//
you're reading...
Unisba

MAKALAH AL-HULUL DALAM TASAWUF

AL-HULUL DALAM TASAWUF

A. Sejarah Al-Hulul

Doktrin al-Hulul adalah salah satu tipe dari aliran tasawuf falsafi dan merupakan perkembangan lanjut dari paham al-Ittihad. Konsepsi al-Hulul pertama kali ditampilkan oleh Husein Ibn Masur al-Hallaj yang meninggal karena dihukum mati di Baghdad pada tahun 308 H, karena paham yang ia sebarkan itu dipandang sesat oleh penguasa pada masa itu.

B. Pengertian Al-Hulul

Pengertian al-Hulul secara singkat ialah Tuhan mengambil tempat dalam tubuh manusia tertentu, yaitu manusia yang telah dapat membersihkan dirinya dari sifat-sifat kemausiaannya melalui fana dan ekstase.

Menurut Al-Hamdany (Sanggahan Terhadap Tasawuf dan Ahli Sufi. 1969, Hal : 19) menyebutkan bahwa, hulul merupakan kepercayaan manusia bahwa Allah bersemayam ditubuh salah seorang yang kiranya bersedia untuk ditempati, karena kemurnian jiwanya dan kesulitan ruhnya. Di antara orang-orang yang menganut aqidah dan kepercayaan itu ialah al-Hallaj yang telah dihalalkan darahnya oleh para alim ulama hingga ia terbunuh.

C. Konsep Ajaran Al-Hulul

Menurut al-Hallaj manusia mempunyai sifat dasar yang ganda, yaitu sifat ketuhannan atau lahut dan sifat kemanusiaan atau nasut. Demikian juga halnya tuhan memiliki sifat ganda, yaitu sifat-sifat Ilahiyat dan lahut dan sifat Insaniyah atau nasut. Apabila seseorang telah dapat menghilangkan sifat-sifat kemanusiaannya dan mengembangkan sifat-sifat Ilahiyatnya melalui fana, maka Tuhan akan mengambil tempat dalam dirinya dan terjadilah kesatuan manusia dengan Tuhan dan inilah yang dimaksud dengan hulul.

Teori lahut dan nasut ini, beangkat dari pemahamannya tentang proses kejadian manusia. Al-Hallaj berpendapat bahwa Adam sebagai manusia pertama diciptakan Tuhan sebagai copy dari diri-Nya – shurah minn nafsih – dengan segenap sifat dan kebesarannya, sebagaimana ia ungkapkan dalam syairnya.

سبحا ن من اظهر نا سوته – سر سنا لاهوته الثا قب ثم بداء فى خلقه ظاهرا –

فى صورة الاكل والشا رب

Maha suci dzat yang menampakkan nasut-nya,

Seiring cemerlang bersama lahut-Nya,

Demikian padu makhluk-Nya pun terlihat nyata,

Seperti manusia yang makan dan minum layaknya.

Konsepsi lahut dan nasut ini didasarkan al-Hallaj pada firman Allah dalam Surah al-Baqarah 34, menurut pemahamannya, adanya perintah Allah agar malaikat sujud kepada Adam itu adalah karena Allah telah menjelma dalam diri Adam sehingga ia harus disembah sebagaimana meyembah Allah. Bagaimana gambaran hulul itu dapat dipahami dari ungkapan al-Hallaj berikut ini:

مزجت روحك فى روحى كما – تمزج الخمر بالماء الزلال. فادا انت انا فى كل حال. انا من اهوى ومن اهوى انا – نحن روحنا حللنا بددنا. فادا ابصرتنى ابصرته – وادا ابصرته ابصرتنا

Berbaur sudah sukma-Mu dalam rohku jadi satu,

Bagai anggur dan air bening berpadu,

Bila engkau tersentuh, tertusuk pula aku,

Karena ketika itu, Kau dalam segala hal adalah aku.

Aku yang kurindu, danyang kurindu Aku jua,

Kami dua jiwa padu jadi satu raga,

Bila kau lihat aku, tampak jua Dia dalam pandanganmu,

Jika kau lihat Dia, kami dalam penglihatanmu tampak nyata.

Dari ungkapan di atas, terlihat bahwa wujud manusia tetap ada dan sama sekali tidak hancur atau sirna. Dengan demikian, nampaknya paham hulul ini bersifat figuratif, bukan riel karena berlangsung dalam kesadaran psikis dalam kondisi fana dalam iradat Allah. Manusia diciptakan Tuhan sesuai dengan citra-Nya, maka makna perpaduan itu adalah munculnya citra Tuhan ke dalam citraNya yang ada dalam diri manusia, bukan hubungan manusia dengan Tuhan secara riel. Oleh karena itu, ucapan ana al-haqq yang meluncur dari lidah al-Halaj, bukanlah ia maksudkan sebagai pernyataan bahwa dirinya adalah Tuhan. Sebab, yang mengucapkan kalimat itu pada hakikatnya adalah Tuhan juga tetapi melalui lidah al-Hallaj. Interpretasi ini sesuai pula dengan pernyataan al-Hallaj dalam syair berikut:

انا سر الحق ما لحق انا – بل انا حق ففرق بيننا

Aku adalah rahasia Yang Maha Benar,

aku bukanlah Yang Maha Benar,

Aku hanyalah yang benar, bedakanlah antara Kami.

Lagi pula, adalah sangat tidak logis apabila seorang sufi yang sepanjang usianya merindukan dan mencari Tuhan, mengaku dirinya sebagai Tuhan.

DAFTAR PUSTAKA

-          Siregar Rivay. 2000. Tasawuf : Dari Sufisme Klasik ke Neo-Sufieme. Jakarta : PT Rajagrafindo Persada

-          Said bin Abdullah Al-Hamdany. 1969. Sanggahan Terhadap Tasawuf dan Ahli Sufi. Bandung : Pelita

Tentang mujaddid

bijaksana

Diskusi

2 pemikiran pada “MAKALAH AL-HULUL DALAM TASAWUF

  1. Mas, sy boleh mnta soft copy judul skripsi nya yg
    IMPILIKASI PENDIDIKAN DARI HADITS QUDSI RIWAYAT MUSLIM TENTANG KEDERMAWANAN TERHADAP PEMBINAAN SIKAP DERMAWAN
    Oleh : Ulfiyah/10030198019
    Tahun 2004

    Soalnya utk bahan referensi skripsi saya,
    terima kasih seblmnya….

    Posted by ferry | 23 Juni 2011, 12:44 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: