demikian, bukan berarti pesantren khalaf meninggalkan sistem salafi yang mengajarkan KK dengan metode khasnya yaitu sorogan dan bandongan.

Santri yang memasuki pesantren khalaf memiliki nilai plus, dibandingkan dengan santri yang memasuki pesantren salaf. Kelebihan atau nilai plusnya yaitu, di pesantren khalaf diajarkan dua bentuk ilmu pengetahuan yaitu ilmu pengetahuan agama dan ilmu pengetahuan umum serta keterampilan. Dengan kedua pengetahuan ini, maka sarana dan fasilitas serta perangkat pendukung lainnya lebih banyak.

Dengan pengelompokkan kedua bentuk pesantren di atas, bukan berarti bahwa pesantren khalaf lebih bermutu daripada pesantren salaf atau sebaliknya. Walaupun hingga kini sudah banyak pondok pesantren yang menyelenggarakan lembaga pendidikan sekolah umum (dari tingkat TK sampai Perguruan Tinggi), pesantren tidak bisa disamakan dengan lembaga-lembaga pendidikan umum. Skala prioritas tujuan pendidikan di lembaga pendidikan sekolah, sangat mudah diklasifikasi bergantung kepada aspek-aspek pendidikan pesantren an sich; sedangkan pondok pesantren, selain aspek-aspek yang ada di lembaga pendidikan sekolah tapi harus diawali aspek-aspek moral, kultural, norma dan tradisi.

Kenyataan di tengah-tengah masyarakat menunjukkan bahwa, yang membuat pondok pesantren tetap memperoleh kepercayaan masyarakat; bukan karena bentuk salaf atau khalafnya pesantren, melainkan karena konsistensi (istiqamah) kiyai dalam mengembangkan misi suci (Qs. 14/ Ibrahim:1) dan visinya yaitu tafaqquh fiddin.

9.  Pesantren sebagai Sistem Pendidikan Luar Sekolah

a. Pengertian dan Penggunaan Sistem

Istilah sistem, sering digunakan untuk menunjuk kepada makna metode atau cara, dan suatu himpunan unsur atau komponen yang saling berhubungan satu sama lain menjadi satu kesatuan. Sistem dalam arti metode atau cara, dikenal sebelum tahun 1980-an tetapi setelah itu, sistem mulai dikenal dalam arti sebagai suatu himpunan atau komponen. Perkembangan berikutnya, sistem sebagai suatu himpunan atau komponen pun didefinisikan bermacam-macam. Namun demikian, siapapun berhak untuk mengartikan dan menggunakan istilah sistem dalam arti metode ataupun suatu himpunan. Karena kedua arti itu berujuk kepada tulisan William A. Shrode dan Van Voich yang dikutip Tatang M. Amirin (1984:4) bahwa,

The term system has two important connotations wich are implicit, if not explicit, in almost any discussion of system: the first is, the nation of system as an entity or thing wich has a perticuler order or structural arrangement of its parts. The scond is, the nation of system as a plan, methoda, device or procedure for accomplishing something. As we shall see, these two nations are not markedly different, since order or structure is fundamen-tal to each.

Makna sistem di atas, menunjuk kepada dua hal yaitu pertama, menunjuk pada sesuatu wujud (entitas) atau benda yang memiliki tata aturan atau susunan struktural dari bagian-bagiannya, dan kedua menunjuk pada suatu rencana, metode, alat atau tatacara untuk mencapai sesuatu. Namun pengertian kedua pengertian di atas, menurut Tatang, tidak memiliki perbedaan yang berarti karena keberaturan, keterlibatan atau adanya struktur itu merupakan hal yang fundamental (mendasar) bagi keduanya.

Shrode dan Voich melalui Tatang M. Amirin (1984:11) menuliskan, untuk mendefisikan sistem hendaknya mempertimbangkan unsur-unsur sistem yaitu,

A set of interrelated part (suatu himpunan antar bagian-bagian), working independently and joinly (bekerja sama secara mandiri dan saling mendukung), in pursuit of common objectives of the whole (semuanya ditujukan untuk pencapaian tujuan bersama atau tujuan sistem), within a complex environment (terjadi di dalam lingkungan atau kompleks yang rumit).

Pada bagian lain, Tatang (1984:21) menuliskan tentang ciri-ciri suatu sistem yaitu bertujuan, memiliki batas, terbuka, tersusun dari sub-sistem, ada saling keterkaitan dan saling tergantung, merupakan satu kebulatan yang utuh, melakukan kegiatan transformasi, ada mekanisme kontrol dan memiliki kemampuan mengatur dan menyesuaikan diri sendiri.

Berdasarkan unsur-unsur sistem di atas, Williams A. Shrode dan Van Voich mengemukakan, sistem (Yunani, systema) berarti 1. Whole compounded of several parts yaitu suatu keseluruhan yang tersusun dari sekian banyaknya bagian, 2. An organized, functioning realtionship among units or commponents yakni hubungan yang berlangsung di antara satuan-satuan atau komponen secara teratur.

Definisi di atas tampaknya masih belum menjelaskan apa yang disebut bagian dan unsur atau komponen itu, sebab ilmu pengetahuan yang tidak berwujud juga merupakan suatu sistem yang terdiri dari beberapa bagian. Kaitannya dengan hal ini, Koontz dan O’Donnell mengemukakan, “…an ordered and comprehenshive assemblage of facta, principles, doctrines or the like in a particular field or knowladge or throught”, sistem merupakan sehimpunan fakta, prinsip doktrin dan sebagainya yang lengkap dan teratur di dalam bidang pengetahuan dan pemikiran tertentu. Sedangkan definisi yang menunjukkan pada unsur fisik atau wujud dikemukakan Mudrick dan Ross, “Veri simply a system ia aset of elements such as people, things and concepts, wich are related to achive a mutual goal”, secara sederhana yang dinamakan sistem adalah sehimpunan unsur semisal manusia, benda-benda dan konsep yang saling berkaitan untuk mencapai suatu tujuan bersama.

Sebagai perbandingan terhadap definisi yang diajukan Shrode dan Voich, Mudrick dan Ross mengajukan definisi sistem sebagai,

A system is a set of elements forming an activity or a processing procedure /schema seeking a common goal or goals by operation on data and/or energy and/or matter in a reference information and/or energy and/or matter sistem adalah sehimpunan unsur yang melakukan sesuatu kegiatan atau menyusun skema atau tatacara melakukan sesuatu kegiatan prmrosesan untuk mencapai sesuatu atau beberapa tujuan, dan hal ini dilakukan dengan cara mengolah data/atau energi dan/atau barang (benda) dalam jangka waktu tertentu guna menghasilkan informasi dan/atau energi dan/atau barang (benda).

Dari kedua makna sistem di atas dapat dikemukakan, sistem adalah sehimpunan bagian atau komponen yang saling berhubungan secara teratur dan merupakan satu keseluruhan (a whole).

Lebih lanjut uraian tentang sistem ini adalah, jenis-jenis sistem. Tatang mengutip terdapat Shrode dan Voich yang membagi sistem menjadi enam jenis yaitu:

1. Dipelajari dari sudut wujudnya, sistem terbagi menjadi tiga yaitu: sistem fisik, sistem biologik dan sistem sosial; 2. Dipelajari dari sudut asal-usulnya, sistem dibagi ke dalam dua bentuk yaitu: sistem alamiah dan sistem buatan; 3. Dipelajari dari daya kekua-tan, sistem dibagi ke dalam dua bentuk yaitu: sistem mekanistik dan sistem organik; 4. Dipelajari dari sudut hubungannya dengan lingkungan, sistem terbagi ke dalam sistem terbuka dan sistem tertutup; 5. Dipelajari dari wujudnya, sistem dibagi menjadi tiga bentuk yaitu: sistem konseptual, sistem konkrit dan sistem abstraks; 6. Dipelajari dari sudut dinamika, sistem terbagi ke dalam tiga bentuk yaitu: sistem struktur, sistem perilaku dan sistem evaluasi (Tatang M. Amirin, 984:41).

Begitu juga pendapat B. Davis (1974:88) yang dikutip Tatang, membagi sistem ke dalam enam jenis yaitu: 1. Sistem fisik, 2. Sistem abstrak, 3. Sistem terbuka, 4. Sistem tertutup, 5. Sistem deterministik, 6. Sistem probabilistik.

Hubungannya dengan pokok pembahasan ini adalah, jenis sistem yang diper-gunakan yaitu jenis atau bentuk sistem terbuka. Sistem terbuka adalah, sistem yang berhubungan dengan lingkungannya, komponen-komponennya dibiarkan mengadakan hubungan keluar dari “batas luar” sistem.

Pondok pesantren sebagai bentuk lembaga pendidikan maupun sebagai lembaga sosial, menetapkan sistem terbuka: ia menerima masukan hal-hal tertentu yang ada kaitannya dengan sikap keterbukaannya. Sistem terbuka juga menunjukkan ciri equifinality yaitu suatu keadaan akhir dari suatu sistem dapat dicapai dari berbagai keadaan awal yang bermacam-macam.

  1. Sistem Pendidikan Luar Sekolah

Pendidikan merupakan modal dalam membentuk pola pikir dan pengembangan intelektual; pendidikan merupakan sarana penerus nilai-nilai, gagasan dan penyempurnaan cara berpikir; melalui pendidikan manusia merasa lebih mudah dalam membedakan sesuatu mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang serasi dan mana yang tidak serasi, mana yang mungkin dan mana yang tidak mungkin. Pendidikan semacam ini, dapat diartikan sebagai suatu proses kegiatan yang dilakukan dengan sengaja, teratur dan terencana guna membentuk sikap dan tingkah laku manusia ke arah yang lebih baik. Begitu pentingnya keberadaan pendidikan, sehingga pemerintah secara serius memperhatikan segala bentuk aktifitas yang dilakukan masyarakat. Salah satu bukti keseriusan pemerintah dalam memperhatikan masalah pendidikan adalah, diterbitkanlah undang-undang sistem pendidikan nasional tahun 1989 yang di dalamnya mengatur tentang penyelenggaraan pendidikan.

Di dalam UU RI tersebut, pemerintah memperhatikan dan mensejajarkan semua bentuk kegiatan yang diselenggarakan oleh dan/atau berada di tengah-tengah masyarakat ataupun yang diselenggarakan oleh pemerintah. Pendidikan yang bersifat kemasyarakatan, dikategorikan sebagai pendidikan luar sekolah (PLS); sedangkan pendidikan yang diselenggarakan pemerintah, dikategorikan sebagai pendidikan sekolah. Dalam tulisan ini, penulis memfokuskan diri kepada pembahasan tentang PLS.

Pembahasan tentang PLS, tidak biasa lepas dari tiga aspek yaitu  1. Aspek historis (kesejarahan); 2. aspek teoritik (falsafah) dan 3. dasar pijakan (hukum) sehingga terwujud dan berkembangnya jenis dan wadah kegiatan PLS.

1) Aspek Historis

Manusia adalah makhluq sosial (human social) yang dalam pergaulan sehari-harinya selalu diwarnai dengan saling ketergantungan (interdepedent), saling membutuhkan dan saling menolong satu dengan yang lainnya. Masyarakat yang kuat seperti pemilik perusahaan, kapitalis ataupun investor secara kemanusiaan ia membutuhkan bantuan dari masyarakat yang lemah seperti masyarakat bawah, kaum buruh bahkan oposan; sebaliknya masyarakat lemah (mustadh’afien) seperti fuqara masaakien ataupun ghaarimien (masyarakat penghutang) sangat membutuhkan bantuan moral dan material dari orang-orang yang memiliki kekayaan dan kekuasaan. Ajaran agama mengajarkan, manusia adalah makhluq yang memiliki keterbatasan daya fikirnya maupun daya fisiknya, karena itu ia membutuhkan bantuan baik bantuan bersifat moral maupun material.

Kedudukan manusia dalam dunia pendidikan, sebagian ada yang berperan sebagai orang yang membutuhkan informasi dan iptek; mereka adalah peserta didik seperti pelajar (siswa di sekolah), santri (di pesantren), murid (di madrasah diniyah) ataupun mahasiswa. Sebagian yang lain berperan sebagai orang membutuhkan tempat atau sarana untuk pengembangan dan penyaluran informasi serta iptek dan keterampilan yang telah mereka miliki; mereka adalah para pendidik seperti kiyai (di pesantren), guru (di sekolah), asaatidz (di madrasah diniyah) ataupun tutor (di lembaga-lembaga PLS).

Pendidikan adalah satu-satunya lembaga bagi manusia, untuk saling memperbaiki atas segala kelemahan dan kebodohannya, bahkan merupakan salah satu sarana untuk menyalurkan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi serta keterampilan. Karenanya, pendidikan merupakan wadah berkumpulnya manusia dari berbagai latar belakang status sosial, ras, bahasa dan agama dalam merencanakan, melaksanakan dan mengembangkan bentuk-bentuk kegiatan yang diharapkan bermanfaat bagi sesamanya.

Namun masyarakat umum beranggapan bahwa, yang dimaksud dengan pendidikan adalah lembaga pendidikan sekolah yang di dalamnya terkandung suatu sistem dan struktur yang saling mengikat kebebasan pada hal mereka telah maklum bahwa, sebelum anaknya menjadi pelajar/mahasiswa pada suatu lembaga pendidikan sekolah ia adalah seorang murid yang telah memperoleh pembimbingan dan pendididikan dari kedua orang tuanya di rumah melalui pendidikan informal, dan telah memperoleh pembinaan dari para tokoh agama dan pemuda melalui lembaga pendidikan nonformal.

Dengan demikian secara historis, pendidikan yang pertama dan utama adalah pendidikan yang terjadi dan berlangsung di lingkungan keluarga. Melalui perintah/suruhan, tindakan dan perkataan) ayah dan ibunya bertindak sebagai pendidik, sedangkan anak-anak (sesuai keadaan dan peringkat usia)nya bertindak sebagai peserta pendidik.

2) Aspek Teoritis

Salah satu dasar pijakan teoritis keberadaan PLS adalah teori yang diketengahkan Philip H. Cooms (1973:10), “no one mode or institution of education formal, informal or nonformal is capable by it self of meeting all the minimum essential learning needs” (tidak satupun lembaga pendidikan: formal, informal maupun nonformal yang mampu secara sendiri-sendiri memenuhi semua kebutuhan belajar minimum yang esensial). Atas dasar teori ini dapat dikemukakan bahwa, keberadaan pendidikan tidak hanya penting bagi segelintir masyarakat tapi mutlak diperlukan bagi masyarakat lemah (yang tidak mampu memasukkan anak-anaknya ke lembaga pendidikan sekolah) dalam upaya pemerataan kesempatan belajar, meningkatkan kualitas hasil belajar dan mencapai tujuan pembelajaran yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa.

Jika yang dimaksud dengan pendidikan sebagaimana ungkapan di atas, maka PLS memiliki ciri yang khas sebagai pembeda dengan pendidikan sekolah sebagaimana dirumuskan Soelaiman Joesoef (1992:54-55) yaitu sebagai berikut:

–        Diselenggarakan dengan tidak berjenjang, tidak berkesinambungan dan dilaksanakan dalam waktu singkat,

–        Karena sifatnya itu sehingga tujuan, metode pembelajaran dan materi yang disampai-kan selalu berbeda di masing-masing penyelenggara PLS,

–        Sebagian dari program pembelajarannya dilaksanakan seperti kursus-kursus keteram-pilan bagi remaja, pemberantasan buta huruf bagi remaja dan dan orang-orang dewasa, Kedua sasaran itu dilaksanakan dengan jumlah yang sangat terbatas pada kehidupan dan pekerjaan,

–        Lebih banyak meningkatkan produktifitas ekonomi, perubahan sosial, kesejahteraan dan pendapatan peserta didik,

–        Peranannya mencakup pengetahuan, keterampilan dan pengaruh pada nilai-nilai program

–        Menyadarkan kepada remaja usia sekolah, agar kembali ke perjenjang pendidikan yang lebih tinggi dari keadaan yang telah dimiliki.

Uraian di atas cukup untuk dijadikan gambaran bahwa, PLS merupakan lembaga pendidikan yang berorientasi kepada bagaimana menempatkan kedudukan, harkat dan martabat manusia sebagai makhluq yang memiliki kemauan, harapan, cita-cita dan akal pikiran.

3) Dasar Pijakan

Ada dua dasar pijakan utama bagi PLS sehingga memperoleh legitimasi dan ber-kembang di tengah-tengah masyarakat yaitu:

Pertama, Undang Undang Sistem Pendidikan Nasional tahun 1989 pasal 10:1 dan pasal 10:3 menetapkan bahwa,

“Penyelenggaraan pendidikan di Indonesia dilaksanakan melalui dua jalur yaitu jalur pendidikan sekolah dan jalur pendidikan luar sekolah” (pasal 10:1)

“Jalur pendidikan luar sekolah merupakan pendidikan yang diselenggarakan di luar sekolah melalui kegiatan belajar-mengajar yang tidak harus berjenjang dan berkesinambungan” (pasal 10:3).

Kedua, Peraturan Pemerintah RI No 73 tahun 1991 tentang Pendidikan Luar Sekolah (PLS) yang menyebutkan bahwa. PLS adalah, “pendidikan yang diselenggarakan di luar sekolah baik di lembagakan maupun tidak”. Pada bagian lain, PP nomor 73 tahun 1991 menyebutkan tujuan PLS yaitu,

1)      melayani warga belajar supaya dapat tumbuh dan berkembang sedini  mungkin dan sepanjang hayatnya, guna meningkatkan martabat dan mutu kehidupannya,

2)      membina warga belajar agar memiliki pengetahuan, keterampilan dan sikap mental yang diperlukan untuk mengembangkan diri, bekerja mencari nafkah atau melanjutkan ke tingkat atau jenjang pendidikan yang lebih tinggi,

3)      memenuhi kebutuhan belajar masyarakat yang tidak dapat dipenuhi melalui jalur pendidikan sekolah.

Melalui kedua dasar di atas dapat dikemukakan bahwa, PLS adalah “kumpulan individu yang menghimpun diri dalam kelompok dan memiliki ikatan satu sama lain untuk mengikuti program pendidikan yang diselenggarakan di luar sekolah dalam rangka mencapai tujuan belajar”.

Adapun bentuk-bentuk satuan PLS, sebagaimana diundangkan di dalam UUSPN tahun 1989 pasal 9:3 meliputi: pendidikan keluarga, kelompok belajar, kursus dan satuan pendidikan yang sejenis. Satuan PLS sejenis dapat dibentuk kelompok bermain, penitipan anak, padepokan persilatan, dan pondok pesantren tradisional. Begitu juga dalam penjelasan umum PP RI nomor 73, salah satu paragrafnya mengungkapkan,

Banyak kegiatan pendidikan dalam kehidupan keagamaan juga tidak dapat diselenggarakan dalam jalur pendidikan sekolah, bahkan berbagai bentuk kegiatan pendidikan Pondok Pesantren, Majlis Ta’lim, Kelompok Pengajian telah lama ada sebelum pendidikan sekolah diadakan, sedangkan berbagai bentuk pendidikan dalam kehidupan keagamaan yang baru di luar sekolah lahir sebagai akibat terjadinya perubahan dalam berbagai bidang kehidupan.

Dengan demikian, secara legal dan tegas disebutkan di dalam UUSPN 1989 dan melalui PP RI nomor 73 tahun 1991 tentang Pendidikan Luar Sekolah bahwa, pondok pesantren merupakan salah satu bentuk satuan PLS.

c. Pesantren sebagai Sistem Pendidikan

Pesantren dilihat dari bentuk kegiatan yang diselenggarakannya, di dalamnya mengandung unsur manajemen walaupun sebagian besar masih bersifat tradisional yakni dalam perencanaan, pengorganisasian maupun pengawasan serta pelaksanaan kegiatannya tidak dilandasi sistem manajemen modern dan akurat sebagaimana yang dilaksanakan di lembaga-lembaga pendidikan sekolah atau perusahaan. Kiyai (terkadang dibantu qayyimnya) dalam beberapa kegiatan tertentu di pondok pesantren adalah sebagai manajer yang secara langsung menjadi penentu orientasi kegiatan, sedangkan unsur pelaksanaannya adalah para santri yang sekaligus sebagai peserta kegiatan.

Dilihat dari sistem pelaksanaannya, di dalam pondok pesantren terdapat unsur utama sebagai penyelenggara kegiatan dan beberapa unsur penunjang sebagai unsur pendukung. Unsur utama dalam kegiatan pengajaran KK misalnya, kiyai dan santri sebagai komponen utama yang secara langsung terlibat dalam kegiatan ini; sedangkan unsur penunjangnya yaitu antara lain 1) masjid atau ruangan khusus sebagai tempat berlangsungnya proses pengajian, 2) suasana dan lingkungan yang tenang, dan 3) pondok atau asrama yang walaupun terkadang ada yang tempatnya terpisah-pisah tetapi santri yang ada di lingkungan pondok pesantren tersebut saling mendukung dan bekerja sama satu dengan yang lainnya sehingga terlaksananya bentuk pembelajaran atau kegiatan lain yang telah direncanakan dan/atau sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan.

Ungkapan di atas cukup untuk dijadikan bahan pertimbangan bahwa pondok pesantren adalah, suatu lembaga pendidikan yang di dalamnya terdapat beberapa unsur-unsur kelembagaan. Unsur-unsur kelembagaan yang ada pada sistem pendidikan pesantren terdiri dari unsur-unsur organik dan unsur-unsur anorganik (Mastuhu, 1994:18). Yang tergolong unsur-unsur organik meliputi: pimpinan atau para penentu kebijakan (manajer) dan perencana (manajer dibantu anggota/staf), pelaksana (para staf) dan peserta (santri atau murid) yang mengiktui suatu kegiatan (pendidikan dan pengajaran); sedangkan tujuan, filsafat dan tata nilai, kurikulum dan sumber belajar, proses kegiatan belajar mengajar, penerimaan murid dan tenaga kependidikan, teknologi kependidikan, dana dan sarana (hardware maupun shoftware), evaluasi dan peraturan terkait dalam pengelolaan sistem pendidikan kesemuanya termasuk unsur-unsur anorganik.

Pernyataan di atas dapat dikemukakan bahwa, sub-sistem pendukung pendidikan pesantren dapat dikelompokkan sebagai berikut: 1) penyelenggara dan pendukung kegiatan kependidikan: kiyai, ustadz, santri/murid; 2) sarana hard ware atau alat-alat yang bersifat fisik yaitu: Masjid/mushalla, pondok atau asrama santri dan fasilitas lain seperti gedung sekolah atau madrasah, perkantoran, kantin, koperasi, tempat untuk praktek keterampilan, sarana olah raga dan kesenian, dapur dan tempat MCK; 3) sarana shoft ware atau alat-alat yang bersifat non-fisik meliputi: sistem nilai, sistem pendidikan dan KK.

10. Pondok Pesantren Terpadu

Dalam pembicaraan umum sering dikemukakan bahwa, pondok pesantren dapat diklasifikasi menjadi dua bentuk yaitu (1) Pondok Pesantren Salafy (lebih dikenal dengan sebutan pondok pesantren tradisional) dan (2) Pondok Pesantren Khalafy (lebih dikenal dengan sebutan pondok pesantren modern). Tapi setelah Pondok Pesantren al-Falak (Bogor) bediri pada 1972, di kalangan masyarakat tertentu dikenal ada bentuk pondok pesantren lain yaitu Pondok Pesantren Terpadu. Figur Pondok Pesantren al-Falak sebagai contoh, karena Pondok Pesantren al-Falak berusaha memberdayakan santri dalam bidang pendidikan keterampilan, di samping melestarikan sistem tradisonal (salafy) dan meningkatkan mutu pendidikan persekolahan (madrasy) yang telah ada.

Dengan demikian, yang dimaksud dengan pondok pesantren terpadu ialah pondok pesantren yang dalam penyelenggaraan pendidikannya berusaha memadukan tiga aspek yaitu (1) aspek ilmu agama, untuk bekal kedupan di akherat; (2) aspek ilmu pengetahuan, untuk bekal kehidupan di dunia dan (3) aspek teknologi dan keterampilan, untuk bekal kehidupan di tengah-tengah masyarakat plural agar mampu bersaing baik dengan alumni pesantren tradisional maupun dengan alumni pesantren modern bahkan siap bersaing dengan alumni lembaga pendidikan sekolah.

Keistimewaan Pondok Pesantren terpadu adalah, memperioritaskan program pendidikan dan pelatihan (diklat). Diklat dalam peningkatan pemahaman terhadap agama; Diklat dalam pengembangan ilmu pengetahuan; maupun diklat dalam mencari model atau bentuk keterampilan bagi kehidupan masa depan pribadi dan bangsa. Karena itu, komponen-komponen yang ada pada pondok pesantren terpadu meliputi: SDM yang profesional dan proporsional, tujuan yang terarah, kurikulum yang jelas dan didukung fasilitas, biaya dan waktu yang memadai. Hal yang teramat penting dalam penyelenggaraan pondok pesantren terpadu yaitu, pemimpin yang demokratis dan sistem kepemimpinan yang berorientasi kepada masa depan santri (santri oriented).

  1. B. Kiyai, Ulama dan Cendekiawan Muslim
  1. Kiyai

a. Makna Kiyai

Kiyai merupakan elemen yang paling esensial pada suatu lembaga pendidikan pesantren (Zamakhsyari Dhofier, 1994:55). Jika dipelajari sejarah berdirinya beberapa pesantren di Indonesia, sebagian besar di antaranya termasuk kategori pesantren besar yaitu pesantren yang keberadaanya didirikan atau diprakarsai oleh kiyai; berbeda dengan pesantren yang didirikan atas bantuan masyarakat atau pemerintah yang disebut dengan pesantren kecil. Karena itu, wajar jika beberapa pesantren tertentu pertumbuhan dan perkembangannya sangat bergantung dan dipengaruhi kemampuan dan kemauan pribadi kiyainya.

Penyebutan istilah kiyai terhadap seseorang, dalam pembicaraan secara umum ada tiga istilah yang biasa digunakan yaitu kiyai, kiai dan kyai. Melalui tulisan ini, penulis lebih cenderung menggunakan kata kiyai. Di daerah Periangan, kiyai disebut ajengan; di daerah Banten disebut abuya (kiyai yang dianggap sangat terhormat atau kiyai besar); Di beberapa daerah di Bekasi dan Karawang, kiyai sering disebut mu’allim yang artinya orang yang berilmu.

Kaitannya dengan penyebutan gelar kehormatan kepada seseorang tentang kiyai ini, Kafrawi (1978:21) menuliskan, di Aceh kiyai disebut teungku bahkan berdasarkan tingkat pemahaman dan kedalaman ilmu-ilmu keislaman, kiyai di Aceh memiliki tingkatan tertentu yaitu sebagai berikut:

  1. Teungku Meunasah (kiyai yang mengajar anak-anak madrasah tingkat permulaan (madrasah daiyah), di samping menjalankan tugas-tugas kemasyarakatan;
  2. Teungku Di Rangkang, kiyai yang mengajar santri yang telah selesai dari meunasah;
  3. Teungku Di Balai, kiyai yang mengajar santri bertempat di Balee yang di kelilingi oleh Rangkang. Para santri di rangkang, setelah menyelesaikan pengajian kitab-kitab ter-tentu, meningkat menjadi santri di Balee. Jika mereka telah menyelesaikan pengajian kitab-kitab tertentu di Balee, mereka akan memperoleh gelar teungku dengan predikat ulama dan berhak mendirikan dayeuh atau Pesantren,
  4. Teungku Chik atau guru besar, kiyai yang mengajarkan santri tentang kitab-kitab besar yang termasuk kategori kitab-kitab khusus disebut juga belajar tahasus.

Dipelajari asal katanya, istilah kiyai bukan berasal dari bahasa Arab sebagaimana kata pondok pesantren, santri dan langgar walaupun istilah-istilah ini kental dengan nuansa keagamaan. Istilah-istilah ini diangkat dari kebudayaan atau tradisi daerah tertentu di Indonesia yang kemudian dalam perkembangan berikutnya telah dianggap baku dan mudah dimengerti oleh masyarakat Indonesia pada umumnya. Karena itu, dalam penggunaan istilah ini, di daerah-daerah tertentu di Indonesia, tidak hanya sebagai suatu gelar kehormatan yang diberikan kepada manusia melainkan kepada benda atau binatang.

WJS. Poerwadarminta (1978:505) menuliskan, perkataan kiyai dalam masyarakat Indonesia digunakan untuk beberapa keperluan di antaranya:

  1. Sebutan kehormatan dari masyarakat terhadap mereka karena ilmu, amal dan akhlaqnya yang merujuk kepada urgen agama Islam, baik terlibat ataupun tidak dengan instansi atau lembaga tertentu seperti pesantren, majlis ta’lim, partai politik atau organisasi,
  2. Sebutan kehormatan bagi benda-benda atau binatang tertentu yang dianggap oleh sebagian orang memiliki kekuatan (power) atau keramat (sacre),
  3. Sebutan untuk orang yang sudah tua dan dituakan oleh masyarakat dan keluarga, sebagaimana di Kalimantan Selatan dan Lampung.

Pernyataan di atas diperkuat Zamakhsyari Dzofier (1994:55) yang menuliskan bahwa, perkataan kiyai dalam bahasa Jawa dipakai untuk tiga bahkan empat jenis gelar yang saling berbeda yaitu:

  1. Sebagai gelar kehormatan bagi barang-barang yang dianggap kera-mat; umpamanya Kiyai Garuda Kencana dipakai untuk sebutan Kereta Emas yang ada di Keraton Yogyakarta;
  2. Gelar kehormatan untuk orang-orang tua pada umumnya;
  3. Gelar yang diberikan oleh masyarakat kepada seorang ahli agama Islam yang memiliki atau menjadi pimpinan pesantren dan mengajar kitab-kitab Islam klasik kepada para santrinya.

Selain gelar kiyai, ia juga sering disebut seorang ‘alim yang artinya orang yang memiliki kedalaman pengetahuan keislamannya.

Dari beberapa makna tentang kiyai di atas, penulis cenderung menggunakan makna kiyai sebagai suatu gelar kehormatan yang diberikan masyarakat kepada seseorang yang memiliki kedalaman ilmu-ilmu keislaman, di samping karena ketaatan dan kesalehannya dalam menjalankan perintah-perintah Allah dan meninggalkan larangan-laranganNya. Ia dipercaya masyarakat, lantaran ia tidak segan-segan dan tidak bosan-bosan memberikan nasihat ketaqwaan dan kesabaran; ia bukan politikus apalagi birokrat; ia bukan pengusaha apalagi manager dalam suatu perusahaan; Sebaliknya, ia adalah pengajar dan penganjur ajaran Islam kepada ummat.

Melalui pernyataan di atas, kiyai dapat diklasifikasi ke dalam empat golongan yaitu:

  1. Kiyai dalam pengertian sebagai ulama bebas (bukan ulama-pejabat), yaitu mereka yang memiliki pengaruh karena luas dan dalamnya ilmu pengetahuan keagamaan (fiqh khususnya), karakter pribadi dan karena adanya konsensus dari masyarakat;
  2. Kiyai dalam pengertian sebagai pejabat agama (ulama-pejabat) yaitu  mereka yang kehadiran dan pengaruhnya sangat tergantung dari legitimasinya selain karakter pribadi dan hubungan antara guru dan murid;
  3. Kiyai sebagai tokoh atau pemimpin pada suatu organisasi masyarakat (ormas) atau organisasi sosial politik (orsospol) Islam yaitu mereka yang berpengaruh karena keterlibatannya dalam organisasi;
  4. Kiyai dalam pengertian sebagai cendekiawan muslim yang terlibat secara langsung ke dalam ilmu-ilmu keislaman yaitu, mereka yang mengaruhnya karena dakwahnya menyentuh pemikiran golongan tertentu di tengah-tengah masyarakat.

b. Kriteria dan Figur Kiyai

1) Kriteria Kiyai

Salah satu tujuan santri tradisonal (santri yang tidak belajar di lembaga pendi-dikan sekolah) memasuki suatu pondok pesantren adalah agar kelak menjadi kiyai sebagaimana kiyai yang telah membimbing dan mengajarnya tentang aspek-aspek ilmu keagamaan. Selanjutnya ia berharap mampu mendirikan pondok pesantren sebagai tempat mengamalkan ilmu-ilmu keagamaan kepada para remaja dan pemuda yang mau diajak untuk turut serta melestarikan ajaran Islam (khifdz al-dien). Untuk menempuh tujuan ini, mereka bekerja keras dengan senantiasa menuruti segala titah dan/atau mengikuti kegiatan dalam bentuk apapun yang dilakukan kiyai.

Perilaku santri seperti di atas, sebagai upaya untuk menyesuaikan diri terhadap persyaratan menjadi thalab al-‘ilm (penuntut ilmu) yang diajukan al-Zarnuji melalui Ta’lim Muta’lim yang dikutip Busyairi Madjidi (1997:107) yaitu antara lain,

  1. Cinta ilmu dan hormat kepada guru dan keluarganya, dengan demikian ilmu itu akan bermanfaat;
  2. Bersungguh-sungguh dalam belajar dengan memanfaatkan waktu sebaik-baiknya, tetapi tidak memaksakan diri sehingga fisiknya lemah,
  3. Ajeg dan ulet dalam menuntut ilmu serta selalu mengulang pelajarannya;
  4. Punya cita-citanya seperti burung dengan sayap-sayapnya.

Masyarakat biasanya mengharapkan kepada seorang kiyai, yang dapat menyelesaikan persoalan-persoalan keagamaan secara praktis sesuai dengan kedalaman pengetahuan yang dimilikinya. Semakin banyak persoalan-persoalan yang dapat diselesaikannya, maka ia akan semakin dikagumi. Ia juga diharapkan memiliki kemampuan menjadi pemimpin yang dapat melindungi masyarakat, dan membuktikannya melalui pembimbingan, nasihat-nasihat dan arahan terhadap masyarakat yang datang meminta nasihat dan bimbingan. Ia juga rendah hati, menghargai semua orang tanpa melihat tinggi atau rendahnya status sosial, kekayaan dan pendidikan, perihatin dan penuh pengabdian kepada Tuhan serta tidak pernah berhenti memberikan kepemimpinan keagamaan seperti memimpin shalat lima waktu, menjadi khathib jum’ah pada pelaksanaan shalat jum’at dan menerima undangan perkawinan ataupun kematian.

Karena itu untuk menjadi seorang kiyai, menurut Zamakhsyari Dzofier (1994:59), seorang calon harus berusaha keras melalui “perjenjangan” yang bertahap. Ia biasanya merupakan anggota keluarga kiyai yang sengaja oleh keluarganya dibentuk menjadi kiyai, karena itu ia dikirimkan ke beberapa pondok pesantren. Setelah ia mampu menyelesaikan pelajarannya di beberapa pesantren, biasanya kiyai pembimbingnya yang terakhir melatihnya untuk mendirikan pondok pesantren. Tidak sedikit kiyai pembimbing terakhir ini juga turut secara langsung dalam pendirian proyek pesantren yang baru, sebab calon kiyai yang dibimbingnya itu dianggap memiliki potensi untuk menjadi seorang kiyai yang ‘alim dan baik. Campur tangan kiyai pembimbing lebih banyak lagi, di antaranya calon kiyai dicarikan jodoh dan diberikan didikan istimewa agar menggunakan waktu terakhirnya di pesantren khusus untuk mengembangkan bakat kepemimpinannya.

Uraian di atas menggambarkan bahwa untuk menjadi seorang kiyai, minimal harus memiliki enam kriteria yaitu:

  1. Memiliki kemauan atau cita-cita yang kuat dan bekerja keras untuk menjadi kiyai,
  2. Ada garis keturunan kiyai, baik dari orang tuanya, kakeknya ataupun dari mertuanya,
  3. Mengikuti perjenjang formal yaitu, memasuki dan mempelajari berbagai kitab klasik Islam di beberapa pesantren,
  4. Dibimbing dan dibina kiyai yang berpengalaman, dan ia dengan sengaja mengkadernya untuk menjadi calon kiyai,
  5. Memiliki kemampuan membaca KK, taat beribadah dan tidak pernah melakukan perbuatan yang dilarang Allah,
  6. Memiliki bakat menjadi pemimpin dan dipercaya masyarakat.

Orang yang telah memiliki keenam kriteria di atas, dapat dikategorikan sebagai ‘alim (ahli atau memiliki ilmu) dalam pengertian yang luas yaitu memiliki kedalaman ilmu pengetahuan keagamaan terutama dalam bidang ‘aqidah (keimanan), syari’ah (aspek-aspek ajaran Islam) dan siyasah (politik atau ketata kenegaraan) tapi ia tidak sektarian (fanatik madzhab, kelompok atau golongan). Ia bukanlah orang yang aleman (bahasa Jawa, yang segala keinginannya harus dituruti/dipenuhi) atau aliman (bahasa Sunda, yang selalu menolak kehendak masyarakat tanpa mempertimbangkan kehendaknya apa); sebaliknya ia tegas dalam memberikan nasihat kepada masyarakat terutama kaitannya dengan suatu perkataan dan perbuatan yang dibenarkan atau disalahkan oleh ajaran Islam.

Dengan demikian yang dimaksud kiyai adalah ‘alim, yaitu seseorang yang memiliki kedalaman ilmu pengetahuan agama. Kiyai sebagai-mana digambarkan di ataslah yang dikategorikan hadits Nabi sebagai al-‘ulamaa waratsat al an-biyaa yakni ulama adalah pewaris para nabi. Betapa mulianya penghargaan dan kedudukan kiyai, sehingga wajar jika terdapat suatu sistem kaderisasi kiyai sebagaimana yang dilakukan kiyai di beberapa pesantren tertentu. Tujuan utamanya adalah semata-mata menghindarkan diri dari perkataan dan perbuatan serta fitnah karena perkataan dan perbuatannya yang dianggap masyarakat tidak sesuai dengan kesucian nama dan misinya sebagai kiyai yaitu mem-berikan nasihat kesabaran dan ketaqwaan kepada masyarakat.

2) Figur Kiyai

Sistem kaderisasi kiyai, pernah dilakukan KH. Hasyim Asy’ari, pemimpin pondok pesantren Tebuireng, kepada ketiga santrinyayaitu Manaf Abdulkarim, Jazuli dan Zubaer. Sistem kaderisasi yang dilakukan almukarram KH. Hasyim Asy’ari tidak hanya sampai ketiga santrinya itu menjadi ‘alim; bahkan saat-saat beliau menjelang akhir kepemimpinannya di Pondok Pesantren Tebuireng membentuk suatu kelompok musyawarah, ketiga santrinya itulah yang ditunjuk sebagai guru-guru senior yang diberi tugas. Pertama mengurusi semua santri dan menempatkan santri baru; kedua menemui orang tua santri yang mengunjungi anak-anaknya yang mesantren di pondok pesantren Tebuireng. Setelah KH. Hasyim Asy’ari mempertimbangkan mereka dianggap cukup matang untuk memimpin sebuah pesantren, beliau mengatur perkawinan dengan wanita dari desa-desa dimana ketiga kiyai muda ini kelak kemudian hari mengembangkan pesantrennya.

Pada masa-masa permulaan menjadi pemimpin pesantren, mereka bertiga diberi ijazah dan dibekali KH. Hasyim Asy’ari berupa beberapa santri dari pondok pesantren yang dipimpinnya. Beberapa santri kepercayaan KH. Hasyim Asy’ari inilah yang merupakan “modal pertama” bagi ketiga kiyai muda tersebut, dalam mengembangkan pondok pesantrennya lebih lanjut yaitu Kiyai Manaf Abdulkarim mendirikan pondok pesantren Lirboyo (Kediri), Kiyai Jazuli mendirikan pondok pesantren Ploso (Kediri) dan Kiyai Zubaer mendiri-kan pondok pesantren Reksosari (Salatiga, Jawa Tengah).

Pondok pesantren Darussalam (Banyuwangi) yang didirikan pada tahun 1951, sejarah berdirinya, menurut Zamakhsyari Dhofir (1994:60), juga mengikuti sistem kaderi-sasi sebagaimana yang dialami ketiga pondok pesantren di atas. Kiyai Mukhtar Syafa’at, pendiri Pondok Pesantren Darussalam, lahir di Kediri dan menghabiskan waktunya sekitar 23 tahun di beberapa pondok pesantren. Pondok Pesantren terakhir yang dimasuki Kiyai Mukhtar Syafaat adalah Pondok Pesantren Jalen Genteng (Banyuwangi) yaitu antara 1937. Di pondok pesantren ini, ia di samping menjadi santri juga ia membantu kiyainya sebagai pengajar beberapa KK dari “KK kecil”, “KK menengah” dan “KK besar”.

Tahun 1949 adalah hari bersejarah bagi Kiyai Mukhtar Syafa’at, karena pada tahun itu pemimpin Pondok Pesantren Jalen Genteng menikahkan Kiyai Mukhtar Syafa’at dengan gadis dari Blok Agung Banyuwangi. Sejak itulah Kiyai Mukhtar Syafa’at mulai bertempat tinggal di Blok Agung, Banyuwangi. Ketika Mukhtar Syafa’at pindah dari Pondok Pesantren Jalen Genteng ke Blok Agung ini, beberapa santrinya turut pindah ke Blok Agung untuk meneruskan pelajarannya. Blok Agung waktu itu masih sangat jarang penduduknya, tapi dua tahun kemudian, tepatnya pada 15 Januari 1951, Kiyai Mukhtar (demikian masyarakat setempat dan para santri memanggilnya) bersama para santri dan masyarakat setempat mendirikan sebuah Mushalla kecil berukuran 7×5 M. Mushalla ini, kecuali berfungsi sebagai tempat untuk shalat fardlu berjamaah juga dipergunakan untuk pengajaran KK dan untuk tidur para santri. Dalam waktu satu tahun, mushalla kecil itu berangsur-angsur mengalami berubahan menjadi sebuah Pondok Pesantren Darussalam Banyuwangi.

  1. Kepemimpinan Kiyai

Seseorang yang dipercaya oleh masyarakat dengan sebutan kiyai, bukan semata-mata karena ia mampu membaca al-quran atau memahami KK kemudian mengajarkannya kepada orang lain; juga bukan karena ia menjadi khathib pada shalat jum’at atau pada shalat sunnah ‘Idain. Sebutan kiyai diberikan kepadanya, karena ia sering membimbing, membina dan memberikan nasihat keagamaan kepada masyarakat sehingga masyarakat merasa terlindungi dari rasa kecemasan, dari rasa takut ataupun terhindar dari kecelakaan yang menimpanya.

Kiyai ditengah-tengah masyarakat umum, perilaku dan perkataannya tidak membuat orang lain merasa terhina; ia bergaul dan berbicara dengan siapapun dan selalu bersikap tidak memihak; setiap melakukan suatu perbuatan atau pekerjaan, selalu didasari atas ibadah dan lillahi ta’ala. Perilaku yang demikian itulah, terutama ketidak berpihakannya, sehingga ia sering dipercaya sebagai tokoh masyarakat atau tokoh agama. Dipelajari dari kemampuannya dalam memimpin (menjadi imam) shalat, kemampuannya dalam memimpin berbagai kegiatan ‘ritual’ keagamaan, kemampuannya dalam melindungi masyarakat dari rasa takut dan cemas ataupun sering dipercaya untuk mewakili masyarakat dalam suatu hajatan pernikahan atau hitanan, maka wajar jika kiyai dipercaya sebagai pemimpin masyarakat (social leader). Kenyataan ini diperkuat hasil penelitian Hiroko Horikosih (1987:1) yang mengemukakan bahwa,

Kiyai merupakan pimpinan kharismatik dalam bidang agama. Ia fasih dan mempunyai kemampuan yang cermar dalam membaca pikiran pengikut-pengikutnya; sifat atau ciri khas kiyai adalah terus terang, berani dan blak-blakan. Oleh karena sifatnya yang kharismatik, maka posisi kiyai dalam masyarakat hanyalah bersifat sementara dan cepat berakhir; Pada saat otoritasnya tidak lagi didukung oleh kesinambungan kelembagaan, maka ketridak-berhasilan kiyai dalam menanamkan kharisma kepada para pengikutnya akan berakibat menurun kewibawaannya.

Pernyataan di atas menggambarkan bahwa, pengaruh dan kekharismaan kiyai tergantung kepada kualitas pribadi, kesalehan dan kemampuannya dalam memimpin masyarakat. Ke semuanya itu tidak bisa diwariskan kepada putranya sekalipun.

Kedudukan kiyai sebagai pemimpin masyarakat berlangsung tidak melalui pemilihan, karenanya bentuk kepemimpinannya bersifat nonformal dan lokal. Dalam kepemimpinan nonformal, tidak dikenal adanya sistem periodisasi sehingga ‘jabatannya’  tidak bisa diserahkan kepada orang lain; ia tidak mengangkat pembantu (personalia) secara formal, sehingga cenderung otoriter; bagi kiyai yang memiliki suatu lembaga kependidikan, biasanya dalam memanag lembaganya itu tidak berkiblat kepada bentuk kepemimpinan manapun, karena itu dalam melaksanakan pekerjaannya seringkali tidak terencana dengan baik. Namun demikian, pemikiran dan hasil kerjanya selalu dianggap sebagai barang baru sehingga kiyai sering disebut sebagai ‘agen pembaharu’ yang selalu diterima dan dilaksanakan masyarakat. Meninggalnya seorang kiyai, biasanya menjadi pertanda berakhirnya fenomena pimpinan pemersatu dan sekaligus kehilangan kekuatan bagi kelangsungan hidupnya.

Berbeda dengan bentuk kerpemimpinan yang ada pada dunia pendidikan yang sebagian besar berkiblat kepada bentuk kepemimpinan di perusahaan. Kepala sekolah pada suatu lembaga pendidikan sekolah terkadang berfungsi sebagai manajer yang gaya dan seni kepemimpinannya sangat diharsapkan akan mampu memajukan dan mengem-bangkan atau meningkatkan sekolah yang dipimpinnya. Walaupun kepemimpinannya masih berkiblat pada perusahaan, personalia di lembaga pendidikan memiliki ciri-ciri yang berbeda dibandingkan dengan personalia yang ada pada perusahaan yang jumlah personalianya lebih banyak. Perusahaan yang berstatus milik pribadi, biasanya bentuk kepemimpinannya berada pada lingkungan kekerabatan atau kekeluargaan.

Kepemimpinan dalam tulisan ini adalah, seni dan gaya kepemimpinan kiyai dalam memanfaatkan seluruh potensi yang ada di pondok pesantren demi tercapainya tujuan pondok pesantren. Manifestasi dari seninya yaitu cara menggerakkan dan mengarahkan unsur-unsur pelaku pondok pesantren dalam berbuat sesuai dengan kehendak pemimpin. Pemimpin di lingkungan pondok pesantren, bukan setiap individu warga pondok pesantren dan juga bukan pemimpin unit-unit kerja dalam struktur organisasi pesantren. Pemimpin pesantren yaitu, kiyai yang menjadi tokoh kunci atau pemimpin spiritual pondok pesantren.

Bentuk kepemimpinan kiyai di lingkungan masyarakat pondok pesantren berbeda dengan bentuk kepemimpinan di lembaga pendidikan sekolah ataupun di perusahaan, tetapi kepemimpinan kiyai bisa seperti kepala sekolah atau manager di perusahaan. Kiyai bisa seperti kepala sekolah, karena ia memimpin beberapa ustadz (guru ataupun dosen) dan qayyim (wakil kiyai yang mengurusi pondok pesantren) yang mengajar di lingkungan pesantren. Kiyai juga bagaikan manager perusahaan, terutama bagi pesantren yang telah berbentuk yayasan di mana kiyai sebagai ketuanya. Yayasan “Pesantren” yang dipimpin kiyai dengan didukung para pengurus yang profesional, dalam perencanaan dan perumusan program kerjanya tidak hanya mengutamakan program-program pendidikan keagamaan tetapi program-program kewirausahaan juga dipertimbangkan seperti mendirikan Koperasi, Toserba dan beberapa program kewirausahaan lainnya. Kebijakan akhir dalam perumusan dan perencanaan program yayasan, biasanya ada pada ketua yayasan yakni kiyai. Kenyataan ini menunjukkan bahwa kiyai di lingkungan pondok pesantren, tidak hanya sebagai imam shalat dan khathib pada shalat Jum’at serta memberikan bimbingan dan pengajaran KK kepada santrinya, melainkan ia juga mampu menjadi pemimpin secara umum bagi para pengurus yayasan dan lembaga pendidikan yang ada di lingkungan pesantrennya.

Pernyataan di atas menggambarkan, bentuk kepemimpinan di pondok pesantren ke semuanya bergantung kepada kiyai (kiyai centries). Sinyalemen ini tidak terlalu salah bagi masyarakat yang sempat nyantri atau menyaksikan dari dekat model kepemimpinan kiyai di pondok pesantren. Sebagaimana dikemukakan Zubaidi Habibullah Asy’ari (1996:31), “masyarakat pesantren layaknya komunitas feodal-keraton, santri sangat takut bila berhadapan dengan kiyai”. Sikap takut juga terjadi ketika kiyai mengajar KK, santri bersikap pasif mendengarkan dengan khusu’ dan serius; sementara kiyai bersikap aktif berbicara menjelaskan isi atau matan kitab yang sama-sama dipegang kiyai dan santri; tidak ada komunikasi dialog ataupun tanya jawab pada saat berlangsungnya pengajian. Pada bagian lain Zubaidi Habibullah (1996:44) menuliskan,

Di pesantren ada nuansa kultural, akhlaq, ilmu, karamah dan integritas keimanan; kelas masyarakat yang ada pada pesantren, tercipta atas dasar firman Allah dalam Q.s. al-Hujarat: 13, sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah mereka yang paling bertaqwa. Ayat ini merupakan landasan santri yang patuh, takut atau hormat pada kiyai hakekatnya tidak ditujukan kepada orangnya, jabatan kekiyaiannya atau apapun gelar yang disandangnya. Tapi ditujukan kepada karamah yang diberikan Allah kepada kiyai. Karamah kiyai dimaksud, antara lain berupa ke’aliman atau kedalaman ilmu-nya dan ketinggian akhlaqnya. Para kiyai dengan karamahnya itu, dimata santri adalah orang yang senantiasa dapat memahami keagungan Allah dan rahasia alam sehingga beliau dianggap memiliki kedudukan yang tidak terjangkau oleh kebanyakan orang biasa. Karena karamahnya, santri dan masyarakat menyerahkan kekuasaan yang sangat luas kepada kiyai.

Melalui ungkapan di atas dapat dikemukakan bahwa, ada beberapa faktor sehingga santri merasa takut dan patuh serta hormat kepada kiyainya, antara lain 1) faktor psikologis yakni santri merasa kecil dan rendah diri di hadapan orang yang di-anggapnya ‘alim dan memiliki keistimewaan yaitu karamah (kemuliaan); 2) faktor tawaddu’ santri kepada orang dewasa atau gurunya, sebagai realisasi dari ajaran Islam yang tertanan dalam jiwanya; dan 3) faktor performance keagamaan kiyai sebagai akibat pancaran jiwa dari karamah Allah. Dengan kalimat lain, hubungan kerja kepemimpinan kiyai terhadap masyarakat pesantren dilandasi tiga kata kunci yaitu: “ikhlas”, “berkah” dan “ibadah”.

Dari uraian di atas dapat dikemukakan, model dan gaya kepemimpinan kiyai dapat dikategorikan sebagai pemimpin yang memiliki ciri kebapakan (paternalistik). posisi kiyai, pada bentuk kepemimpinan ini, bersifat pasif sebagai seorang bapak yang memberikan kesempatan kepada anak-anaknya untuk berkreasi, tapi pada saat yang sama kiyai terkadang bertindak otoriter dengan memberikan kata-kata final untuk memutuskan apakah kreasi anak buahnya itu dapat diteruskan atau harus dihentikan (Mastuhu, 1996:80).

Dengan demikian, bentuk kepemimpinan yang dikembangkan kiyai dalam mengendalikan pondok pesantrennya adalah atas dasar anugerah Allah melalui firmanNya terutama pada Qs. 2/al-Baqarah:30 sesungguhnya Aku jadikan manusia menjadi pemimpin di muka bumi); Qs. 33/al-Ahzab:72 sesungguhnya kami menawarkan al-amanah (kepemimpinan) …….kepada manu-sia, maka mereka pun menerimanya. Karenanya dalam menjalankan tugas kepemimpinannya, Allah memberikan batasan untuk mengeluarkan manusia dari kegagalan menuju terang-benderang dengan ijin Tuhan Maha Kuasa (Qs. 14/Ibrahim:1); mendahulukan pihak lain atas diri mereka walaupun mereka sendiri dalam kebutuhan (Qs. 59/al Hasyer:9), tidak mengikuti hawa nafsu (Qs. 20/Thaha:16 dan Qs. 38/Shaad:26).

 

2.  Ulama

a. Pengertian Ulama

‘Ulama dalam bahasa Arab berarti orang-orang yang mengerti atau orang-orang yang berilmu pengetahuan. Kata ‘ulama merupakan bentuk jama’ dari kata dasarnya ‘aalim (huruf ‘a-nya dua menunjukkan bentuk fa’il atau kata kerja) yang artinya orang yang telah mengerti. Kata ‘ulama jika dibaca ‘allama, maka berarti seorang yang banyak ilmunya.

Pemakaian kata ulama, di Indonesia mulai bergeser dari makna aslinya yaitu “sekelompok orang yang memiliki ilmu pengetahuan” menjadi “seorang yang ber-ilmu”(‘alim) bahkan sering dipadukan dengan kata ‘alim sehingga menjadi ‘alim-‘ulama. Penggunaan kata ulama dalam arti seorang yang berilmu ini, pertama kali dilakukan Presiden Soekarno yang memberikan istilah ulama kepada ahli agama Buddha, Hindu, Katolik dan Kristen sehingga pada MPRS terdapat golongan ulama yang terdiri dari ulama Islam, Katolik, Kristen, Buddha dan Hindu (Taufiq Abdullah, 1987:45).

Dalam karya tulisan ini, yang dimaksud dengan ulama adalah ulama Islam. Hasil musyawarah antar pimpinan al-Ma’had al-Islam seluruh Indonesia merumuskan, di dalam al-quran terdapat dua kata ulama yaitu pada Qs. Al-Fathir/35:28 dan Qs. Al-Syu’ara/26:197. Pada Qs. Al-Fathir/35: 28 dijelaskan, ulama adalah orang yang memiliki jiwa, kemampuan dan potensial khasysyah (rasa takut) kepada Allah. Pada bagian lain, hasil musyawarah, setelah mengutip pendapat Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani dan Sayyid Quthub, menetapkan bahwa ulama ialah,

Hamba Allah yang memiliki jiwa dan kekuatan khasy-syah, mengenal Allah dengan pengertian hakiki, pewaris nabi, pelita ummat dengan ilmu dan bimbingannya, menjadi pemimpin dan panutan yang uswah hasanah dalam ketaqwaan dan istiqamah yang menjadi landasan baginya dalam beribadah dan beramal shaleh, selalu benar dan adil. Sebagai mujahid dalam menegakkan kebenaran, tidak takut kepada celaan dan tidak mengikuti hawa nafsu, menyuruh yang ma’ruf dan mencegah kemunkaran. Mereka adalah pemersatu ummat, bukan pemecah belah, teguh dan tegar dalam memperjuangkan dan meningikan Islam serta berjuang di jalan Allah dalam mencapai keridhaan Allah (Abdul Qadir Djaelani, 1994:3)

Panggilan kepada seorang ulama di Aceh, menurut Alfian (1975:8) adalah teungku karena ia memiliki ilmu pengetahuan agama dan berakhlaq mulia dan dalam waktu tertentu pergi meudagang (menuntut ilmu) ke sebuah dayah (pesantren). Sedangkan di Makassar, ulama adalah panrita atau orang yang memiliki ilmu keagamaan dan mengajarkannya kepada para santari (santri). Dengan begitu, tugas utama yang dilakukan ulama di tengah-tengah masyarakat adalah mengajarkan dan membimbing keagamaan. Karenanya tidak terlalu salah jika Hiroko Horikosih (1987:36) mengemukakan, secara tradisional tugas ulama adalah sebagai pejabat keagamaan yang mengurusi masalah agama atau pranata keulamaan Islam; ulama desa selalu terkait dengan masjid bertindak sebagai imam shalat dan khathib jum’at; Sebagian besar ulama mengelola atau menjadi ustadz di madrasah, beberapa di antara mereka memiliki dan mengurus pesantren dan tempat bertanya masyarakat muslim dan khalifah.

  1. Kriteria Ulama

Betapa mulianya nama ulama yang menerima tugas suci, sehingga tidak semua pakar dan cerdik cendekia dapat dikategorikan sebagai ulama (menurut pandangan ajaran Islam). Ada tiga persyaratan umum yang diajukan Abdul Qadir Djaelani (1984:4) sehingga seseorang dapat dikategorikan ulama, yaitu:

  1. Keilmuan dan Keterampilan

-          memahami al-quran al-Kariem dan Sunnah Rasul serta ilmu-ilmu keagamaan lain,

-          memiliki kemampuan memahami situasi dan kondisi serta dapat mengantisipasi perkembangan masyarakat dan dakwah Islam,

-          mampu memimpin dan membimbing ummat dalam melaksanakan kewajiban hablum minallah, hablum minannas dan hablum minal alam

  1. Pengabdian

-          mengabdikan seluruh hidup dan kehidupannya hanya kepada Allah,

-          menjadi pelindung, pembela dan pelayan ummat (walliyul mukminin),

-          menunaikan segenap tugas dan kewajibannya atas landasan iman dan taqwa kepada Allah swt. dengan penuh rasa tanggung jawab,

  1. Akhlaq dan Kepribadian

-          berakhlaq mulia, ikhlas, shabar, tawakkal, istiqamah:

n  berkepribadian siddiq, amanah, fathanah dan tabligh,

n  menunaikan segala perkara yang dicintai Allah swt.,

n  menolak dan meninggalkan segala perkara yang dibenci Allah swt.,

n  berpegang teguh kepada al-quran dan al-sunnah serta mahabbah semata-mata kepada Allah swt.

-          Tidak takut selain kepada Allah swt.,

-          Berjiwa itsar atau mendahulukan kepentingan ummat di atas kepentingan pribadi dan pantang menjadi penjilat,

-          Berpikir kritis, berjiwa dinamis, bijaksana, lapang dada, penuh dedikasi dan kuat pisik dan mental.

  1. Peran Ulama

Peranan yaitu pelaksanaan pekerjaan penting pada suatu sistem sesuai dengan kedudukannya. Pada pembahasan di sini, yang dimaksud dengan peran ulama yaitu keterlibatan ulama dalam menunaikan tugasnya sebagai orang atau sekelompok orang sesuai dengan disiplin ilmu atau keahlian (pengetahuan keagamaan) yang dimilikinya. Kata peranan sering dihubungkan dengan kata kewajiban atau tanggung jawab, sehingga menjadi peranan dan kewajiban atau tanggung jawab ulama dalam berkiprah di tengah-tengah masyarakat.

Abdul Qadir Jaelani (1994:5) merumuskan peran ulama ke dalam tiga macam yaitu pertama sebagai da’i, penegak Islam dan pembentuk kader penerus. Kaitannya dengan ketiga fungsi ini, maka kewajiban utamanya adalah memimpin dan menggerakan pelaksanaan iqamat al-din serta membina persatuan dan kesatuan dalam menunaikan tugas iqamat al-din. Kedua, melakukan pengkajian dan pengembangan ajaran Islam dan ketiga memberikan perlindungan dan pembelaan terhadap ajaran Islam dan ummat Islam. Sementara Umar Hasyim (1998:135) juga merumuskan peran ulama ke dalam enam macam yaitu: 1) sebagai dai’, 2) sebagai pemimpin rohani, 3) sebagai pengemban amanat, 4) sebagai pembina ummat, 5) sebagai penuntut ummat, dan 6) sebagai tempat kembalinya dari segala kebenaran.

Dari uraian di atas, dapat dikemukakan bahwa ulama adalah sekelompok orang yang memiliki berbagai kelebihan. Dengan kelebihannya, ulama anti diskriminasi karena ia milik masyarakat umum yang selalu siap menolong siapapun, di mana pun dan dalam keadaan apapun. Ulama adalah pelindung, pembimbing dan pendidik bahkan penenang hati masyarakat, dan bukan sebaliknya yang perkataan dan perbuatannya membuat masyarakat menjadi resah.  

3. Cendekiawan Muslim

a. Cendekiawan: Ilmuwan, Budayawan dan akademisi

Cendekiawan, menurut Edward Shils yang pendapatnya dibahasa Indonesiakan Ahmad W Pratiknya (1996:3) ialah, orang yang karena pendidikan formal, informal atau nonformalnya memiliki perilaku cendekia. Kecendekiaan ini tercermin dalam kemampuan-nya menatap, menafsirkan dan merespons lingkungan hidupnya dengan sifat dan sikap kritis, kreatif, analitis dan bertanggung jawab. Karena sifat dan sikapnya itu, cendekiawan memiliki wawasan dan pandangan yang tidak dibatasi ruang dan waktu. Figur cendekiawan seperti ini sehingga Moeslim Abdurrahman (1995:120) mengemukakan bahwa, analisis tentang cendekiawan biasanya bersandar pada konsep analisis sosiolog Barat, mereka selalu menghubungkan cendekiawan dengan kaum elite masyarakat yang identik dengan para sarjana lulusan perguruan tinggi atau berasal dari lingkungan elit keagamaan.

Berbeda dengan pernyataan di atas, M. Rusli Karim (1996:235) mengemukakan, cendekiawan dalam bahasa Indonesia terjemahan dari intelegensia yaitu komunitas yang dapat dipandang dan memandang dirinya sebagai intelektual yakni memiliki kemampuan untuk sungguh-sungguh berpikir secara bebas. Untuk itu, ada tiga kelompok orang yang pantas disebut cendekiawan yaitu pertama para aristrokat, keluarga besar kerajaan dan/atau dinasti; kedua para pemimpin atau tokoh agama; ketiga para sarjana produk pendidikan formal.

Melalui pengertian di atas dapat dikemukakan bahwa, cendekiawan tidak hanya akademisi atau ilmuwan tetapi budayawan, seniman, ulama atau siapapun yang memiliki sifat dan sikap cendekia dapat dikategorikan sebagai cendekiawan.  

b. Cendekiawan Muslim bagian dari Cendekiawan Sakral

Dalam kehidupan sehari-hari, pemikiran manusia selalu berpijak kepada dua bidang kajian yaitu kajian tentang persoalan-persoalan yang berkaitan dengan kealaman yang tampak dan nyata (materia) dan kajian tentang persoalan-persoalan yang berkaitan dengan keagamaan. Kedua kajian yang berbeda ini sehingga tumbuh adanya dua kelompom pemikir yang berbeda, karena itu cendekiawan dapat dikelompokkan menjadi dua kategori sesuai dengan bidang kajiannya yaitu: cendekiawan sacral dan cendekiawan profan. Cendekiawan sacral ialah para pemikir yang pemikirannya lebih memperhatikan persoalan-persoalan keagamaan, sedangkan kelompok pemikir yang pemikirannya lebih terkonsentrasi kepada persoalan-persoalan nonkeagamaan adalah cendekiawan profan.

Berdasarkan pengelompokan cendekiawan di atas, tampaknya cendekiawan muslim termasuk kategori kaum pemikir yang selalu memperhatikan persoalan-persoalan keagamaan yakni cendekiawan sacral. Di dalam al-quran cendekiawan muslim disebut ulul-albab yang artinya menurut Ahmad W. Pratikna adalah:

Pertama, mereka yang mampu menatap dan menafsirkan tanda-tanda atau ayat-ayat kekuasaan Allah di balik penciptaan alam; Kedua mereka yang memiliki kearifan (al hikmah, wisdom) yang tinggi dalam menatap, menafsirkan dan merespons persoalan-persoalan kehidupan –baik yang bersifat individual, kemasyarakatan maupun masalah ummat dan kemanusiaan.

Melalui pengertian tersebut dapat dilukiskan cendekiawan muslim adalah, seorang muslim yang di samping komitmennya terhadap ajaran Islam juga memiliki kualitas perilaku cendekia. Karena itu, mereka biasanya mampu melihat, menafsirkan dan meres-pon lingkungannya dengan sikap kritis, kreatif dan bertanggung jawab atas perilaku dan perkataannya sesuai dengan perspektif ajaran agama.

Dengan demikian, cendekiawan muslim ialah mereka yang dalam menjalankan pekerjaan ataupun karyanya selalu berorientasi pada ibadah. Ini artinya, cendekiawan muslim identik dengan ‘alim yaitu orang yang berilmu pengetahuan.

4.  Persamaan dan Perbedaan Kiyai, Ulama dan Cendekiawan Muslim

Secara umum kiyai, ulama dan cendekiawan muslim tidak memiliki perbedaan yang prinsip. Pertama, dipelajari dari segi asal bahasa, kata kiyai (sebagaimana kata santri, langgar dan pondok atau pesantren) berasal bukan dari bahasa Indonesia atau bahasa Arab, melainkan dari bahasa Hinduisme yang telah menjadi bahasa Indonesia; dipelajari dari segi makna, kata kiyai identik dengan kata ‘alim yang berarti seseorang yang memiliki kedalaman ilmu pengetahuan agama Islam dan mempraktekan ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Kedua kata ‘ulama berasal dari bahasa Arab, bentuk jama’ (plural) dari kata dasar (mufrad) ‘alim, yang berarti sekelompok orang yang memiliki ilmu pengetahuan (agama Islam) di berbagai bidang. Merekalah, yang dirumuskan dalam hadits Rasul sebagai pewaris (ilmu dan akhlaq) para nabi. Ketiga kata cendekiawan muslim, pada awalnya berasal dari bahasa Eropa cendekia atau intelectual tapi setelah dimodifikasi dengan kata muslim (bahasa Arab, orang yang tunduk dan patuh) maka kata majemuk ini maknanya identik dengan kata ‘alim yaitu seorang muslim yang memiliki tingkat intelektual tinggi. Penerapan terhadap bahasa dan makna ketiga kata ini, kedua kata (kiyai dan cendekiawan muslim) merupakan bentuk mufrad (kata dasar) dari kata ulama, sebaliknya kata ulama merupakan bentuk jama’ dari kata kiyai dan crendekiawan muslim.

Contoh ketiga kata di atas adalah organisasi MUI dan ICMI. Majlis Ulama Indonesia (MUI) dapat diinterpretasi sebagai tempat berkumpulnya para kiyai dan cendekiawan muslim, karena itulah kepengurusan dan keanggotaannya terdiri dari para kiyai dan cendekiawan muslim. Berbeda dengan Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) yang secara khusus tempat berkumpulnya para cendekiawan muslim (‘ulama). Kiyai dalam organisasi ini, dinilai sebagai cendekiawan muslim.

Kaitannya dengan keberadaan kedua organisasi tersebut, dapat dikemukakan bahwa MUI menggunakan sistem terbuka walaupun bersifat khusus. MUI menganut sistem terbuka, karena kepengurusan atau keanggotaan MUI terdiri dari para kiyai dan cendekiawan muslim yang memiliki latar belakang status sosial, pendidikan dan keyakinan yang berbeda. Tetapi MUI bersifat khusus, karena program dan fatwa yang keluarkannya selalu berkaitan dengan penerapan dan pelaksanaan aspek-aspek ajaran Islam. Sedangkan ICMI menggunakan sistem tertutup (digunakan kata tertutup bukan khusus, karena dalam teori sistem yang ada adalah sistem tertutup dan terbuka) walaupun bersifat terbuka. ICMI dinilai menganut sistem tertutup, karena baik pengurus maupun anggota ICMI dikhususkan bagi kaum terpelajar (ilmuwan, budayawan dan akademisi dari berbagai disiplin ilmu). Bersifat terbuka, karena sebagian besar program dan kegiatan yang direncanakan dan dilaksanakan tidak hanya bersifat keagamaan melainkan semua aktivitas yang berkaitan dengan aspek-aspek sosial-ekonomi, seni-budaya, politik-birokrasi dan hankam bahkan kenegaraan juga diagendakan.

Bermuara dari perbedaan antara MUI dan ICMI itulah sehingga dapat diperoleh gambaran tentang perbedaan kiyai, ulama dan cendekiawan muslim yaitu:

  1. Bentuk wilayah “kekuasaan” kiyai, berada di tengah-tengah masyarakat daerah pedesaan (dapat diperhatikan dari keberadaan pondok pesantren sebagian besar berada di daerah pedesaan), sementara wilayah ulama berada di tengah-tengah masyarakat daerah pedeaaan dan perkotaan (dapat diperhatikan dari hirarki MUI yang ada di Pusat sampai MUI Daerah). Sedangkan wilayah cendekiawan muslim lebih dikenal dan terkenal di daerah perkotaan (dapat diperhatikan dari hirarki ICMI yang paling bawah hanya berada di Kabupaten/Kotamadia yaitu organisasi satuan (orsat) ICMI dan biasanya dipimpin oleh birokrat atau ilmuwan).
  2. Tugas dan kewajiban kiyai adalah membina, membimbing dan melindungi santri dan masyarakat kaitannya dengan pengamalan keagamaan, sementara tugas dan kewajiban ulama mengurusi persoalan tata administrasi ke-agamaan. Sedangkan tugas dan kewajiban cendekiawan muslim lebih banyak melakukan pembinaan dan pelatihan keterampilan pada santri dan masyarakat terutama masalah sosial-ekonomi.

Dengan demikian, perbedaan dan persamaan antara kiyai, ulama dan cendekiawan muslim terletak pada figur dan organisasinya. Figur kiyai yang mengurusi masalah pranata sosial dan birokrasi keagamaan karena kedudukannya sebagai Ketua MUI atau pengurus Ormas Islam, dapat dikategorikan sebagai ‘alim-‘ulama desa (Hiroko Horiokosih, 1987 :36). Begitu juga dengan figur kiyai-intelek (karena wawasan dan kedalam ilmu pengetahuannya) dapat dikategorikan sebagai cendekiawan muslim. Figur kiyai seperti ini dapat disebut sebagai “kiyai-plus” yang mampu menjalankan tugas ganda yaitu sebagai kiyai sekaligus sebagai ulama, atau kiyai sekaligus sebagai cendekiawan muslim; dengan tugas ganda inilah sehingga ia memiliki dua wilayah kekuasan, karena itu ia berada dan dikenal masyarakat daerah pedesaan maupun daerah perkotaan.

C. Motivasi dan Peran Kiyai

  1. Motivasi Kiyai

Kata motivasi, dalam penbicaraan umum, terbentuk dari kata motiv. Motiv, menurut Sardiman AM (1996:73) berarti “daya upaya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu; daya penggerak dari dalam dan di dalam subyek untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi mencapai suatu tujuan; bahkan motiv dapat diartikan sebagai suatu kondisi internal (kesiap siagaan)”. Berawal dari kata motiv, maka kata motivasi dapat diartikan sebagai daya penggerak tertentu, terutama jika kebutuhan untuk mencapai tujuan sangat mendesak.

Mc. Donald yang pendapatnya dikutip Sardiman AM (1996:75) mengartikan motivasi sebagai, “perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan muncul-nya feeling dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan”. Motivasi dapat juga diartikan sebagai, serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi tertentu sehingga seseorang atau sekelompok orang mau melakukan sesuatu dan jika ia tidak suka, maka ia akan berusaha untuk menyembunyikan  perasaan ketidak sukaannya itu. Motivasi dapat dikaitkan dengan persoalan minat atau kemauan kuat yakni, suatu keadaan yang terjadi dalam diri seseorang jika ia melihat suatu obyek (manusia atau benda) yang dapat dihubungkan dengan keinginan (want) atau kebutuhan (need) nya; seseorang yang dapat melihat suatu obyek, maka sudah tentu membangkitkan minatnya sesuai dengan apa yang dilihatnya apalagi jika yang dilihatnya itu ada hubungan dengan kepentingannya. Pernyataan ini menunjukkan bahwa, minat merupakan kecenderungan jiwa seseorang kepada seseorang atau suatu obyek karena merasa ada kepentingan terhadap sesuatu itu.

Dengan demikian, motivasi bersifat “mempribadi” dan tumbuh dalam setiap individu akan tetapi ia dapat dirangsang atau dibangkitkan oleh faktor eksternal atau faktor luar. Karena itu, bagaimana upaya menciptakan agar kondisi suatu obyek selalu butuh dan ingin melakukan suatu perbuatan positif dapat diperhatikan dari motivasinya. Inilah yang dimaksud the study of direction and persistence of acxtion is the study of motivation (David Krech, 1962:69) yakni, untuk mengetahui dorongan dalam upaya mengarahkan dan mempertahankan suatu perbuatan adalah mempelajari motivasi.

Dari pernyataan di atas, dapat dikemukakan bahwa motivasi adalah dorongan yang tumbuh karena ada tujuan dan kebutuhan yang ingin dicapai pada diri setiap individu atau sekelompok orang dalam upaya mempertahankan nilai yang dianggap baik. Dengan demikian, timbulnya motivasi adalah didasarkan atas dua faktor yaitu kebutuhan dan tujuan. Kebutuhan merupakan dasar perbuatan dan latar belakang tingkah laku manusia, karena itu berkembang sejak lahir hingga dewasa. Berkembang dari hal-hal yang bersifat psikologis hingga yang bersifat fantasi. Kebutuhan, tidak tergantung karena tinggi atau rendahnya pendidikan, tetapi terletak pada graduasi. Setiap manusia, memiliki bermacam-macam kebutuhan antara lain: kebutuhan fisik (makan, minum, seks), kebutuhan sosial (memperoleh pengakuan, kehormatan), kebutuhan integrative (menganut salah satu aliran filsafat).

Sedangkan tujuan (goal), lahirnya lebih dikarenakan adanya kebutuhan. Makan dan minum merupakan kebutuhan dasar setiap manusia, untuk memperoleh makan dan minum diperlukan keterampilan. Tujuan memperoleh keterampilan, merupakan tenaga penggerak atau dorongan berusaha agar kebutuhannya dapat terpenuhi dengan sempurna. Karena itulah, kebutuhan dan tujuan merupakan sumber utama motivasi.

Kiyai yang telah berhasil mengembangkan pondok pesantren sehingga menjadi besar dan terkenal, bukan semata-mata karena niat ikhlasnya untuk mengembangkan pondok pesantren yang ia dirikan, melainkan jauh sebelum itu telah tertanam dalam hatinya ketika ia masih mesantren yaitu bahwa setelah berhasil memahami dan menguasai beberapa KK ia akan mengamalkan ilmunya itu kepada masyarakat sebagai bakti dan hormat kepada kiyainya yang telah mengajarkannya. Amal bakti kepada kiyainya itu diwujudkan dalam bentuk mendirikan pondok pesantren.

Dengan demikian, keadaan suatu pondok pesantren merupakan buah dari niat baik yang telah tertanam dalam hati santri sejak ia masih mesantren. Ada beberapa ciri yang dapat diperhatikan pada pondok pesantren yang baru berdiri yaitu, pertama orientasinya masih mengikuti gaya atau cara “pondok pesantren induk” (di mana tempat kiyai pendiri pernah belajar). Kedua bentuk-bentuk KK yang diajarkan, masih sama dengan KK yang diajarkan di “pondok pesantren induk”. Ketiga untuk beberapa waktu, santrinya berasal dari “pondok pesantren induk”. bahkan hal-hal yang berhubungan dengan kepribadian pun, terkadang kiyai muda meniru apa yang dilakukan gurunya. Misalnya, dalam penggunaan metode mengajar atau gaya bahasa yang digunakan dalam mengajar KK, tidak sedikit kiyai muda meniru metode atau gaya mengajar gurunya. Tidak hanya itu, nilai atau norma dan praktek keagamaan pun mengikuti apa yang dilaksanakan oleh pondok pesantren induk. Dengan kalimat lain, keberadaan suatu pondok pesantren, pada mulanya adalah merupakan pesantren cabang dari suatu pondok pesantren yang telah dianggap baik dan berkembang.

Predikat sebagai pesantren cabang, lambat atau cepat akan bergeser, bisa jadi karena campur tangan dari masyarakat atau pihak luar pesantren (pemerintah atau LSM); bergesernya nilai-nilai tradisi pesantren terjadi akibat dari berkembangnya pemikiran pengelola dan pembinanya; bergantinya sistem kepemimpinan, terjadi karena pemimpinnya mengalami pergantian; atau malah sebaliknya yaitu menjadi semakin vacum dari segala bentuk kegiatan kepesantrenan, karena tidak memiliki kaderisasi kiyai atau generasi penerusnya tidak memiliki kepedulian terhadap keberadaan pondok pesantren.

Jadi motivasi kiyai dalam mendirikan pondok pesantren, sangat ditentukan oleh pemimpin dan sistem kepemimpinannya yang terus berubah-ubah merngikuti keinginan masyarakat. Bisa jadi, seorang kiyai ketika mendirikan dan kemudian menjadi pemimpin pondok pesantren yang didirikannya itu atas dasar niat yang kuat untuk mengamalkan ilmu, tetapi setelah dikendalikan oleh generasi keturunannya malah termotivasi untuk membisniskannya dalam bentuk kerjasama dengan fihak luar dalam mengendalikan sistem pendidikan kepesantrenannya.

  1. Peran Kiyai

Kiyai, karena ke’alimannya, ketaqwaannya, keikhlasannya dan keistiqamahannya sehingga masyarakat mempercayainya sebagai tokoh agama atau tokoh masyarakat yang dianggap mampu menyelesaikan persoalan pribadi maupun golongan. Secara historis, figur kiyai tidak bisa dipisahkan dari kegiatan keagamaan di masjid, madrasah dan pondok pesantren; melalui lembaga-lembaga keagamaan inilah kiyai berkiprah dan berperan dalam menjaga dan melestarikan aspek-aspek ajaran Islam dan mengkader para santri sehingga menjadi kiyai muda atau masyarakat bermoral.

Kaitan dengan pernyataan di atas, Hiroko Horikosih (1987:115) menuliskan, “terdapat empat garapan dasar pengabdian kiyai di tengah-tengah masyarakat yaitu: 1) Mengabdi di masjid, 2) Mengabdi di madrasah, 3) Mengabdi di pondok pesantren, dan 4) Mengabdi di lembaga pendidikan sekolah”. Dalam pelaksanaannya, keempat bentuk pengabdian ini bagi kiyai tertentu, dilakukannnya secara rutin pada suatu lembaga pendidikan yang ia dirikan yaitu Pesantren. Karena itu keempat bentuk kegiatan yang dilakukannya itu, bukan merupakan pengabdian melainkan realisasi program yang telah direncakannya sejak ia masih berada di pesantren yaitu, jika ia telah selesai mesantrennya akan mendirikan pesantren dengan program pendidikan sebagaimana program pendidikan di tempat ia belajar.

  1. Peran Kiyai di Masjid

Ketika seorang santri baru selesai belajar dari pesantrennya dan kembali ke daerahnya, pertama sekali yang dilakukannya adalah melakukan adaptasi dengan kegiatan-kegiatan keagamaan yang diselenggarakan di mushalla atau di masjid. Lambat atau cepat, dengan keilmuan yang telah dimilikinya, dengan mudah ia diterima dan melibatkan diri atau dilibatkan oleh masyarakat untuk mengamalkan ilmunya. Keterlibatannya dalam “membangun” daerah itu, kisarannya adalah memberikan pembimbingan dan pelatihan ilmu-ilmu keagamaan bagi anak-anak dan remaja berupa pendidikan dasar-dasar keagamaan dalam bentuk madrasah masjid dengan metode khasnya yaitu sorogan, bandongan dan halaqah. Beberapa saat kemudian, masyarakat mulai merasakan manfaatnya, maka ia mulai dilibatkan dalam kegiatan keagamaan yang lebih besar yaitu sebagai imam dalam shalat fardlu dan shalat jum’at bahkan dipercaya menjadi khathib dalam shalat jum’at. Pada saat itulah, alumnus santri itu oleh sebagian masyarakat mulai dipanggi sebagai kiyai.

Penyebutan kiyai terhadapnya semakin luas, ketika melalui madrasah masjid, ia mengajarkan beberapa KK dasar kepada para remaja setempat seperti kitab sufinah al-najah, sulam al-taufiq, tijan al-darari dan nahw al-wadlih. Ia juga menepati atau mendatangi undangan untuk memimpin kegiatan sosial keagamaan dan memberikan ceramah keagamaan. Pendapat-pendapatnya tentang sosial-keagamaan selalu diterima dengan baik oleh masyarakat. Ia juga sering dimintai nasihat oleh masyarakat.

Pernyataan dan kenyataan di atas, merupakan sedikit dari perjalanan dan peranan seorang kiyai di suatu daerah yaitu sebagai imam shalat fardlu, khathib pada shalat jum’at atau menjadi ustadz di madrasah masjid dan menjadi leader dalam kegiatan sosial-keagamaan. Peranan kiyai ini semakin banyak dirasakan dan dianggap menentukan ketika kedudukannya itu berada di wilayah yang lebih luas yaitu di wilayah Kecamatan, di wilayah Kabupaten, di wilayah Propinsi atau di Kepemerintahan pusat. Bahkan di kepemerintahan pusat, peranan kiyai tidak hanya sebagai imam besar masjid, melainkan juga sebagai balancer atau advicer penguasa.

Dengan demikian, peran kiyai di masjid tidak hanya sebagai imam al-masjid, tapi juga guru ngaji bagi remaja di madrasah masjid, mubaligh bagi masyarakat, dan advicer bagi penguasa.

  1. Pengabdian Kiyai di Madrasah

Pada umumnya, setiap pendidik atau pengajar pada suatu lembaga pendidikan (pendidikan sekolah atau pendidikan luar sekolah) memperoleh honor atau uang kesejahteraan. Bagi kiyai tertentu, honor dianggapnya “penghalang” keikhlasannya dalam ‘amaliah ‘ilmiah. Mengamalkan ilmu, baginya merupakan fardlu ‘ain yaitu suatu keharusan bagi setiap pribadi muslim yang memiliki ilmu. Karena itu, mengamalkan ilmu sering kali dinilai sama dengan shadaqah atau “perbuatan baik” sebagaimana shadaqah mal (harta kekayaan). Sikap kiyai yang mencerminkan tanpa pamrih atau lillahi ta’ala inilah yang dimaksud ’ibadah; kiyai yang mengamalkan ilmu, disebut ‘abid sedangkan perbuatannya dikategorikan sebagai pengabdian.

Bagi kiyai yang memiliki harta kekayaan yang cukup, pengabdiannya di madrasah tidak hanya mengamalkan ilmunya sebagian harta kekayaan yang dimiliki juga di-shadaqahkannya jika ternyata madrasah tempatnya di mana ia mengabdi itu memerlukan pembiayaan. Tidak hanya itu, akal pikiran dan waktunya selalu siap demi kemajuan madrasah, karena baginya madrasah merupakan salah tempat untuk mengembangkan syi’ar Islam. Melalui madrasah, ajaran Islam terwarisi kepada generasi berikut sehingga terjaga dari distorsi (hifdz al-dien); melalui madrasah, tumbuh akal cerdas dan kuat (hifdz al-‘aqal); dan melalui madrasah, keluarga sakinah terbentuk (hifdz al-nasl), karena dari sanalah pendidikan keimanan, keikhlasan, perilaku sosial yang baik dan sikap ketaqwaan tertanam.

Dengan demikian, pengabdian kiyai dalam memajukan madrasah begitu kuat dan semangat. Seluruh ilmu yang ia miliki, ia amalkan. Sebagian harta kekayaannya, ia hibahkan/diwaqafkan. Seluruh waktunya, ia luangkan untuk kemajuan madrasah. Karena itu baginya madrasah adalah “jiwa raga” kehidupannya. Kenyataan ini menggambarkan bahwa, madrasah merupakan simbol “api Islam” bagi masa depan ummat Islam. Melalui pengabdian kiyai atau ustadz yang ikhlaslah “api Islam” itu akan terus menyala dengan kuat.

c. Pengabdian Kiyai di Pondok Pesantren

Tingkat pengabdian kiyai pada suatu pondok pesantren, dapat dilihat dari beberapa faktor antara lain: faktor kepemilikan, kepemimpinan dan amal ilmu. Pertama faktor kepemilikan. Bagi kiyai yang ada garis keturunan dengan kiyai pendiri, tingkat pengabdiannya dipengaruhi oleh rasa tanggung jawabnya sebagai “pemilik” lembaga yang telah didirikan orang tua atau mertuanya itu. Sehingga seluruh jiwa, raga dan waktunya dicurahkan demi kemajukan pondok pesantrennya. Karena itu, tingkat pengabdian yang dilakukannya sangat optimal. Kedua faktor kepemimpinan. Seorang kiyai yang dipercaya oleh kiyai atau masyarakat lainnya untuk mengendalikan kepemimpinan pondok pesantren, ia akan berjuang sekuat tenaga untuk memajukan lembaga pendidikan yang dipimpinnya. Karena itu, tingkat pengabdian yang dilakukannya adalah karena rasa tanggung jawabnya sebagai seorang pemimpin. Ketiga faktor ‘amaliah ‘ilmiah diniyah (mengamalkan ilmu keagamaan). Dedikasi yang tinggi dan tingkat pengabdian yang gigih dilakukan oleh kiyai adalah, karena ia merasa terpanggil untuk mengamalkan ilmunya. Ia berpegang kepada salah satu hadits Rasulullah Muhammad saw. yang arti secara bebasnya adalah bahwa, ‘amal, ‘ilmu dan ‘alim pada awalnya berada di surga. ‘Alim (orang yang memiliki ilmu) akan berada di neraka, sementara ‘amal dan ‘ilmu tetap berada di surga. ‘Alim akan tetap berada di surga bersama amal dan ilmu, jika ia mengamalkan ilmunya.

Sedikit gambaran tentang pengabdian kiyai di atas, dapat dikemukakan bahwa pengabdian kiyai di pondok pesantren, sangat ditentukan oleh beberapa faktor antara lain: faktor kepemilikan atau keturunan, faktor kepemimpinan dan faktor kesalehan (perilaku sosial yang cenderung pada kebaikan). Dari ketiga faktor itu, yang lebih dominan adalah faktor kesalehan. karena kesalehan, walaupun ia bukan keturunan atau tidak menjadi pemimpin, ia tetap mengabdikan jiwa dan raganya demi lestarinya ajaran Islam. Pondok pesantren baginya, sama dengan madrasah yaitu suatu tempat pembinaan keimanan, ketaqwaan, akhlaq dan tempat alih generasi.

Jika pengabdian yang dilakukan kiyai melalui madrasah bersifat dorongan moral dari luar, maka pengabdian yang dilakukan kiyai di pondok pesantren lebih bersifat memotivasi remaja dari dalam untuk melestarikan dan pewarisan ajaran Islam. Karena itu, kiyai yang memiliki pondok pesantren kemudian mengajar remaja di madrasah yang ada di pondok pesantren, adalah pengabdian yang paripurna.an di dua tempat sekaligus.

d. Pengabdian Kiyai Di Tengah-tengah Masyarakat

Bentuk pengabdian lain yang dilakukan kiyai yaitu, memberikan pengajian atau ceramah umum kepada masyarakat. Bentuk pengajian ini, ada yang diselenggarakan oleh kiyai bertempat di rumah pondok pesantrennya, ada juga yang diselenggarakan oleh masyarakat bertempat di masjid atau mushalla. Materi yang disampaikan, kisarannya adalah pahala-dosa, janji-ancaman, dan ibadah praktis; metode yang digunakan antara lain: metode qashash (kisah-kisah tauladan), dan amtsal (perumpamaan). Sistem pengajian umum yang berlangsung di suatu tempat ini, dalam teori pendidikan disebut majlis al-ta’lim (majlis= tempat, ta’lim= belajar). Karena majlis ta’lim merupakan lembaga pendidikan non-formal yang bertujuan mengajarkan dasar-dasar ilmu agama, maka keberadaannya dinilai sangat vital sebagai usaha membina silaturahim.

Bagi masyarakat umum yang menghadiri majlis ta’lim, pengajian yang disampaikan kiyai memiliki berbagai arti,

Pertama merupakan amal kebajikan (‘amil al-shalih); melalui majlis ta’lim kiyai mendorong agar hadirin mencari ilmu agama sebanyak-banyaknya. Ganjaran beramal kebaikan melalui keikut sertaan dalam majlis ta’lim, menurut kiyai, lebih besar daripada shalat sunnah seribu rakaat. Kedua, pengajian berfungsi untuk mengingatkan kembali para hadirin firman-firman Allah yang telah terlupakan. Ketiga, pengajian merupakan sarana silaturahmi dengan sesama masyarakat muslim atau dengan ulama yang dihormati dan dikaguminya (Hiroko Horikosih, 1987:117).

Pengajian yang berlangsung di majlis ta’lim berbeda dengan pengajian di pondok pesantren, walaupun disampaikan oleh kiyai yang sama. Di majlis ta’lim, pengajiannya bersifat umum sedangkan pengajian di pondok pesantren berupa pelajaran khusus untuk para santri.

Pengabdian kiyai dalam membina masyarakat melalui majlis ta’lim, bagi kiyai yang memiliki pondok pesantren, memiliki dua peran sekaligus yaitu sebagai tokoh masyarakat juga sebagai pembina santri kalong yang berada di sekeliling pondok pesantren. Pernyataan ini dipertegas Suyata yang pendapatnya diedit Dawam Rahardjo (1985:16) bahwa,

Usaha dan kegiatan yang dilakukan kiyai secara garis besar dapat dibedakan atas dua bentuk pelayanan yaitu pelayanan kepada para santri dan palayanan kepada masyarakat. Bentuk pelayanan pertama, melalui pesantrennya ia menyajikan beberapa sarana bagi perkembangan pribadi para santri, di samping itu ia berusaha mewujudkan pelayanan kedua yaitu memajukan masyarakat sejalan dengan cita-cita dan kemampuan yang ada.

Tumbuh dan berkembangnya kedua pelayanan di atas, sangat dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal pesantren. Pengaruh internal meliputi perkataan dan perilaku para santri akibat dari pengaruh dan pengalamannya sebelum memasuki pondok pesantren, pengaruh dari ustadz karena corak ragamnya metode pengajaran yang digunakan, pengaruh dari informasi yang masuk ke pesantren, kontak dengan masyarakat sekitar pondok pesantren ataupun pengaruh dari program dan suasana pondok pesantren.

Sedangkan pengaruh dari faktor eksternal, pesantren berusaha memajukan masyarakat sekitarnya melalui bekerja sama dengan instansi atau institusi yang memiliki maksud dan arah yang sama. Bekerja sama yang dilakukan pondok pesantren, bukan hanya dalam bentuk menghadiri undangan dan/atau memberikan nasihat melainkan lebih dari itu yakni bekerjas sama dalam bentuk menghapus kebodohan, mengangkat harkat dan martabat kebutuhan orang banyak. Bentuk kerja sama ini diwujudkan dalam bentuk mendirikan lembaga pendidikan, baik yang bersifat keagamaan maupun lembaga pendidikan bersifat keterampilan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PROSEDUR PENELITIAN

  1. A. Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yaitu, “prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati” (Lexi J. Moleong, 1989); pendekatan ini, diarahkan pada latar belakang individu secara holistik. Bogdan (1982:3) mengemukakan, “ada beberapa istilah untuk je-nis pendekatan kualitatif, seperti: inkuiri naturalistik (alamiah), etnograpi, interaksi sionis simbolik, prespektif ke dalam, etnometodologi, fenomenologi, studi kasus, interpretatif dan deskriptif”. Sedangkan Nana S. dan Ibrahim (1989) mengemukakan, “penggunaan pendekatan kualitatif adalah untuk menghasilkan grounded theory yaitu teiri yang timbul dari data dan bukan dari hipotesis sebagaimana dalam pendeksatan kuantitatif”.

Secara rinci, S. Nasution (1988:9-11) menjabarkan karakteristik pendekatan kualitatif sebagai berikut,

(1) sumber data ialah situasi yang wajar (natural setting), (2) peneliti sebagai instrumen penelitian, (3) sangat deskriptif, (4) mementingkan proses maupun produk, (5) mencari makna di belakang kelakuan atau perbuatan sehingga dapat memahami masalah atau situasi, (6) mengutamakan data langsung (first hand), (7) triangulasi: data atau informasi dari satu pihak harus diteliti kebenarannya dengan memperoleh data itu dari sumber lain, (8) menonjolkan rincian kotekstual, (9) subyek yang diteliti dipandang sama kedudukannya dengan peneliti, (10) mengutamakan perpektif emic yakni mementingkan pandangan responden bagaimana ia menafsirkan dan memandang dunia dari segi pendiriannya, (11) verifikasi, antara lain melalui studi kasus yang bertentangan atau negatif, (12) sampling yang purposif, (13) menggunakan audit trail yaitu, pelacakan apakah laporan penelitian sesuai dengan yang dikumpulkan, (14) partisipasi tanpa mengganggu, (15) mengadakan analisis sejak awal penelitian.

Penggunaan pendekatan kualitatif dalam mengkaji sistem pendidikan di pondok pesantren, didasarkan atas ciri-ciri kualitatif yang relevan dengan tuntutan. Dalam hal ini, (1) pendekatan kualitatif menggunakan lingkungan alamiah sebagai sumber data langsung yaitu pimpinan dan santri serta alumni pesantren dan masyarakat sekitar lingkungan pondok pesantren; (2) penelitian kualitatif sifatnya deskriptif analitik, data yang diperoleh meliputi hasil pengamatan, wawancara, pemotretan, dokumen, catatan lapangan yang disusun di lokasi penelitian yang tidak selalu dituangkan dalam bentuk dan bilangan statistik; (3) dalam penelitian kualitatif, data dan informasi disajikan secara langsung hakekat hubungan antara peneliti dan responden; (4) penelitian kualitatif mengutamakan makna dan penajaman nilai yang ditemui di lapangan.

  1. B. Lokasi dan Obyek Penelitian
  1. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Pondok Pesantren Buntet yang berlokasi di Desa Mertapada Kulon Kecamatan Astanajapura Kabupaten Cirebon. Pondok Pesantren Buntet, memiliki perjalanan sejarah yang panjang dan unik jika dibandingkan dengan sejarah perjalanan beberapa pondok pesantren yang ada di Cirebon bahkan dibandingkan dengan beberapa pondok pesantren di Indonesia sekalipun. Memiliki sejarah panjang, karena pondok pesantren Buntet telah berusia hampir dua setengah abad (1757-1999). Uniknya, selama perjalanan sejarah itu, pondok pesantren yang terkenal thariqahnya ini dipimpin secara turun temurun oleh para kiyai yang masih ada garis keturunan langsung dari kesultanan Cirebon. Karena itu, sistem kepemimpinannya, hampir sama dengan sistem kerajaan yang ada di Kesultanan Cirebon.

Bagi penulis, ada satu hal yang lebih menarik dari sekedar mengetahui panjangnya sejarah dan uniknya kepemimpinan di Pondok pesantren Buntet, yaitu para kiyai dan ustadznya secara konsisten dan kontinyu memikirkan bagaimana agar bentuk dan sistem pendidikan yang diupayakannya itu bermanfaat dan sesuai dengan keinginan masyarakat luas. Dari sinilah sehingga penulis ingin mengathui secara langsung dan mendalam motivasi dan peranan kiyai dalam mengupayakan dan menentukan orientasi pendidikan di lembaga yang dibinanya itu.

  1. Obyek Penelitian

Fokus penelitian ini adalah penentu orientasi pendidikan Islam, karena itu yang terlibat secara langsung dalam kegiatan ini adalah:

  1. Kiyai dan para pembina pondok pesantren Buntet,
  2. Para ustadz, yang mengajar di lembaga pendidikan di lingkungan Pondok Pesantren Buntet
  3. Santri yang belajar di pondok, ataupun pelajar yang belajar di lembaga pendidikan sekolah
  4. Alumni pesantren Buntet yang berada di lingkungan pesantren Buntet,
  5. Aparat Desa Mertapada Kulon, terutama Kepala Desa dan Kaur Kesra,
  6. Tokoh masyarakat dan handai tolan yang diperlukan.

C. Teknik Pengumpulan Data

Ada beberapa karakteristik dalam pendekatan kualitatif, antara lain mengungkapkan makna (meaning) merupakan hal yang esensial, digunakan natural setting sebagai sumber data langsung, dan peneliti sendiri merupakan instrumen kunci (key instrument) yang memiliki kepekaan dan fleksibilitas yang tidak terbatas. Dalam “penelitian naturalistik dilakukan tidak hanya wawancara dan observasi, meskipun kedua hal ini menempati posisi dominan; bahan dokumentasi juga mendapat perhatian selayaknya oleh peneliti” (S. Nasution, 1988:85).

Dengan demikian, teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah 1. teknik wawancara, 2. observasi dan 3. studi dokumen.

  1. Teknik Wawancara

Wawancara, menurut Lincoln dan Guba yang dibahasa Indonesiakan Ahmad Sonhadji (1994:63) adalah “suatu percakapan, yang bertujuan untuk memperoleh konstruksi yang terjadi tentang orang, kejadian, aktivitas, organisasi, perasaan, motivasi, pengakuanm kerisauan dan sebagainya”.

Teknik wawancara yang dilakukan adalah wawancara terbuka yakni, respoden (kiyai dan pembina pesantren lainnya, santri dan masyarakat daerah sekitar pesantren) diberikan kebebasa untuk mengemukakan pendapatnya sesuai dengan kemampuan dan kemauannya; sedangkan peneliti berusaha mengarahkan dan menafsirkannya sesuai keperluan.  Alat bantu utama yang digunakan penulis adalah pedoman wawancara yang telah dipersiapkan sebelum melakukan wawancara, di samping itu buku saku, balpoint, tape recorder dan kamera foto.

2. Observasi

Lincoln dan Guba (1985) mengklasifikasi observasi menjadi tiga cara yaitu: 1) pengamat dapat bertindak sebagai seorang partisipan atau nonpartisipan, 2) observasi dapat dilakukan secara terus terang atau penyamaran, walaupun secara etis dianjurkan untuk terus terang (overt) kecuali dalam keadaan tertentu yang memerlukan penyamaran (covert), dan 3) menyangkut latar penelitian. Observasi dapat dilakukan pada latar “alami” atau “dirancang”.

Teknik observasi pada penelitian ini ditujukan kepada komunitas pesantren, yang memiliki ciri-ciri tertentu sebagai lembaga pendidikan dan lembaga sosial. Khususnya terhadap kiyai, karena keterlibatannya yang mendalam sebagai pembina dan pembimbing sangat dominan dalam menentukan arah dan kebijakan sistem pendidikan di pondok pesantren.

Dalam melakukan observasi, penulis melakukan observasi partisipan terhadap sistem pendidikan pesantren yang berlangsung, melalui keikut sertaan penulis dalam beberapa kegiatan yang menurut penulis dianggap patut untuk diikuti secara langsung. Seperti sebelum, sedang berlangsung maupun setelah pelaksanaan pengajian KK, pelatihan keterampilan muhadharah dan kegiatan keterampilan lainnya. Sedangkan untuk mengetahui perilaku kiyai dan para pembina, juga terhadap perilaku beberapa orang santri dan alumni pesantren, serta perilaku tokoh masyarakat lingkungan pesantren dilakukan observasi nonpartisipan.

  1. Studi Dokumen

Teknik dokumentasi dilakukan, untuk mengumpulkan data dan informasi dari sumber noninsani. Sumber ini terdiri dari dokumen dan rekaman. Lincoln dan Guba (1985) mengartikan “rekaman” sebagai tulisan atau pernyataan yang dipersiapkan oleh atau untuk individual atau organisasi dengan tujuan membuktikan adanya suatu peristiwa. Sedangkan “dokumen” digunakan untuk mengacu setiap tulisan atau bukan, selain “rekaman” yaitu tidak dipersiapkan secara khusus untuk tujuan tertentu seperti surat-surat, buku harian, naskah pidato, editorial surat kabar, catatan khusus, skrip televisi ataupun foto-foto kegiatan.

Di suatu instansi kelembagaan, terdapat dokumen resmi. Terhadap dokumen resmi ini, Moleong (1988) membaginya ke dalam dua bentuk yaitu dokumen internal dan dokumen eksternal. Dokumen internal berupa antara lain: memo, pengumuman, instruksi, aturan, rekaman hasil rapat ataupun keputusan pimpinan yang digunakan untuk kalangan sendiri; sedangkan bentuk dokumen eksternal berupa bahan-bahan informasi yang dihasilkan oleh suatu lembaga misalnya: majalah, buletin, pernyataan dan berita yang ditafsirkan kepada media masa.

  1. D. Teknik Analisis Data

Analisis data, menurut Bogdan dan Bikle yang pendapatnya dikutip Ahmad Sonhadji (1994:77) adalah, proses pelacakan data pengamatan secara sistematik terhadap transkip wawancara, catatan lapangan dan bahan-bahan lain yang dikumpulkan untuk meningkatkan pemahaman terhadap bahan-bahan tersebut agar dapat dipresentasekan temuannya kepada orang lain. Selanjutnya Bogdan dan Biklen menjelaskan, “analisis data melibatkan pengerjaan data organisasi data, pemilahan menjadi satuan-satuan tertentu, sistesis data, pelacakan pola, penemuan hal-hal yang penting dan dipelajari, dan penentuan apa yang harus dikemukakan kepada orang lain”.

Dalam menganalisa data, penulis memulainya sejak penulisan deskripsi kasar sampai produk penelitian yakni dengan melakukan dua cara yaitu 1) data dianalisa pada saat pengumpulan data berlangsung, dan 2) data dianalisa setelah semua data dikumpulkan.

Pertama, data dianalisis saat pengumpulan data. Cara ini ditempuh melalui langkah-langkah: a) penegasan terhadap tujuan penelitian, b) pengembangan pertanyaan yang bersumber pada pedoman wawancara yang telah dipersiapkan, c) memasukkan data baru yang telah diperoleh ke dalam bagian-bagian tertentu sesuai dengan sub-masalah, d) dan mengomentarinya secara umum, e) mendalami literatur yang berhubungan dengan data yang diperoleh selama di lapangan.

Kedua, data dianalisis setelah semua data dikumpulkan. Setelah semua data dari wawancara, pengamatan yang sudah dituliskan dalam catatan lapangan, dokumen resmi/pribadi, foto/gambar berhasil dikumpulkan kemudian dibaca, dipelajari dan ditelaah. Langkah selanjutnya adalah diadakan reduksi data dengan jalan membuat abstraksi. Abstraksi merupakan usaha merangkum yang inti, proses dan pernyataan-pernyataannya perlu dijaga sehingga tetap berada di dalamnya. Berikutnya yaitu, menyusunnya dalam bentuk satuan-satuan dan dari satuan-satuan ini kemudian dikategorisasi.

E. Pelaksanaan Penelitian

Secara keseluruhan, pelaksanaan penelitian ini dilakukan melalui dua tahap, yaitu 1. tahap orientasi pendahuluan dan 2. tahap pelaksanaan penelitian ke lapangan.

  1. Tahap orientasi pendahuluan

Penulis mengenal Pondok Pesantren Buntet (masyarakat setempat menyebutnya Buntet Pesantren) tepatnya pada 1995 yaitu ketika penulis turut serta dalam penelitian kelompok tentang “Kontribusi Pondok Pesantren terhadap Pembangunan Daerah Kabupaten Cirebon” (salah satunya adalah Pesantren Buntet) yang dibiayai IAIN Cirebon bekerja sama dengan Pemda Kabupaten Cirebon.

Bagi penulis, Buntet Pesantren memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan beberapa pesantren lain yang ada di Cirebon seperti Pondok Pesantren Al-Ishlah (Bobos), Pondok Pesantren Mutaallimin (Babakan Ciwaringin), pondok pesantren al-Wathoniah (Arjawinangun) dan Pondok Pesantren Mubtadiin (Kempek). Salah satu kelebihan yang ada pada Pesantren Buntet adalah kiyai dan para pembinanya tidak pernah berhenti memikirkan tentang perkembangan dan kemajuan lembaga pendidikan Islam. Perkembangan terakhir Pesantren Buntet membuka Akademi Perawat, di samping itu tetap menjaga sistem tradisionalnya yang telah ada sejak awal berdirinya. Dari sinilah penulis terilhami untuk mengetahui lebih dekat tentang Pondok Pesantren Buntet, terutama yang berhubungan dengan sistem pendidikan yang sedang dikembangkan.

Hasil dari pra-penelitian itu kemudian penulis tuangkan ke dalam bentuk Proposal Penelitian thesis untuk selanjutnya diajukan kepada Panitia Ujian Program Pascasarjana UPI (dh. IKIP) Bandung untuk diseminarkan. Alhamdulillah pada Maret 1998, penulis dinyatakan lulus dan boleh melanjutkan proposal penelitian itu untuk diangkat menjadi topik penelitian thesis.

Pada April 1998, penulis memperoleh SK Pembimbing yang ditanda tangani Direktur Pascasarjana IKIP Bandung, Prof. Dr. H. Abdul Azis Wahab, MA dengan menetapkan Pembimbing I, Prof. Dr. H. Sudardja Adiwikarta, MA dan Pembimbing II Prof. Dr. H. Ishak Abdulhak. Atas dasar saran dari kedua pembimbing agar judul proposal diperbaiki dan fokus masalah dipertajam. Setelah proposal penelitian diperbaiki, penulis dibolehkan untuk melanjutkan penulisan thesis.

2. Tahap Pelaksanaan Penelitian ke Lapangan

Setelah penulis memperoleh surat ijin penelitian pada Desember 1998 (bertepatan dengan bulan Ramadhan 1419 H), penulis memulainya dengan silaturahmi ke beberapa teman dosen yang berasal dari Buntet Pesantren. Sambil menyusun instrumen penelitian, penulis melakukan kunjungan ke kantor Kepala Desa Mertapada Kulon untuk memperoleh data dan informasi penunjang yaitu berupa monografi dan keadaan Desa.

Dalam pelaksanaan penelitian di lapangan, penulis mempersiapkan diri dengan instrumen penelitian berupa instrumen yakni konsep pertanyaan yang akan diajukan kepada obyek penelitian, dan perlengkapan fisik berupa tustel, tape recorder, buku catatan dan perlengkapan lain untuk tinggal selama beberapa waktu di pondok pesantren. Adapun kegiatan yang dilakukan penulis selama berada di pondok pesantren Buntet diungkapkan melalui tahapan-tahapan  berikut:

Tahap pertama, penulis datang secara langsung ke lapangan selama 10 hari (12-22 Desember 1998) dengan kegiatan, antara lain:

a)      Tinggal bersama para santri di lingkungan pondok pesantren Buntet, untuk mengetahui bentuk-bentuk kegiatan rutin baik kegiatan keagamaan maupun kegiatan kependidikan yang dilakukan santri,

b)      Turut serta dalam kegiatan rutin santri tentang pengajian KK dan pelak-sanaan peribadatan,

c)      Memperhatikan, mempertanyakan dan mencatat kegiatan kiyai dan para pengelola pondok, kaitannya dengan sistem pendidikan yang ada di ling-kungan pondok pesantren Buntet,

d)     Bersilaturahmi ke rumah-rumah kiyai, untuk memperoleh informasi atau data tentang keluarga, pendidikan dan kegiatan (keagamaan dan kemasyarakatan) kiyai di rumah,

Tahap kedua, penulis berkunjung dan mondok lagi beserta santri di pondok pesanten Buntet selama tiga hari (03-06 Januari 1999) dengan kegiatan sebagai berikut:

a)      Berkunjung dan mengumpulkan data dari lembaga-lembaga pendidikan (sekolah dan luar sekolah) yang ada di pondok pesantren Buntet terutama dokumen yang ada hubungannya dengan keadaan guru atau ustadz, santri, siswa/murid dan sistem kepemimpinannya,

b)      Berkunjung ke beberapa tokoh masyarakat Desa Mertapada Kulon, untuk memperoleh informasi tentang perkembangan pondok pesantren Buntet dan dampaknya terhadap perkembangan masyarakat,

Tahap ketiga, penulis berkunjung ke pondok pesantren Buntet selama tiga hari (10-13 Januari 1999). Pada tahap ini penulis memanfaatkannya dengan berdialog atau wawancara terbuka dengan kiyai, santri dan warga masyarakat Desa Mertapada Kulon. Pada saat dialog/wawancara, responden dimohon untuk mengemukakan pendapatnya tentang perkembangan pondok pesantren Buntet, peranan kiyai dalam pelaksanaan kegiatan kependidikan di pondok pesantren Buntet atau keterlibatan kiyai dengan kegiatan masyarakat. Pada kegiatan ini, penulis merekam, mencatat dan pengambilan gambar kiyai-kiyai tertentu.

Dalam pelaksanaan pengumpulan data/informasi, penulis mengalami sedikit hambatan yaitu, penulis sebagai Dosen di STAIN/IAIN Cirebon sehingga sedapat mungkin membagi waktu antara mengajar dan tinggal di pondok pesantren (jarak antara STAIN/IAIN dengan Pondok Pesantren Buntet adalah 15 Km). Hambatan ini dapat diatasi, antara lain dengan meminta bantuan kepada beberapa mahasiswa atau Dosen STAIN/IAIN Cirebon yang berasal dari daerah Buntet. Atau beberapa teman yang pernah mesantren di pondok pesantren Buntet.

 

 

BAB IV

DESKRIPSI HASIL PENELITIAN

Pada bagian ini, dikemukakan empat pokok bahasan utama yaitu: pertama gambaran umum keadaan lokasi penelitian; kedua bentuk pendidikan yang berlangsung di pesantren Buntet, dan ketiga pemikiran kiyai dalam mendirikan pondok pesantren dan beberapa lembaga pendidikan sekolah yang berada di bawah lingkungannya. Keempat, faktor pendukung dan penghambat dalam memadukan sistem pendidikan sekolah dan pendidikan luar sekolah (PLS). Kesemuanya, diperoleh melalui kegiatan observasi, wawancara dan studi dokumenter. Pada bagian akhir, penulis membahas dan menganalisa hasil penelitisan meliputi motivasi dan peran kiyai serta orientasi pendidikan Pesantren Buntet.

  1. Gambaran Umum
    1. Lokasi Pondok Pesantren Buntet

Pondok Pesantren Buntet berada di Blok Manis Depok Pesantren, Desa Mertapada Kulon Kecamatan Astanajapura Kabupaten Cirebon. Letak Desa Mertapada Kulon adalah 12 Km ke arah Selatan dari Kota Cirebon; 26 Km ke arah Timur dari Ibu Kota Kabupaten Cirebon. Kedudukan Pesantren Buntet berada di antara empat perbatasan yaitu sebelah Barat, berbatasan dengan Desa Munjul; sebelah Utara berbatasan dengan Sungai Cimanis Desa Buntet; sebelah Timur berbatasan dengan Kali Anyar; dan sebelah Selatan berbatasan dengan Blok Kiliyem Desa Sida Mulya.

Lokasi Pesantren Buntet, dapat dikategorikan sebagai tempat yang strategis dan sangat mudah dijangkau dengan menggunakan kendaraan jenis apapun. Lantaran jalan yang menuju ke lokasi itu, sejak lama terlewati kendaraan umum (bus, elf dan truk) dari Ciledug menuju ke Cirebon; bahkan bus atau truk dari arah Jawa Tengah menuju ke Jakarta (melalui jalan alternatif) dapat melewati jalan raya Mertapada Kulon (Desa di mana terdapat Pesantren Buntet).

  1. Sejarah Perkembangan Pondok Pesantren Buntet

a.  Sejarah Pondok Pesantren Buntet

Untuk mengungkapkan siapa, kapan dan bagaimana berdirinya pondok pesantren Buntet, penulis memperoleh data tertulis kemudian disempurnakan melalui informasi lisan dari kiyai pengelola pondok esantren Buntet. Data tertulis mengungkapkan, pondok pesantren Buntet didirikan oleh Kiyai Muqayim pada tahun 1758. Pada awalnya, mbah Muqayim (sebutan untuk Kiyai Muqayim bagi anak cucunya) membuka pengajian dasar-dasar al-quran, bagi masyarakat Desa Dawuan Sela (1 Km ke sebelah Barat dari Desa Mertapada Kulon (lokasi pondok pesantren Buntet sejak tahun 1750-an). Tempat berlangsungnya pengajian itu adalah sebuah Panggung Bilik Bambu ilalang yang di dalamnya terdapat beberapa kamar tidur atau pondokan yang dindingnya terbuat dari bambu dan atapnya terbuat dari pohon ilalang (sejenis rumput yang tinggi).

Informasi lisan menyebutkan, mbah Muqayim adalah seorang pejuang yang selama hidupnya selalu dikejar-kejar tentara Belanda sehingga ia selalu berpindah-pindah dari satu daerah ke daerah lain dalam upaya mencari perlindungan hingga ia menemukan “daerah aman” dari kejaran tentara Belanda. Sehingga ia menemukan sebuah daerah, dan di situlah mendirikan sebuah bangunan untuk “tempat berlindung” dari kejaran tentara Belanda. Bangunan yang yang berukuran 8 x 12 M itulah di kemudian hari dikenal dengan sebutan “Buntet” yang berarti tempat perlindungan. Di dalam “Buntet” itu, mbah Muqayim membuat mushalla yang berfungsi sebagai tempat shalat dan pendidikan keagamaan tersebut bertempat di suatu daerah yang kemudian terkenal sebagai daerah Buntet. Namun, tidak lama kemudian tempat persembunyian itu ditemukan lagi oleh tentara Belanda sehingga tempat itu dibakar. Mbah Muqayyim bersama beberapa santrinya berhasil meloloskan diri, pergi menuju ke arah timur untuk beberapa saat, kemudian beliau kembali lagi ke “wilayah Buntet” sebelah utara (konon, wilayah ini kemudian menjadi desa Buntet), di sini beliau mendirikan pondokan.

Beberapa saat kemudian, pondokan yang baru didirikan ini berhasil ditemukan tentara Belanda langsung menyerbu dan langsung membakarnya. Pada serbuan kedua kalinya ini, banyak santri yang gugur terbakar. Peristiwa gugurnya beberapa santri ini, diabadikan oleh masyarakat Buntet melalui sebuah area tanah “kuburan santri” yang dianggap suci. Beberapa santri yang selamat, diajak mbah Muqayim pergi menuju ke Desa Dawuan Sela, di sini beliau membuat sebuah gubug yang dindingnya terbuat dari bambu dan daun ilalang sebagai atapnya. Di dalam gubug inilah terjadinya proses pengajian dasar-dasar al-quran dan kitab Fath-hul Mu’in. Di Desa Dawuan Sela inilah mbah Muqayyim merasakan aman baik dari kejaran tentara Belanda maupun dalam mengamalkan ilmunya, hingga beberapa tahun kemudian keberadaan “Pondok Pesantren Pemula” ini diserahkan kepada K. Muta’ad (menantu R. Muhammad anak mbah Muqayim). Sementara mbah Muqayyim sendiri memilih menjadi mufthi hingga akhir hidupnya di daerah Beji (Pemalang, Jawa Tengah). Sebelum kepergiannya ke Beji, beliau menyerahkan kepemimpinan pondok pesantrennya kepada K. Muta’ad yang juga salah seorang putra Kasepuhan Cirebon dan pernah menjadi penghulu Keresidenan Cirebon. Konon, serah-terima kepemimpinan Buntet Pesantren ini terjadi pada 1785.

b. Profil Kiyai

  1. Mbah Muqayim

Mbah Muqayim adalah cucu Kiyai Abdul Hadi, lahir di Kampung Srengseng Desa Kerankeng Kecamatan Karangampel Kabupaten Indramayu (tidak ditemukan informasi kapan mbah Muqayim dilahirkan). Informasi lain menyebutkan, mbah Muqayim adalah salah seorang keturunan dari Kesultanan Cirebon hasil pernikahan dengan wanita (anak kesra desa Kerangkeng) tetapi tidak pernah tinggal di lingkungan keraton. Hanya saja sejak beliau berusia anak-anak hingga remaja, selalu memperoleh pengawasan, perlindungan, pendidikan dan kesehatan yang memadai dari kesultanan. Ia memperoleh pengetahuan agama, pengetahuan umum dan ilmu kanuragan (kekebalan tubuh) melalui beberapa guru yang sengaja didatangkan dari kesultanan.

Pernyataan di atas diperkuat dari informasi yang menyebutkan bahwa salah seorang istri mbah Muqayim adalah putri keraton, begitu juga dengan salah seorang cucu menantunya adalah keturunan kesultanan Cirebon. Beliau juga salah seorang pegawai kerajaan yaitu sebagai qadli di kesultanan Cirebon, walaupun jabatan itu kemudian ditinggalkannya setelah ia mengetahui bahwa sultannya bekerja sama dengan pemerintah Belanda. Sikap meninggalkan keraton kesultanan yang dilakukan mbah Muqayim, bukan karena ia menentang kesultanan Cirebon melainkan karena ia tidak setuju dengan sikapnya yang bekerja sama dengan pemerintah Belanda. Ini menunjukkan bahwa, mbah Muqayim adalah seorang patriotik yang tidak mau kompromi dengan penjajah. Salah satu bukti bahwa mbah Muqayim adalah seorang pejuang, Keterangan ini menunjukkan bahwa, mbah Muqayim adalah salah seorang pejuang yang selalu menantang penjajah Belanda. Bukti lain bahwa ia seorang pejuang adalah, keterlibatannya (bersama Ardisela) pergi menuju ke Aceh untuk membantu masyarakat Aceh melawan tentara Belanda. Keterlibatannya dalam membela masyarakat Aceh dari penjajah Belanda, mbah Muqayim diberi hadiah sebilah rencong dari masyarakat Aceh yang hingga kini (rencong itu) masih tersimpan di Beji (Pemalang, jawa Tengah).

Informasi menyebutkan bahwa, mbah Muqayyim adalah seorang pejuang (juga seorang dai) atau mungkin sebagai taktik dalam menghadapi penjajah, beliau hidup selalu berpindah-pindah dari satu desa ke Desa lain. Sejak ia meninggalkan jabatannya sebagai qadli di Kesultanan Cirebon, ia mendirikan pondok pesantren di Desa Kaduwela. Setelah pondoknya diketahui Belanda dan dibakar, ia bersama-sama dengan beberapa santrinya pergi ke Beji (Pemalang, Jawa Tengah) ia juga mendirikan pondok pesantren, kemudian ia kembali lagi ke Cirebon; ia menetap di sebuah Desa (Pasawahan) untuk beberapa saat kemudian bertemu dengan Ki Ardisela di Desa Tuk (di sini ia menetap untuk beberapa saat). Terakhir dari perjalanannya, mbah Muqayyim beserta para santrinya kembali dan menetap bersama anak cucunya di Buntet Pesantren yakni di Desa Mertapada Kulon.

a) Mbah Muqayyim di Beji

Kepergian mbah Muqayim beserta para santrinya ke arah timur, tempat pertama kali yang disinggahinya adalah sebuah desa yang disebutnya “Beji” yang berarti Lebe Siji. Desa ini bernama Kenanga, tetapi karena di daerah inilah (dari beberapa daerah) ada seorang lebe atau “satu lebe” (bahasa jawa: lebe siji) yang bernama Abdul Salam (Salamuddin) berkenan menerima mbah Muqayim beserta para santrinya, sehingga mbah Muqayim menamakan daerah ini dengan nama Beji.

Selama bermukim di Desa Beji, beliau berlaku sebagaimana lajimnya pendatang yang menumpang di suatu tempat; beliau selalu membantu pekerjaan-pekerjaan (lebe) Abdul Salam. Ia tawadu suka menolong dan membantu orang lain. Suatu keanehan bagi masyarakat Beji yang memperhatikannya yaitu, beliau selalu mengunjungi tempat-tempat tertentu yang oleh sebagian besar masyarakat dianggap dan dirasakan sebagai tempat yang tidak akan selamat bagi yang mengunjunginya, namun beliau terbiasa keluar masuk ke tempat itu. Keajaiban lain yang terlihat oleh masyarakat yang melihatnya adalah, pada suatu malam ketika beliau tidur di Mushalla tubuhnya memancarkan cahaya terang menjulang tinggi ke atas dan menyinari daerah yang ada di sekelilingnya sehingga membuat terpesona yang menakjubkan.

Di Beji, mbah Muqayyim beserta para santrinya membuka hutan Padurungan yang kemudian didirikanlah Mushalla dan Masjid serta Pesantren. Di lokasi itulah kemudian para santri berdatangan dari berbagai daerah sekitarnya untuk berguru dan mengaji. Tidak ada informasi yang menyebutkan, dari tahun berapa sampai tahun berapa mbah Muqayyim berada di Beji kecuali informasi yang menyebutkan bahwa sebelum mbah Muqayyim kembali ke Cirebon, beliau dinikahkan dengan salah seorang putri lebe Abdul Salam. Melalui anak cucunya, hingga kini, sebuah pesantren masih tegak berdiri dan tersimpan sebuah rencong kenangan dari masyarakat Aceh.  Suatu kebesaran Allah, makam lebe Abdul Salam yang terletak di pinggir sungai yang selalu banjir dan tergenang air pasang, sampai saat ini masih tetap utuh tidak rusak atau hanyut. Petilasannya di daerah tersebut, masih dapat disaksikan.

b) Mbah Muqayyim di Pasawahan

Mbah Muqayim, selain menjabat sebagai qadli Kesultanan Cirebon (Sultan Muhammad Khaeruddin I, Sultan Kanoman) juga terkenal sebagai seorang mufti. Sultan Kanoman mempunyai salah seorang putra bernama Muhammad Khaeruddin II (lahir 1777), ketika ia mendengar bahwa ayahnya bekerja sama dengan pemerintah Belanda bertekad meninggalkan keraton Kesultanan dan mengikuti mbah Muqayim yang ketika itu berada di Pesawahan Sindanglaut.

Muhammad Khaeruddin II berguru ilmu agama dan ilmu kanuragan (teknik beladiri) kepada mbah Muqayyim. Berkat kecerdasan, ketekunan dan kerajinannya, ia tercatat sebagai salah seorang murid yang mencapai derajat yang terpercaya karena itu ia memperoleh sebutan “Pangeran Santri”. Ilmu kenuragan atau ilmu kadigjayaan yang dimiliki Khaeruddin II, berkali-kali teruji ketika berhadapan dengan tentara Belanda dan berhasil memperdayakannya. Pemerintah Belanda begitu mendengar bahwa orang yang selalu memperdaya pasukannya adalah Muhammad Khaeruddin II yang bermukim di Pesawahan beserta mbah Muqayim, pemerintah Belanda memutuskan untuk menangkapnya. Karena itu, sasaran pemerintah Belanda tidak hanya menangkat mbah Muqayim yang selama ini dikejar-kejarnya, melainkan juga Muhammad Khaeruddin II yang selalu bersama dengan mbah Muqayim dan Ki Ardisela. Dalam pengejaran terhadap kedua sasaran itu, Muhammad Khaeruddin II berhasil ditangkap, untuk proses selanjutnya dibuang ke Ambon. Sementara mbah Muqayim dan Ki Ardisela berhasil mengusir tentara Belanda dari Desa Pasawahan.

Ketika mbah Muqayim berada di Beji, masyarakat Cirebon terserang wabah penyakit tha’un. Ketenteraman masyarakat terganggu dihantui rasa gelisah dan was-was, bahkan tidak sedikit yang meninggal karena wabah tersebut. Pemerintah sudah melakukan berbagai macam usaha, namun selalu gagal sehingga timbul pemikiran bahwa yang mampu mengatasi tho’un hanyalah mbah Muqayim. Atas saran dari beberapa tokoh masyarakat, akhirnya mbah Muqayim dicari dan setelah jelas keberadaannya diutuslah beberapa orang utusan untuk meminta bantuan kepada mbah Muqayim. Permohonan dari utusan itu diterima mbah Muqayim tapi dengan dua syarat yaitu: 1) Muhammad Khaeruddin II dibebaskan dan dikembalikan di Cirebon, dan 2) Di daerah-daerah wilayah Cirebon agar didirikan masjid.

Setelah mbah Muqayim melihat Muhammad Khaerudin II dibebaskan dan kembali berada di Cirebon, walaupun oleh keluarga sultan tidak diperkenankan tinggal di lingkungan Kesultanan Kanoman (konon, Muhammad Khaeruddin II tinggal di Sunyaragi). Dengan segala kemampuan ilmu yang dimilikinya dan atas kehendak Allah swt. mbah Muqayyim berhasil mengatasi dan menghilangkan wabah penyakit tha’un itu. Sehingga ketegangan dan ketentraman masyarakat Cirebon pulih kembali.

Sebagai pelepas rindu dengan “Pangeran Santri” yang telah lama tidak bertemu, mbah Muqayim bersilaturahmi ke rumah Muhammad Khaeruddin II di Sunyaragi. Hasil dari silaturahmi itu, pada 17 Mei 1809 Sultan Muhammad Khaeruddin I mempertimbangkan bahwa, Pulasaren dijadikan Kesultanan baru dengan sebutan Kecirebonan dimana Pangeran Muhammad Khaeruddin II sebagai Sultan pertamanya dengan gelar Amirul Mu’minin.

c) Mbah Muqayyim di Tuk, Sindanglaut

Sumber informasi berupa catatab sejarah yang akurat menyebutkan bahwa, sumur atau tuk Muara Bengkeng merupakan sumber air bagi masyarakat wilayah Sindanglaut dan sekitarnya. Sekarang, Tuk adalah nama desa yang letaknya di sebelah selatar Kantor Kawedanan Sindanglaut Kecamatan Karangsembung Kabupaten Cirebon. Diinformasi bahwa, sejarah terbentuknya tuk muara bengkeng (cerewet)merupakan permintaan Ki Ardisela kepada mbah Muqayim sebagai imbal jasanya atas keterlibatan Ki Asrdisela ketika membantu mbah Muqayim dalam pertempuran melawan Belanda di Pesawahan.

Konon, lambang keakrabannya antara Ki Ardisela dengan mbah Muqayim, Ki Ardisela meminta kepada mbah Muqayim untuk membuatkan sumur (Tuk) yang diharapkan manfaatnya dapat dirasakan oleh seluruh rakyat daerah tersebut. Dengan kemampuan ilmu kanuragan yang dimilikinya, mbah Muqayim dalam beberapa saat mampu membuat sumur yang kemudian sumur tersebut dikenal dengan nama Muara Bengkeng. Tuk atau sumur itu, letaknya berdekatan dengan pesarean Ki Ardisela. Sumur tersebut diberi nama Muara Bengkeng, karena konon manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat untuk menghilangkan sikap bengkeng, cekcok rumah tangga, penderitaan dan kesedihan yang berlarut-larut. Semua jenis penyakit itu dapat dihilangkan hanya dengan meminum air Tuk itu dan mengusapkannya.

Di Desa Tuk inilah mbah Muqayim dimakamkan, bersebelahan dengan makam Ki Ardisela. Kedua kuburan ini, hingga sekarang dijadikan sebagai pusat jiarah umat Islam, khususnya keturunannya dan para santrinya, pada setiap hari Jum’at. Sekarang di daerah Tuk telah di dibuka Majelis Taklim dan Madrasah Ibtidaiyah serta SMP NU atas prakarsa Kiyai Umar Anas dan tokoh/pemuka agama setempat antara lain Kiyai Kailani, A.L. Effendi, dan Kiyai Aqshol Amri Yusuf.

d) Mbah Muqayim di Setu Patok

Sejarah kehidupan mbah Muqayim juga ada kaitan erat dengan terbentuknya bendungan Setu Patok. Konon sejarah Kecirebon menyebutkan bahwa, ketika Kiyai Enthol Rujidnala, salah seorang sesepuh keturunan Pangeran Luwung, mengadakan sayembara menanggulangi banjir yang selalu melanda Desa Setu. Salah seorang peserta sayembara itu adalah mbah Muqayim. Dalam sayembara itu, mbah Muqayyim dengan kesungguh-annya berhasil mengeluarkan seutas benang dari jubahnya, kemudian benang itu direntangkannya: satu sisi berada di jubahnya dan satu sisi yang lain diikatkan pada sebatang patok. Dengan ijin Allah, rentangan benang tadi menjadi bendungan yang kuat untuk mencegah derasnya arus banjir. Di kemudian hari, bendungan tersebut terkenal dengan nama Waduk Setu Patok. Untuk menjalin keakraban, Kyai E. Rujidnala menikahkan putri satu-satunya yang bernama Rt. Randu-walang dengan mbah Muqayim.

e) Mbah Muqayim Seorang Riyadlah

Mbah Muqayim, di samping terkenal sebagai guru dan mufti juga dikenal sebagai seorang ahli Riyadlah. Ini dibuktikan dari suatu peristiwa bahwa untuk kewaspadaan dan penjagaan keselamatannya, beliau pernah berpuasa selama 12 tahun terus menerus memohon kepada Allah Swt. Untuk keselamatan bersama, puasanya terbagi sebagai berikut tiga tahun untuk keselamatan daerah Buntet Pesantren; tiga tahun untuk keselamatan anak cucunya; tiga tahun untuk keselamatan santri dan pengikutnya yang setia; dan tiga tahun untuk keselamatan dirinya.

2.  Raden Muhammad

Berdasarkan data di atas dapat dikemukakan bahwa, mbah Muqayim paling tidak memiliki dua istri yaitu: pertama ia menikah dengan putri Lebe Abd. Salam ketika ia bersama-sama para santrinya berada di Beji (Pemalang); kedua, ia menikah dengan Rt. Randuwalang (putri K.E. Rujidnala) ketika ia berhasil membuat bendungan atau waduk setu patok. Dimungkinkan bahwa, hasil pernikahannya dengan Rt. Randuwalang, lahir seorang putra yang bernama Raden Muhammad. Raden Muhammad punya seorang putri yang bernama Rt. St. Aisyah, yang kemudian menikah dengan Raden Muta’ad (dengan demikian, tidak banyak data tentang kehidupan Raden Muhammad, putra mbah Muqayim ini).

3.  Raden Muta’ad (1785-1842)

Raden Muta’ad dilahirkan pada 1785 M., putra Raden Muridin bin Raden Muhammad Nurudin (keturunan ke-17 dari Syarif Hidayatullah). Beliau adalah salah seorang santri yang terpandai dari mertuanya yaitu Raden Muhammad (anak tunggal mbah Muqayim). Beliau pernah belajar kepada KH. Muta’ad Musa’im Jepara di Pesantren Siwalan Panji Surabaya. Beliau pertama menikah dengan Nyai Rt. Aisyah (Nyai Lor)  dengan dikaruniai anak berputra 10 orang, yaitu: 1. Nyi Rokhilah, 2. Nyi. Amanah, 3. Nyi. Qoyyumah, 4. KH. Sholeh Zamzam, 5. Nyi.  Sholemah, 6. Abdul Jamil, 7. Kyai Fakhrurrazi, 8. Abdul Karim. Kemudian beliau menikah dengan Nyai Kidul (?) mendapat putra lima orang yaitu  1. Nyi Saodah, 2. KH. Abdul Muin, 3. K. Tarmidzi, 4. Nyi Hamimah, dan 5. KH. Abdul Mu’thi.

Putri pertama dari pernikahan K. Muta’ad dengan St. Aisyah yakni Nyi Rokhilah, dinikahkan dengan K Anwaruddin (yang terkenal dengan sebutan Ki Kriyan). Atas bantuan Ki Kriyan terhadap perkembangan Pondok Pesantren Buntet, sehingga Pondok Pesantren Buntet semakin berkembang. Berkat banutan Ki Kriyan juga, keadaan Pesantren Buntet bertambah mantap sehingga K. Muta’ad dapat mengadakan pembinaan-pembinaan ke dalam dan melakukan pembenahan terhadap seluruh hasil perjuangan mbah Muqayim. Jumlah santri semakin bertambah banyak, bangunan pondok mulai didirikan meskipun masih sangat sederhana. Prinsip dasar dan semboyan mbah Muqayim dalam menghadapi penjajah yaitu lebih baik memiliki bangunan dengan tiang dari pohon jarak tetapi hasil usaha sendiri, dari pada bangunan megah hadiah penjajah oleh K. Muta’ad selalu dijunjung tinggi dan tetap dipertahankan.

Peninggalan-peninggalan K. Muta’ad adalah, berupa kitab suci al-quran yang ditulis dengan tangannya sendiri, dan beberapa KK. Hingga kini, peninggalan-peninggalan itu masih tersimpan dengan baik dan merupakan bahan perpustakaan bagi Pondok Pesantren Buntet antara lain hasil tulisan tangan KH. Muta’ad sendiri dan hasil tulisan tangan KH. Anwaruddin (Ki Kriyan).

K. Muta’ad dalam membina dan memimpin Pondok Pesantren Buntet selalu bercermin kepada kepemimpinan mbah Muqayyim yang tidak pernah kompromi dengan tentara Belanda; Walaupun ia keturunan Keraton Cirebon, beliau berjiwa patriot dan anti kolonial, beliau juga salah seorang pejuang dan anti feodalisme; sebaliknya ia lebih memperhatikan nasib masyarakat banyak. Pernyataan ini ia buktikan dengan tidak menggunakan nama kebangsawanannya (sikap ini, ia mewariskan kepada anak cucunya), sebagai protes atas perilaku kakek neneknya yang bekerja sama dengan Belanda; malah justru sebaliknya, ia menyebarkan anak cucunya untuk mendirikan pondok pesantren di berbagai daerah antara lain di Gedongan (Pondok Pesantren Gedongan, melalui keturunan dari Ny. Maemunah) dan di Benda Kerep Kodia Cirebon (Pondok Pesantren Benda melalui keturunan dari KH. Tarmidzi).

Dampak secara langsung atas sikap dan perjuangannya yang selalu menentang tentara Belanda dan keteguhannya dalam menegakkan prinsip hidupnya itu, ia juga mengalami peristiwa sebagaimana yang dialami mbah Muqayim yaitu selalu dikejar-kejar, diawasi dan dirongrong tentara Belanda, baik jiwanya maupun pondok yang dipimpinnya. Melihat keadaan seperti ini, K. Muta’ad memindahkan lokasi pondoknya dari Desa Dawuan Sela ke Desa Mertapada Kulon (1 km ke arah timur). Inilah hasil usaha keras K. Muta’ad yang bersifat monumental dalam membina dan memimpin pondok pesantren Buntet. Salah satu alasan pemindahan lokasi pesantren Buntet, menurut KH. Shobih adalah karena tempat yang baru (Desa Mertapada Kulon) ini diberkahi Allah. melalui shalat istikharah yang dilakukannya (Wawancara, 19 Januari 1999).

Ketika ditanya mengapa nama pondok pesantren ini lebih terkenal sebagai pondok pesantren Buntet, padahal lokasinya berada di wilayah Desa Mertapada Kulon? KH. Shobih mengatakan,

Kata “Buntet” yang sekarang lebih dikenal dengan sebutan Buntet Pesantren, “wilayah kekuasaannya” meliputi Desa Buntet, Desa Mertapada Kulon, Desa Sida Mulya dan Desa Munjul. Karena itu, Desa Buntet merupakan bagian dari “wilayah kekuasaan” Buntet Pesantren. Adapun Pesantren Buntet yang ada di Desa Mertapada Kulon, adalah lembaga pendidikan Islam yang bernama “Buntet”. Mengapa demikian, karena nama “Buntet” lebih dulu ada jika dibandingkan dengan nama-nama desa yang ada di lingkungan Buntet Pesantren. Bahkan konon yang mendirikan desa-desa di lingkungan Buntet Pesantren adalah, para kiyai dan keluarga Buntet Pesantren”.

Pada 1842 K. Muta’ad meninggal dunia. Beliau meninggalkan dua orang istri yaitu Ny. Ratu St. Aisyah (Nyi Lor) dan Nyi Kidul (wanita berasal dari daerah Tuk, Lemahabang) dan beberapa keturunannya yang melanjutkan kepemimpinan pesantren Buntet. K Muta’ad dalam membina dan memimpin Pondok Pesantren Buntet berlangsung selama 57 tahun yaitu sejak 1785-1842.

4.  KH. Abdul Jamil (1842-1910).

Abdul Jamil adalah salah seorang putra K. H. Muta’ad dilahirkan pada tahun 1842 M Prinsip dasar pembinaan dan pengembangan Pondok Pesantren Buntet dilanjutkan dan perluas lagi sesuai dengan kondisi dan situasi kemajuan pendidikan saat itu. Pembangunan organisasi Pesantren Buntet, sistem pendidikan dan pengajaran, gedung-gedung asrama atau pondok diadakan dan diselenggarakan sesuai dengan kemampuannya. Pembagian tugas di dalam pesantren tersusun jelas dan tegas, pengajian KKdan pengajian khusus al-quran dilaksanakan sedemikian rupa, pengiriman-pengiriman tenaga kader pesantren baik dari “keluarga dalam” maupun pager sari dilaksanakan dengan baik, yaitu mengirimkan mereka ke beberapa pesantren terkenal di Jawa, luar Jawa bahkan ke Makkah dan Madinah dengan biaya sepenuhnya ditanggung oleh kyai.

Pembangunan mental dan spiritual dilaksanakan serentak dengan pembangunan fisik, oleh karenanya di samping membangun asrama atau pondok, masjid jami’, tempat-tempat pengajian umum thariqah sebagai suatu usaha mencari ketengangan dan ketenteraman jiwa dalam beribadah juga tumbuh dan berkembang dengan pesat. Thariqah mu’tabaroh yang tumbuh dan menjadi pegangan beliau khususnya dan para pembina Pesanten Buntet umumnya adalah thariqah syatariyah dengan jumlah pengikut yang cukup banyak hampir di seluruh pelosok tanah air.

K. Duljamil (demikian masyarakat setempat memanggilnya) tidak hanya terkenal sebagai guru ngaji dan ahli thariqat, beliau juga memiliki ilmu kanuragan sebagaimana dimiliki mbah Muqayyim. Salah satu bukti baliau memiliki ilmu kanuragan ialah, ketika di Jombang (Jawa Timur) terjadi kekacauan dan musibah menyebarnya wabah penyakit beliau diminta bantuannya oleh KH. Hasyim Asy’ari untuk meredakan kerkacauan itu. Atas kepercayaan itu, beliau berkenan berangkat memenuhi permintaan tersebut bersama-sama dengan kakaknya KH. Shaleh (Bendakerep, Kota Cirebon), KH. Abdullah (Panguragan, Arjawinangun), K. Syamsuri (Walantara, Cirebon Selatan) yang juga mendapat panggilan dari Khadratu Syeikh KH. Hasyim Asy’ari dari Tebuireng (Jawa Timur). Pada saat itu K. Abdul Jamil baru berusia 28 tahun (pada 1900 M).

Amaliah ilmiah yang bersifat monumental hingga kini masih diselenggarakan di Pondok Pesantren Buntet adalah K. Duljamil memprakarsai dislenggarakannya pengajian KK elementari dan tadarrus al-quran pada setiap bulan ramadlan. Pengajian KK elementari yang dilaksanakan pada bulan ramadlan ini kemudian dikenal dengan sebutan ngaji pasaran, waktunya setelah shalat dzuhur dan shalat ashar; sedangkan tadarrus al-quran dilaksanakan ba’da shalat taraweh dan menjelang shalat shubuh, dengan diisi bacaan-bacaan ayat al-quran oleh para santri dan qori kenamaan seperti KH. Shaleh Ma’mun (Banten), KH. Mansur Ma’mun dan KH. Syihabuddin. Pelaksanaan tugas sehari-hari selama bulan ramadlan ini adalah K. H. Abd. Muin, KH. Abdul Mu’thi, K. Tarmidzi, K. Mu’tamil, dan KH. Abdullah.

K. Abdul Jamil meninggal pada 23 Rabbiul Awwal 1339 H./ 1918 M  dimakamkan di Buntet Pesantren dengan meninggalkan dua orang istri yaitu Nyi. Sa’diyah binti Ki Kriyan (dari istri Nyi. Sri Lontang Jaya, Arjawinangun) dan Nyi. Qoriah binti KH. Syathori (Arjawinangun, Cirebon) serta 15 orang putra-putri yaitu 6 (enam) orang dari pernikahannya dengan Nyi. Sa’diyah (1.Nyai Syakiroh, 2. Nyai Mandah, 3. KH. A. Zahid, 4. Nyai Sri Marfuah,  5. Nyai Halimah dan 6. Nyi Hj. Madroh) dan 9 (sembilan) orang dari pernikahannya dengan Nyi Qoriah (1. KH. Abas, 2. KH. Anas, 3. KH. Ilyas, 4. Nyi. Hj. Zamrud, 5. KH. Akhyas, 6. K. Ahmad Chowas, 7. Nyi. Hj. Yakut, 8. Nyi. Mukminah dan 9. Nyi Nadroh). Sedangkan saudara sepupu lainnya yang bernama KH. Said, mendirikan Pesantren Gedongan (Ender, Astanajapura) dan KH. Saleh mendirikan Pesantren Bendakerep (Kota Cirebon).

Sifat-sifat beliau antara lain rendah hati tetapi berani dalam mempertahankan kebenaran dan keadilan, lapang dada dan berpandangan jauh ke depan, berfikiran tajam, bijaksana, pemurah, suka menolong, dan pemaaf K. Abdul Jamil memimpin Pesantren Buntet dari tahun 1842-1910.

  1. 4. KH. Abas Abdul Jamil (1910-1946)

Beliau adalah putra pertama KH. Abdul Jamil dari pernikahannya dengan Nyi. Qoriah, dilahirkan pada 24 Dzulhijjah 1300 H./1879 M di Pekalangan Cirebon. KH. Abas, belajar ilmu-ilmu keagamaan pertama sekali memperoleh bimbingan dari orang tuanya KH. Abdul Jamil, kemudian oleh orang tuanya dikirim ke K. Nasukha di Sukunsari (Plered), selanjutnya beliau belajar kepada K. Hasan (Jatisari, Majalengka),  kepada K. Ubaedah (Tegal) kepada KH. Hasyim Asyari (Tebuireng, Jombang), kepada KH. Wahab Hasbullah (Jawa Tengah), dan bersama KH. Abdul Manaf Lirboyo Kediri turut membuka Pondok Pesantren Lirboyo Kediri Jawa Timur. Setelah dianggap dewasa, beliau dikirim orang tuanya ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji, tetapi selama di Makkah beliau belajar kepada KH. Makhfudz Termas bersama KH. Bakir (Yogyakarta) dan KH. Abdillah (Surabaya) bahkan saat itu beliau telah memberikan pelajaran kepada para mukimin di Mekah dalam bidang ilmu fiqh; di antara santrinya  ialah KH. Kholil (Balerante, Palimanan), KH. Sulaiman (Babakan, Ciwaringin). Selama berada di Mekah, beliau tinggal di kediaman Syeikh Jabidi. Setelah kembali dari Makkah, beliau diserahi Pondok pesantren Buntet.

Sifat dan kepribadian ayahandanya diwarisi dan dimiliki KH. Abas. Pada tahapan ini pembangunan dan pemugaran pondok mengenai lokasi maupun konstruksinya baik yang bersifat rehabilitasi maupun pembangunan baru dimulai pada tahapan penerus. Organisasi dan administrasi pesantren Buntet disempurnakan dan pembagian tugas serta wewenang dipertegas penempatan tenaga sesuai dengan keahliannya pengiriman kader diperbanyak, tukar menukar tenaga guru dan santri pesantren lain dilaksanakan di tempatkannya tenaga sukarela di daerah-daerah diintensifkannya kepemimpinan-kepemimpinan dengan kepribadian yang luwes dapat mengangkat martabat Pesantren Buntet serta meletakkannya pada proforsi yang tepat di tengah-tengah tarikan dan gerakan-gerakan empat jaman yang paradoksal yaitu jaman penjajahan Belanda I, penjajahan Jepang, penjajahan Belanda II dan jaman kemerdekaan.

Pada tahapan penerus ini sistem pendidikan semakin ditingkatkan, begitu juga dengan teknik maupun metode. Sistem khas kepesantrenan, dilengkapi dengan sistem madrasah dengan maksud agar saling mengisi dan melengkapi di antara kedua sistem tersebut. Sistem pesantren yang memberikan keluasan kepada santri dalam menyelami KK lebih tinggi dan lebih luas, di samping itu sistem madrasah membuat santri akan mampu berfikir praktis, sistematis dan terarah dalam mewujudkan pola berfikir ilmiah pragmatis, orisinil dengan adanya integrasi dan toleransi antara kedua sistem tersebut.
Pendidikan khusus al-quran al-karim yang telah lama ada, mendapat perhatian utama dari beliau. Dengan cara khusus beliau mengutus beberapa orang untuk mempelajari seluk beluk bacaan ilmu qira’at dan tajwidnya sehingga hasilnya kelak dapat diterapkan dan dikembangkan di Buntet Pesantren. Pengiriman kader tersebut antara lain ke Pesantren Krapyak, Yogyakarta (KH. Munawwir), ke Banten (KH. Ma’mun) dan ke beberapa pesantren lainnya tetap dilaksanakan. Di samping memimpin pesantren, beliau juga memberikan pengajian KK di tingkat ‘ulya yaitu ilmu tafsir, hadits, tasawuf, fiqh, qira’ah sab’ah, dan ilmu pengetahuan lain yang bersifat khusus seperti ilmu falak, pengobatan, ataupun teknik beladiri.
Pondok Pesantren Buntet semakin lama semakin dikenal masyarakat, sehingga banyak yang masyarakat yang mengirimkan anak-anaknya untuk belajar keagamaan. Karena jumlah santrinya semakin banyak, sehingga pada masa itu dibangun beberapa pondok dan gedung-gedung lembaga pendidikan sekolah. Bangunan pondok dan gedung-gedung itu memperoleh bantuan dari masyarakat, misalnya tanah wakaf/jariyah dari H. Kafrawi (Kratagan Tanjung Brebes) dan jariyah tanah Ki Kuwu Gedung Gegesik untuk penyempurnaan Masjid Jami’ yang dalam pembangunannya dilaksanakan oleh H. Ali Graksan Cirebon.
Pada masa kepemimpinan KH. Abbbas, ngaji pasaran yang diselenggarakan pada Ramadhan, semakin diintensifkan. Begitu juga dengan ifthar (makan berbuka puasa) dan makan bersama pada sahur di bulan Ramadhan tetap dilakukan secara bersama-sama, bebas dan terbuka bersama masyarakat umum sebagaimana lajimnya dilakukan pada zaman ayahandanya. Bahkan pada setiap musim paceklik, beliau membuka dapur umum untuk menolong fuqoro dan masakin.
KH. Abbbas (sebagaimana orangtua dan kakeknya yang pejuang) hidup di empat zaman, beliau juga besama adiknya KH. Anas turut berjuang memanggul senjata dalam mempertahankan kedaulatan negara RI. Beliau bersama dengan adiknya memanggul senjata bersama para pejuang lainnya di tengah-tengah kancah peperangan pada 10 Nopember di Surabaya. Di samping itu, belia sebagai pemimpin Pesantren ia mengirimkan berapa orang santrinya ke Jakarta, Cianjur, Bekasi dan daerah-daerah lain dalam turut serta melawan penjajah sesudah penandatanganan persetujuan Linggarjati.
Sedangkan aktivitas dalam pergerakan nasional, KH. Abbas pernah dipercaya menjabat antara lain sebagai :

 

  1. Musytasyar PBNU,
  2. Ro’is Syuriah NU Cabang Cirebon
  3. Ketua Bagian Hukum Dagang Syariat Islam
  4. Turut mendirikan Putera PETA
  5. Anggota Sangi Kai (DPRD) dan Sangi In (DPR Pusat)
  6. Pimpinan Hisbullah dan Sabilillah
  7. Anggota KNIP wakil ulama Jawa Barat.
  8. Aktif di dalam gerakan-gerakan nasional lainnya

Dalam organisasi perjuangan umat Islam didirikan sabilillah sebagai reaksi spontan terhadap imperialis. Sabilillah merupakan barisan orang-orang tua yang cukup militan dan disegani. Dengan segala macam cara, mereka bergabung membentuk kekuatan yang tangguh dalam menghadapi pertempuran dengan penjajah. Sabilillah dipimpin langsung oleh KH. Abas dan KH. Anas dengan dibantu oleh beberapa sesepuh seperti KH. Murtadha, K H. Shaleh, KH. Mujahid, KH. A. Zahid, KH. Imam, KH. Zain, KH. Mustahdi Abas, KH. Mustami’ Abas, KH. Khawi, K. Busyol Karim dan lain-lain.

Organisasi perjuangan umat Islam pada revolusi fisik menampung kekuatan angkatan muda Islam dalam Hisbullah untuk melawan Belanda. Latihan-latihan dan pengalaman-pengalaman yang diperoleh banyak diperoleh dalam Peta “Pembela Tanah Air”. Hisbullah dipimpin KH Hasyim Anwar dan KH. Abdullah Abas. KH. Abdullah Abas sekarang ini dianggap sebagai sesepuh pondok pesan-tren Buntet yang dijadikan tempat konsultasi dalam pengelolaan dan penyeleng-garaan pendidikan  di pondok pesantren Buntet. Adapun penyelenggaraan pendi-dikan yang ada di Pesantren Buntet, dikelola oleh sebuah badan yang bernama Lembaga Pendidikan Islam (LPI) dengan struktur organisasi sebagai berikut:

Lembaga Pendidikan Islam (LPI) dipimpin oleh seorang ketua yang dipimpin yaitu KH. Abdul Hamid Anas yang membawahi seksi-seksi pendidikan pesantren, pendidikan madrasah, organisasi dan administrasi, kerohanian, kepemudaan, Ikatan Alumni Pondok Pesantren, Lurah pondok dan Ketua Asrama. Keberadaan LPI ini berfungsi menginte-grasikan dan mengokohkan kinerja lembaga-lembaga pendidikan yang ada di lingkungan pondok pesantren Buntet.

KH. Abbas Abdul Jamil meninggal dunia pada Ahad, 1 Rabiul Awwal 1365 H./1946 M dalam usia 62 tahun dan dimakamkan di komplek Pesantren Buntet. Beliau meninggalkan dua orang istri (Nyi Hafidzoh dan Nyi Hj. Imanah) dan 5 (lima) orang putra yakni lima putra dari pernikahannya dengan Nyi Hafidzoh (1. KH. Mustahdi Abbas, 2. KH. Mustamid Abbas, 3. KH. Abdurrazak dan 4. Nyi Sumaryam) dan 2 (dua) orang anak dari pernikahannya dengan Nyi Hj. Imanah yaitu KH. Abdullah Abbas. Putra beliau yang termuda H. Nahduddin Abas sampai saat ini masih studi di London (Inggris) setelah menyelesaikan belajar di Saudi Arabia dengan dua orang cucu KH. Abas yaitu Ghozi Mujahid (putra KH. Mujahid) dan Jailani Imam (putra KH. Imam). Setelah beliau meninggal, kepimpinan Pesantren Buntet dilanjutkan oleh salah seorang putranya yaitu KH. Mustahdi Abas yang dibantu adiknya KH. Mustamid Abas.

KH. Mustahdi Abbas (1946-1975); KH. Mustamid Abbas (1976-1989) dan sekarang pondok pesantren Buntet dipimpin KH. Abdullah Abbas.

b. Perkembangan Lembaga-lembaga Pendidikan

Tidak diperoleh data akurat yang dapat dijadikan rujukan tentang ba-gaimana proses pendidikan yang berlangsung, sarana dan fasilitas apa yang dipergunakan dan siapa-siapa yang turut membantu dalam membina santrinya ketika pondok pesantren Buntet berlokasi di Desa Dawuan Sela; hal ini karena kepemimpinan mbah Muqayim lebih terfokus kepada bagaimana ia sebisa mungkin dapat mengamalkan ilmu keagamaannya kepada masyarakat terutama keluarganya sendiri walaupun keamanan dirinya dan keluarganya selalu dikejar-kejar tentara Belanda. Karena itu, data yang dihimpun melalui tulisan ini adalah data dan informasi tentang keadaan Buntet Pesantren di Desa Mertapada Kulon yaitu tepatnya ketika pondok pesantren dipimpin K. Muata’ad dan generasi penerusnya.

Data tertulis menunjukkan bahwa, Pondok Pesantren Buntet mulai ada perkembangan adalah pada periode kepemimpinan KH. Abdul Jamil (1842-1910) yaitu ketika pertamakali beliau memperbaiki sarana fasilitas yang telah dianggap rapuh, penyusunan jadwal pengajian, penambahan cara atau metode pengajaraan KK yaitu tidak hanya meng-gunakan metode tradisional seperti metode sorogan dan bandongan tetapi dikembangkan juga cara atau metode lain seperti mujadalah (diskusi) bahkan pada saat itu dikembangkan juga sistem klasikal (madrasi).

Perkembangan berikutnya, sistem madrasi atau sistem persekolahan diformalkan pada saat KH. Abbas Abdul Jamil memimpin Pondok Pesantren Buntet pada 1910-1946, yaitu dengan membuka lembaga pendidikan sekolah dalam bentuk Madrasah Wajib Belajar (MWB), setingkat Taman Kanan Kanak (TK) yang terdiri dari sifir I dan sifir II. Sebagai kelanjutan dari MWB, KH. Abbas Abdul Jamil juga mendirikan Madrasah Watha-niyah Ibtidaiyah (MWI) I setingkat SD. Pada tahun yang sama, KH. Abbas Abdul Jamil juga menerapkan spesialisasi bidang ilmu bagi kiyai maupun ustadz yang mengajar di pondok atau di madrasah yang ada di pesantren Buntet. Perubahan yang dilakukan KH. Abbas Abdul Jamil tidak hanya membenahi sarana dan fasilitas, santri yang tampak cerdas dan memiliki kelebihan juga memperoleh perhatian khusus yaitu diberikan biaya untuk melanjutkan ke Makkah atau Madinah.

Pada tahun 1960-an, ketika KH. Mustahdi Abbas memimpin pesantren Buntet, dibuka MTs Putra (Muallimin) dan MTs Putri (Muallimat) sebagai kelanjutan dari MIW. Pada perkembangan berikutnya, MTs Putra dan Putri ini berubah menjadi Pendidikan Guru Agama (PGA) Putra dan Putri yang masa belajarnya empat tahun (tapi ujian negaranya mengikuti MTs N yang masa belajarnya tiga tahun). Sebagai kelanjutan dari MTs/ PGA Putra dan Putri, KH. Mustahdi Abbad (kepemimpinan periode 1946-1975) sebagai pembina pesantren Buntet memprakarsai berdirinya Madrasah Aliyah (MA) Putra dan Putri pada 1968 yang kemudian pada 1971 MA Putra dan Putri ini dinegerikan menjadi Madrasah Aliyah Agama Islam Negeri (MAAIN). MAAIN seluruh Indonesia (termasuk MAAIN Buntet) berdasarkan SK Menag berubah menjadi Madrasah Aliyah Negeri atau MAN.

Dengan demikian, pesantren Buntet selama tiga dasawarsa (1946-1979) telah mengalami perubahan dan pembaharuan yang sangat pesat terutama dalam bidang pendidikan sekolah yakni sejak diprakarsai MWB kemudian MIW, dilanjutkan berdirinya MTs Muallimin dan muallimat dan terakhir MA yang kemudian dinegerikan menjadi MAN. Kenyataan ini menunjukkan bahwa, kiyai dan para pembina pesantren Buntet selalu berupaya meningkatkan dan memikirkan bentuk dan jenis pendidikan yang sesuai dengan kemauan dan perkembangan jaman.

Perkembangan dan kemajuan sains dan teknologi semakin pesat, sementara lembaga-lembaga pendidikan sekolah yang ada di pesantren Buntet dinilai selalu ketinggalan. Untuk menghadapi kenyataan ini, pengelola Pondok Pesantren Buntet selalu berupaya menyesuaikan diri yaitu dengan tetap berpegang kepada nilai-nilai lama yang baik dan mengambil hikmah atau pelajaran dari perkembangan jaman itu yang dianggap lebih baik untuk selanjutnya dipertimbangkan sebagai suatu model dan program lembaga dalam menyongsong masa depan.

Salah satu upaya yang dilakukan pengelola pesantren Buntet, agar semua aset dan kegiatan yang telah berlangsung tetap berjalan tetapi mampu mengikuti jaman adalah, kiyai beserta para pembina lainnya bersepakat untuk mendirikan suatu wadah ter-organisasi yang diharapkan akan mampu menjadi mediator antara pesantren dengan masyarakat ataupun dengan pemerintah. Wadah dimaksud adalah Yayasan Pendidikan Islam (YPI) yang didirikan pada 29 Juni 1992 dengan Akte Notaris no. 71.

YPI memiliki aset tanah dan bangunan yang ada di kompleks Buntet Pesantren yang telah disertifikat berjumlah 1,6 ha; jika digabungkan dengan tanah milik para kiyai yang ada di komplek Buntet pesantren, maka berjumlah kurang lebih 4 atau 5 ha. Melalui YPI, semua bentuk kegiatan kependidikan (sekolah maupun luar sekolah), kemasyarakatan maupun kepesantrenan dilindungi secara formal; karena semua bentuk program dan kegiatan yang ada, selalu berdasarkan perencanaan dan kesepakatan pengurus Yayasan. Di dalam Yayasan ini juga ditetapkan, semua kegiatan yang bersifat kependidikan diselenggarakan melalui Lembaga Pendidikan Islam (LPI). Dengan demikian, di pesantren Buntet terdapat dua badan penyelenggara pendidikan yaitu YPI dan LPI. Program-program YPI bersifat menyeluruh (universal), termasuk program-program LPI; sedangkan program-program LPI bersifat internal terutama masalah kependidikan yang ada di lingkungan pesantren Buntet.

Kepengurusan Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Buntet Pesantren untuk Periode 1989 hingga sekarang adalah,

A. Pelindung

  1. Bupati Cirebon
  2. Komando Korem 063 SGD Cirebon
  3. Ka Kapolwil Cirebon
  4. Wali kota Cirebon

B. Dewan Pembina

  1. Menhankam RI
  2. Mayjen TNI L. Banser, SH
  3. 3. Mayjen TNI Achfas Mufti

C. Dewan Pembina

  1. KH. Abdullah Abbas
  2. KH. Nahduddin Royandi Annas
  3. KH. Djunaedi Annas
  4. KH. Abdul Jamil
  5. KH. MA. Fuad Hasyim
  6. KH. Abdul Hamid Annas
  7. Prof. Dr. Achmad Djaeni S
  8. Dr. Ir. Badruddin Mahdub
  9. KH. Abdullah Syifa

D. Badan Pengurus Harian

1. Ketua                            : KH. H. Abdul Aziz Achyadi

2. Wakil Ketua I              : KH. A. Abas Shobih Mustahdi

3. Wakil Ketua II                        : Drs. KH. Fahmi Royandi

4. Wakil Ketua III           : Drs. H. Anis mansur

5. Sekretaris                     : Moh. Anis Wahdi Mustahdi

6. Wakil Sekretaris I       : H. Sholeh Suhaedi

7. Wakil Sekretaris II      : Ubaidillah Arif, BA

8. Bendahara                   : Abdullah Ajaib, BA

9. Wakil Bendahara I     : H. Maman Amin

10.Wkl. Bendahara II     : Drs. Habil Ghoman

11. Wkl. Bendahara III  : KH. Ahmad Athoillah

E. Badan-badan Lain

  1. Himpunan Warga Muda Buntet Pesantren (HWMPB)

Ketua, Drs. KH. Hasanuddin Kriyani

  1. Ikatan Pelajar Pesantren Buntet (IPPB)

Ketua, Moh. Abbas Billy Yahsri

3. Keadaan Kiyai dan Santri

a. Kiyai dan Asaatidz

Kiyai yang ada di komplek Buntet pesantren dapat dikelompokkan ke dalam dua kelompok yaitu, kiyai pendatang dan kiyai keturunan mbah Muqayim. Kiyai pendatang adalah mereka yang bukan penduduk atau bukan keturunan mbah Muqayim, melainkan santri atau orang lain yang karena memiliki keahlian tertentu terutama berkemampuan dalam menguasai dan memahami KK sehingga dijadikan menantu kiyai. Sedangkan kiyai keturunan mbah Muqayim adalah mereka yang secara langsung atau tidak langsung, ada garis keturunan dengan mbah Muqayim baik yang ada di dalam mau pun yang ada di luar komplek  pondok pesantren Buntet seperti antara lain kiyai yang ada di pondok pesantren Gedongan, pesantren Munjul. Pengelompokkan ini didasarkan atas pertimbangan faktor psikologis dan sosiologis yang dilakukannya dalam upaya memajukan pendidikan di pondok pesantren Buntet.

Data menunjukkan, secara keseluruhan, kiyai yang ada di komplek Buntet Pesantren adalah berjumlah 50 orang dengan latar belakang pendidikan dan keahlian sebagai berikut: empat orang pengajar KK takhasus (nahw, sharaf, mantiq dan balaghah), empat orang pengajar KK tafsir dan ‘ulum al-tafsir, tujuh kiyai pengajar KK ilmu hikam (tasawwuf) selebihnya pengajar KK dalam bidang fiqh. Kiyai yang memiliki santri, dalam membina santrinya dibantu atau memiliki beberapa ustadz sebagai qayyim (assisten). Di pondok pesantren Buntet terdapat 37 asrama atau pondok, 38,54 % pondok yang ada di Kabupaten Cirebon terpusat di Pesantren Buntet. Dari ke-37 asrama tersebut, yang memiliki 100 orang santri lebih ada enam asrama dan 31 asrama yang memiliki kapasitas di bawah 100 orang santri. Untuk lebih jelasnya keberadaan Pondok Pesantren di Buntet dapat dilihat pada tabel berikut ini:

TABEL 1
KEADAAN PONDOK PESANTREN DI BUNTET
No Nama Doktren Nama Pengasuh Jml Kmr L P Jml
1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10.

11.

12.

13.

14.

15.

16.

17.

18.

19.

20.

21.

22.

23.

24.

25.

26.

27.

28.

29.

30.

31.

32.

33.

34.

35.

36.

37.

Al-Himah

Al-Inaroh

Al-Kautsar

Falahiya Futuhiyah

Al-Inayah

Al-Ma’mun

Darul Hijroh

Al-Falah

Asyakiroh

Al-Firdaus

Al-Mustahdiyah

Al-Ishlah

NadwatulUmmah

Al-Istiqomah

Subaniyatul Islami

Habbil Ilmi

Al-Anwar

An-Noor

Al-Khiyaroh

Al-Hikmah

Daru Amanah

Al-Mutaba

Darus Salam

Al-Hidayah

Al-Huda

Nadwatul Banin

Al-Murtado

Al-Khoir

Al-Hikmah

Darul Hijroh

Al-Muafi

Riyadus Sholihin

Nurushobah

Azzanidi

Assalam

Al-Tobari

Al-Amir

K. Majdudin BK

K. Adib Rafiuddin

K.H. Nu’man Zen

K. Abd Hamis A.

K. H. Abd. Syifa

K. Yusuf Ma’mun

K. Fahim Royandi

K. Abd. Basith Z.

K. Hasanuddin K.

K. Fachruddin BK

K. Abas Shobieh

K.Zuhdi Makhfud

K. Fuad Hasyim

K. Abdullah Abas

K.Baedlowi Yusuf

K.H. Abdul Jamil

Ust. H Jachus

Turmudzi Noor

M. Faridz M.Z.

Salman al-Farisi

Ust.H. Imadudin

Ust. Cecep N.

Ust. Ahmad Rifqi

Ust. Jaelani Imam

K.H. Ahmad Ja’far

H. Anis Mansur.

Ust. Fahmi FM.

K.H. Ali Maufur

K. A Mursyain

K.H.A. Tijani

Ust. Matin

Ust. Jawahir Juha

Ust. Rofi’I

Hj. Qurraotul Ain

K.H. Abdussalam

Thabroni Muta’ad

K.H. Amiruddin

10

19

1

10

2

7

12

6

12

20

35

4

20

10

14

1

18

3

13

17

4

12

6

2

5

17

2

3

10

15

4

3

4

2

2

1

5

40

90

9

39

5

30

33

29

60

60

67

10

150

-

26

5

19

13

30

23

13

23

15

6

2

74

6

16

27

30

11

6

11

3

2

14

39

-

60

-

30

-

18

28

17

46

45

43

3

30

43

36

-

49

4

30

33

12

44

15

2

3

70

2

4

10

41

11

4

17

11

4

-

2

40

150

9

69

5

48

61

46

106

105

110

13

180

43

62

5

68

17

60

56

25

67

30

8

5

144

8

20

37

71

22

10

28

14

6

14

41

Hasil wawancara dengan KH. A. Shobih diperoleh keterangan bahwa, “Ketentuan yang telah disepakati bersama antar kiyai pada 1982 adalah, setiap asrama seyogianya dibantu lima orang ustadz baik dari lingkungan sendiri ataupun mendatangkan dari asrama lain” (Wawancara, 14-02-1999). Karena itu, ustadz yang ada di komplek Buntet Pesantren berjumlah 170 orang ustadz. Tugas ustadz, selain mengajarkan dasar-dasar al-quran dan KK dasar seperti kitab sufinah al-najah, sulam al-taufiq, tijan al-dharara; khairun al-nisa, tajwid, ‘awamil atau al-jurumiyah, juga membimbing santri dalam berbagai bentuk keterampilan seperti belajar khithabah (berpidato), berorganisasi atau kepemimpinan.

Dengan demikian, jumlah kiyai dan asatidz Pesantren Buntet adalah 217 orang. Untuk lebih jelas mengetahui jumlah dan potensi kiyai atau asatidz serta peran yang dilakukannya dalam upaya memajukan pesantren Buntet, dapat dilihat pada tabel berikut,

Tabel 2

LATAR BELAKANG PENDIDIKAN DAN SPESIALISASI

ILMU KIYAI BUNTET

No

N  a  m  a

Usia

Lulusan dari

Spesialisasi  
01

02

03

04

05

06

07

08

09

10

11

12

13

14

15

16

17

18

19

20

21

22

23

24

25

26

27

28

30

31

32

33

34

35

36

37

38

39

40

41

42

43.

44.

45.

46.

47.

47.

49.

50.

51.

KH Abdullah Abas

KH Nahduddin Abas

KH Abdullah Jamil

KH MA Fuad Hasyim

KH Abd Hamid Anas

Prof Dr Achmad Djaeni

Dr Ir Badruddin M

KH Abdullah Syifa

Drs H Abd Aziz Ahyadi

KH A Abas Shobih M

Drs H Anis Mansur

Moh Anis Wahdi M

H Sholeh Suaedi

Ubaidillah Arif, BA

Abdullah Ajaib, BA

H Hamam Amin

Drs Habil Ghoman

KH Ahmad Athoillah

Drs KH Fahim Khowi

KH Imam Mujahid

KH Hasanudin Kriyani

KH Nuqman Zaen

Drs KH Adib Rafiuddin

KH Abdul Bashit

Drs KH Luthfi Hisyam

KH Ali Maufur

KH Badlowi Yusuf

KH Faqih Kriyani

KH Cecep Nidzomudin

Drs Yusuf Ma’mun

KH Thobroni

KH Zuhdi

KH Najmuddin

KH Fachruddin M

KH Hasanuddin Busrol

KH Salim Efendi

KH Agus Salim

Ny. Hj Sukaenah Chowi

Ny Hj Khothimah N

Ny Hj Ro’fah Fuad Zen

Ny Bunayah

Ny Hj Hannah

KH Abdullah Achyadi

KH Ahmad Syatori

KH. Hasyim

KH. Ahmad Tijani

KH. Abu Nashor

KH Abdullah Syifa

KH. Moh. Jirjis

KH. Amir Abkari

68

65

58

57

52

55

52

67

55

44

38

35

35

36

48

56

30

53

48

52

54

57

34

35

36

48

56

51

31

50

46

47

52

60

57

50

72

70

49

46

48

49

PP Lirboyo, Jatim

PP Buntet, Cirebon

PP Buntet, Cirebon

PP Benda, Cirebon

PP Lasem, Jateng

PP Buntet, Cirebon

PP Buntet, Cirebon

PP Lirboyo, Jatim

PP Buntet, Cirebon

Darul Ulum, Mkh

PP Buntet, Cirebon

PP Buntet, Cirebon

Al-Azhar, Mesir

PP Buntet, Cirebon

PP Buntet, Cirebon

PP Lirboyo, Jatim

PP Buntet, Cirebon

PP Lirboyo, Jatim

PP Krapyak, Yogya

PP Lirboyo, Jatim

PP Krapyak, Yogya

PP Lirboyo, Jatim

PP Sarang, Smg

PP Sarang, Smg

PP Gedongan, Crb

PP Sarang, Smg.

PP Kediri, Jatim

PP Krapyak

PP Lirboyo, Jatim

PP Buntet, Cirebon

PP Sarang, Smg

PP Buntet, Cirebon

PP Buntet, Cirebon

PP Lirboyo, Jatim

PP Lirboyo, Jatim

PP Buntet, Cirebon

PP Pemalang

PP Buntet, Cirebon

PP Buntet, Cirebon

PP Buntet, Cirebon

PP Buntet, Cirebon

PP Buntet, Cirebon

Ilmu Hikam

Di London

Fiqh

Tafsir

Fiqh, tafsir

Di Jakarta

Di Jakarta

Tafsir

Al-Quran

Fiqh

Fiqh

Fiqh

Fiqh

Fiqh

Fiqh

Fiqh

Fiqh

Thariqah

Fiqh

Fiqh

Fiqh

Fiqh

‘Ilm Nahw

Fiqh

Hadits

Tasawwuf

Fiqh

Fiqh

‘Ilm Nahw

‘Ilm Nahw

Fiqh

‘Ilm Nahw

Thariqah

‘Ilm Hikmah

Thariqah

Tasawwuf

Al-Quran

Al-Quran

Al-Quran

Al-Quran

Al-Quran

Sumber Data: PP Buntet, 1998

Data di atas jika diperhatikan dari segi usia, maka dari 51 orang kiyai yang ada di pondok pesantren Buntet sebagian besar (92 %) atau 43 orang adalah “kiyai tua” yang usianya di atas 40 tahun dan hanya sembilan orang (8 %) saja yang termasuk “kiyai muda” yang usianya di bawah 40 tahun. Ini menunjukkan bahwa, Pesantren Buntet dibimbing dan dibina oleh para kiyai atau pembina yang telah memiliki pengetahuan keagamaan yang mendalaman sesuai dengan bidang pengetahuannya.

Jika dilihat dari latar belakang pendidikan, sebagain besar (25 orang) adalah alumnus Pesantren Buntet atau belajar pada orang tua/keluarganya baik di Pondok Pesantren Gedongan dan Pondok Pesantren Benda yang kemudian melanjutkan ke Universitas Darul Ulum (Arab), ke Universitas Al-Azhar, ke London atau ke Perancis; delapan orang Kiyai alumnus Pesantren di Sarang, Pesantren Lasem, Pondok Pesantren Krapyak (Yogyakarta) dan sembilan orang kiyai alumnus Pondok Pesantren Lirboyo dan Pondok Pesantren Kediri.

Kenyataan di atas mencerminkan bahwa, pembinaan yang dilakukan para kiyai di Pondok Pesantren Buntet bersifat turun temurun atau “alih generasi” dalam upaya menjaga dan melanjutkan perjuangan para orang tuanya. Pernyataan ini dapat dilihat dari sistem kepemimpinan di Pondok Pesantren Buntet yang mirip seperti sistem kerajaan sebagaimana gambar di bawah ini,

GAMBAR 3

SISTEM KEPEMIMPINAN DI PESANTREN BUNTET

I.  Ny. Ratu St. Aisyah   + K. Muta’ad +   II.  Ny. St. Saodah

(Periode II (1785-1842)

(1) Ny. Maemunah             (2) KH. Abdul Jamil (3) K. Tarmidzi

Periode III (1842-1910)

I. Ny. Hj. Koriah +    II. Ny. Hj.  Sa’diyah

(1)   KH. Abbas Abd Jamil

(Periode IV, 1910-1946)                                         (1) Ny. Hj. Syakiroh

(2) KH. Annas Abd. Jamil                           (2) Ny. Hj. Hamdah

(3) KH. Akyas Abd. Jamil                            (3) KH. A. Zahid

(4) KH. A. Chowas Abd. Jamil                               (4) Ny. Hj. Sri

(5) Ny. Hj. Mu’minah                                              (5) Ny. Hj. Chalimah

(6) Ny. Hj. Zamrut                                       (6) Ny. Hj. Nadroh

I. Ny. Hj. Hafidzoh      +       II. Ny. Hj. Imamah

(1) KH. Mustahdi Abbas (Periode V, 1946-1975)

(2) KH. Mustamid Abbas (Periode VI, 1975-1989)

(3) KH. Abdurrazak Abbas (1) KH. Abdullah Abbas

(Periode VII,1989-

(4) Ny. Hj. Maryam              (2) KH. Nahduddin Abbas

Gambar di atas menggambarkan bahwa, sistem kepemimpinan yang berlangsung di Pondok Pesantren Buntet adalah sistem “alih generasi”. Dimaksud bahwa sistem kepemimpinan yang berlangsung di Pondok Pesantren Buntet mirip seperti sistem kerajaan, dapat diperhatikan dari cara “alih generasi” yang selalu turun temurun dari keturunan istri pertama. Kecuali pada Periode VII (1989 – sekarang) yang agak berbeda yaitu kepemimpinan Pesantren Buntet dipimpin KH. Abdullah Abbas padahal beliau adalah keturunan dari istri kedua dari KH. Abbas Abdul Jamil.

Sistem kepemimpinan yang berlangsung di Pondok Pesantren Buntet seperti sistem kerajaan, adalah wajar jika dipelajari dari terbentuknya masyarakat Buntet. Masyarakat Buntet Pesantren adalah keturunan langsung dari Keraton Cirebon yaitu hasil dari perkawinan antara K. Muta’ad (K. Raden Muta’ad) dengan Ny. St. Aisyah (Ratu St. Aisyah), di mana K. Muta’ad dan St. Aisyah adalah keturunan dari Kesultanan Cirebon. Karena itu sangat wajar jika sistem Kesultanan (kerajaan) Cirebon terjadi juga pada sistem kepemimpinan di Pondok Pesantren Buntet.

Perlu dikemukakan bahwa, kepemimpinan di pondok pesantren Buntet pada masa K. Muta’ad merupakan Periode II, karena itu merupakan kelanjutan dari kepemimpinan pada Periode I dipimpin mbah Muqayyim yang berlangsung dari 1758-1782. Tapi bisa juga kepemimpinan K. Muta’ad merupakan Periode I, jika dipelajari dari permulaan sistem kepemimpinan di pondok pesantren Buntet sebab kepemimpinan mbah Muqayyim (Periode I) berlangsung di Dawuan Sela.  

b. Keadaan Santri

Santri Pesantren Buntet adalah, para pelajar dan mahasiswa yang tinggal di asrama besar ataupun di rumah-rumah kiyai yang ada di komplek Buntet Pesantren. Karena itu, pelajar atau mahasiswa yang tidak mondok di komplek “Buntet Pesantren” tidak termasuk santri pondok pesantren Buntet. Pada saat penelitian ini dilakukan, jumlah santri Pesantren Buntet adalah 1.496 orang santri terdiri dari 908 orang santri pria dan 588 orang santri wanita. Sebagian besar adalah para pelajar dan mahasiswa AKPER yang mesantren di asrama atau rumah kiyai.

Kaitannya dengan keadaan santri yang sekarang lebih bayak tinggal di rumah kiyai, Drs. Chambali (Dosen STAIN Cirebon) yang pernah mesantren di pondok pesantren Buntet mengemukakan,

Maraknya santri yang tinggal di rumah-rumah kiyai terjadi pada saat menjelang Pemilu 1982 dan berlangsung hingga sekarang. Santri (pondok pesantren) Buntet sebelum Pemilu adalah santri (yang tinggal di) asrama. Saat itu pengajian KK berlangsung di Masjid Jami’ dengan jadwal pengajian ditentukan oleh pengurus pondok. KH. Mustahdi yang dipercaya sebagai kiyai sepuh, menentukan kiyai yang akan menyampaikan KK di masjid jami’ disesuaikan disiplin ilmunya dan para kiyai yang ditunjuknya pun mentaati perintah kiyai sepuhnya itu. Contohnya KH. Fuad Hasyim, dari dulu hingga sekarang menyampaikan KK yang sama (Kitab Tafsir al-Jalaen) kecuali bulan ramadlan beliau mengajarkan beberapa KK. Tapi setelah Pemilu 1982, santri Buntet terpisah-pisah sebagian ada yang tinggal di rumah/asrama kiyai yang aktif di Golkar sebagian yang lain tinggal di rumah atau asrama kiyai yang aktif di PPP. Karena itu, mereka belajar KK sesuai dengan jadwal yang ada di asrama kiyainya dan fungsi masjid jami’ pun kini hanya sebagai tempat shalat fardlu dan tidak lagi sebagai pusat pengajian KK seperti dulu (Wawancara, 24 Januari 1999).

Pernyataan tersebut di atas, menurut KH. A. Shobih (putra KH. Mustahdi yang pernah belajar di Makkah selama beberapa tahun ini), tidak seluruhnya benar. Menurutnya,

Berpindahnya para santri dari asrama besar ke rumah-rumah kiyai, salah satunya adalah kapasitas dan fasilitas yang dimiliki asrama besar hanya mampu menampung santri di bawah 1000 orang, padahal masyarakat yang ingin mesantrenkan anaknya ke (pondok pesantren) Buntet setiap tahun jumlahnya meningkat. Tentang Masjid Jami’ yang tidak lagi berfungsi sebagai pusat pengajian KK, sebenarnya telah diusahakan untuk mengembalikan keadaan seperti dulu tapi suasananya sudah tidak memungkinkan lagi. Pernah juga diusahakan dalam bentuk lain yaitu, kiyai yang memiliki santri dalam mengajarkan KKnya bekerja sama dengan kiyai lain sesuai dengan disiplin ilmunya masing-masing, sehingga santri dapat mengikuti pengajian KK dari kiyai lain (Wawancara, 14 Pebruari 1999).

Hasil wawancara di atas menunjukkan bahwa, santri pondok pesantren Buntet adalah mereka yang tinggal di rumah-rumah kiyai; mereka belajar dan memperoleh pengawasan kiyai. Kenyataan ini berbeda dengan keadaan santri di beberapa pondok pesantren tradisional lain yang biasanya tinggal secara mandiri di pondok pesantren.

Santri pondok pesantren Buntet, menurut Drs. H. Anis Mansur, jika dilihat dari statusnya, maka dapat dikelompokkan ke dalam tiga kelompok yaitu 1) santri muqim (yang tinggal di asrama), 2) santri rumah dan 3) santri dalem.

Santri Muqim yaitu, mereka yang tinggal di asrama besar (asbes) yang ada di komplek Buntet pesantren. Untuk tinggal di asrama besar, mereka wajib mentaati semua paraturan yang dibuat oleh pimpinan asrama; mereka harus mengikuti semua kegiatan yang dilaksanakan di lingkungan asrama; mereka diwajibkan membayar uang administrasi (bagi yang baru masuk) dan uang asrama, uang iuran madrasah yang dimasukinya, iuran asrama, iuran Kopontren, masak dan mencuci sendiri di dapur umum (yang ada di lingkungan asramanya). Jadi, santri muqim adalah mereka yang hidup secara mandiri bersama-sama dengan sesamanya dengan memperoleh bimbingan dari santri seniornya.

Santri Rumah ialah mereka yang tinggal di rumah-rumah kiyai. Mereka harus mengikuti semua kegiatan yang dilaksanakan di lingkungan rumah kiyai; mereka dikenakan uang administrasi (bagi santri baru) dan “uang bulanan” yang besarnya sangat bervariasi dengan rincian adalah uang asrama, uang makan, uang iuran madrasah/sekolah dan uang harian bahkan uang transport. Kaitannya dengan uang madrasah atau sekolah, uang harian dan uang transport ini terlebih dahulu dikumpulkan kiyai dan kelak ketika akan pergunakan, maka uang tersebut akan diberikannya. Dengan demikian, karena santri rumah membayar uang makan sehingga mereka tidak memasak sendiri melainkan dimasakkan oleh pemasak (orang lain atau santri yang tidak mampu) yang secara sengaja bertugas untuk memasak.

Santri Dalem ialah, mereka (anak yatim-piyatu atau anak terlantar) yang orang tuanya tidak mampu membiayai anak-anaknya untuk belajar tetapi berkeinginan kuat agar anak-anaknya dapat memasuki lembaga pendi-dikan madrasah ataupun mesantren. Santri dalem, biasanya tinggal atau turut serta dengan/di rumah kiyai (sebagai santri rumah). Karena mereka tidak membayar apapun, maka ia diberi pekerjaan seperti memasak untuk santri lain termasuk dia; menjadi tukang kebun, memelihara ternak atau hewan atau menjaga toko milik kiyai/keluarganya. Di lingkungan asramanya, mereka diperlakukan dan diperhatikan sama sebagaimana santri lainnya, hanya saja mereka tidak dimintai iuran asrama ataupun iuran madrasah (Wawancara, 19 Januari 1999)

Jika dilihat dari tempat tinggalnya, masih menurut Drs. H. Anis Mansur, sebagian besar santri di Pesantren Buntet adalah santri muqim yaitu mereka yang tinggal (untuk jangka waktu tertentu) di asrama besar ataupun di rumah-rumah kiyai. Dari 1.496 orang santri, 124 orang di antaranya adalah santri kalong (berasal dari daerah tetangga Buntet pesantren) yang mengikuti pengajian al-quran atau KK dasar, selebihnya adalah mereka yang datang dari berbagai daerah, sebagian besar berasal dari Jawa Barat khususnya wilayah III Cirebon (Kota/Kabupaten Cirebon, Majalengka, Kuningan dan Indramayu), selebihnya ada yang datang dari daerah Priyangan Timur yaitu Ciamis, Tasikmalaya dan Sumedang, dari Jawa Tengah (Pekalongan, Tegal, Brebes dan Purwokerto), DKI Jakarta, Lampung, Sumatera Utara bahkan ada empat orang santri yang berasal dari Timor Timur. Kaitannya dengan latar belakang daerah asal santri dapat dilihat pada tabel di bawah ini,

TABEL 3

LATAR BELAKANG DAERAH SANTRI PESANTREN BUNTET

No. Asal Daerah Pria Wanita
1. Tegal 93 59
2. Indramayu 116 120
3. Subang 41 16
4. Jakarta 159 92
5. Bekasi 42 7
6. Tangerang 30 8
7. Cirebon 130 90
8. Brebes 105 86
9. Karawang 18 15
10. Serang 4 -
11. Pandeglang 1 -
12. Banten 4 4
13. Bandung 10 1
14. Garut 1 -
15. Mojokerto 1 -
16. Majalengka 11 12
17. Lamongan 1 -
18. Baturaja 1 -
19. Gresik 1 -
20. Kediri 1 -
21. Batang 2 2
22. Tasikmalaya 2 1
23. Kuningan 21 28
24. Pemalang 17 5
25. Demak 1 -
26. Semarang - 1
27. Purwokerto 19 14
28. Purworedjo 19 -
29. Ciamis 12 3
30. Purwakarta 3 2
31. Pekalongan 9 1
32. Bogor 9 9
33. Magelang 2 -
34. Menado 1 1
35. Wonosobo 5 -
36. Lampung 10 5
37. Jepara 1 -
38. Ujungpandang 1 -
39. Tim-tim 3 1
40. Sumedang 1 -
41. Palembang 6 1
42. Cianjur 1 -
43. Cilacap 1 -
44. Mataram / NTB - 1
45. Jambi - 1
46. NTT - 2
47. Purbalingga 1 -
48. Sawahlunto 1 -
49. Kendal 2 -
50. Medan 1 -
51. Padang 1 -
Jumlah 906 588

4. Hubungan Kiyai dan Santri

Lembaga pendidikan yang ada di Pesantren Buntet hingga 1999 ini telah berkembang pesat yaitu, tidak hanya lembaga pendidikan yang bersifat keagamaan melainkan telah ada juga jenis pendidikan kejuruan dan pendidikan umum. Akibat dari perkembangan ini, ditemukan suatu kenyataan bahwa kiyai dan santri memiliki karakter ganda yaitu “santri-murid” dan “kiyai-guru”. Dimaksud dengan “santri-murid” adalah, santri yang tinggal di rumah/asrama kiyai tetapi ia juga murid kiyainya ketika ia di madrasah di mana ia belajar; sebaliknya yang dimaksud dengan “kiyai-guru” adalah seorang kiyai yang menjadi guru (tidak tetap atau PNS) di suatu madrasah, bagi santri yang tingal di asramanya ia adalah kiyainya, tapi ia juga gurunya di  madrasah.

Kenyataan di atas sangat memengaruhi dan bahkan berdampak buruk terhadap pergaulan atau hubungan “kiyai-santri” di asrama dan “guru-murid” di madrasah. Demikian juga dalan menjalin hubungan silang “kiyai-murid” di madrasah atau “guru-santri” di asrama. Dampak negatif yang akan terjadi adalah a). Demoralisasi dan b) Sulit dicapai obyektifitas penilaian prestasi belajar.

  1. Demoralisasi

Di lingkungan pondok pesantren tradisional, kiyai dan keluarganya biasanya dipadang sebagai orang tua kedua yang harus dihormati setelah kedua orang tuanya di rumah; Kedua orang tuanya yang di rumah dihormati adalah, karena merekalah yang menjaganya, merawat kesehatannya, membesarkan dan membiayai pendidikannya hingga ke jenjang pendidikan tertinggi. Sedangkan kiyai (dan keluarganya) di pondok pesantren dihormati adalah, karena ialah yang mengajarkan kebaikan dan yang selalu mengingatkan agar belajar dengan baik, beribadah dengan tekun dan berperilaku yang baik. Bahkan lebih dari itu, bagi santri tertentu ada yang menghormati kiyai karena nasihat dan bimbingannyalah sehingga ia terselamatkan dari kebodohan dan kesengsaraan di dunia maupun akhirat.

Suasana dan kenyataan tersebut dapat diperhatikan pada beberapa asrama yang kiyainya secara full time memberikan nasihat dan perhatian khusus kepada santrinya terutama dalam pergaulan (inilah yang dimaksud bahwa, hubungan kiyai-santri berlangsung selama 24 jam, baik posisi kiyai sebagai pendidik asrama, pengajar di madrasah maupun sebagai wakil kedua orang tuanya di pondok); tapi bagi kiyai yang tidak memperhatikan secara khusus kepada santrinya (karena kesibukan organisasi maupun kesibukan lainnya), maka kemungkinan ada santrinya yang ketika menjadi santri yunior ia selalu mentaati dan menghormati kiyainya tetapi setelah merasa menjadi santri senior ia (mengalami perubahan fisik dan mental akibat dari pergaulan di madrasah ataupun di rumah) mulai berani melanggar tata tertib asramanya hingga melakukan perkataan ataupun perbuatan yang bersifat “memalukan”.

Demoralisasi yang tampak pada asrama yang kurang memperoleh perhatian khusus dari kiyainya adalah, meninggalkan kebiasaan-kebiasaan baik yang selalu diperintahkan kiyainya. Kebiasaan-kebiasaan baik itu antara lain shalat fardlu lima waktu dilaksanakan dengan tepat waktu dan berjamaah, tadarrus al-quran setelah shalat berjamaah, shaum sunah Senin dan Kamis, memakai kain sarung dan peci hitam (santri putra) dan berjilbab (santri putri) di mana pun mereka berada, berkata jujur dan saling menghargai sesama santri.

  1. Sulit Dicapai Obyektivitas

Dampak buruk lain yang ditimbulkan dari karakter ganda adalah, sulit dicapainya penilaian hasil prestasi belajar yang obyektiv bagi “kiyai-guru” yang mengajar di suatu lembaga pendidikan di mana beberapa murid di antaranya adalah santrinya di asrama. Dengan kalimat lain, secara psikologis kiyai yang menjadi guru pada suatu madrasah, tidak akan obyektiv memberi nilai prestasi belajar dengan “apa adanya” kepada muridnya yang adalah santrinya sendiri. Padahal, sebagian dari murid MTs NU, MA NU dan MAN adalah santri yang mesantren di rumah-rumah kiyai atau sebagian dari guru yang mengajar di MTs NU atau MA NU adalah para kiyai yang rumahnya ditempati para muridnya.

B. Kegiatan Kependidikan

Kegiatan pendidikan yang berlangsung di komplek Pondok Pesantren Buntet dapat dikelompokkan menjadi dua bentuk yaitu, bentuk pendidikan tradisional yang diselenggarakan dalam bentuk pendidikan luar sekolah (PLS) dan bentuk pendidikan modern yang diselenggaraan dalam bentuk pendidikan persekolahan. Bentuk dan sistem PLS, diselenggarakan oleh YPI, sedangkan bentuk dan sistem pendidikan persekolahan, diselenggarakan oleh LPI melalui beberapa lembaga pendidikan sekolah yang ada. Kebijakan tentang penyelenggaraan pendidikan yang berlangsung di Buntet Pesantren, seyogyanya merupakan tanggung jawab YPI. Namun dalam kenyataannya, antara LPI dengan YPI memiliki peran dan fungsi serta struktur masing-masing.

Di bawah ini adalah lembaga-lembaga kependidikan yang dikoordinasi LPI yang struktur dan fungsionalnya ditentukan atas kebijakannya organisasi masyarakat NU. Untuk lebih jelasnya tentang  struktur kependidikan tersebut, dapat dilihat pada tabel berikut,

 

 

GAMBAR 4

STRUKTUR PENDIDIKANDI PESANTREN BUNTET

MAJLIS SYURIYAH

SESEPUH

P L E N O

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ORGANISASI

PERSONALIA

KEUANGAN

MATERIAL

PENDIDIKAN/

PENGAJARAN

TATA USAHA

 

Raudhatul Athfal

Madrasah Ibtidaiyah

Mad. Tsanawiyah

Mad. Aliyah

Kursus/

Kejuruan

Perguruan Tingggi Akademi

Sumber: Data Yayasan Pendidikan Islam Buntet, 1998

1. Kegiatan Pendidikan Luar Sekolah

Kegiatan pendidikan luar sekolah yang diselenggarakan di pondok pesantren Buntet, berlangsung melalui dua bentuk yaitu pertama pengajian dasar-dasar al-quran dan KK dan kedua latihan keterampilan keagamaan dan kemasyarakatan.

  1. Pengajian al-Quran dan Kitab Kuning

Kitab kuning (KK) sebagai kitab klasik Islam, merupakan ciri khas dan hand books bagi para santri di pondok pesantren tradisional. Kegiatan pengajian al-quran dan KK di Pondok Pesantren Buntet berlangsung di dua tempat yaitu di masjid jami dan di asrama.

Asrama yang ada di Pondok Pesantren Buntet, terdiri dari dua bentuk yaitu “asrama besar” (pondok yang ada di luar rumah-rumah kiyai) dan “asrama kecil” yaitu pondok yang ada di rumah-rumah kiyai. Dari kedua bentuk asrama ini, Pondok Pesantren Buntet memiliki 275 buah kamar terdiri dari 155 buah kamar yang ada di asbes dengan kondisi bangunan semi permanen disertai sarana MCK, dan 120 buah kamar yang ada di rumah-rumah kiyai dengan kondisi bangunan sangat bervariasi bergantung pada tingkat kepedulian kiyai pembina dalam memperhatikan kondisi bangunan.

Dalam pelaksanaan pengajian al-quran dan KK, santri yang tinggal di asrama besar dapat mengikuti pengajian yang di rumah-rumah kiyai; tapi bagi santri yang tinggal di rumah-rumah kiyai mereka belajar al-quran dan KKnya disesuaikan dengan jadwal yang ditetapkan kiyainya masing-masing. Kaitan dengan kegiatan pengajian ini, penulis merasa kesulitan untuk mencantumkan jadwal pengajian yang berlaku di Pondok Pesantren Buntet. Pengajian yang berlangsung di asrama, jadwalnya sangat bervariasi sebanyak rumah-rumah kiyai yang menyelenggarakan pengajian. Di bawah ini merupakan sebagian dari beberapa nama KK yang diajarkan kiyai baik di masjid jami’ maupun di rumah-rumah kiyai.

Tabel 4

NAMA-NAMA KITAB YANG DISAMPAIKAN

DI PESANTREN BUNTET

No Jenis Kitab Nama Kitab Tempat Ketera-ngan
01

 

 

02.

 

 

03.

 

 

 

 

 

04.

 

 

 

 

05.

 

 

 

06.

 

 

 

 

 

07.

 

al Quran

 

 

Tafsir/

ilmu Tafsir

 

 

Hadits/

Ilmu Hadits

 

 

 

Fiqh/

Ushul Fiqh

 

 

 

‘Ilm Tawhid

 

 

 

Ilmu Lughah

 

 

 

 

 

‘Ilm Tashawuf

Juz ‘Amma, ‘Ilm Tajdwid, Takhassus (Qiraah Sab’ah)

Tafsir al-Jalalen, Tafsir Ayat al-Ah- kam, Tafsir Yasin, Tafsir al-Maraghi

Bulugh al-Marram, Riyad al-Shalihin, Tankih al Qaul, Abain al-Nawawi, Al-Targhib al-Tartib, Minhaj al-Shalihin, Minhaj al-Muhit

Sulam al-Tawfiq,

Sufinah al-Najah, Mabadi’ al-Awwalin, Fath al-Qarib, Fath al-Mu’in, Fath Al-Wahab, Kifayah al-Akhyar, Minhaj al-Thalibin.

Tijan al-Dharari,

Sya’b al-Iman

Aqidah al-Awwam, Husn al-Hamidiyah, Jawahir al-Kalamiyah.

 

Nahw al-Wadhih,

Al-‘Awamil, al-Jur-miyah, al-‘Amrithi, Alfiyah Ibn Malik, ‘Ilm al-Sharaf, ‘Ilm Mantiq, Balaghah.

Ta’lim al-Muta’lim,

Muraqib al-Ubudiyah, Tanwir al-Qulub, Minhaj al-Abidin.

Khaer al-Nisa,

Akhlaq al-Banin,

Di semua rumah/asrama kiyai

 

Di semua rumah/asrama kiyai

 

 

 

Di semua rumah/asrama kiyai

 

 

 

Di semua rumah/asrama kiyai

 

 

Di semua rumah/asrama kiyai

 

 

Di semua rumah/asrama kiyai

 

 

 

Di semua rumah/asrama kiyai

qiraah sab’ah, di Rumah

KH Shobih

Sumber: Data PP Buntet tahun 1998

Pengajian dasar-dasar al-quran dan KK tingkat pemula (elementary) seperti kitab sufinah al-najah, sulam al-taufiq, tijan al-dharari, aqidah al-awwam, ‘awamil dan jurmiyah, akhlaq al-banin, khaer al-nisa. “Kitab-kitab kecil” ini pada umumnya disampaikan oleh asisten kiyai atau ustadz dengan menggunakan metode sorogan dilaksanakan setelah shalat fardlu shubuh, ‘ashar dan maghrib dengan pesertanya adalah para santri santri baru yakni para pelajar MI dan MTs. Sedangkan KK tingkat lanjutan seperti kitab ta’lim al-muta’lim, tafsir al-jalalen, tafsir yasin, bulugh al-marram, riyad al-shalihin, arba’in nawawi, fath al-qarib, fath al-mu’in, ‘amrithi, al-fiah ibn malik disampaikan langsung oleh kiyai dalam bentuk halaqah (kiyai dikelilingi sejumlah santri dengan membawa KK yang sama) dengan menggunakan metode bandongan dilaksanakan setelah shalat fardlu maghrib, ‘Isya dan shubuh dengan pesertanya adalah para pelajar Aliyah.

Kitab Kuning (KK) merupakan bekal bagi santri kelak setelah mereka kembali ke daerah masing-masing, namun yang paling penting adalah pesan dan kesan ketika mereka memperoleh pengetahuan dan amanat yang disampaikan para kiyai ketika pengajian KK berlangsung. Pada saat itu, kiyai biasanya memberikan nasihat kepada santri agar dalam menghadapi suatu persoalan, hendaknya dihadapi dengan penuh arif dan bijaksana serta jangan menyalahkan orang; tetapi berupaya untuk mencarikan jalan yang terbaik untuk mendamaikan sesama manusia. Perbedaan pandangan adalah, merupakan ciri ber-kembangnya pemikiran dan sekaligus menunjukkan bahwa kehidupan selalu berubah.

  1. Pelatihan Keterampilan

Latihan keterampilan yang diberlangsung di Pondok Pesantren Buntet, dapat dikelompokkan ke dalam empat macam keterampilan yaitu (1) beladiri, (2) kesenian, (3) koperasi dan (4) manajemen. Keterampilan dalam bentuk pelatihan beladiri dan kesenian, biasanya diupayakan oleh para kiyai kepada santrinya yang berlangung di asramanya; sedangkan pelatihan keterampilan dalam bentuk perkoperasian dan manajemen diupayakan oleh YPI atau LPI Buntet melalui pengiriman santri sebagai peserta pelatihan yang dilaksanakan oleh pesantren lain, organisasi atau instansi tertentu. Hasil dari pelatihan keterampilan kesenian, misalnya, hingga kini Pondok Pesantren Buntet memiliki group qashidah yang para pemainnya adalah para santri putri. Sedangkan hasil dari pelatihan keterampilan perkoperasian, sekarang Pondok Pesantren Buntet memiliki Koperasi Pondok Pesantren (Kopontren) yang dikelola para santri.

Di samping bentuk-bentuk pelatihan keterampilan tersebut, ada bentuk keterampilan lain yang dilakukan secara berkala yaitu pelatihan keterampilan berpidato melalui kegiatan muhadlarah. Pelatihan ini biasanya dilaksanakan pada Kamis malam (ba’da shalat fardlu ‘Isya) yaitu, setelah usainya kegiatan debaiyah yaitu pembacaan kisah perjuangan dan kepribadian Rasulullah Muhammad saw). Tempatnya, bagi santri putra bertempat di masjid jami’ dengan diikuti semua santri (putra) Pesantren Buntet. Sedangkan bagi santri putri bertempat di pondokannya masing-masing.

2. Kegiatan Pendidikan Sekolah

Pendidikan sekolah yang ada di Pondok Pesantren Buntet, sebagian besar bersifat keagamaan (diniyah) berada dibawah koordinasi dan pengawasan organisasi NU kecuali MAN. Lembaga pendidikan keagamaan tersebut adalah, MI NU (putra dan putri), MTs NU (Putra [2 buah] dan Putri), MA NU (Putra dan Putri) dan MAK NU (Putra). Posisi bangunan lembaga pendidikan sekolah/madrasah tersebut, adalah sebagai berikut:

Madrasah Aliyah (MA) NU Putri dan Madrasah Ibtidaiyyah (MI) NU putri terletak di sebelah Barat Masjid Jami’, sedangkan MANU Putra dan MTs NU Putra (1) terletak di sebelah Timur Masjid Jami”; MAK NU dan MTs NU Putra (2) terletak di sebelah Selatan masjid jami’; di sebelah Utara Masjid Jami terdapat bangunan asrama besar yang di sampingnya ada gedung MTs NU Putri, juga ada Kantor Pesantren Buntet yang berfungsi ganda sebagai Kantor Koperasi Pondok Pesantren dan MI NU Putra. Untuk lebih jelasnya tentang lembaga-lembaga pendidikan yang ada di lingkungan Pondok Pesantren Buntet, dapat dilihat pada tabel di bawah ini,

TABEL 5

NAMA LEMBAGA PENDIDIKAN

No. Nama Lembaga

Pendidik

Peserta Didik

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10.

11.

TK. An-Anwar

MI Putra

MI Putri

MTs NU Putra I

MTs NU Putra II

MTs NU Putri

MA NU Putra

MA NU Putri

MAK NU

MAN

AKPER

4

6

6

22

24

24

27

26

16

63

16

52

120

132

400

363

500

670

256

74

900

220

Jumlah
214 3687

Sumber: Data LPI Pondok Pesantren Buntet, 1998

Adapun sistem perjenjangan yang terjadi di Pondok Pesantren Buntet, dapat dilihat pada gambar di bawah ini,

 

 

GAMBAR 5

Sistem Perjenjangan Pendidikan Islam Di Pesantren Buntet

Pengajian Tingkat Ulya (2 tahun)

Perguruan Tinggi/Akademi

(5 tahun)

Penga

jian al-quran khusus

(2 thn)

 

 

 

Pengajian Ting kat al-Wustha (2 tahun)

SLTA

(3 th)

PGAA

(4 th)

MA

(3 th)

 

 

Madrasah Wathaniyah Ibtidaiyah

(MWI 6 tahun)

Raudhatul Athfal (RA)

(2 tahun)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Perjenjangan pendidikan tersebut di atas, berlaku pada 1940-an hingga 1970-an. keadaan itu mengalami perubahan setelah beberapa lembaga pendidikan keagamaan tertentu berubah nama dan status mengikuti aturan main dari pemerintah seperti PGAP berubah menjadi MTs NU Putra dan Putri, PGAA berubah menjadi MAAIN yang beberapa tahun kemudian berubah menjadi MAN, Perguruan Tinggi Agama lsam (IAIN Jakarta yang pada 1960-an membuka Cabang Buntet) berdasarkan Peraturan Pemerintah tahun 1968 tentang sentralisasi PTAI dikembalikan ke asalnya, dan pengajian al-quran khusus (qiraah sab’ah) yang mulai tidak banyak peminatnya. Namun demikian, perjenjangan terhadap pendidikan yang masih ada terus dilanjutkan dan secara bertahap dilakukan pembenahan untuk meningkatkan kualitas. Kegiatan pendidikan sekolah yang ada di Pondok Pesantren Buntet diungkapkan secara rinci sebagai berikut:

  1. Madrasah Ibtidaiyah

Madrasah Ibtidaiyah NU, pada awal berdirinya pada 1946 bernama Madrasah Ibtidaiyah al-Wathaniyah (MIW), merupakan jenjang pendidikan tingkat dasar bagi para santri, masa belajarnya sama seperti SD yaitu enam tahun. Di pondok pesantren Buntet terdapat dua buah MI yaitu MI NU Putra (Kepala Madrasahnya, KH. Abdul Hamid Annas) dan MI NU Putri (Kepala Madrasahnya, Ny. Hj. Farah). Jumlah murid MI NU putra dan MI NU putri pada tahun ajaran 1998/1999 adalah 252 orang. Masing-masing terbagi ke dalam 6 kelas. Dibina oleh guru/ustadz kelas berjumlah 12 orang terdiri dari enam ustadz dan enam ustadzah. Proses belajar mengajarnya menggunakan kurikulum nasional dari Depag dan kurikulum lokal serta beberapa mata pelajaran khas Pondok Pesantren Buntet yang lebih menekankan kepada penguasaan Bahasa Arab dan KK.

Bagi murid MI NU kelas VI, mereka diberi kebebasan untuk mengikuti EBTAN SD (bagi murid MI NU yang akan melanjutkan studinya ke SLTP) atau MIN (bagi murid MI NU yang akan melanjutkan studinya ke MTs).

  1. Madrasah Tsanawiyah (MTs)

MTs NU di Pondok Pesantren Buntet ada tiga buah yaitu dua buah MTs NU Putra (Kepala MTs NU Putra I Drs. KH. Majduddin, Kepala MTs NU Putra II KH. Fachruddin Mulyono sedangkan Kepala Madrasah MTs NU Putri adalah Ny. Hj. Imroah. Kedua MTs NU Putra, pada tahun ajaran 1998/1999 ini memiliki 763 orang sedangkan murid MTs NU Putri berjumlah 500 murid. Guru yang mengajar di tiga MTs NU, berjumlah 70 orang terdiri dari 46 orang guru MTs NU Putra dan 24 orang guru MTs Putri. Proses belajar mengajarnya, dilaksanakan di masing-masing gedung yang berbeda.

Sebagaimana MI NU, MTs NU juga menggunakan kurikulum nasional dari Depag dan kurikulum lokal (kepesantrenan dan ke-NU-an) yang lebih menekankan pada penguasaan dan pemahaman KK. Tapi sebagai lembaga pendidikan swasta, murid MTs NU diharuskan mengikuti EBTANAS yang diselenggarakan oleh Depag atau Depdikbud (bagi murid MTs NU yang akan melanjutkan studinya ke SMU/SMKK).

  1. Madrasah Aliyah (MA)

Di lingkungan Pesantren Buntet terdapat tiga jenis MA yaitu MAN, MA NU dan MAK NU. Dari ketiga jenis MA ini, MA NU terbagi menjadi dua buah yaitu MA NU Putra dan MA NU Putri, sehingga di komplek Buntet Pesantren ada empat buah MA yaitu: MAN, MAK NU Putra, MA NU Putra dan MA NU Putri). Keempat MA ini, masing-masing memiliki sistem kependidikan yang berbeda.

1) Madrasah Aliyah (MA) NU

Ada dua periode keberadaan MA NU Buntet yaitu pertama pada 1968 KH. Mustahdi Abbas membuka MA Putra dan MA Putri sebagai kelanjutan dari MTs muallimin (putra) dan muallimat (putri)/PGA Putra dan Putri. Tapi setelah MA ini dinegerikan pada 1971 menjadi MAAIN Buntet, maka Pondok Pesantren Buntet tidak lagi memiliki MA. Kedua pada  tahun 1980-an ketika banyak para peminat MAN yang tidak tertampung, maka pimpinan Pesantren Buntet membuka kembali MA NU sebagai upaya memberikan kesempatan kepada para remaja yang bermaksud melanjutkan sekolahnya di Pondok Pesantren Buntet (Wawancara, Drs. H. Samaun Bakri, Kepala MAN 1980-1990, 25 Maret 1999).

Dengan demikian, keberadaan MA NU Putra dan MA NU Putri merupakan upaya pimpinan Pondok Pesantren Buntet dalam memberikan kesempatan kepada remaja yang ingin belajar dan menjadi santri di Pesantren Buntet. Karena itu, secara kelembagaan MA NU tidak jauh berbeda dengan MAN. Perbedaan di antara MA NU dan MAN adalah (1) status lembaga, MA NU berstatus Swasta sedangkan MAN berstatus Negeri; (2) Penggunaan Kurikulum. MA NU menggunakan dua bentuk kurikulum yaitu kurikulum nasional (kurnas) yang dikeluarkan Depag dan kurikulum lokal  (kurlok) yang dikeluarkan NU. Sehingga, siswa-siswi MA NU menerima mata pelajaran ganda yaitu mata pelajaran yang bersifat keagamaan dan mata pelajaran yang bersifat umum.

Dalam pelaksanaan kurlok, MA NU lebih memperioritaskan penguasaan dan pemahaman KK, sehingga mata pelajaran keagamaan seperti al-Quran, Hadits, Fiqh dan Bahasa Arab digunakan KK dan disampaikan oleh para kiyai/pembina Pondok Pesantren Buntet. Karena itu, murid MA NU (Putra maupun Putri) sebagian besar adalah para santri Pondok Pesantren Buntet. Sedangkan pelaksanaan kurnas, MA NU mengikuti kurnas yang dikeluarkan Depag yaitu 30 % mata pelajaran keagamaan dan 70 % mata pelajaran umum. Mata pelajaran Keagamaan yang disampaikan di MA NU meliputi (1) al-quran dan al-hadits, (2) Aqidah dan Akhlaq, (3) Fiqh, (4) Sejarah Kebudayaan Islam dan (5) Bahasa Arab. Sedangkan mata pelajaran yang bersifat umumnya adalah (1) KPKN, (2) Bahasa Indonesia, (3) Bahasa Inggris, (4) Matematika, (5) IPA (Fisika, Biologi dan Kimia), (6) IPS (Sejarah dan Geografi), (7) Keterampilan dan (8) Penjaskes. Begitu juga dengan jurusan, di MA NU juga mengikuti MAN yaitu Jurusan Agama, IPA, IPS dan Bahasa (Wawancara, KH. Hasanuddin Kriyani, BA; Kepala MA NU, 22 Maret 1999).

Pada tahun ajaran 1998/1999 ini, MA NU Putra dipimpin oleh Drs. KH. Hasanuddin Kriyani, memiliki murid berjumlah 670 murid, sedangkan MA NU Putri dipimpin oleh Drs. KH. Moh. Hisyam Abkari, memiliki murid berjumlah 256 orang. Guru yang mengajar di MA NU, berjumlah 53 orang terdiri dari 27 orang guru MA NU Putra dan 26 orang  guru MA NU Putri. Proses belajar mengajarnya dilaksanakan di gedungnya masing-masing, karena mereka memiliki gedung yang berbeda lokasinya.

2) MAK NU Putra

Lembaga pendidikan keagamaan swasta lain yang ada di komplek Buntet pesantren adalah Madrasah Aliyah Khusus (MAK). MAK NU didirikan pada tahun ajaran 1994/1995, dilatar belakangi atas keprihatinan mandalam bahwa murid MA NU dan MAN (santri pesantren Buntet) banyak yang tidak mampu menguasai dan mempraktekkan bahasa asing, padahal dengan memiliki keterampilan bahasa mereka akan mampu menguasai ilmu pengetahuan keagamaan dan ilmu pewngetahuan umum.

Tidak ada perbedaaan yang prinsip antara MAK NU dengan MA NU, kedua lembaga keagamaan ini sama-sama memperioritaskan kurlok (kepesantrenan dan ke-NU-an) yaitu menekankan pada penguasaan dan pemahaman KK; mereka juga sama-sama mewajibkan kepada muridnya untuk mengikuti EBTAN di MAN. Yang membedakan di antara keduanya adalah, MAK NU lebih menekankan pada penguasaan dan penggunaan bahasa asing (bahasa arab dan bahasa Inggris), baik gurunya maupun kepada muridnya. Karena itu, murid MAK NU adalah para remaja pilihan (hasil seleksi) khususnya mereka yang telah memi-liki dasar dan kemampuan berbahasa asing.

Tahun ajaran 1998/1999 ini, MAK NU dipimpin oleh Drs. KH. Yusuf Ma’mun, memiliki murid berjumlah 74 orang. MAK NU memiliki tenaga pengajar sebanyak 16 orang, terdiri dari para sarjana S-1 dari IAIN Cirebon, IAIN Jakarta, IAIN Yogyakarta, Universitas Darul Ulum Makkah dan Universitas al-Azahar Mesir yang memiliki kemampuan berbahasa asing dan dibantu oleh para pengelola lembaga bahasa asing (LBA).

3) MAN

MAN Buntet adalah satu-satunya lembaga pendidikan madrasah yang berstatus negeri di lingkungan Pondok Pesantren Buntet. Telah dikemukakan bahwa, secara kronologis MAN Buntet adalah pergantian nama dari MAAIN. Sedangkan MAAIN merupakan peralihan status dari MA NU yang swasta pada 1971. Dengan demikian, MAN pada mulanya adalah MA NU Buntet yang didirikan pada 1968 sebagai kelanjutan dari PGAP 4 tahun.

Pada tahun ajaran 1998/1999, dipimpin oleh Drs. KH. Hasanuddin Imam, memiliki siswa berjumlah 900 orang siswa terdiri dari 474 orang siswi dan 526 orang siswa. Tenaga pendidikan yang ada berjumlah 63 orang terdiri dari, 34 orang guru PNS dan 29 orang guru tidak tetap. MAN Buntet membuka jurusan yaitu IPA, IPS, Bahasa dan Agama.

d. Pendidikan Tinggi

Pendidikan tinggi yang ada di Pondok Pesantren Buntet adalah Akademi Perawat (AKPER), yang didirikan pada tahun akademik 1997/1998. Tidak sebagai-mana bentuk pendidikan Islam lain yang berada di bawah koordinasi ormas Islam NU, AKPER adalah satu-satunya lembaga pendidikan tinggi yang ada di Pondok Pesantren Buntet yang di bawah naungan Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Buntet.

Pada tahun akademik 1998/1999 ini, Direktur AKPER adalah Kol. Drs. H. Abdul Aziz dengan memiliki mahasiswa brjumlah 80 orang terdiri dari 17 orang mahasiswa dan 63 orang mahasiswi. Dosen profesional yang ada hingga tahun akademik ke dua ini berjumlah 20 orang dosen.

Berdasarkan pada uraian panjang di atas dapat dikemukakan bahwa, kiyai dan pembina Pondok Pesantren Buntet hingga saat ini tidak pernah berhenti memikirkan untuk memperbaharui lembaga pendidikan.

3. Karakteristik Pondok Pesantren Buntet

Diperhatikan dari sistem pendidikan yang diselenggarakannya, Pondok Pesantren Buntet menyelenggarakan dua bentuk yaitu pertama, bentuk pendidikan berupa pondok  salafi (tradisional) yang tetap mempertahankan KK sebagai inti pendidikan pesantren dengan tanpa mengenalkan ilmu pengetahuan umum dalam pengajarannya. Sistem madrasah diniyah yang ada seperti MI NU, MTs NU dan MA NU, diselenggarakan hanya untuk memperkenalkan KK dengan metode kelas yang dipakai pada lembaga-lembaga pengkajian dalam bentuk salafy (tradisional). Kedua, bentuk pesantren khalafi (modern) yang telah memasukkan ilmu pengetahuan umum dalam pengajarannya, dan telah mendirikan beberapa madrasah yang bersifat persekolahan umum seperti MAN.

Walaupun terjadi perubahan pada sistem pengajaran, Drs. H. Anis Mansur mengemukakan bahwa, “para pembina Pondok Pesantren Buntet tetap mempertahankan nilai-nilai keagamaan yang selama ini telah dibina” (Wawancara, 19 Januari 1999). Nilai-nilai keagamaan yang selalu dipertahankan di pondok Pesantren Buntet adalah,

Memandang kehidupan secara menyeluruh sebagai ibadah yaitu, sejak pertama kali santri masuk pondok pesantren Buntet, para santri diperkenalkan pada suatu kehidupan tersendiri. Aspek ibadah menempati kedudukan tertinggi. Kecintaan terhadap ilmu-ilmu agama, diperkenalkan dengan cara-cara mengerjakan ibadah secara menyeluruh melalui upaya menuntut ilmu agama secara berkesinambungan, kemudian mengamalkan dan menyebarkannya. Dengan demikian ilmu dan ibadah menjadi identik dan dengan sendirinya akan muncul rasa cinta terhadap ilmu agama. Keikhlasan bekerja untuk tujuan-tujuan bersama yang lebih besar.

Melalui pernyataan di atas, maka dapat dikemukakan bahwa karakteristik Pondok Pesantren Buntet hingga dewasa ini, tetap menjalankan tiga tipe pesantren. Pertama, pondok pesantren Buntet tetap mengajarkan KK dengan ditambah berbagai pelatihan keterampilan; Kedua, Pesantren Buntet tetap mengajarkan KK, di samping menyelenggarakan pendidikan madrasah/sekolah umum dan berbagai latihan keterampilan; Ketiga, Pesantren Buntet tetap mengajarkan KK dan mengembangkan sufisme/tharikat.

C. Pemikiran dan Upaya Kiyai dalam Memenuhi Tuntutan Masyarakat

1. Pemikiran kiyai “Buntet” tentang bentuk pendidikan

Pesantren Buntet, sebagaimana sebagian besar pesantren salaf di Indonesia, pada awal berdirinya bukan sebagai reaksi atas persoalan ataupun tuntutan masyarakat atas tujuan perubahan sosial sekitarnya; melainkan lebih merupakan orientasi pengabdian. Orientasi pengabdian ini tentu saja karena kondisi pribadi mbah Muqayyim adalah para pejuang dan kebutuhan masyarakat saat itu membutuhkan pengabdian dari seseorang yang mampu dijadikan sebagai figur pemersatu. Dengan demikian, pemikiran awal berdirinya pesantren Buntet adalah karena niat ikhlas dan pengabdian mbah Muqayyim yang didukung oleh segelintir masyarakat setempat, dan bukan sebagai respon sosial dan usaha transformasi kultural. Keadaan ini belangsung hingga kepemimpinan K. Muta’ad yang masih berorientasi kepada pengabdian, di samping karena kapasitas kepemimpinan tunggal (single management) juga keadaan masyarakat yang masih menghadapi tekanan dari penjajah.

Pemikiran dan orientasi Pesantren Buntet mulai ada perubahan, ketika KH. Abdul Jamil memimpin Pesantren Buntet pada 1842-1910. Walaupun bentuk kepemimpinannya masih bersifat single management tapi tampak terjadi adanya perubahan bahkan pergeseran orientasi. Perubahan yang terjadi saat itu ditandai dengan dibukanya sistem pendidikan madrasah (persekolahan), sehingga baik metode maupun penyelenggaraan pendidikannya mulai menyesuaikan dengan lembaga pendidikan modern yaitu dibentuknya kepemimpinan madrasah, digunakan kelas, penjadwalan mata pelajaran dan spesialisasi guru serta ditentukan perjenjangan dalam pendidikan. Perubahan pemikiran dan orientasi secara besar-besaran, tampak ketika Pondok Pesantren Buntet dipimpin K.H. Abbas Abdul Jamil (1910-1946) yaitu perubahan atau pergeseran sistem pondok pesantren dari sistem salafy murni berubah menjadi sistem pondok pesantren semi modern (khalafy). Perubahan pemikiran dan pergeseran orientasi ini dilanjutkan oleh generasi berikutnya, hingga generasi KH. Abdullah Abbas (1989- sekarang).

Pada kepemimpinan KH. Abdullah Abbas, telah ditempuh beberapa kebijakan, di antaranya pertama, tidak lagi menerapkan sistem single management ini ditandai dengan telah dibentuk Yayasan Pendidikan Islam (YPI) pada 1992. Kedua, Pesantren Buntet bukan lagi sebagai Pesantren Salafi tetapi telah menjadi Pesantren Terpadu antara pesantren salaf dan pesantren modern) yaitu dengan telah dibukanya lembaga-lembaga pendidikan keterampilan seperti pada tahun ajaran 1995/1996 Pesantren Buntet mendirikan Madrasah Aliyah Khusus (MAK) yang dalam proses belajar-mengajarnya lebih menekankan kepada keterampilan berbahasa asing, dan pada tahun akademik 1996/1997 telah didirikan lembaga pendidikan tinggi AKPER yang dalam kurikulumnya lebih menekankan kepada keterampilan perawat kesehatan (Dokumen “Pondok Pesantren Buntet” tahun 1998 yang dirangkum penulis).

Melalui YPI, segala kebijakan yang berkaitan dengan pendidikan dan kepesan-trenan selalu dimusyawarahkan di kalangan pengurus Yayasan. Sebagai tindak lanjut, hasil musyawarah itu kemudian disosialisasikan kepada masyarakat umum. Tidak hanya itu, semua kebijakan dan informasi publik (public information) dikembalikan kepada YPI. Kenyataan ini mencerminkan bahwa, pondok pesantren Buntet terbuka untuk umum dan menerima saran pendapat dari masyarakat, baik dalam bentuk kelembagaan maupun kurikulum pendidikan.

Jadi para kiyai “Buntet” dalam membina Pesantren Buntet, telah mengalami beberapa perubahan, dan setiap perubahan ditentukan oleh visi pimpinan dan misi kelembagaan yang selalu mengikuti perkembangan jaman dan kemauan masyarakat.

2. Upaya Kiyai dalam memenuhi tuntutan masyarakat

Ada dua upaya nyata yang dilakukan kiyai Buntet dalam memenuhi tuntutan masyarakat yaitu: pertama, merubah visi dan orientasi pendidikan, dan kedua mengadakan kerja sama dengan beberapa lembaga pendidikan.

Merubah visi dan orientasi pendidikan diupayakan para kiyai, karena tuntutan masyarakat yang menginginkan agar lembaga-lembaga pendidikan yang ada di Pondok Pesantren Buntet tidak hanya mengajarkan materi pengetahuan keagamaan tetapi juga materi pengetahuan umum dan teknologi (keterampilan terapan). Dalam hal ini, upaya nyata yang dilakukan adalah, lembaga-lembaga pendidikan yang telah ada dan berorientasi keagamaan dikembangkan menjadi lembaga pendidikan keagamaan bersifat umum dan kejuruan. Misalnya Madrasah Aliyah pada 1967-1970 masih bersifat diniyah (keagamaan), pada 1971 hingga sekarang dikembangkan menjadi madrasah aliyah bersifat umum yakni di samping mengajarkan mata pelajaran keagamaan diajarkan juga mata pelajaran “umum” seperti bahasa Inggris, bahasa Indonesia, matematika, biologi, kimia, fisika, sejarah umum, geografi, akuntansi, dan lain-lain; bahkan pada 1997/1998 Pesantren Buntet membuka lembaga pendidikan yang bersifat pengembangan kejuruan melalui AKPER.

Untuk mengisi lembaga-lembaga pendidikan umum dan lembaga pendidikan kejuruan tersebut, para kiyai Buntet melakukan kerja sama dengan SMUN, SMU NU dan SMK (SMEAN) Sindanglaut dalam bentuk pengadaan guru dan tenaga administrasi yang betul-betul menguasai dalam bidang-bidang tertentu yang diinginkan. Begitu juga dalam pengadaan dosen dan tenaga administrasi yang profesional, AKPER melakukan kerja sama dengan AKPER Muhammadiyah Cirebon, Akademi Bidan (AKBID) Cirebon, RSUD Gunung Djati, RS Pelabuhan Cirebon dan RS Ciremai Cirebon.

Sedangkan upaya kiyai Buntet dalam bentuk pengadaan dana, mereka melakukan silaturahmi dengan beberapa tokoh masyarakat tertentu, PEMDA Kabupaten Cirebon, Pemda Jawa Barat, para alumni yang telah menjadi pengusaha dan dengan para donatur lain.

D. Pendukung dan Penghambat Pembaharuan

Kiyai Buntet dipelajari dari corak pemikirannya, mereka dapat dikelompokkan ke dalam tiga kelompok yaitu: kelompok konservatif, kelompok tradisionalis dan kelompok modernis. Terjadi pengelompokkan ini, terutama disebabkan latar belakang pendidikan dan pondok pesantren yang pernah dimasukinya. Penyebab lainnya, kemungkinan kecil, adalah karena perbedaan kecenderungan dalam mendukung partai politik.

Kelompok kiyai konservatif, adalah para kiyai Buntet yang menginginkan agar Pesantren Buntet berjalan secara apa adanya sehingga makna “tradisi suci pondok” seperti shalat berjamaah, tadarrus al-quran ba’da shalat fardlu, pengajian KK dan rasa hormat santri terhadap kiyainya merupakan perwujudan dari kekharismahan dan kesalehan tidak akan ternodai oleh kemajuan dan perkembangan jaman. Mereka ini adalah para kiyai Buntet yang menekuni bidang thariqah yang selama ini menjadi salah satu “kebesaran” nama Pondok Pesantren Buntet. Mereka khawatir, jika Pondok Pesantren Buntet mengikuti perkembangan jaman, maka etika santri dan pengabdian kiyai yang selama ini merupakan ciri khas pondok akan semakin terpinggirkan atau bahkan terjadi degradasi moral.

Kelompok kiyai tradisionalis adalah, para kiyai Buntet yang tidak banyak memiliki gagasan untuk memajukan Pondok Pesantren Buntet, tetapi mereka tidak berusaha menjadi penghalang atau penghambat ide atau pemikiran kiyai modernis. Bahkan mereka selalu siap mendukung dan turut serta dalam melaksanakan ide atau pemikiran itu. Mereka adalah para pembina santri dan pengajar al-quran dan KK tradisional di lingkungan rumahnya. Sebagian besar dari mereka adalah, keturunan mbah Muqayyim atau kerabat dari pimpinan Pondok Pesantren Buntet.

Sedangkan kelompok kiyai modernis adalah, para kiyai Buntet yang karena latar belakang pendidikan, pengalaman atau pergaulan melalui organisasi sehingga mereka selalu membandingkan dengan keberadaan pondok atau lembaga pendidikan lain yang kemudian ingin diterapkan di lembaga yang dibinanya. Kiyai Buntet yang tergolong kelompok modernis adalah para kiyai muda dan aktivis pada suatu organisasi (kemasyarakatan atau sosial-politik); atau para kiyai sepuh (sebagian dari mereka adalah pengurus NU) tetapi berpikiran ke depan dalam upaya memperjuangkan dan memajukan Pondok Pesantren Buntet.

Di antara ketiga kelompok tersebut, yang sering saling-silang pendapat dalam menentukan kebijakan LPI atau YPI adalah kelompok konservatif dan kelompok modernis.

Berkaitan dengan pro-kontra dalam melakukan berbagai pergeseran visi dan innovasi lembaga, yang sering dianggap sebagai penghambat adalah para kiyai yang bercorak pemikiran konservatif, yaitu mereka yang berharap agar segala kebijakan yang dikeluarkan oleh pimpinan selalu berpijak kepada kepentingan “dalem”. Sedangkan para kiyai tradisionalis, biasanya selalu mendukung terhadap gagasan dan kebijakan yang mengarah kepada perbaikan lembaga (LPI dan YPI).

  1. E. Pembahasan Hasil Penelitian

1. Motivasi Kiyai Pesantren Buntet

Pemikiran awal ketika mbah Muqayim mendirikan pondok (pesantren Buntet), masih sangat sederhana sekali yaitu sebagai tempat memberikan pemahaman kepada masyarakat lingkungan setempat tentang bagaimana beribadah yang baik kepada Allah swt. (habl min Allah), berhubungan yang baik dengan sesama tetangganya (habl min al-nas) dan berperilaku sosial yang baik (akhlaq al-kariemah) serta sekaligus (pondok itu) dijadikan sebagai tempat pelatihan fisik dan mental para santri dalam menghadapi penjajah Belanda. Tetapi ketika melihat kenyataan bahwa untuk menghadapi per-kembangan jaman yang terus berubah dan keinginan masyarakat yang bervariasi maka ketika K. Muta’ad dipercaya melanjutkan kepemimpinan pondok yang didirikan mbah Muqayyim, pemikiran awal itu mulai berubah sehingga berdirilah lembaga pendidikan, walaupun lembaga pendidikan yang relatif baru didirikan itu masih bersifat “lembaga sosial keagamaan”.

Semangat para kiyai “Buntet” untuk melalukan perubahan sistem pendidikan di Pesantren Buntet terus berlanjut, hingga didirikan lembaga pendidikan umum (baik yang bersifat keagamaan maupun kejuruan) dan teknologi, penulis ungkapkan di bawah ini.

Motivasi kiyai dalam mendirikan Pesantren Buntet, pada awal berdiri (1750-an) hingga tahun 1910-an sangat sederhana sekali yaitu pertama, melaksanakan amanat gurunya agar mengamalkan atau mengembangkan ilmu pengetahuan yang telah dimilikinya, dan kedua melanjutkan perjuangan orang tua atau mertuanya yang juga kiyai pendiri pesantren. Mereka belum memikirkan struktur, tujuan dan sasaran dari materi yang diajarkan; apalagi memikirkan orientasi lembaga kependidikan yang lebih besar. Karena itu pondok pesantren Buntet pada awal berdirinya belum dikategorikan sebagai sebuah sistem lembaga kependidikan. Kenyataan ini dapat dipelajari dari kondisi bangunan fisik (masjid, madrasah dan pondokan) yang masih sangat sederhana. Dengan demikian, Pondok Pesantren Buntet saat itu belum dapat dikate-gorikan sebagai sebuah sistem lembaga pendidikan. Pondok Pesantren Buntet untuk periode awal ini, menurut penulis, baru dapat dikategorikan sebagai “lembaga sosial keagamaan” dengan nama pondok yang dalam proses pembelajaranya berlangsung sebagaimana di majlis ta’lim atau madrasah masjid yang belum terorganisasi dengan baik.

Akan tetapi, pada periode berikutnya (1910-1946) tampaknya KH. Abbas Abdul Jamil (salah seorang putra KH. Abdul Jamil) sebagai tokoh sentral Pondok Pesantren Buntet saat itu, berusaha keras untuk melakukan berbagai perubahan. Beliau tampaknya termotivasi bahwa untuk memajukan pesantren, harus bekerja sama dan/atau mempertimbangkan keinginan masyarakat. Karena itu beliau berusaha menerapkan konsep yang telah dicita-citakannya yaitu menjadikan pesantren Buntet sebagai sebuah sistem lembaga kependidikan. Sebagai realisasi dari keinginannya itu, semasa beliau memimpin Pondok Pesantren Buntet telah berdiri madrasah atau “sekolah agama” seperti Madrasah Wajib Belajar setingkat TK, Madrasah Wathaniah Ibtidaiyyah I setingkat SD; dibangun beberapa sarana-fasilitas kependidikan sebagai sarana belajar mengajar secara berjenjang (yang sebelumnya tidak ada); dibentuk sistem kepemimpinan dan diangkat beberapa ustadz untuk mengajar di Madrasah Diniyah atau “sekolah agama” itu sesuai dengan bidang ilmu pengetahuan keagama-an. Pada saat yang sama, beliau juga menentukan spesialisasi kitab kuning kepada para ustadz kiyai yang mengajarkan KK di Pondok Pesantren Buntet; Pada masa kepemimpinannya juga dikirim beberapa alumni untuk melanjutkan belajarnya ke Makkah dan Madinah. Dengan demikian, motivasi kiyai Buntet pada periode ini adalah menjadikan Pesantren sebagai sebuah sistem lembaga kependidikan, walaupun masih terbatas kepada sistem pendidikan keagamaan.

Motivasi untuk menjadikan Pondok Pesantren Buntet sebagai sebuah sistem lembaga kependidikan, ini dilanjutkan bahkan dikembangkan oleh salah seorang putranya yaitu KH. Mustahdi Abbas ketika memimpin Pondok Pesantren Buntet pada 1946-1975. Pada antara tahun-tahun ini, telah didirikan beberapa lembaga pendidikan keagamaan yang lebih tinggi yaitu, MTs Muallimin dan Muallimat yang beberapa tahun kemudian berubah menjadi PGA Putra dan Putri; MA Muallimin dan Muallimat yang kemudian berubah status menjadi MAAIN dan perubahan terakhir menjadi MAN Buntet. Dengan berdirinya beberapa lembaga pendidikan atau “sekolah umum” ini, tampaknya KH. Mustahdi ingin memberikan perhatian yang serius kepada masyarakat yang menginginkan agar putra-putrinya di samping memiliki kemampuan dalam memahami isi kandungan KK (ciri khas materi pesantren) juga memiliki ilmu pengetahuan umum. Karena itu, motivasi KH. Mustahdi dalam menentukan orientasi pendidikannya berusaha memadukan antara materi pengetahuan keagamaan dengan materi pengetahuan umum.

Perkembangan Pondok Pesantren Buntet sebagai lembaga kependidikan, semakin dirasakan manfaatnya oleh masyarakat secara luas, sejak KH. Mustamid Abbas (adik KH. Mustahdi Abbas) memimpin Pondok Pesantren Buntet (1975-1989). Pada tahun 1980-an, banyak remaja lulusan SLTP yang mendaftarkan ke MAN Buntet padahal daya tampung siswa yang diterima sangat terbatas, sehingga banyak remaja yang semangat untuk melanjutkan sekolahnya ke MAN Buntet itu ditolak. Melihat keadaan demikian, maka KH. Mustamid Abas sebagai pimpinan pesantren Buntet mengeluarkan kebijakan untuk membuka MA NU yang terdiri dari MA NU Putra dan MA NU Putri. MA NU Putra dan MA NU Putri memiliki sarana-fasilitas, siswa, guru dan kepala madrasah masing-masing; di MA NU Putra semua pelajarnya adalah para remaja putra, sebaliknya di MA NU Putri semua pelajarnya terdiri dari para remaja putri.

Dipelajari dari segi sistem lembaga kependidikan, perbedaan antara MA NU dengan MAN terletak pada status dan penggunaan kurikulumnya. MA NU berstatus swasta di bawah lindungan Lembaga Pendidikan Islam (LPI) Pesantren Buntet; dan dalam penggunaan kurikulum, MA NU menggunakan kurikulum ganda yaitu kurikulum nasional (sebagaimana yang digunakan MAN) juga kurikulum lokal (kurlok) yang diterbitkan oleh NU; begitu juga dalam penggunaan hand book, asaatidz MA NU yang mengajarkan materi pendidikan agamanya diwajibkan menggunakan KK. Dengan kelebihan yang ada pada MA NU ini, menunjukkan bahwa lembaga ini merupakan perpaduan antara madrasah diniyah (karena kurlok dan hand booknya yang menggunakan KK) dan madrasah/sekolah “umum” (di MANU terdapat jurusan sebagaimana jurusan yang ada pada MAN Buntet yaitu: Fisika, Biologi, IPS dan Pendidikan Agama). Karena itu, MA NU merupakan lembaga pendidikan andalan bagi Pondok Pesantren Buntet walaupun dalam pelaksanaan EBTA maupun EBTANASnya, baik MA NU putra maupun MA NU Putri, masih ikut ke MAN Buntet.

Tampak bahwa dengan didirikannya MA NU (lembaga pendidikan yang meru-pakan perpaduan antara “sekolah agama” dan “sekolah umum”), KH. Mustamid Abbas sebagai pimpinan Pesantren Buntet menaruh perhatian yang sangat serius terhadap kepercayaan masyarakat yang menginginkan anak-anaknya untuk belajar di lembaga-lembaga pendidikan yang ada di Pondok Pesantren Buntet memperoleh dua pengetahuan sekaligus yaitu pengetahuan agama dan pengetahuan umum. Ini menunjukkan bahwa, motivasi yang tertanam di hati para kiyai Buntet dalam menentukan orientasi pendidikan di Pondok Pesantren Buntet sama seperti para kiyai pendahulunya yaitu mereka berusaha keras memberikan sesuatu yang terbaik bagi masyarakat.

Motivasi para kiyai Buntet semakin kuat untuk menjadikan Pondok Pesantren Buntet bukan hanya sebagai sebuah sistem lembaga kependidikan, tapi lebih dari itu yaitu jadi pelopor dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek). Motivasi ini diimplementasikan ketika KH. Abdullah Abbas yang memimpin Pesantren Buntet (1989 — sekarang) memberikan rekomendasi kepada ketua Yayasan Pendidikan Islam (YPI) untuk membuka AKPER pada tahun akademik 1997/1998. Dengan dibukanya AKPER, maka keberadaan Pondok Pesantren Buntet semakin lengkap dalam pengembangan lembaga-lembaga kependidikannya yaitu majlis ta’lim, madrasah masjid dan madrasah diniyah (sebagai lembaga pendidikan luar sekolah), “sekolah umum” dan pendidikan kejuruan (sebagai lembaga pendidikan sekolah). Karena itu keberadaan Pesantren Buntet dapat dikategorikan sebagai “Pondok Pesantren Terpadu” yang memadukan ilmu pengetahuan agama, ilmu pengetahuan umum dan teknologi atau keterampilan. Dengan demikian, tidak ada alasan bagi Pondok Pesantren Buntet untuk tidak dapat disejajarkan dengan lembaga-lembaga pendidikan atau perguruan modern lainnya.

Dengan mempelajari berbagai tahapan motivasi kiyai Buntet yang disesuaikan dengan perkembangan jaman, maka dapat dikemukakan bahwa motivasi kiyai yang paling utama dalam menentukan orientasi pendidikan di Pondok Pesantren Buntet adalah mereka berusaha sekuat tenaga menjadikan Pesantren Buntet sebagai lembaga pendidikan yang tetap menjaga ciri khas kepesantrenannya melalui majlis ta’lim, madrasah masjid dan madrasah diniyahnya; tetapi juga ber-usaha mengembangkan pengetahuan umum dan keterampilan. Bahkan lebih dari itu, Pondok Pesantren Buntet telah menjadi pelopor dalam pengembangan Iptek bagi kalangan pondok pesantren di Indonesia.

2. Peran Kiyai Pesantren Buntet

Kiyai dan para ustadz Pondok Pesantren Buntet yang banyak terlibat dalam pemrakarsa berdirinya beberapa madrasah, peranan dan keterlibatan mereka dapat dilihat dari dua sisi yaitu pengorbanan dalam bentuk material yaitu sebagian tanah dan hartanya dimanfaatkan sebagai sarana dan fasilitas; dan pengorbanan dalam bentuk fisik yaitu sebagian besar waktu dan ilmunya diamalkan demi kemajuan lembaga pendidikan yang telah didirikan.

Para kiyai yang ada di Pondok Pesantren Buntet sangat berperan dalam mengendalikan sistem dan orientasi pendidikan madrasah yang ada di Pondok Pesantren Buntet. Sebagian besar kiyai Buntet yang sebagian bangunan rumahnya dijadikan asrama santri, secara langsung ataupun tidak langsung mereka turut serta dalam mengajar, membimbing dan membina santrinya. Pengajaran, pembimbingan dan pembinaan yang dilakukan kiyai, tidak hanya bagi santri yang ada di asramanya melainkan bagi santri Pondok Pesantren Buntet secara keseluruhan. Misalnya, beberapa kiyai tertentu yang mengajarkan KK tertentu dengan diikuti oleh para santri dari beberapa asrama-asrama, begitu juga pengajaran qiraat al-quran secara khushus (qiraah sab’ah) yang disampaikan oleh kiyai tertentu tidak hanya bagi santri yang tinggal di asramanya saja melainkan santri dari asrama lain juga boleh mengikutinya.

Karena itu, para kiyai dan pengelola Pondok Pesantren Buntet pada umumnya merasakan betul tentang keinginan adanya perubahan yang diinginan sebagian besar masyarakat, terutama berkaitan dengan relevansi orientasi lembaga pendidikan dengan perkembangan dan kemajuan jaman. Namun tampaknya para “kiyai Buntet” lebih mengetahui kenyataan bahwa SDM (tenaga pendidik dan tenaga administrasi) yang ada di lingkungannya belum cukup banyak untuk mewujudkan keinginan sebagian besar masyarakat itu. “Kiyai Buntet” juga mengetahui bahwa, sebagian besar para santri atau pelajar yang belajar di lembaga-lembaga pendidikan yang ada di Pesantren Buntet adalah anak-anak desa yang berlatar belakang ekonomi orang tuanya pas-pasan atau anak-anak kota yang sengaja dimasukkan orang tuanya agar moral anaknya perlu diperbaiki. Dengan demikian, persoalan yang dihadapi para “kiyai Buntet” adalah SDM yang belum profesional dan in-put yang berekonomi dan berIQ atau berEQ pas-pasan.

Mewujudkan keinginan adanya perubahan orientasi pendidikan, seyogyanya didukung minimal oleh beberapa faktor yaitu pertama, sistem kepemimpinan dan dididik para pendidik yang profesional; kedua sarana-fasilitas yang memadai; dan ketiga, memiliki dana yang cukup. Faktor lain yang tidak kalah pentingnya adalah, kualitas in-put atau latar belakang IQ dan EQ pelajar yang unggul. Tanpa faktor-faktor tersebut, lembaga-lembaga pendidikan yang ada di lingkungan pesantren (khususnya dan lembaga-lembaga pendidikan keagamaan pada umumnya) masih dipandang sebagai lembaga pendidikan alternatif; lembaga pendidikan bagi masyarakat miskin atau masyarakat marjinal. Tampaknya, perkataan terakhir inilah yang terjadi di pesantren yaitu sebagai lembaga pendidikan alternatif.

Walaupun dalam keadaan seperti di atas, para kiyai dan pengelola  Pondok Pesantren Buntet dengan penuh keikhlasan selalu berupaya melakukan berbagai perubahan. Melalui Lembaga Pendidikan Islam (LPI) mereka selalu mengadakan musyawarah untuk mengevaluasi terhadap kelemahan-kelemahan yang terjadi pada lembaga-lembaga pendidikan yang telah ada kemudian dicarikan solusi yang terbaik untuk memperbaiki kelemahan-kelemahan pada sistem kelembagaan ataupun pada sistem kependidikan. Pada lima tahun terakhir ini, kiyai dan pengelola Pesantren Buntet sedang melakukan berbagai upaya nyata antara lain: (1) merubah visi dan orientasi kelembagaan dan kepemdidikan; (2) mengadakan kerja sama dengan berbagai fihak dalam bentuk pengadaan tenaga pendidik dan tenaga administrasi yang berkualitas maupun dalam bentuk penggalangan dana untuk pengembangan sarana-fasilitas dan kesejahteraan pendidikan.

Pertama, merubah visi dan orientasi kelembagaan dan kependidikan. Pondok Pesantren Buntet pada mulanya, merupakan sarana yang dapat dijadikan sebagai media untuk menjaga atau melestarikan dan mengembangkan ajaran Islam. Tapi perkembangan berikutnya, setelah menghadapi perubahan jaman yang sangat cepat, maka visi dan orientasi pendidikannya mengikuti perkembangan dan kemajuan jaman itu sehingga Pondok Pesantren Buntet tidak hanya berfungsi sebagai media dakwah tapi juga sebagai lembaga pendidikan Islam yang berusaha mendidik para remaja agar mereka terbebas dari kebodohan dan pergaulan yang sesat.

Kedua, kerja sama dengan berbagai fihak dalam pengadaan tenaga pengajar yang profesional dan penggalangan dana. Dalam mewujudkan keinginan masya-rakat agar tenaga pengajar yang mengajar di lembaga-lembaga pendidikan di Pondok Pesantren Buntet adalah tenaga pengajar yang profesional, maka upaya yang dilakukan yaitu bekerja sama dengan lembaga-lembaga pendidikan umum dan kejuruan yang ada di wilayah Kecamatan Astanajapura. Begitu juga dalam pengembangan sarana-fasilitas pendidikan, beberapa kiyai tertentu melakukan safari silaturahmi dengan berbagai fihak sebagai upaya memohon dukungan dan saran-pendapat ketika akan mendirikan AKPER yaitu lembaga pendidikan tinggi yang lebih menekankan pada sain (ilmu pengetahuan) dan teknologi.

Safari silaturahmi itu dilakukan antara lain mengunjungi Menhankam Pangab TNI (ketika itu Jendral Edi Sudradjat yang kemudian dilanjutkan Jendral Wiranto); mohon dukungan dari Jendral Soedarmono (Mantan Wakil Presiden); bersilaturahmi dengan Ketua PB NU Abdurrachman Wachid (sekarang Presiden ke-4) dan dengan beberapa kiyai pembina pesantren se-Jawa Barat. Dalam upaya melakukan studi banding, safari silaturahmi juga dilakukan dengan beberapa alumni Pondok Pesantren Buntet yang telah menjadi praktisi atau pengelola lembaga pendidikan serta berkunjung ke beberapa lembaga pendidikan tinggi terapan seperti UNINUS Bandung, UNISBA dan Institut Ilmu al-Quran (IIQ) Jakarta.

Hasil dari kunjungan tersebut, pada tahun 1979 terbentuklah sebuah Yayasan Pendidikan Islam (YPI) yang personalia kepengurusannya terdiri dari para kiyai “Buntet”, beberapa orang pendukung dana dan para alumni Pesantren Buntet. Melalui YPI, pada 1994 dibangun dan didirikanlah dengan megah bangunan AKPER dan pada tahun  akademik 1997/1998 AKPER menerima mahasiswa baru. Melalui YPI juga pada tahun 1997 dirintis untuk mendirikan Perguruan Tinggi Islam (PTI) yang pada pertengahan 1999 dimusyarawahkan nama dan bentuk PTI itu adalah antara lain Universitas Islam Buntet (UIB) atau Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Buntet.

Dengan berdirinya lembaga pendidikan yang berorientasi Iptek, di  Pondok Pesantren Buntet terdapat dua jenis lembaga yaitu pertama “lembaga sosial ke-agamaan” atau madrasah diniyah yaitu madrasah masjid (yang mengajarkan KK dengan metode sorogan) dan majlis ta’lim (yang mengajarkan KK dengan metode bandongan dan halaqah) atau lembaga pendikan keagamaan yang bersifat umum seperti TPA/TKA, MINU, MTS NU, MA NU dan MAK NU; Kedua, lembaga pendidikan kejuruan yaitu AKPER.

Dengan mempelajari perjuanan para “kiyai Buntet” yang sangat gigih dalam memajukan Pondok Pesantren Buntet, maka sangat wajar jika diungkapkan bahwa para kiyai Buntet sangat berperan dalam mengendalikan sistem dan orientasi pendidikan di Pondok Pesantren Buntet.

3. Orientasi Pendidikan Pesantren Buntet

Pada awalnya, lembaga pendidikan yang ada di lingkungan Pondok Pesantren Buntet adalah jenis pendidikan keagamaan berbentuk madrasah. Di samping itu, telah ada jauh sebelum itu yaitu, “lembaga sosial keagamaan” berupa pengajian dasar-dasar al-quran dan KK tingkat dasar bagi masyarakat Buntet sekitarnya, yang keberadaan dan perkembangannya terus dipertahankan. Melalui kedua lembaga pendidikan keagamaan inilah para santri belajar tentang ilmu pengetahuan keagamaan yang materi dan kurikulumnya adalah ‘aqidah-akhlaq, al-quran dan Tafsirnya, Hadits dan ‘ulum al-Hadits, Fiqh dan Usul fiqh, Bahasa Arab dan tata bahasanya (nahw, sharf). Ke semua jenis dan bentuk pendidikan yang telah ada ini, sebagian besar dipimpin oleh para kiyai dan ustadz “Buntet”; dan materi pengajaran yang ada di lembaga-lembaga pendidikan pun disampaikan oleh para “kiyai/ustadz “Buntet”. Dengan demikian, lembaga-lembaga pendidikan yang telah ada di lingkungan pesantren, belum memperioritaskan untuk mengembangkan pengetahuan umum dan keterampilan; ini disebabkan karena sistem kepemimpinan sekolah dan SDM yaitu tenaga pendidik dan tenaga administrasinya yang telah ada masih belum banyak yang memiliki bidang bidang pengetahuan untuk mengembangkan penge-tahuan umum dan keterampilan.

Dengan keadaan seperti di atas, maka bagi masyarakat yang hanya berharap yang penting anaknya belajar di lembaga pendidikan dan kelak mampu memahami serta memiliki pengetahuan keagamaan, tampaknya lembaga-lembaga pendidikan di Pondok Pesantren Buntet dapat dipertimbangkan. Tetapi bagi masyarakat yang berharap banyak agar anaknya memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek), keterampilan terapan serta mampu memahami pengetahuan keagamaan sekaligus, maka lembaga-lembaga pendidikan yang ada di Pesantren Buntet belum dapat dijadikan standard untuk harapan itu. Karena itu, lembaga-lembaga pendidikan yang dikehendaki masyarakat adalah lembaga pendidikan yang mengajarkan tentang Iptek, keterampilan sekaligus mengajarkan keimanan dan akhlaq yang baik (akhlaq al-kariemah) sebagai penyeimbang Iptek yang dipelajarinya. Lembaga-lembaga pendidi-kan yang dikehendaki masyarakat ini, belum ada di Pondok Pesantren Buntet.

Karena itu, para kiyai dan pengelola Pondok Pesantren Buntet dengan penuh kesungguhan mereka berjuang melakukan berbagai revisi dan innovasi atau peru-bahan. Revisi yang dilakukan para “kiyai Buntet” adalah berusaha menjadikan “lembaga sosial keagamaan” menjadi sebuah sistem lembaga kependidikan. Sedangkan innovasinya, melakukan berbagai perubahan dan mengimplementasikan visi yang telah diupayakannya itu dalam bentuk mendirikan beberapa lembaga pendidikan –baik dalam bentuk madrasah, sekolah umum ataupun sekolah kejuruan. Dari sinilah diketahui bahwa KH. Abbas Abdul Jamil mendirikan MWB,  MWI, KH. Mustahdi Abbas (MTs NU Putra dan Putri/PGA, MA, MAN), KH. Mustamid Abbas (MA NU Putra dan Putri) dan KH. Abdullah Abbas (MAK, AKPER) adalah sebagai upaya untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada pada sekaligus memenuhi tuntutan masyarakat yang menginginkan agar pondok pesantren tidak hanya membuka lembaga pendidikan yang mengajarkan materi pengetahuan agama, tapi juga lembaga-lembaga pendidikan yang mengajarkan pengetahuan agama, pengetahuan umum dan keterampilan.

Dengan berdirinya lembaga-lembaga pendidikan yang berorientasi kepada agama dan Iptek, maka sudah jelas bahwa orientasi pendidikan di Pondok Pesantren Buntet yaitu berusaha membimbing dan membina manusia Indonesia selalu beriman dan bertaqwa kepada Allah swt., memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi tapi juga berakhlaq mulia (akhlaq al-kariemah) serta mandiri. Dengan demikian, orientasi pendidikan di Pondok Pesantren Buntet merupakan implementasi dari tujuan pendidikan nasional yaitu “mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebang-saan”.

  1. F. Temuan dan Implementasi Hasil Penelitian
    1. 1. Asrama Besar dan Asrama Kecil

Di lingkungan Pondok Pesantren Buntet, hingga penelitian ini berlangsung, terdapat 37 buah asrama/pondok santri, ke semuanya adalah milik kiyai atau pembina Pondok Pesantren Buntet yang dihuni oleh santri yang jumlahnya beragam. Ke-37 buah asrama/pondok santri itu disebut “asrama kecil”. Di samping itu ada yang disebut “asrama besar” (asbes), yaitu sebuah bangunan permanen berlantai dua, terdiri dari 12 kamar dan ditemapti oleh kurang lebih 70 orang santri. Karena berada di luar rumah kiyai, sehingga mereka seolah-olah tidak punya “bapak asuh”.

Keadaan dualisme asrama/pondok santri itulah sehingga Drs. H. Bisri Imam (salah seorang keturunan dari pendiri Pesantren Buntet) mengatakan ,

Pesantren Buntet sesungguhnya bukanlah pesantren, melainkan pondok. pesantren yaitu lembaga pendidikan Islam yang di dalamnya terdiri dari beberapa kamar pondok, rumah kiyai dan sebuah masjid. Melalui pondok itulah para santri menetap untuk beberapa waktu yang tidak ditentukan. Sedangkan santri Buntet, bukan tinggal di pondok yang ada di pesantren, melainkan tinggal di beberapa pondok yang milik para kiyai.

Keberadaan dan pernyataan di atas menunjukkan bahwa, Pondok Pesantren Buntet berbeda dengan beberapa pesantren lain yang ada di wilayah III Cirebon. Di beberapa Pesantren pada umumnya, pondok/asrama santri bukan milik orang-orang tertentu, melainkan milik Yayasan Pendidikan Islam (YPI) yang dikelola secara organisasi. Di dalam YPI terdiri dari beberapa orang pengurus sesuai dengan fungsi dan perannya masing-masing.

Implikasinya. Dengan adanya dua sistem asrama/pondok santri, maka ada beberapa hal yang terjadi di Pesantren Buntet yaitu pertama sistem pembinaan dan kedua kualitas santri.

Pertama, sistem pembinaan santri. Sistem pembinaan terhadap santri yang berada di asrama/pondoknya kiyai, sangat ditentukan oleh “kualitas” kiyainya; mereka memper-oleh pengawasan dan perhatian penuh dari kiyainya sebagaimana kiyai mengawasi dan memperhatikan keluarganya, karena mereka juga “anggota keluarganya”. Begitu juga dalam belajar keagamaan, mereka memperoleh pengetahuan keagamaan sesuai dengan keahlian dan kualitas kiyainya. Berbeda dengan santri yang ada di “asrama besar”, karena mereka tidak memiliki “bapak asuh” sehingga perilaku dan kegiatan mereka seolah-olah tidak memperoleh pengawasan dari siapapun. Mereka belajar sesuai kemampuan dan kemauamnya sendiri; mereka bebas memilih kiyai dan jenis KK yang akan dipelajarinya.

Keadaan di atas menunjukkan bahwa, di Pondok Pesantren Buntet terjadi dua atau polisistem pembinaan dan bahkan diskriminatif terhadap santri yang tinggal di asrama besar. Di samping itu, Pesantren Buntet tidak memiliki data santri secara administratif yaitu santri yang betul-betul miliki Pondok Pesantren Buntet, bukan santri milik Pondok Pesantren Buntet.

Kedua, kualitas santri. Berkaitan dengan dua atau polisistem pembinaan di Pondok Pesantren Buntet, berdampak kepada kualitas santri baik dalam penguasaan pengetahuan umum dari sekolahnya maupun pengetahuan agama dari pondoknya. Bagi santri yang tinggal di pondok “A”, misalnya ia dinilai berkualitas baik, lantaran di pondoknya selalu diarahkan dan diawasi agar selalu belajar; begitu juga dalam menjalankan ibadah, membaca al-quran dan mempelajari KK mereka diberi arahan untuk memilih KK yang sesuai dengan kemampuannya. Berbeda dengan santri yang tinggal di pondok “B” yang dinilai kurang berkualitas karena tidak selalu memperoleh pengawasan dan arahan dari kiyainya. Dengan demikian, perhatian intensif dari kiyai dan keahlian kiyai dalam penguasaan KK  sangat menententukan kualitas santri.

b. Latar Belakang Pendidikan Pembina Pesantren

Pondok Pesantren Buntet, hingga penelitian ini berlangsung, dibina oleh 51 orang pembina yang terdiri dari kiyai ustadz/ustadzah. Dipelajari dari latar belakang pendidikan (sekolah dan pesantren)nya, 24 orang pembina di antaranya adalah lulusan dari Pondok Pesantren Buntet yaitu mereka memperoleh pengetahuan keagamaan (al-quran dan KK)-nya dari orang dan saudara-saudaranya atau dari lembaga-lembaga pendidikan yang ada di Pesantren Buntet. Sebagian besar dari mereka adalah ustadzah yang melanjutkan kepemimpinan suaminya dalam membina santri yang ada di pondoknya. Mereka dalam membina santrinya, dibantu oleh anak dan menantunya yang telah selesai mesantren di beberapa Pesantren di luar Pondok Pesantren Buntet bahkan ada yang lulusan dari Makkah, Madinah atau Madinah.

Disinyalir bahwa dulu anak wanita dilarang belajar ke luar Buntet, karena yang diajarkan kepada santri wanita sama seperti yang diajarkan oleh orang tuanya di rumah yaitu belajar al-quran dan beberapa KK tentang kewanitaan. Di samping itu, usia belajar wanita tidak lama yaitu hanya sampai usia 17/20 tahun setelah itu mereka dinikahkan dengan ustadz atau kiyai kemudian membina pondoknya.

Melihat kenyataan di atas, maka dimaklumi jika beberapa ustadzah yang sekarang menjadi pembina di beberapa pondok di Pondok Pesantren adalah karena saat itu kaum wanita dibatasi waktu dan tempat belajarnya Di samping itu, ada beberapa kiyai yang dalam membina lembaga pendidikan yang ada di rumahnya dikelola secara turun-temurun.

Implikasinya. Dampak langsung dari latar belakang pendidikan para pembina ini adalah kepribadian dan keahlian santri dalam penguasaan KK yang dipelajarinya; santri akan menguasai suatu KK, sesuai dengan kitab yang diajarkan kiyainya. Karenanya, santri yang tinggal di rumah kiyai dengan keahlian tertentu, terutama pengetahuan keagamaan maka ia akan mewarisi ilmunya. Dengan demikian, kualitas santri dalam memahami dan menguasai KK tidak hanya ditentukan oleh sistem pembinaan melainkan kualitas dan keahlian kiyai dalam penguasaan KK juga sangat menentukan.    

c. Sistem Kepemimpinan

Lajimnya sebuah lembaga kependidikan, dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi programnya selalu ditentukan secara bersama-sama antara anggota dan pimpinan lembaga. Pesantren Buntet, sebagai lembaga pendidikan Islam, yang menyelenggarakan dua bahkan tiga jenis pendidikan (pendidikan keagama-an, keumuman dan kejuruan) masing-masing lembaga pendidikan tersebut memiliki kepemimpinan dengan programnya yang berbeda-beda. Namun ketiga jenis lembaga pendidikan ini, dalam pertanggung jawaban programnya sangat ditentukan oleh sistem kepemimpinan Pesantren.

Sistem kepemimpinan yang berlangsung di Pondok Pesantren Buntet, secara umum juga terjadi di beberapa Pesantren tradisional lainnya yaitu selalu dipimpin oleh kiyai keturunan dari kiyai pendiri Pesantren (mbah Muqayim atau K. Muta’ad). Namun dipelajari secara mendasar, sistem kepemimpinan di Pondok Pesantren Buntet memi-liki ciri khas tersendiri. Kekhasan ini terjadi, karena latar belakang berdirinya Pondok Pesantren Buntet yang didirikan oleh seorang kiyai (mbah Muqayim) yang berasal dari keluarga Kesultanan Cirebon, sehingga dalam mengendalikan kepemimpinannya tampak seperti mengendalikan sebuah kerajaan yakni diutamakan kepada kiyai putra dari istri pertama. Ini dapat diperhatikan, antara lain dari sebutan “Buntet Pesantren” dan suasana daerah.

Buntet Pesantren, memiliki kedalaman makna yang berbeda dengan Pondok Pesantren Buntet. Buntet Pesantren adalah area atau wilayah daerah yang dihuni oleh keturunan mbah Muqayim, sedangkan Pondok Pesantren Buntet adalah lembaga pendidikan Islam yang didirikan oleh keturunan mbah Muqayim bertempat di tengah-tengah masyarakat Buntet Pesantren. Masyarakat Buntet meliputi, penduduk Desa Mertapada Kulon, Desa Mertapada Wetan, Desa Buntet, Desa Munjul, Desa Ender dan beberapa desa yang berada di wilayah Kecamatan Astanajapura bahkan beberapa Desa lain yang berada di Desa Kempek dan Desa Babakan (Kec. Ciwaringin), Kelurahan Argasunya (Kota Cirebon). Ke semua desa tersebut, masyarakatnya sebagian besar adalah keturunan mbah Muqayim. Di samping itu, mereka selalu menjaga keutuhan “kerajaan” Buntet Pesantren yakni Islami, gotong royong dan bahkan sistem pernikahan yang lebih mengutamakan keluarga Buntet. Ini barangkali yang dimaksud Abdurrachman Wahid (1979) bahwa, “Pesantren adalah tatanan masyarakat yang selalu menjaga suasana dan kultur Islami seperti shalat selalu berjamaah, selalu menjaga sunnah Rasul yakni saling menasihati kesabaran dan ketaqwaan serta bertegur-sapa dengan bahasa agama”.

Implikasinya. Sistem kepemimpinan yang dibangun atas dasar keturunan dan senioritas, biasanya berakibat pada sikap pemimpin yang otoriter terhadap anggotanya baik dalam perencanaan maupun dalam pelaksanaan program kerja. Ia kurang bahkan tidak sepenuhnya mempercayai pekerjaan bawahannya dan cenderung mengangkat orang yang disenanginya. Ketika memimpin rapat, ia lebih mendominasi pembicaraanb dan berusaha memaksakan pendapatnya daripada menerima masukan dari pengurus lain. Karenanya wajar jika bentuk kepemimpinan ini identik dengan kepemimpinan yang berlaku di kerajaan. Pondok Pesantren Buntet dipelajari dari sejarahnya, ia didirikan oleh para kiyai keturunan dari kesultanan (kerajaan) Cirebon, sehingga dinilai ada kemiripan dalam menjalankan kepemimpinannya.

d. Dualisme Kelembagaan Pendidikan Islam

Di pondok pesantren Buntet, terdapat dua lembaga yang megkoordinasikan lembaga-lembaga pendidikan yaitu LPI dan YPI. LPI mengkoordinasikan lembaga-lembaga pendidikan Islam baik yang bersifat pendidikan luar sekolah (PLS) seperti madrasah diniyah, madrasah masjid dan majlis taklim, ataupun yang bersifat pendidikan sekolah seperti MI NU, MTs NU, MA NU dan MAK NU. Sedangkan YPI mengkoordinasikan lembaga pendidikan kejuruan yaitu AKPER. Kedua lembaga ini, masing-masing memiliki peran, struktur dan kepemimpinan yang berbeda walaupun ada beberapa pembina yang menjadi pengurus di dua lembaga tersebut. Kenyataan inilah yang dimaksud bahwa, di Pondok Pesantren terdapat dua penyelenggara pendidikan.

Implikasinya. Dengan adanya dua penyelenggara pendidikan, maka dapat dipastikan keduanya masing-masing memiliki fungsi dan peran yang berbeda. Sehingga ada dugaan bahwa, para pembina/kiyai di Pondok Pesantren Buntet tidak memiliki kebersamaan dalam penyelenggaraan pendidikan. Kenyataan ini dapat diperhatikan dari salah satu bentuk penentuan kebijakan untuk mendirikan lembaga pendidikan tinggi (LPTA). Mereka selalu berbeda pendapat: apakah LPI atau YPI yang berhak dan bertanggung jawab ketika LPTA itu didirikan. Sehingga akhirnya, LPTA sejak direncanakan pada 1997 hingga penelitian ini dilakukan, berlum terwujud bahkan Sekolah Tinggi Agama Islam, salah satu bentuk LPTA telah berdiri bukan didirikan oleh dan di Pondok Pesantren Buntet melainkan didirikan oleh tokoh masyarakat desa Mertapada Kulon.

BAB V

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

A. Kesimpulan

  1. 1. Perkembangan Pesantren Buntet secara historis

Perkembangan yang terjadi di Pondok Pesantren Buntet, dapat dikategorikan ke dalam tiga macam yaitu pertama perkembangan sarana-fasilitas, kedua, perkembangan kelembagaan dan ketiga perkembangan kependidikan. Ketiga bentuk perkembangan ini bermuara pada perkembangan visi dan misi kelembagaan dan kependidikan.

Pembahasan ini difokuskan pada perkembangan kamar/asrama santri (pondokan) dan lembaga pendidikan. Pondok Pesantren Buntet, dilihat dari dan perkembangan sarana fasilitas kamar/asrama santri mengalami perubahan yang cukup pesat; namun per-kembangannya, menurut penulis, sangat unik (memiliki ciri khas tersendiri) jika dibandingkan dengan perkembangan asrama santri di beberapa pondok pesantren tradisional yang ada di wilayah III Cirebon. Kamar/asrama santri yang berjumlah 275 kamar di Pesantren Buntet, dapat dibagi menjadi dua bentuk yaitu beberapa kamar /asrama santri dalam bentuk asrama besar (asbes) dan sebagian besar kamar/asrama santri merupakan milik para kiyai. Kenyataan ini menunjukkan bahwa, perkembangan fisik masing-masing asrama santri sangat bervariasi sesuai tingkat kepedulian pemiliknya. Karena itulah santri Pondok Pesantren Buntet, ada yang disebut santri ASBES (santri yang tinggal di asrama besar) dan santri rumah (santri yang tinggal di rumah kiyai).

Berdasarkan  penyebutan santri Buntet ini, maka wajar jika kuantitas santri Buntet sulit didata secara pasti karena kiyai yang memiliki santri tidak semua melaporkan jumlah dan keadaan santrinya. Di samping itu, secara kualitas, santri Buntet belum diarahkan untuk mempelajari bidang-bidang pengetahuan keagamaan tertentu kecuali pengetahuan keagamaan yang diperolehnya dari kiyai atau pengetahuan umum yang diperoleh dari lembaga pendidikan yang dimasukinya.

Akibat langsung dari keadaan di atas adalah pertama, tidak diperoleh gambaran tentang sistem organisasi santri Pondok Pesantren Buntet. Padahala, melalui organisasi santri akan terbentuk sistem kepemimpinan santri yang berkesinambungan; melalui organisasi juga, santri akan memiliki keterampilan berorganisasi dan kepemimpinan. Kedua, tidak diperoleh data tentang profil atau ciri khas (ilmu keagamaan) tertentu yang dimiliki alumni Buntet.

  1. 2. Bentuk Pendidikan dan Respons Kiyai terhadap Keinginkan Masyarakat

Dipelajari secara periodisasi, bentuk pendidikan yang ada di Pondok Pesantren Buntet secara terus menerus mengalami perubahan. Pada periode I (1758-1782) dan Periode II (1782-1824) pendidikan yang ada masih bersifat “lembaga sosial keagamaan” dalam bentuk madrasah masjid majlis ta’lim; Periode III (1824-1910) mulai meningkat menjadi pondok tradisional. Disebut pondok, karena sudah tersedia beberapa kamar pondokan bagi santri muqim; disebut pondok tradisional, karena sudah terjadi proses pendidikan yaitu kiyai di samping mengajarkan dasar-dasar al-quran dan beberapa KK dengan metoda sorogan dan bandongannya, juga tetap membina masyarakat melalui majlis taklimnya. Periode IV (1910-1946) Pondok Pesantren Buntet dapat dilkategorikan sebagai pondok pesantren tradisional, karena telah dibuka dua lembaga pendidikan sekolah, walaupun masih bersifat dasar keagamaan, yaitu MWB  dan MWI, yang dalam pembelajarannya telah terbentuk sistem kependidikan. Di kedua madrasah itu telah ada kepala sekolah, beberapa ustadz yang disesuaikan dengan bidang pengetahuan dan materi pelajarannya diatur secara terjadwal serta diselenggarakan dalam bentuk perjenjangan. Pondok Pesantren Buntet mengawali era baru yaitu pada periode V (1946-1979) ketika dipimpin KH. Mustahdi. Beliau, telah membuka beberapa lembaga pendidikan seperti MTs, PGA, Madrasah Aliyah (kemudian dinegerikan menjadi MAAIN, terakhir menjadi MAN) bahkan IAIN Cabang Jakarta.

Lembaga pendidikan yang ada di Pondok Pesantren Buntet hingga tahun ajaran 1998/1999, dapat dikelompokkan ke dalam dua kelompok yaitu lembaga-lembaga pendidikan yang berada di bawah koordinasi LPI dan lembaga pendidikan yang berada di bawah koordinasi YPI. Terhadap kedua lembaga pendidikan Islam ini, tampaknya memiliki struktur dan fungsi yang berbeda. Kenyataan ini sering membuat masyarakat menduga-duga bahwa, pertama di Pesantren Buntet terdapat dualisme kepemimpinan dalam penentuan kebijakan masalah pengembangan kependidikan. Tapi jika diperhatikan dari komposisi kepengurusan, ternyata ada beberapa nama kiyai yang menjadi pengurus di LPI maupun YPI. Kedua, masing-masing lembaga itu memiliki peran yang sama yaitu melayani kebutuhan pendidikan masyarakat dalam bidang pendidikan; LPI melayani kebutuhan pendidikan masyarakat dalam bidang pendidikan keagamaan yang bersifat pendidikan luar sekolah (PLS) seperti: madrasah masjid, majlis ta’lim dan madrasah diniyah dan lembaga-lembaga pendidikan keagamaan bersifat umum dalam bentuk persekolah seperti MI NU, MTs NU, MA NU dan MAK NU, sedangkan YPI melayani kebutuhan masyarakat dalam bidang pendidikan kejuruan yaitu AKPER.

Dengan dibukanya lembaga pendidikan yang bersifat keagamaan, keumuman dan kejuruan, maka Pesantren Buntet dapat dikategorikan sebagai Pondok Pesantren Terpadu yang mampu memadukan ketiga materi sekaligus yaitu keagamaan-keumuman-kejuruan. Karena itu, para kiyai “Buntet” telah mempertimbangkan keinginan masyarakat agar lembaga-lembaga pendidikan yang ada di lingkungan Pesantren Buntet tidak hanya berorientasi pada keagamaan, tetapi sekaligus juga keumuman dan kejuruan/ keterampilan.

  1. 3. Pemikiran Kiyai terhadap Pondok Pesantren Terpadu

Pemikiran kiyai “Buntet” terhadap bentuk atau jenis pendidikan, sangat pragmatis sekali; pemikiran mereka terfokus kepada upaya bagaimana agar lembaga pendidikan yang ada di Pesantren Buntet dapat mengikuti perkembangan jaman dan sesuai dengan tuntutan masyarakat sebagai pengguna. Sebagian besar dari mereka kurang memahami, apakah lembaga pendidikan yang mereka perjuangkan itu bersifat tradisional, modernis atau “terpadu”. Karena itu, usaha apapun demi kemajuan LPI dan YPI akan mereka perjuangkan. Mereka berprinsip kepada pedo-man Imam Syafi’iy bahwa al-muhafadzah ‘ala asl-qadim al-shalih wa al-akhdu bi al-jadid al-ashlah.

Dengan demikian, wawasan para kiyai “Buntet” terhadap sistem pendidikan yang mereka perjuangkan sangat sederhana sekali yaitu, lembaga pendidikan yang mereka perjuangkan agar bermanfaat bagi para remaja yang mesantren di “Buntet”.

  1. 4. Upaya Kiyai dalam Memenuhi Tuntutan Masyarakat

Ada dua upaya nyata yang dilakukan kiyai “Buntet” dalam memenuhi tuntutan masyarakat yaitu: pertama, merubah visi dan orientasi pendidikan, dan kedua meng-adakan kerja sama dengan beberapa lembaga pendidikan dalam upaya pengadaan tenaga pendidik dan tenaga administrasi yang profesional, maupun bekerja sama dengan berbagai instansi dalam upaya mencari dana untuk pengembangan sarana dan kesejahteran pendidik.

  1. 5. Faktor Pendukung dan Penghambat

Kiyai Buntet dipelajari dari silsilahnya, dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu: kiyai “dalem” dan kiyai “luar”. Kiyai “dalem” adalah, para kiyai yang secara langsung masih ada garis keturunan mBah Muqayyim. K. Muta’ad atau K. Abdul Jamil, sedangkan kiyai “luar” adalah para kiyai yang secara tidak langsung masih ada garis keturunan mbah Muqayyim. Faktor keturunan inilah, menurut penulis yang mempengaruhi sistem kepemimpinan di Pesantren Buntet. Kepemimpinan pondok pesantren Buntet, sejak periode I hingga periode VI, selalu dipimpin oleh kiyai keturunan dari istri pertama; baru periode VII (1989 – sekarang) pondok pesantren Buntet dipimpin oleh generasi keturunan dari istri kedua.

Dipelajari dari corak pemikiran, kiyai Buntet dapat dikelompokkan ke dalam tiga kelompok yaitu: konservatif, tradisionalis dan modernis. Di antara ketiga kelompok, yang sering saling-silang pendapat dalam menentukan kebijakan LPI atau YPI adalah kelompok konservatif dan kelompok modernis. Berkaitan dengan pro-kontra dalam melakukan ber-bagai pergeseran visi dan innovasi lembaga, yang sering dianggap sebagai penghambat adalah para kiyai yang bercorak pemikiran konservatif, yaitu mereka yang berharap agar segala kebijakan yang dikeluarkan oleh pimpinan selalu berpijak kepada kepentingan “dalem”. Sedangkan para kiyai tradisionalis, biasanya selalu mendukung terhadap gagasan dan kebijakan yang mengarah kepada perbaikan lembaga (LPI dan YPI)

  1. B. Rekomendasi
    1. Santri Pesantren Buntet yang tersebar di rumah-rumah kiyai, menunjukkan bahwa mereka tidak memiliki ikatan sebagai santri “Buntet”. Karenanya, perlu diper-timbangkan adanya pendataan santri secara administratif, menyeluruh dan terkoordinasi sebagai santri Pesantren Buntet dan bukan santrinya para kiyai “Buntet”, kemudian mereka diberi kepercayaan untuk membentuk kepemimpinan santri secara periodisasi.
    2. Di Pesantren Buntet terdapat dua lembaga pendidikan yaitu LPI dan YPI; kedua-duanya memiliki struktur, fungsi, peran dan tanggung jawab masing-masing. Alangkah baiknya jika dari keduanya ditentukan lembaga tertinggi dan lembaga tertinggi itu adalah YPI. Setelah itu ada pembagian tugas yang berbeda yakni YPI bertugas menangani seluruh aktivitas yang ada di Pesantren Buntet termasuk LPI, sedangkan LPI bertugas mengkoordinasi seluruh aktivitas lembaga-lembaga pendidikan yang ada di pondok pesantren Buntet.
    3. 3. Pesantren Buntet telah lama dikenal sebagai pusat pengembangan thariqah Tijani dan thariqat Shathariyah. Karena itu, akan lebih baik jika kedua bentuk thariqah itu diformalkan dalam bentuk lembaga pendidikan misalnya di lingkungan Pondok Pesantren Buntet didirikan Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) yang salah satu Fakultas atau Jurusannya adalah mengembangkan kedua thariqah tersebut.       

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Qadir Djaelani, Peran Ulama dan Santri dalam Perjuangan Politik Islam Di Indonesia, Bina Ilmu, Surabaya, 1994

Abdurrachman Wachid, Pesantren sebagai Subkultur dalam Dawam Rahardjo (Ed) Pesantren dan Pembaharuan, LP3ES, Jakarta, 1979

Abu Hamid, Sistem Pendidikan Pesantren dan Madrasah di Sulawesi Selatan dalam Taufiq Abdullah (Ed), Agama dan Perubahan Sosial, Rajawali, Jakarta, 1993

Achmad Nurhadi Jamil, Epistemologi Pendidikan Islam Suatu Telaah Refleksi Qurani, dalam Chabib Thaha, dkk., Reformulasi Filsafat Pendidikan Islam, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1996

Achmad Tafsir, Epistemologi Pendidikan Islam, Rosda Karya, Bandung,1995

——————-, Ilmu Pendidikan dalam Perespektif Islam, Rosda Karya, Bandung, 1992

Al-Nahlawi, Abdurrachman, Pendidikan Islam Di Rumah, Sekolah dan Masyarakat, Gema Insan Press, Jakarta, 1995

Amri Murzali, Pergeseran Orientasi Nilai Kebudayaan dan Keagamaan dalam Kaitannya dengan Perubahan Sosial-Kebudayaan Di Indonesia dalam Abdul Aziz Penelitian Agama dalam Perspektif, Depag RI., Jakarta, 1995

Astrid S. Susanto, Sosiologi Pembangunan, Bina Cipta, Jakarta, 1984

Bogdan, C, Robert & Biklen, Knop Sari, Qualitative Research for Education: An Intreoduction to Theory and Methode, Allyn and Bacon, Inc, Boston, AS, 1982

Brower, MAW, dkk., Kepribadian dan Perubahannya, Gramedia, Jakarta, 1982

Buche B. Soedjojo dan Manfred Ziemek, Pesantren dan Perubahan Sosial, P3M, Jakarta, 1986

Busyairi Madjid, Tokoh-tokoh Pendidikan Islam, IAIN Sunan Kalijaga Press, Yogyakarta, 1997

Chabib Thaha, Kapita Selekta Pendidikan Islam, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1977

Consuelo, G, Sevila, et all., Pengantar Metode Penelitian, Terj. Alimuddin Teue, UI Press, Jakarta, 1993

Coombs, H, Philip, The World Crisis in Education, Oxford University Press, Cambridge, 1989.

Dawam Rahardjo, Gambaran Pemuda Santri dalam Taufiq Abdullah (Ed) Pemuda dan Perubahan Sosial, LP3ES, Jakarta, 1982

———————- (Ed), Pesantren dan Pembaharuan, LP3ES, Jakarta, 1986

Dedi Supriadi, Mengangkat Citra dan Martabat Guru, Adicita Karya Nusa, Yogyakarta, 1998.

—————–, Isu dan Agenda Pendidikan Tinggi Di Indonesia, Rosda Karya, Bandung, 1997

Escober M,. dkk. (Ed), Paulo Freire: Sekolah Kapitalisme yang Licik, LKIS, Yogyakarta, 1998

Geertz, Clifort, Abangan, Santri dan Priyayi dalam Masyarakat Jawa, Pustaka Jaya, Jakarta, 1978

Guba, G & Lincoln, S, Yvona, Naturalistic Inquiry, Sage Publication, Beberly Hills, Lonjdon, New Delhi, 1984

Hasan Langgulung, Azas Azas Pendidikan Islam, Alma’arif, Bandung, 1978

Hemming, James, Individual Morality, Nelsen and Sons Ltd, Capewood, New Jersey, 1969.

Horikosih, Hiroko, Kiyai dan Perubahan Sosial, P3M, Jakarta, 1987

Joyce, Bruce & Weil, Marsha, Models of Teaching, Prentice Hall, Inc, Englewood Cliffs, New Jersey, 198

Kafrawi, Pembaharuan Sistem Pendidikan Pondok Pesantren sebagai Usaha Peningkatan Prestasi Kerja dan Pembinaan Kesatuan Bangsa, Cemara Indah, Jakarta, 1978,

Koentjoroningrat, Paradigma Islam Interpretasi untuk Aksi, Mizan, Bandung, 1976

Karel A. Steenbrink, Pesantren, Madrasah dan Sekolah, LP3ES, Jakarta, 1978

Krech, David, cs., Individual in Society, Mc, Grow Hill Book Company, Inc, New York. 1962

Mar’at, Sikap Manusia, Perubahan serta Pengukurannya, Ghalia Indonesia, Bandung, 1982

Marwan Saridjo, Sejarah Pondok Pesantren di Indonesia, Karya Bhakti, Jakarta, 1996

Mastuhu, Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren Suatu Kajian tentang Unsur dan Nilai Sistem Pendidikan Pesantren, INIS, Jakarta, 1994

Mochtar Buchari, Transpormasi Pendidikan, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1988

Moeslim Abdurrachman, Islam Transformatif, Gema Insan Press, Jakarta,1995

Moh. Rusli Karim Pendidikan Islam sebagai Upaya Pembebasan Manusia, dalam Muslih Usa (Ed) Sistem Pendidikan Islam di Indonesia, Tiara Wacana, Jakarta, 1996

Moleong, J, Lexy, Metodologi Penelitian Kualitatif, Remaja Karya, Bandung, 1989

Nasrullah Ali-Fauzi (Ed), ICMI antara Status Quo dan Demokrasi, Mizan, Bandung, 1995

Nasution, S., Metode Research (Penelitian Ilmiah), Bumi Aksara, Jakarta, 1996

Nasution, Harun, Pembaharuan dalam Islam Studi Pemikiran dan Gerakan, Bulan Bintang, Jakarta, 1979

———————, Iptek berwawasan Moral, Perspektif Filsafat dan Pemikiran Islam dalam Mastuhu, dkk (Ed), Iptek Berwawasan Moral, IAIN Syarif Hidayatullah Press, Jakarta, 1998

———————, Perlunya Menghidupkan Kembali Pendidikan Moral, dalam Saiful Mujani dan Arief Subhan (Ed) Pendidikan Agama dalam Perpektif Agama Agama, Dirjen Dikti, Depdikbud, Jakarta, 1995

Nurcholis Madjid, Kurikulum Pondok Pesantren dalam Dawam Rahardjo (Ed) Pesantren dan Pembaharuan, LP3ES, Jakarta, 1982

———————–, Dialog Keterbukaan, Paramadina, Jakarta, 1998

———————–, Masyarakat Religious, Mizan, Bandung, 1998

Noeng Muhadjir, Metodologi Penelitian Kualitatif, Rake Sarasin, Yogyakarta, 1996

Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, Kalam Ilahi, Jakarta, 1994

Robert N. Bella, Tokugawa Religion, 1970

Sardiman AM, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, Pedoman bagi Guru dan Calon Guru, Rajawali Press, Jakarta, 1997

Seolaiman Jeosoef, Konsep Dasar Pendidikan Luar Sekolah, Bumi Aksara, Jakarta, 1992

Suharsimi Arikunto, Organisasi dan Administrasi: Pendidikan Teknologi dan Kejuruan, Rajawali Press, jakarta, 1992

Sudjoko Prasodjo (Ed), Profil Pesantren, LP3ES, Jakarta, 1982

St. Takdir Ali Syahbana, Antropologi Baru: Nilai-nilai sebagai Tenaga Integrasi dalam Pribadi, Masyarakat dan Kebudayaan, Dian Rakyat, Jakarta, 1960

Suyoto, Pesantren dan Pendidikan dalam Dawam Rahardjo (Ed), Pergulatan Pesantren, P3M, Jakarta, 1985

Tatang M. Amirin, Teori Sistem sebuah Pengantar, Rajawali Press, 1985

Umar Hasyim, Mencari Ulama Pewarisa Nabi Selayang Pandang Sejarah Ulama, Bina Ilmu, Surabaya, 1998

Wahjoetomo, Perguruan Tinggi Pesantren: Pendidikan Alternatif Masa Depan, Gema Insani Press, Jakarta, 1997

Yusuf Amir Feisal, Reorientasi Pendidikan Islam, Gema Insan Press, Jakarta, 1995

Zakiyah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam, Bumi Aksara, Jakarta, 1983

Zamachsyari Dzofier, Tradisi Pesantren Studi tentang Pandangan Hidup Kiyai, LP3ES, Jakarta, 1984

———————-, Pendidikan Islam dalam Keluarga dan Sekolah, Ruhama, Jakarta, 1995

Zubaidi Habibullah Asy’ari, Moralitas Pendidikan Pesantren, LKPSM, Yogyakarta, 1996

Zuhairini, Sistem Pendidikan Islam di Indonesia, Bumi Aksara, Jakarta, 1996

Instrumen pertanyaan penelitian yang diajukan

kepada responden pondok pesantren Buntet Cirebon

Instrumen atau daftar pertanyaan ini, mengacu kepada fokus masalah penelitian yaitu, sebagai berikut:

  1. Perkembangan Pondok Pesantren Buntet secara historis.
    1. Siapa, kapan, di mana dan mengapa pondok pesantren Buntet didirikan?
    2. Bagaimana sistem pendidikan yang berlangsung saat itu, termasuk tipe tradisionalkah atau telah mengalami modernisasi. Jika termasuk tipe tradisional, lalu sampai kapan keadaan seperti itu berlangsung?
    3. Kapan pondok pesantren Buntet pertama kali terjadi pergantian kepemimpinan, kepada siapa dan bagaimana perkembangan berikutnya?
  2. Jenis Pendidikan yang dikehendaki masyarakat.
    1. Bentuk pendidikan apa yang menjadi ciri khas pondok pesantren Buntet dan apa tujuan khususnya?
    2. Lembaga-lembaga pendidikan apa yang telah ada di pondok pesantren Buntet, dan bagaimana visi dan misi masing-masing lembaga pendidikan tersebut?
    3. Adakah sistem pendidikan di pondok pesantren Buntet telah mengarah kepada “sistem pendidikan pesantren terpadu” sebagaimana yang dikehendaki masyarakat?
  3. Respons kiyai/pengelola pondok pesantren Buntet terhadap tuntutan dan harapan masyarakat.
    1. Siapakah (status sosial, pendidikan dan figur keagamaan) kiyai atau pengelola pondok pesantren Buntet, dan bagaimana peranannya dalam memajukan lembaga yang dipimpinnya?
    2. Usaha apakah yang dilakukan kiyai/pengelola pondok pesantren Buntet dalam merespon keinginan masyarakat kaitannya dengan pendidikan masa depan santri?
    3. Adakah usaha itu mengarah kepada terbentuknya “sistem pendidikan pesantren terpadu”? Jika ya, dalam bentuk apa dan bagaimana profil “sistem pendidikan pesantren terpadu” yang diusahakan kiyai atau pengelola pondok pesantren Buntet?
  4. Faktor pendukung dan penghambat yang ada di pondok pesantren Buntet.
    1. Apakah bentuk kepemimpinan di pondok pesantren Buntet bersifat “memusat” ataukah terjadi dualisme kepemimpinan?
    2. Bagaimana cara kiyai/pengelola pondok pesantren dalam mengkoordinasi lembaga-lembaga pendidikan yang ada di lingkungan pondok pesantren Buntet?,
    3. Adakah usaha yang dilakukan kiyai itu memperoleh dukungan dari kiyai atau pengelola pondok pesantren yang lain, jika ya:

1)      dukungan dalam bentuk apa?

2)      Program-program apa saja yang melibatkan semua pengelola pondok pesantren?

Tetapi jika ternyata tidak, maka:

1)      Kendala/hambatan apa yang dihadapi kiyai dalam memajukan sistem pendidikan pesantren?

2)      Bagaimana keutuhan sistem kepemimpinan yang terjadi di pondok pesantren Buntet?

 

 

 

 

 

Tentang mujaddid

bijaksana

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: